Apple Pie

Ceritanya dia ngebantu Bulik Titi-nya bikin pie buah. Menggiling adonan hingga melebar.

Satu loyang berisi apel yang dijual diskon oleh pedagang buah di pasar karena udah kedatangan stok baru. Satu loyang lagi berisi pepaya matang dari belakang rumah.

Sengaja buah-buah melimpah itu dibikin pie karena adonannya enggak pake telor. Jadinya murmer πŸ˜€ Hehehehe…

Alhamdulillah wasyukurillah, maka nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kami dustakan?

*Klik/tap masing-masing foto untuk tampilan besar*

Advertisements

Belajar dari BMW

Saya suka ngikuti, dan sedikit menyeriusi, berita model BMW yang barusan dirilis.

Bukan hanya mengagumi keindahan dan keotentikan desain barunya yang tetep mempertahankan soul lama atau keganasan perkembangan teknologi mesinnya yang selalu saja bikin wow dan turut terdepan menjadi pioner perubahan;

melainkan juga mengikuti sisi kerennya manajerial korporasinya: bagaimana mereka menentukan (karakter)produk, bagaimana mereka mempertahankan dan mengembangkan pasar, bagaimana mereka menjalin komunikasi dengan kustomer dan audience, termasuk bagaimana mereka menjaga kultur dan dinamisme korporasi, bagaimana mereka berinteraksi dengan kompetitor atau komplementor, dll.

Yang sisi manajerial gini yang sering lewat dari headline dan kupasan media otomotif; hanya sedikit dikupas di media bisnis; dan bahkan nyaris tenggelam dan bisa dikata serasa tak pernah dibahas di berbagai forum penggila, penggemar, dan pecandu BMW. Kecuali kita mau menggali, meramu, dan mengembangkan kupasan dan bahasan manajerial ini lebih intens sendirian.

Meski saya bukan tipikal target incaran salesnya dealer BMW (ndhak enak mau ngomong kalo saya ini berasal dari kalangan ekonomi rakyat melata), tapi mengikuti perkembangan teknologi dan manajemen yang dihadirkan oleh pabrikan BMW membuat saya mendapatkan banyak inspirasi.

  • Inspirasi menciptakan karakter produk;
  • Inspirasi membangun trend (seperti BMW berani meluncurkan satu genre yang bisa dibilang genuine: coupe-SAV X6 atau 1-Series si slender-hatchback yang kemudian jadi benchmark pabrikan lain, termasuk Mercy sekalipun juga ngekor; atau
  • Inspirasi mengikuti trend tanpa kehilangan jati diri: jika dulu tipe-tipe BMW dijual dengan membedakan fungsionalitas dan keperkasaan tenaga mesinnya, kini produk-produk BMW dijual dengan fungsionalitas dan gaya/life-style-nya.

    Mengingat jika dulu manusia cukup memerlukan satu alat utama untuk menjalankan fungsionalitasnya, misalnya cukup perlu mobil belaka untuk bekerja; kini manusia perlu beberapa perangkat yang tingkat dibutuhkannya sejajar dalam menjalankan fungsionalitasnya dalam bekerja. Misal perlu mobil, perangkat navigasi, perangkat komunikasi dan koneksi. Inilah life-style dalam sisi fungsionalitas era sekarang. Dll.

Semuanya saya coba ikuti hingga pada satu kesimpulan saya pribadi: di BMW, yang berkuasa menentukan spesifikasi dan karakter produk adalah bukan insinyur teknik melainkan tim marketing!

Koq bisa?

Panjang alasan tebakan saya. Tapi kurang lebihnya itulah yang saya temukan dengan satu kalimat kunci:

  • BMW selalu bisa membuat model dan varian yang ndhak bertabrakan segmentasi pasarnya. Artinya, Seri-3 318i tidak akan pernah bersinggungan pasar dengan seri 3 325i, masing-masing akan menemukan dan ditemukan oleh kustomer pengguna masing-masing yang ‘sama namun berbeda’: sama karakternya (yakni karakter penggunaan sesuai yang ditampilkan oleh seri 3 – konsumen yang ingin menampilkan kesan ringkas, lincah, praktis, ekonomis, namun tetap bergaya dan mewah) namun beda kebutuhannya (satunya pingin nyantai satunya pingin cepet-cepet; misalnya demikian dll.). Dan
  • BMW senantiasa bisa membuat produk general-universal yang unik dan khas yang bisa dijual di berbagai negara dengan kultur dan karakter pasar yang beragam! Mungkin hanya perlu sedikit penyesuaian saja tanpa mengurangi karakter khas produknya. Seperti diluncurkannya tipe 730Li untuk negara dengan pajak tinggi dan lalu-lintas ruwet macam Indonesia, sehingga bisa mengurangi harga jual tanpa mengurangi fungsionalitas, citra, dan karakter produk sebagai transporter yang nyaman, mewah/luxury, dan bertenaga (untuk lalu lintas yang dilalui).

