In(i)flasi

“Jadi berapa Mas charge-nya?” Tanya klien ke saya.

Saya mulai bingung pasang harga untuk klien. Pake harga lama, tarif listrik udah sebegininya. Tarif internet juga ndhak turun. Harga nasi juga naik. Apalagi bensin; saya udah mulai melupakan mobil untuk bertemu dengan klien.

Kalo saya naikkan charge-nya, khawatir terjadi sengatan batin dalam koneksi & korelasi profesional kami.

Apa yang membuat saya mengerem kelatahan pergantian harga jual diri saya, adalah karena sesiapa yang menjual sesuatu kepada saya juga berusaha mengerem harganya. Saya turut saja kepada kelompok ini.

INILAH repotnya kalo jualan jasa murni tanpa ada bentuk barangnya. Tentu yang saya jual adalah waktu, tenaga, dan pemikiran saya.

Pemikiran ini nilai unlimited. Hanya situasi, kondisi, toleransi, pandangan, dan jangkauan-lah yang membuatnya menjadi terukur. Negosiasinya hanya pake persuasi dan agitasi.

Sama-sama membuat logo (di luar harga/biaya riset yang ada bentuk operasionalnya), membuat logo untuk pabrik gedhe dengan membuat logo untuk usaha rumah tangga tentu beda nilai jualnya. Padahal wujud jadinya ya sama-sama aja.

Inilah kegalauan permanen kaum pengecer jasa ide.

Dari dulu sampe sekarang, desainer grafis, fotografer, script-writer, MC, penata rias, penari, penyanyi, dll. selalu galau dengan harga jual jasa mereka. Khususnya yang masih merangkak, meniti, dan mendaki korporasi/wirausaha yang dibikinnya.

Apalagi seperti sekarang kita semua pengecer jasa ide gini dihadapkan dengan pergantian harga… sori, kenaikan harga pemenuh kebutuhan terkait. Sekali lagi, kita berhadapan lagi dengan inflasi.

Inflasi, lagi-lagi inflasi. Sesuatu yang saya mengerti namun tak pernah saya pahami: mekanismenya, klausulnya, dependensi-independensinya, pola & fluktuasinya, progres atau regres, dll.

Inflasi, kata penjabat dengan kata kenyataan lapangan selalulah bertolak belakang.

Entahlah, segala inflasi ini apakah karena:

  • short-cut untuk upaya tertentu, semacam pemerintah ingin menaikkan pendapatan negara secara instan; atau
  • memang sedang terjadi kondisi alami yang tak bisa dibantah, yakni timpangnya supply dan demand pada segala komoditi di pasar; atau
  • ada inefisiensi dalam manajerial pemerintahan, termasuk maih bertahan dan bercokolnya inefisiensi kondisi infrastruktur (aspal bolong-bolong, jembatan rusak, dll.) serta inefisiensi kondisi kultural (pungli, upeti, komisi gelap, dll.) sehingga berimbas pada ekonomi biaya tinggi;

saya ndhak tau. Dan otak saya terlampau kecil untuk menjangkaunya.

Saya taunya, inflasi itu kalo kita kekeringan dan panenan sedikit sehingga harganya naik. Tapi dengan kita bernegara, berkumpul membentuk pengelola pemerintahan yang kita gaji dari hasil kita menyisihkan sebagian pendapatan bersama; mustinya kondisi krisis dan kritis ini sudah disiapkan sedemikian rupa, rapi, teliti, dan sistemik untuk ditangani jikalau terjadi.

Entah kalu inflasi terjadi karena kita butuh duit untuk membeli duit, atau butuh duit untuk membayar duit.

Duit koq diperjual-belikan, njual-mbeli duit koq juga pake duit. Otak saya bener-bener ndhak nyampe dengan ginian ini.

Entahlah segala inflasi ini karena apa; sepertinya cuman intelijen, presiden, Amerika, dan Tuhan YME saja yang tau; tau ini semua ada apa dan karena apa.

– Freema HW
Pengecer jasa ide pada Awindo Creative, nyambi ngurusi sawah kecil peninggalan keluarga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s