Premium, Ketahanan Pangan, Transportasi Publik, …

Berita terbaru di media massa, pemerintah hendak melenyapkan Premium.

Saya pribadi sepakat, karena premium oktannya rendah, sudah nyaris jarang diperlukan oleh kendaraan yang beredar. Masih ada siy kendaraan-kendaraan tua yang kompresinya rendah yang cukup neggak premium. Tapi secara sosiologis, saya yakin jumlahnya ndhak signifikan dan layak diabaikan.

Kendaraan sekarang kompresinya tinggi-tinggi demi mengejar efisiensi. Ini karena pabrikasi sekarang telah didukung dengan teknologi tinggi sehingga mesin bisa dibikin lebih presisi dan itu tadi: punya efisiensi tinggi.

Sederhananya, mesin-mesin era sekarang sudah penuh dengan intensifikasi teknologi. Injektornya high-precision, suplai bahan bakar dikendalikan oleh komputer, bahkan beberapa kerja mekanis mesin juga sudah mulai dibantu bahkan diambil alih oleh perangkat elektronis, sama sekali bukan lagi mekanis.

Ini semua memerlukan bahan bakar yang sesuai.

Sayangnya orang Indonesia ini punya komitmen: anti-kemajuan. Alasannya klasik: faktor ekonomi. Padahal faktor (lemahnya) ekonomi ini muncul karna kita anti efisiensi tadi, termasuk efisiensi penggunaan (teknologi tinggi) mesin.

Sederhananya:

  • Mesin baru berteknologi tinggi justru lebih efisien, lebih panjang kilometer per liternya bisa diisi dengan BBM sesuai spesifikasi ketimbang BBM yang under-specs.
  • Mesin yang kinerjanya bener karena penggunaan BBM yang sesuai justru tenaganya terjaga, efisiensinya terjaga, dan biaya overhead-nya terlindungi. Ini semua sangat mendukung produktivitas.

    Sementara mesin-mesin baru yang dipaksa menenggak BBM dengan spesifikasi tak sesuai, berpotensi memunculkan overhead-cost (biaya tak terduga) tinggi!

Mesin berteknologi baru, berteknologi tinggi, yang diisi dengan Premium oktan rendah selain tidak baik secara ekonomis (lebih boros); tidak layak secara teknis (berpotensi rusak mendadak); juga merusak ekologis (emisi tinggi).

Dengan alasan yang susah dibantah secara logis, maka sudah selayaknya Premium dilenyapkan sebagaimana banyak negara di dunia ini sudah lama ndhak pake lagi itu BBM oktan rendah(an).

Menggunakan Pertamax pun sebenarnya juga masih kurang. Pertamax masih berstandar emisi Euro 3. Sementara di belahan bumi sono, sudah Euro 5 bahkan 6.

Tapi untuk memulai, ndhak apa-apalah. Ketimbang blas: kita masih pake Premium yang “Euro minus”.

Pro – Kontra

Lenyapnya Premium ini, saya menebak akan menyeruak lagi isu klasik permanen: pemerintah dianggap tidak peka terhadap kondisi rakyat.

Setidaknya, isu ini bakal digeser ke tuntutan baru: minta Pertamax disubsidi, untuk membentengi industri dalam negeri dari kolonialisasi era baru melalui hegemoni sosial-ekonomi.

Isu pelenyapan Premium ini, rasanya tak akan berbeda dengan isu kenaikan BBM.

Sepanjang sejarah pemerintahan pasca Soeharto, rata-rata urusan kenaikan harga BBM selalu diiringi pro-kontra yang luar biasa dengan alasan masing-masing yang sama kuatnya.

Namun saya melihat diantara keduanya sama-sama aneh:

  • Yang pro kenaikan BBM biasanya selalu berasalan semakin tipisnya cadangan minyak bumi dan memang harga pasaran minyak terus naik,
  • Yang konra selalu beralasan bahwa BBM adalah hajat hidup orang banyak; yang mana kenaikan BBM selalu men-trigger (memicu) inflasi besar-besaran, harga-harga terutama kebutuhan pokok naik tinggi, dan hidup rakyat miskin semakin susah.

Anehnya, mereka semua hanya beralasan internal! Bukan esensial!

Hegemoni Asing

APAKAH Pertamax nanti perlu disubsidi?

Saya pribadi memandang, BBM pada era ini sudah bukan lagi hajat hidup orang banyak. Jadi biarkan saja BBM jadi komoditas bebas.

Yang menjadi hajat hidup orang banyak saat ini bukan BBM-nya, melainkan energi-nya.

Energi ini, sekali lagi dengan kemajuan teknologi, bisa kita peroleh secara efisien melalu berbagai sumber, terutama energi terbarukan. Kini teknologi kincir angin atau apapun perangkat pengubah energi alam menjadi energi listrik telah tersedia relatif murah.

Dan massifikasi produksi akan membuatnya lebih murah lagi.

Inilah yang seharusnya kita tuntut: (energi) hajat hidup orang banyak!