Intinya demikian itu yang saya temukan.

Jadi kalo ada yang bilang: di pabrikan lain mesin standar tipe gini, dari dua ratus HP (horse power – tenaga kuda) bisa di-upgrade sampe seribu hp; sementara mesin BMW susah untuk dibikin kayak gitu (meski bukan berarti tak ada dan tak bisa), saya memandangnya sedikit berbeda.

Sebab ketimbang meng-upgrade mesin standar BMW jadi mesin racing, akan lebih ekonomis, praktis, dan efektif langsung pake mesin S-Series pada model M-Series.

Kenapa koq bisa gitu?

Karena itu tadi, di BMW semua produk sudah di-plot pada segmentasinya sendiri-sendiri. Sehingga produk, termasuk mesin, untuk segmentasi touring bisa jadi ndhak akan bisa digunakan secara optimal untuk segmentasi racing.

Pun sebaiknya, mesin dan model kendaraan pada segmentasi racing mungkin akan malah cepet letoi jika digunakan untuk kebutuhan touring nan menempuh perjalanan panjang.

Itu satu contohnya.

Lainnya lagi, termasuk diskusi teknisnya, langsung aja kita chit-chat-kan di angkringan online https://www.facebook.com/groups/bimmerfan.mataraman/ ini πŸ˜€ Hehehehe….

Ref: BMW SWOT Analysis 2013 by Strategic Management-Insight

β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”β€”
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/
Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/
Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/
Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/
Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/
Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/
Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/

Angkringan-Online Bimmerfan Mataraman Pt.2

  • Ada yang telah lama pake biem dan sampai sekarang tetap terus pake biem. Ada yang udah lama pake biem dan sekarang udah ndhak pake.
  • Ada yang barusan pake biem dan ingin selamanya pake biem. Ada yang barusan pake biem dan entah besok apakah masih mau terus pake.
  • Ada yang belom pake biem dan berharap bisa pake biem. Ada yang bukan pemakai biem dan sekedar ingin tau tentang biem.

Kita beragam dan bermacam di sini. Apapun dan siapapun kita, di sini kita semua bimmerfan!

Kita bukan klub, bukan komunitas. Kita hanyalah angkringan-online.

Tanpa pengurus, namun kita terurus. Tanpa struktur, tapi kita teratur. Tanpa organisasi, tapi kita rapi. Tanpa bentuk, tapi kita berwujud. Tanpa lokasi, tapi kita eksis. Tanpa rupa, namun kita ada.

Di sini kita punya ki demang-online, camat-online, kepala dusun-online, RW-Online, RT-Online, dan barisan hansip-online.

Tapi yang pasti: di sini kita semua punya hati dan cinta sejati: bukan cuman online tapi juga offline!

Hati dan cinta tentang kebersamaan dan persahabatan, siapapun apapun darimanapun kita.

Kita bukan klub, bukan komunitas. Kita hanyalah angkringan-online.

Kita bukanlah bendera, karena beragam bendera atau tanpa bendera kita (di sini) bersama-sama.

Siapapun apapun darimanapun asal kita: asal lokasi, asal klub, asal komunitas, asal bendera, asal-usul, maupun asal-asalan; kita semua ingin bercengkrama dengan akrab dan hangat di sini.

Bimmerfan tunggal ika, all bimmer are brother. Borderless friendship, unlimited silaturahmi.

Ada cinta yang terus bertambah, terus tumbuh, dan terus berkembang di sini; di angkringan-online Bimmerfan Mataraman.

#ngopas Lanjutan dari sini https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/10/06/angkringan-online-bimmerfan-mataraman-pt-1/

Belajar Menjadi Orang Tua

Β©Deasy Widiasena 2015

Kami membagi kisah Aleef Rahman saat pertama ikut gathering bersama komunitas animator pengguna aplikasi Blender 3D ini ke forum pengguna Blender 3D Indonesia ini.

Tanggapannya beragam. Dominan memberikan semangat kepada si kecil Aleef Rahman untuk terus nge-Blender. Namun beberapa komen me-warning agar si kecil enggak overflow main Blender/main kompienya seperti kami copas ini:

Rayan Nurdin Kasian.. kecil kecil udah d cekokik teknologi kmputer… Usia smbilan taun blm saat nya.. terlalu dini..bukan menjatuhkan.. hanya memberi sedikit pengalaman.

Ngizat Muhammad jgan2 nga tau petak umpet, slodor, klereng, patok lele dll?

Satriyo Aji Nugroho Masa Kecilnya nggak bahagia. banyak pegang komputer bikin jiwanya kurang sosial.

