Blender

© Deasy Ibune Rahman

Namaku Aleef Rahman. Bisa dipanggil Aleef bisa dipanggil Rahman. Umurku 9 tahun, kelas 3 di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Doko, Kediri. Kebetulan hari Minggu ini, 19 April 2015, aku untuk pertama kalinya dengan ditemani Bapak dan Ibu ikut berkumpul bersama komunitas pengguna program/aplikasi pengolah 3-dimensi (3D) Blender se-(karesidenan) Kediri Raya.

Biasanya pertemuan ini diadakan di ruang workshop di kantor Telkom Kediri. Namun khusus hari ini, karena ruang workshop yang disediakan oleh pihak Telkom sedang digunakan, maka para pengurus komunitas ini memindah sementara di sebuah balai warga di sebuah kompleks perumahan di Kediri Barat.

Pertemuannya seru! Mulai jam sembilan hingga tengah siang. Intinya siy coaching-clinic, workshop, dan sharing seputar Blender. Pertemuan ini digelar rutin setiap minggu. Namun Aleef Rahman mungkin akan membolos beberapa pertemuan dalam sebulan jika ada aktivitas lain bersama Bapak dan Ibu.

Tutornya mas-mas yang masih kuliah atau barusan lulus dan bekerja. Pesertanya nyaris seragam: kebanyakan mas-mas dan mbak-mbak yang udah gedhe. Dua peserta terkecil adalah aku dan satu lagi seorang mas yang duduk satu kelas di atasku. Ia kelas empat, rumahnya di kawasan kaki Gunung Kelud yang kemarin meletus itu. Kebetulan untuk sesi hari ini, workshop-nya membuat 3D kursi.

© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman© Deasy Ibune Rahman

Sejak playgroup, sebelum TK, Bapakku sudah ngajari aku main komputer. Komputernya ada gambar penguin. Itu penguin ternyata punya nama, namanya Tux. Tux ini ikon/maskot dari sistem-operasi Linux. Lucu si Tux ini, imut dan menggemaskan 🙂 Linux di komputerku pakenya distro Ubuntu.

Ubuntu berasal dari bahasa Afrika, yang artinya “kemanusiaan kepada sesama”. Kata Bapak, distro adalah bentuk perwujudannya Linux. Bapak sendiri juga kadang pake Linux OpenMandriva atau Fedora.

Dulu komputer kami gambarnya Apple krowak. Bapak bilang itu namanya Macintosh. Tapi komputernya rusak, mati layarnya. Kata Bapak, muuuahalll kalo mau mbetulinnya. Akhirnya Bapak pake yang gratis saja katanya: Linux namanya.

Kata Bapak, Linux itu seperti kita berteman dan membuat sesuatu bersama-sama. Hasil yang kita buat bersama tersebut jadinya bisa dipakai dengan bebas bahkan gratis, enggak pake beli. Belinya kalo perlu aplikasi yang super-khusus. Itu juga jika penggunaannya sudah kelas pekerja profesional atau perusahaan gedhe.

Karena dibuat dan dijaga bersama, Linux jadinya bisa diawasi oleh siapa saja. Tapi namanya buatan manusia, Linux juga pasti punya kelemahan. Tapi kelemahan yang ada justru akan membuat komunitas pendukungnya kuat, karena mereka akan selalu dan terus bergotong-royong: dari semua, oleh semua, untuk semua.

Seperti prinsip bangsa Indonesia ya: gotong-royong! Di sekolah aku juga diajari gotong-royong ini. Gotong-royong akan membuat hal yang berat menjadi ringan, dan membuat setiap kesulitan akan cepat ditemukan jalan keluarnya. Semoga semangat gotong royong ini senantiasa terjaga di negeriku Indonesia ini.

GCompris

Awalnya main Linux, aku cuman main GCompris. Aplikasi dasar komputer buat anak usia dini hingga pendidikan dasar. Aplikasinya seperti game atau permainan, tapi isinya benar-benar berguna dan edukatif sekali. Dengan GCompris kita bisa belajar komputer benar-benar dari dasar: – menggerakkan mouse dengan lihai. – memencet keyboard dengan pas. Demikian seterusnya.

Ada sekitar 100 jenis-jenis kegiatan (permainan) dalam GCompris, yang sekali lagi intinya untuk mengenalkan komputer pada anak usia dini dan membentuk ketrampilan dasar kita sampai tangan bisa lancar dan enggak kaku bergerak. Pokoknya basic banget. Bahkan untuk akung-uti yang sudah sepuh dan belum mengenal komputer sebelumnya pun pun bisa diajari komputer dengan GCompris ini lho! Kan lumayan, agar mereka bisa menemani cucunya main komputer. Hihihihihi…

Dan kata Bapak, inilah dasar dari semua penggunaan komputer kelak, agar kita bisa terampil dan cekatan menggunakan komputer, khususnya program-program yang memerlukan keahlian atau kecakapan khusus. Harusnya, setiap orang tua yang mengajari komputer kepada anaknya, dan setiap sekolah yang memiliki laboratorium komputer harus memiliki aplikasi Gcompris ini.

GCompris dapat diunduh bebas. Versi lengkapnya tersedia di Linux. Di Windows dan Mac juga ada, tapi entah apakah full-version atau tidak. Sebab aku menggunakannya hanya di Linux.

Program GCompris bisa di-setting bahasanya. Ada bahasa Inggris, juga bahasa Indonesia. Cocok untuk kita-kita yang ingin belajar komputer sekaligus belajar bahasa Inggris.

Kalo saran Bapak dan Ibuku, selain GCompris, semua komputer di sekolah mestinya pakai Linux. Sebab Linux mengajarkan semangat gotong-royong itu tadi.

