Presiden RI

Musim pilpres kemarin, saya sampe meng-unfollow bejibun akun fesbuk rekan-rekan baik saya karena pertikaian posting mereka yang benar-benar udah jauh dari nuansa penggunaan otak kiri dan kanan.

Kami bukan golput, kami hanya golongan garis tengah.

Jika hak warga negara diintepretasikan sebagai kewajiban nyoblos (salah) satu capres, nyatanya tidak ada undang-undang yang mewajibkan atau melarang (pilihan kami) ini.

Jika karena kami milih kedua capres kemarin dianggap tidak beretika secara politis, secara kepemiluan, atau secara apapun; maka saya meyakini bahwa kami-kami ini jauh “lebih beretika” (pake kutip lho ini) ketimbang mereka, termasuk rekan-rekan saya, yang rata-rata pendidikannya tinggi, namun kelakuan mereka mendadak jatuh terperosok ke jurang intelektualitas: kelakuan mereka cuman cover single-side story belaka. 😦

Semua rekan saya yang mendukung dan berkubu ke salah satu capres, mendadak menjadi manusia setengah otak: hanya memandang capres yang mereka dukung saja dan tidak memandang capres lain; atau dengan kata lain capres yang mereka dukung itu baik dan capres lain jelek; atau semacamnya (saya susah menggambarkannya dengan kata-kata).

Intinya, cover both-side story mereka amblas semua. Otak mereka semua -para pengkubu capres itu- nihil keberimbangan.

Alhasil, jauh hari sebelum puncak pilpres, jauh hari sebelum kampanye resmi dimulai, saya sudah memegang kepastian: siapapun capres yang menang, mereka semua orang baik!

Sekaligus: saya akan masa bodoh, ndhak ambil pusing dengan siapapun presiden yang jadi.

Hingga saya mulai melupakan musim capres kemarin itu. Dan kini yang saya lihat hanyalah: negara dan pemerintahannya, rakyat dan pemimpinnya. Bukan capres anu dan pendukung serta lawan-lawannya.

Sayangnya, kini situasi pilpres ternyata masih belom lenyap.

Situasi dan kondisi senuansa pilpres ternyata secara sporadis masih berlangsung. Timbul tenggelam. Namun tidak mati bara apinya!

Rak jancuk tenan to?

Gara-gara presiden dateng ke kongres par-tai nya saja Indonesia gempar: ada yang bilang dia cuman anggota partai, maka layak ndhak ngomong di podium; ada juga yang risih karena seorang presiden sampe datang ke acara partainya, atau entah partai orang, koq cuman jadi cecunguk ngentang dikacangin.

Gini lho… Mbok ndhak usah peduli sama hal ginian. Mana yang benar tentang hal ini, ini semua ndhak bakal mengubah dan memperbaiki nasib negara.

Mau Jokowi dateng sebagai presiden RI; mau dateng sebagai anggota par-tai; mau dateng sebagai warga negara pemegang KTP RI (biarpun jabatannya presiden, statusnya tetep saja warga negara RI sama seperti kita semua) yang mujur diijinkan masuk area kongres – tidak seperti warga negara biasa lainnya; mbok ya biarin!

Emang kalo memang saat itu Jokowi dateng sebagai presiden dan dia dikadali ndhak boleh ngomong di podium, nasib negara akan hancur lebur?

Emang kalo saat itu Jokowi dateng sebagai anggota par-tai sehingga wajar dia ndhak perlu ngomong di podium, nasib negeri ini akan jauh lebih baik?

Siapa berani memberikan kepastian teoritis?

Jaaannnn, wong Indonesia (=saya) ini aneh-aneh semua tenan!

***

Sekali lagi, kami sudah ndhak ambil pusing dengan nama presiden yang jadi, siapapun presiden RI kini. Kini yang kami pandang hanyalah negara dan pemerintahannya, rakyat dan pemimpinnya. Bukan capres anu dan pendukung serta lawan-lawannya.

Dan sikap saya tetep konsisten: saya akan masa bodoh -tidak mendukung dan tidak menantang- dengan siapapun (nama) presiden sekarang.

Kami ini, hanya peduli kepada bangsa dan negara ini, kepada lembaga kepresidenan dan lembaga negara, bukan kepada (sesiapa orang/nama) presiden(nya).