Dwi Irawan Wantedd wah kalau menurut saya juga belum saatnya lho … karna kalau menurut saya belajar software itu masih terlalu teknis banget, kalau saran saya mending diajari nggambar aja. nanti kalau udah jago nggambarnya baru diajari softwarenya. pasti mantap hasilnya. Software kan cuman alat teknis, tapi kalau basic udah kuat pasti lebih mudah belajar alat teknisnya. Maaf nanti takutnya kalau nggak imbang jadinya cuman mahir softwarenya saja tp kemampuan dasarnya kurang. Maaf hanya opini pribadi lho….pisss

Well, yang pasti kami berterima kasih banget atas apresiasi, semangat, doa, dan segala warning-warning dan atensi dari rekan-rekan, paklik, bulik, pakpuh, budhe, dan semuanya.γ€€

Sungguh kami bahagia membaca segala respon rekan-rekan semua.

Sedikit yang bisa kami katakan, pertama seperti yang dibilang Om DodyAnimation.com; si kecil suka kompie bukan karena kami paksa atau kami recoki. Mungkin ini bawaan dari bapaknya yang kerja sebagai pengecer jasa ide di Awindo Creative ini.

Kedua, sebenarnya si kecil itu hiperaktif banget. Susah diam. kalo udah polah, beraktivitas, main, kadang serasa lupa berhenti. Polahnya lebih banyak ketimbang diamnya. Kadang kami sampe “berantem” (pake tanda petik lho ini, bukan harfiah :)) untuk menahannya bisa diam di rumah, bobok siang untuk memulihkan fisik dan menjaga kesehatannya.

Kami tetep bersyukur, dia masih aktif bermain dan bersosialisasi dengan temen-temennya.

Pulang sekolah, dia harus tidur siang jika tidak ada ekstra kurikuler di sekolah.

Sekalipun hiperaktif dan kami justru banyak “mengerem” (di sini pengertiannya bukan menghentikan, melainkan menyeimbangkan) hiperaktivitasnya, sore hari kami minta dia bermain dengan teman-teman sebaya di sekitar rumah. Mereka main sepedaan, atau main main-mainan balok-balok kayu: bikin sepur-sepuran atau truk-trukan. Atau kadang juga sekedar nonton Marsha di TV. Sesekali juga main layang-layang, tapi enggak bisa terbang tinggi karena lahan kosong di sekitar kami sudah mulai habis 😦

Kadang mereka juga main ke sungai. Nangkep cuyu (kepiting) katanya πŸ™‚

Intinya; dia harus tetep harus bersosialisasi, berinteraksi dengan temen-temennya. Dia nggak boleh sampe dikuasai komputer, komputerlah yang harus aku kuasai.

So, kalo dia bisa duduk di depan komputer itu kadang dalam sisi tertentu kami justru bersyukur. Setidaknya imbang antara hiperaktifnya, dan kami bisa sedikit mengerem pergerakannya dengan tetep menyalurkan energinya, tanpa harus membungkam sisi-sisi alamiah/natural dalam dirinya.

Posting yang kemarin itu tentu kami fokuskan pada kegiatan dan relativitas si kecil dengan kompie/blendernya. Memang akan nampak satu sisi saja akhirnya jika posting tersebut tidak ditelaah dengan seksama, seolah kami hanya menceritakan bentuk gelas jika dilihat dari atas saja tanpa menceritakan bentuknya jika dilihat dari samping. Jika posting tersebut kami imbangi dengan kisah kegiatan-kegiatan bergeraknya, wah bisa super panjang dong ntar πŸ™‚

Satu lagi yang mebuat kami bersyukur adalah: si kecil dan keluarga kami itu suka banget makan sayur, dan kebetulan suami juga alhamdulillah bukan perokok.

Artinya dan korelasinya apa dengan urusan kompie/Blender ini? Artinya dari satu sudut tentang kesukaan si kecil+kompienya/Blender-nya ini, kami juga tetep berusaha menjaga kebutuhannya: keseimbangan hidup ini seseimbang mungkin.

Jikalau kemampuan si kecil belajar Blender ini dianggap terlalu kecil, terlalu dini, dsb. kami akan perhatikan hal ini agak tidak terlalu overflow baginya.

Tapi yang jelas kami enggak pasang target apalagi maksa si kecil: besok kamu harus bisa ini, lusa harus nguasai ini, abis itu harus bisa bikin itu-itu.

Sama sekali tidak! πŸ™‚

Kami biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya. Kami orang tuanya hanya mengatur agar alirannya lancar, tidak tersendat namun juga tidak mengabrasi masa kecilnya atau mengkorosi perkembangan pola pikirnya.

Kami akan membuka sumbatan aliran pikir dan masa pertumbuhannya, sekaligus akan membuat bendungan-bendungan kecil jika ada apa-apa yang kami pandang overflow untuk anak seusianya.