Kalo pake program komputer yang berbayar, takutnya nanti kita akan terbiasa memandang segala sesuatu dengan uang semata. Kalo menggunakan aplikasi berbayar, sama artinya kita anak-anak sekolah ini diajari untuk nantinya terbiasa membeli, apa-apa serba duit; bukan bekerja sama dan sebisa mungkin membuat segala sesuatu sendiri alias mandiri.

Aku sih belum mengerti ini. Tapi aku percaya, kedua orang tuaku memberikan arahkan yang baik dan benar kepadaku.

Masuk sekolah, bapak mulai mengenalkanku dengan Blender. Blender adalah salah satu aplikasi pengolah 3D/animasi. Jika teman-teman suka nonton Marsha, Upin-Ipin, dll. animasi tersebut dibuat oleh program pengolah 3D/animasi. Banyak jenis program animasi/3D.

Blender ini adalah aplikasi animasi /3D yang bebas/open-source dan kebetulan gratis untuk kita diperoleh. Blender Bisa diinstal di Linux, Mac, atau Windows.

Awalnya Bapak menunjukkan ke aku gambar-gambar 3D (tiga dimensi) sederhana yang dibuat dengan Blender. Ada kotak: kubus, balok; prisma, limas, silinder, dll. Pokoknya sederhana banget. Trus bapak ngasih tutorial dasar membuat obyek/model sederhana: gelas, cangkir, botol. Model-model yang pasti dijalani buat sesiapa saja yang belajar aplikasi tiga dimensi.

Kini aku sudah bisa membuat obyek bergerak lho …! Aku sudah bisa membuat pesawat terbang yang take-off atau landing. Juga truk yang melintas di jalanan. Atau kereta api yang berputar-putar di atas rel. Kini, Bapakku malah yang kalah dan ketinggalan lawan aku! Hihihihihi…

Tapi aku bisanya masih dikit itu koq. Ini juga masih terus belajar. Masih banyak yang aku belom tau. Banyak banget. Dan semoga nantinya banyak yang membimbingku belajar. Allhuma aamiin.

https://i1.wp.com/upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/af/Tux.png/220px-Tux.pngUbuntuBlender

Meskipun suka komputer, Ibuku tetap melarangku terus-terusan main komputer. Pulang sekolah, aku harus tidur siang jika tidak ada ekstra kurikuler di sekolah.

Sore hari, Ibuku menyuruhku bermain dengan teman-teman sebaya di sekitar rumah. Kami main sepedaan, atau main main-mainan balok-balok kayu: bikin sepur-sepuran atau truk-trukan. Atau kadang juga sekedar nonton Marsha di TV. Sesekali juga main layang-layang, tapi enggak bisa terbang tinggi karena lahan kosong di sekitar kami sudah mulai habis 😦 😀

Intinya kata Bapak dan Ibu; aku tetep harus bersosialisasi, berinteraksi dengan temen-temen. Aku nggak boleh sampe dikuasai komputer, komputerlah yang harus aku kuasai.

Habis maghrib, aku juga dituntun belajar mengaji oleh Ibuku.

Malemnya sama Bapakku sukanya aku disuruh bermain saja, dilarang mengerjakan PR yang buuuanyakkk gitu. Kata Bapak, “Anak kecil ngapain dikasih PR buanyak-banyak gini? Enggak perlu!”

Begitu pendapatnya. Tapi Ibuku suka marah-marah sama Bapak. Katanya Bapakku ini ngajarin enggak bener sama anaknya. Masak PR dari sekolah koq enggak boleh dikerjakan? Hihihihihi…

Akhirnya Ibuku yang selalu menemaniku ngerjakan PR. Dan habis dimarahi Ibu gitu, Bapak kemudian pergi ngadep komputernya sendiri. Liat monitor sambil ngakak-ngakak sendiri. Hoalah Bapakku… -_-

WELL… Bulik, Paklik, Budhe, Pakpuh semuanya, ini tadi cerita tentang aku Aleef Rahman. Aleef Rahman mohon doa dan bimbingannya selalu ya; agar aku senantiasa patuh pada orang tua, dan kelak jika besar bisa berguna bagi bangsa & negara Indonesia serta bagi kehidupan umat manusia. Aamiin. Salam sayang, – Aleef Rahman H.

*Tentu yang nulis ini adalah Bapak dan Ibuku yang selalu baik kepadaku 🙂 Hihihihihi…*

LAINNYA: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10152848279223287&id=641283286 https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10152875596443287&id=641283286 https://www.facebook.com/groups/147515281967047?view=permalink&id=917255378326363

Sempat ada yang memperingatkan kami, anak kecil koq udah dicekoki komputer, enggak baik buat perkembangannya, di sini semua ceritanya https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/04/27/belajar-menjadi-orang-tua/. 🙂

Advertisements

5 thoughts on “Blender

  1. Assalamualikum Aleef… wah kecil-kecil udah keren, mau belajar buat 3D. semoga nanti besarnya bisa memberikan manfaat buat banyak orang… aamiin.
    mampir juga ke website saya ya dodyAnimation.com

    Liked by 1 person

  2. Mantap Aleef, Semoga dewasa nanti aleef cepet sukses dan terus mencintai Blender.

    Liked by 1 person

    • Mohon doa restunya senantiasa. Selain Blender memang produktif, bergabung dengan semangat open-source akan membuat kita lebih Jenrih memandang dunia yang semakin terkooptasi oleh kapital ini 😀

      Semangat balik buat Om!

      -Bapak&Ibune Aleef Rahman-

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s