Kepada rekan-rekan baik saya semua, kepada Anda-Anda semua yang masih terus menghujat atau mendukung presiden sekarang: sebenarnya kalian semua memuakkan!

Sebab (terus berlanjutnya konfrontasi persepsi) kalian semualah yang membuat perampok legal harta alam di negeri ini: kerepot, nyemon, cepron, dkk. terus leluasa dengan santai kayak dipantai mengeruk isi perut bumi kepunyaan anak-cucu saya, anak-cucu Anda semua ini dan kemudian dengan nyaman melenggang kangkung melarikan hasil jarahannya ke negeri mereka sendiri.

Ocehan-ocehan yang kita viralkan tentang kapolri, tentang kongres partai, tentang tanda tangan DP kreditan mobil baru keparatur pemerintahan, itu semua bakal terus-menerus mengalihkan kita dari penjarahan isi pekarangan di halaman belakang negeri ini!

JUJUR, saya sebenarnya juga ndhak tau harus gimana untuk berusaha (turut) menyelamatkan kekayaan alam yang given dari Tuhan YME; kekayaan alam yang mustinya buat modal pencerdasan anak-anak bangsa ini dan sebagai modal untuk membuat segala perangkat yang menggunakan teknologi baru dan terbarukan.

Menghindari bekerja di perusahaan tambang asing? Bukan solusi.

Cuman memaki-maki perusahaan tambang asing? Omong kosong, nonsense, zero impact!

Kami pribadi hanya menemukan, batas minimal dari ini semua adalah: menjaga nyala kepedulian dan pemahaman, bahwa negeri kita ini sedang dijarah secara legal. Sementara itu saja.

Baru nanti kritisinya adalah kepada regulasi, aspek teknis, dll-nya.

Bentuk yang paling keren sebenarnya adalah, class-action: segenap anak bangsa menggugat regulasi negara (=kontrak) dengan penjarah asing tersebut. Dan perlu bantuan dari rekan-rekan hukum untuk selanjutnya mengawal secara konstitusional dan legal agar class-action ini bisa menghasilkan perubahan.

Tidak harus terputusnya kontrak, setidaknya ada revisi dan jaminan regulasi baru di mana mendatang. Bila bisa berhasil, keren bukan?

Termasuk semua yang hanya sibuk kita viralkan: DP kreditan kendaraan keparatur pemerintahan, dll.: bagus kita class-action-kan. Pasti mantab!

Jadi, sejauh kami hanya bisa berdoa untuk kebaikan negeri ini, sejauh kami berharap kepada Tuhan YME agar sudi mengintervensi bangsa yang pemegang/pengelola pemerintahannya serasa tidak berniat memperbaiki nasib kaum: kaum bangsa Indonesia ini; saya akan tetap terus masa bodoh dengan siapapun (nama) presiden sekarang.

Saya tak kuasa mendukung presiden sekarang, karena memang udah males dari kemarin-kemarin sebelum pilpres. Hingga sekarang dan mungkin esok hari lusa nanti.

Dan saya juga ndhak menolak presiden sekarang, karena harusnya negeri nan indah permai ini juga ndhak perlu warga negara pengganggu seperti saya: warga negara yang menjalankan kapasitas saya sebagai rakyat jelata saja masih gagal. Sebab saya masih membuang sampah sembarangan; masih belom tertib lalu-lintas; dan tampang saya juga amburadul ndhak rapi – bau ketek saya masih prengus ndhak wangi, ndhak cocog buat berada di tengah-tengah masyarakat jamak.

Lha koq belagunya saya kalo sampe menolak presiden sekarang, wong saya mbayar pajak aja masih ponthal-ponthal karena duit pajak saya terpaksa harus saya belikan ban yang sobek karena aspal berlubang!

Kami ini, …

… hanya ingin terus peduli kepada bangsa dan negara ini, semampu kami, sebisa kami, sekuat kami. Injinkan kami untuk berdiri di samping Anda-Anda semuanya yang satu niat demi Indonesia tercinta.

– Freema HW
Warga negara sah RI.

Foto dari internet.
Sama seperti Afrika, Indonesia tidak miskin. Indonesia hanya habis dijarah antek asing.

Advertisements

One thought on “Presiden RI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s