Jadi, menuntut pemerintah untuk umek di satu frasa “BBM” belaka, itu sudah basi dan sama sekali tidak mendukung Indonesia ke arah kemajuan yang berarti.

LANTAS bagaimana dengan hegemoni asing yang ingin kembali mengkolonialisasi negeri ini dengan SPBU-SPBU mereka dll.?

Tanpa bermaksud menggampangkan, SPBU mereka laku karena banyak mobil yang membeli. Jika nanti transportasi massal sudah sedemikian mudah – murah – manusiawi di negeri ini:

  • Mudah dijumpai kapanpuan dan di manapun: banyak trayeknya, jam operasionalnya panjang;
  • Murah harga tiketnya, sehingga orang lupa sama mobil jika hanya pergi sendiri, sementara naik motor berpotensi terganggu hujan;
  • Manusiawi – tau sendirilah pengertiannya: lebar jok/seat layak dan ndhak sempit, akomodatif terhadap kaum difabel, dll.

bagaimana SPBU-SPBU asing itu akan dapet duit banyak?

Apalagi sekarang jamannya meninggalkan mesin bakar (internal-combustion), yakni mesin-mesin yang menggunakan bahan bakar minyak/fosil seperti yang kita kenal sejauh ini.

Saat ini eranya kendaraan listrik, minimal gas atau sukur-sukur hidrogen yang terbarukan.

Masih mempertahankan kekunoan pemikiran (mempertahankan BBM fosil) di negeri ini? Mending pertahankan dong itu segala peninggalan sejarah untuk bahan edukasi setiap anak bangsa yang lahir dan besar di negeri ini, jangan pertahankan kekunoan pemikiran!

Oke, terus kita naikkan saja ini harga BBM?

Tunggu dulu, saya juga ndhak berpikir segegabah itu… Kembali ke case tadi, urusan kenaikan BBM, atau pelenyapan Premium, pasti bakal menghadirkan pro-kontra di negeri ini.

Well

Sederhana saja, apa siy sebenarnya masalahnya jika harga BBM tinggi namun rakyat makmur? Sebaliknya, apakah harga BBM murah juga menjamin kehidupan rakyat terus tetap mudah?

Jujur, saya pribadi ndhak pro dan ndhak kontra dengan kenaikan BBM. Saya lebih memilih masa bodo dengan harga BBM; asalkan:

  • Berapapun harga BBM, itu sesuai/terjangkau dengan pendapatan rata-rata rakyat Indonesia dan imbang dengan nilai produktivitas(penggunaan)nya,
  • Ketahanan pangan di negeri ini terjamin (terjangkau dan layak nutrisi),
  • Transportasi publik murah dan layak, manusiawi, terjamin operasionalnya,
  • Aspal bolong lenyap dari muka bumi Indonesia dan pungli dalam bentuk apapun musnah pergi ke neraka.
  • Termasuk syarat dasar lain adalah jaminan penyelenggaraan pendidikan dan jaminan kesehatan untuk semua warga negara tanpa tapi.

Itulah pra-syaratnya! Sekali lagi, poin-poin itu semua tadi dan segala hal yang terkait atau sejenis dengan itu semua tadi yang harus kita tuntut! Dan kemudian, biarkan BBM mau jadi apa, terserah!

Kalo kita “lupakan BBM”, kita biarkan saja sumur minyak yang sampai hari ini disedot asing?

Saya akan sangat bangga sebagai warga negara Indonesia jika kita meng-class action kontrak sumur-sumur minyak itu. Tidak harus terputusnya kontrak, setidaknya ada revisi dan jaminan regulasi baru di mana mendatang. Bila bisa berhasil, keren bukan?

Sebab kekayaan alam yang given dari Tuhan YME mustinya buat modal pencerdasan anak-anak bangsa ini dan sebagai modal untuk membuat segala perangkat yang menggunakan teknologi baru dan terbarukan.

INILAH persoalan permanen setiap pemerintahan: mereka hanya menaikkan harga BBM terus-menerus, sementara prasyarat yang harusnya udah dipenuhi atau minimal berimbang dengan kenaikan tersebut tidak pernah terselesaikan. Dari kemarin hingga detik ini!

Kenaikan harga BBM serasa eksponensial, namun kualitas pemerintahan dalam melayani rakyat hanya bergerak linier.

BBM naik tanpa pernah terbendung. Dan aspal bolong juga senantiasa hadir tiada pernah henti. Tidak ada jaminan 1×24 penyelenggara pasti menambalnya. Dan di jaman internet gigabit ini, sekolah di pelosok pedalam Indonesia yang indah masih jauh dari segala fasilitas pendidikan yang memajukan: memajukan kepintaran dan menjaga budi pekerti.

Sementara di kota-kota besar, generasi muda miskin perlindungan dari kooptasi hedonisme.

Jadi, persoalan sesungguhnya adalah bukan naik/tidaknya BBM di sini. Melainkan itu tadi: pemerintah ndhak becus kerja. Persis pleg kayak saya.[]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s