Kecelakaan


– Ilustrasi, foto dari Dailymail.

Ini kejadian tahun kemarin, tepat di pertigaan depan rumah.

Siang hari nan terik dan panas.

Keluarga bermotor motor melaju lumayan kencang untuk jalanan kampung. Sang suami yang mengendarai, istri di boncengan, dan anak kecil di depan. Mereka berpakaian perjalanan lengkap: helm, jaket, dan sandal bukan jepit. Bukan sepatu memang. Sepertinya usai dari perjalanan yang berjarak lumayan.

Melaju lurus melalui pertigaan, mereka ditabrak dari arah samping oleh dua cewek ABG berboncengan yang mengendarai motor dengan cengengesan. (Tanpa helm siy, tapi saya abaikan faktor ini).

Keluarga bermotor tersebut mencelat, menghantam keras tembok rumah tetangga, menggelegarkan suara nan mengetuk jantung semua yang mendengarnya.

Si bapak dan si anak kecil selamat. Luka-luka saja.

Sang ibu yang parah. Tidak ada luka baret-baret di kulit, namun kakinya terkulai patah tulang, meski belom copot/terputus.

Saking shock-nya, beliau cuman bisa telentang. Pandangannya kosong, wajah pucattt. Tak ada suara apapun dari mulutnya. Tak ada jerit kesakitan sama sekali. Benar-benar tak ada suara keluar dari mulutnya.

Tetangga berlarian datang mengerubung. Saya ikutan keluar rumah.

Melihat kondisi yang sedemikian, saya keluarkan mobil, saya parkir di sebelahnya. Siap melarikan ke RS terdekat.

Di sini masalahnya.

Tetangga -maaf- beneran “ngawur” cara ngangkatnya. Si ibu serasa seperti diseret-seret saat melepaskannya dari timbunan motor dan digeletakkan di tengah jalan, di atas aspal nan panas.

Semua berniat baik: menolong. Hanya sama sekali tanpa pengetahuan tindakan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).

Ini adalah kondisi yang sama sekali tidak disalahkan, saya sendiri juga tidak paham sebenarnya apa yang harus dilakukan dalam kondisi demikian.

Hingga seseorang datang. Beliaunya perawat. Sejurus, ada komando tegas terlontar darinya.

– “Kamu, kendorkan ikat pinggang atau semua yang sesak-mengikat. Lepas jaketnya!” Tak ada perintah ngasih air putih, karena khawatir tersedak karena saking shock-nya itu korban.

– “Kamu dan kamu: cari kayu, patahkan itu dahan pohon, taruh di bawah kaki beliau! Kita ikat pake kain yang ada. Kalo perlu disobek kainnya!” Yang diperintah langsung mengikuti. Si perawat mengikat-ikat, sekejap semuanya usai.

– “Kamu, kamu, dan kamu yang badannya gedhe, jongkok berlutut satu kaki di samping si ibu. Satu tangan megang lewat bawah badan, satu tangan lingkarkan merangkulnya. Ikuti aba-aba saya, langsung angkat barengan! 1… 2… 3!”

Hup! Si ibu, sang korban diangkat dalam posisi rata lurus.

Kemudian perlahan dengan hati-hati dimasukkan mobil.

***

Pas saya hendak masuk mobil, seseorang dengan badan tegap menghampiri saya.

“Mobil ini yang nabrak ya?” Tanya dia dengan intonasi tegas.

Saya pandang matanya kuat-kuat. Dari pertanyaannya, jelas dia tak tau sama sekali berlangsungnya kejadian barusan ini.

Untung ada seorang tetangga menyadari situasi dan langsung menjelaskan. “Bukan Mas, justru mobil ini hendak menolong itu korban ke rumah sakit! Kecelakaannya sama-sama motor!”

Saya tak mau kehilangan waktu hanya untuk mengumpat lelaki itu. Sepintas saya amati, dia bukan tetangga sekitaran sini. Mungkin tadi dia pas lewat. Entah maksudnya bertanya atau menggertak, tapi intonasinya terlalu melawan situasi dan keadaan.

Dan saya mikir jorok, mungkin itu orang adalah wartawan bodrek, wartawan tukang nyari amplop bukan nyari berita. Hadeh…

Dan langsung saya melaju ke rumah sakit.

***

Well, saya hanya sekedar bertanya, adakah regulasi yang mewajibkan semua pengendara paham P3K? Atau tak ada?

