Filosofi Lombok

Ayo belajarlah makan pedas, anakku!

Karena dengan begitu, kau akan turut meneruskan nasib petani-petani lokal. Sebab sampai sejauh ini, lombok tidak bisa kita impor dalam kondisi segar. Dan lombok serbuk itu, sekalipun merk impor, rasanya aneh di lidah. Mustahil menandingi nikmatnya lombok segar.

Berbeda dengan bawang putih, jagung, kedelai, bahkan beras; kita sudah diserbu komoditas itu dari luar negeri sono.

Ayo belajarlah makan pedas, anakku!

Sebab jika ingin menanam sendiri di lahan belakang rumah, kita masih bisa menyemai sendiri tunas cabe dari lombok yang kita keringkan dan kita ambil biji-bijinya.

Sebab kalo kita membiakkan sendiri tunas jagung dari benih cap pabrik yang ber-hak paten, kita akan berurusan dengan penjara.

Ayo belajarlah makan pedas, anakku!

Sebab pedasnya lombok akan meluruhkan lemak dan kolesterol dalam makanan yang kamu kunyah. Biar lancar metabolisme badanmu. Biar sehat jantungmu. Biar keluar semua keringat-keringat busukmu dari pori-pori kulitmu.

Ayo belajarlah makan pedas, anakku!

Biar kuat kamu dengan pedas rasanya, biar kuat kamu menghadapi pedasnya kehidupan. Rasakan nikmatnya dalam pedas ini!

Pedasnya lombok adalah pedas kedamaian, pedas yang haq. Bukan pedas kemunkaran dan edas kebatilan.

Ayo belajarlah makan pedas, anakku! Dan cukupkan dirimu dengan pedasnya lombok saja yang kau rasakan, bukan pedasnya ketidakberukuran dalam kehidupan.

Karena biar bagaimana, pedasnya lombok tetep punya ukuran. Pedasnya seberapapun itu: tidak terlalu pedas, cukup pedas, atau super pedas; ia tetep harus selaras dengan menu yang dihinggapinya.

Tidak elok jika super pedasnya sampai memberangus keberadaan cita rasa para bumbu/rempah-rempah rekan-rekan seperjuangannya dalam memberikan kenikmatan lidah bagimu.

Sepedas-pedasnya nasi goreng jancuk, tetep cita rasa rempah-rempah dan bumbu-bumbu seperjuangannya harus tetap muncul.

Sepedas-pedasnya pecel, tetep tak mungkin jika rasa kacang dan sayurnya kalah.

Sepedas-pedasnya kripik balado, ia tak lagi nikmat jika rasa ketelanya kalah.

Jika tidak, mungkin ada perkecualian dengan yang masak atau yang makan -_-

Ayo belajarlah makan pedas, anakku!

Jadikan dirimu galau jika makan tanpa ada pedasnya lombok; bukan jadikan dirimu galau karena makan tanpa adanya (ketergantungan) daging sapi (impor).

Ayo belajarlah makan pedas, anakku!

Sepedas lambungmu kuat menerimanya. Dan latihlah itu semua. Tahap demi tahap. Dimulai dengan satu iris pada menu yang engkau santap seperti saat ini, kemudian naikkan semampu kamu mencernanya.

Namun ingat: jangan berlebih-lebihan. Lambungmu tetep sebagai batasannya. Dan semangatmu adalah pendorongnya.

Ayo belajarlah makan pedas, anakku!

Belajarlah menghargai alam dan bersyukur atas semua limpah anugerah-Nya semata ini. Bersyukurlah dengan perbanyak makan komoditas lokal bukan impor. Sebagaimana lombok yang masih belom bisa diimpor.

Setidaknya hingga hari ini. Entah jika kelak kapitalisme menang lagi. Sebab kita semua memang pencinta dan pendukung kapitalisme. Sebab dengan beribadah, kadang kita justru memperbanyak buang devisa dan belanja impor.

Ayo belajarlah makan pedas, anakku!

Maka, jadikan makan lombok ini sebagai salah satu bagian dari ibadahmu: ibadah lillahi taala dalam tugas kita sebagai khalifah di muka bumi untuk membangun peradaban, termasuk dengan menyelamatkan para petani dan tanah negerimu sendiri. Bukan beribadah namun (masih & malah) memiskinkan negerimu sendiri dan cuman memperkaya negeri orang.

Ayo belajarlah makan pedas, anakku!

Untuk diskusi lebih lanjut, kita -keluarga kecil yang senantiasa terlimpahi berkah dan rahmat-Nya ini- ngobrol sambil nyemil singkong rebus. Singkong rebusnya kita colekkan ke sambel bawang ulegan segar: lombok dan bawang mentah dengan garam secukupnya. An sich!

Kita uleg di atas cobek buatan pengrajin lokal, bukan kita blender dengan mesin impor.

Singkong rebus dicolek sambel bawang itu… rasanya? Juara!

– Deasy & Freema
Untuk putra kami dan putra-putri negeri ini.

Nikmatnya sambel :D

Nikmatnya sambel :D

Poto dari wiki.

Nasi goreng Jancuk - Poto dari internet.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s