Pada regulasi lalu-lintas, seingat saya kewajiban pada pengendara hanya menyediakan emergency-kit (kotak P3K) pada kendaraan. Untuk memperoleh SIM, saya kurang tau apakah ada ujian tentang P3K atau tidak.

Jika ada, rasanya kurang adil karena peserta ujian SIM di sini biasanya bukan lulusan/pemegang sertifikat mengemudi seperti halnya di luar negeri. Di luar negeri, sebelom memperoleh SIM (surat izin mengemudi – driving license), mereka harus berjuang keras lulus sertifikasi yang ketat.

Jika tanpa pembekalan tentang P3K kemudian ada materi ujiannya, di sini kurang adilnya.

Jika tak ada ujian tentang tindakan P3K pada saat mengajukan perolehan SIM, rasanya serem aja.

PADA penjelasan di semua buku manual kendaraan, sopir wajib memahami anatomi kendaraan: cara nyetel kursi dan dimana tuas/tombolnya, posisi tuas sein, saklar-saklar lampu dan wiper, dan lain sebagainya; termasuk troubel-shoting ringan/emergency teknis: cara mendongkrak, letak ban serep, posisi sekring, hingga penggantian lampu dan semacamnya. Lebih dari itu, itu sudah domainnya bengkel, bukan lagi domain supir.

Selain menjelaskan bagaimana perilaku teknis terhadap kendaraan, supir senantiasa dijelaskan juga tentang safety-driving oleh buku manual. Cek buku manual deh!

Hanya untuk tindakan emergency yang bersifat di luar kendaraan & pengendaraannya, memang tidak dijelaskan. Mungkin ini tergantung dengan regulasi masing-masing negara. Atau kewajiban ini termaktub bukan pada produsen kendaraan.

Entahlah. Saya kemarin memperoleh SIM dengan “cara gampang”. Makanya, saya ndhak tau tentang regulasi P3K ginian ini.

Pernah saya menanyakan fenomena kondisi lalu-lintas kepada beberapa polisi yang berhadapan meja dengan saya di sebuah depot makan, mereka terdiam saat saya bilang, “Maaf Pak, jujur saya ndhak ngerti ginian, lha wong saya kemarin dapet SIM juga nembak…”

*pentung kepala sendiri*

***

MENOLONG orang itu baik. Namun jika salah tindakan, memang yasalam. Meskipun ada klausul Good Samaritan Law, yang melindungi penolong kecelakaan dari tuntutan hukum seandainya tindakan pertolongannya membawa efek samping (copas: Arnold Jonathan).

Mungkin, tindakan P3K ini perlu dijadikan mata pelajaran di sekolah, bukan di ekstra-kurikuler. Seingat seumur saya sekolah, saya hanya mendapatkan pelatihan demikian pas ikut ekstra Pencinta Alam atau di Pramuka.

Bukan hanya tindakan P3K, tindakan/latihan menyelamatkan diri dari kebakaran, bagaimana menghubungi polisi, dan lain-lain rasanya juga perlu masuk sebagai mata pelajaran, bukan pengetahuan sampingan/tambahan.

Termasuk sebagai mata pelajaran, khususnya pada tingkat dasar, adalah segala experience: mengenal public-space (stasiun, terminal, balai desa/kantor kelurahan), kantor Polsek, membuang sampah pada tempatnya, antri;

dan juga basic attitude-behaviour: meminta tolong, meminta maaf, berterima kasih.

Di kurikulum sekarang sudah ada atau belom? Saya ndhak ngikuti dunia ginian soale. Sebab saya ikutan sebel kalo si kecil pulang-pulang bawa PR setumpuk. Padahal jika malam, saya pinginnya dia bercengkrama saja bersama keluarga setelah sorenya main-main bersama teman-teman/tetangga kecilnya.

Kalo toh ada PR, sepertinya cukup 5-10 soal saja. Ndhak usah banyak-banyak. Dan akan keren jika PR si kecil, selain tercantum pertanyaan siapa nama pahlawan nasional kita, juga tercantum pertanyaan, misalnya, “Apa yang akan kamu lakukan jika melihat air PAM di jalan depan rumah bocor?”

Meski jawabannya bisa saja: lapor kepada orang tua atau apalah, setidaknya ini mendidik siswa untuk hirau dengan kondisi sekitarnya.

IMHO.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s