Kami yakin, seperti inilah yang akan dilakukan semua orang tua dalam konteks, situasi, kondisi, dan keadaan masing-masing: ingin putra-putrinya tumbuh wajar alami, berprestasi sesuai bakat alamiahnya, bergerak dinamis menjalani perputaran waktu; menyadari dan menjaga apa yang menjadi kelemahannya, dan memupuk apa yang menjadi keunggulannya.

Selagi diberikan ijin dan kesempatan oleh-Nya, semua orang tua pasti ingin membimbingkan masa depan terbaik untuk putra-putrinya sesuai dengan konteks, kondisi, dan kapasitasnya masing-masing. πŸ™‚


– Usai doa lanut menyanyikan laju Indonesia Raya, opening-session gath Blenderian Kedirian.

Β©Deasy Widiasena 2015 Β©Deasy Widiasena 2015
– Workshop: gathering, sharing, coaching.

Β©Deasy Widiasena 2015
– Lagi serius πŸ˜€

Β©Deasy Widiasena 2015
– Kelaperan usai kegiatan πŸ˜€

MENJADI orang tua memang berat sekaligus menyenangkan. Penuh tantangan sekaigus penuh kemudahan. Harus penuh kehati-hatian dan pertimbangan namun juga penuh dengan segala kesantaian.

Mengalir namun tidak boleh banjir. (Kehidupan keluarga juga) tidak boleh kering namun juga jangan sampai terlalu meluap liar.

Kadang susah terdeskripsikan, dan unik untuk dijalani.

Inilah tantangan, inilah tugas, inilah kewajiban, inilah tanggung jawab, dan inilah seni kehidupan sekaligus inilah kenikmatan yang mungkin kadang bisa-jadi hanya bisa dipahami oleh sesiapa yang telah menjadi orang tua: …

baik orang tua dalam makna sesungguhnya, yakni Anda-anda yang (telah/sedang) membesarkan buah hati; atau …

orang tua dalam makna yang lebih luas, yakni sesiapa yang sedang mengasuh, membesarkan, merawat, menjaga, dan turut melindungi kehidupan ini dengan segala kompleksitasnya.

Sekali lagi, terima kasih support dan segala atensinya.

Kami akan terus belajar kepada Anda semua: belajar menjadi orang tua, belajar tentang kehidupan, dan membelajarkan Blender buat si kecil kami.

Dengan satu harapan besar tentunya: agar semua apa yang dia jalani bisa bermanfaat.

Wallahualambisawab.

Mie Pepaya

Β©Deasy Widiasena 2015

Kisah sayur pepaya yang kemarin kami posting ternyata masih berlanjut. Sore ini Uti-nya menumis irisan pepaya muda, (menjelang) ranum tepatnya. Dia mendampingi dan memperhatikan dengan seksama.

“Uti ini apa?”

“Pepaya,” sahut Uti-nya.

Dia diam. Mungkin heran, kenapa pepaya bisa tersuwir-suwir seperti itu dan kenapa pepaya koq digoreng?

Setelah kami ingat-ingat, selama ini dia memang belom pernah mengenal tumis pepaya meski kami sekeluarga berkali-kali menyantapnya.

Skip… skip…

Tumis pepaya pun jadilah. Aromanya nikmat semerbak mengundang selera. Dan tibalah sesi santap malam. Dan kami semua berpiir bagaimana menjelaskan ini semua kepadanya.

“Ini mie pepaya,” mendadak entah ide dari mana muncul kalimat itu dari mulut kami. Malaikatlah yang mengirimkan ide dari-Nya. Ya, karena bentuknya mirip mie pipih.

Dan kebetulan kata ‘mie’ itu begitu bermakna baginya. Sebab dia mengemarinya; mie apapun. Dan kami hanya mengijinkan mie bahan/mie mentah yang kami olah sendiri untuk dia santap sewaktu-waktu. Sementara mie instan kami regulasi dengan super-ketat untuknya: kami hanya mengijinkannya menyantap hanya sekali dalam sebulan!

Kejam ya? Biarin! Ini demi kebaikannya πŸ˜›

Mie instan yang di kota besar harganya jauh lebih murah ketimbang sayuran, di sini berbalik adanya. Sekalipun hanya beberapa ribu rupiah, kami tetap harus membelinya, membeli mie instan tersebut. Sementara untuk sayuran dan beberapa jenis rempah banyak yang bisa kami petik langsung dari belakang rumah sendiri.

Belom lagi biaya non-nominal dari mie instan ini. Sebenarnya, ia pun bapaknya, sering bermasalah tengorokannya juga mengkonsumsi makanan yang mengandung pengawet pun micin/vetsin. Bapaknya langsung serik tenggorokannya, sementara si kecil lebih sering langsung demam dan meradang saluran makanan di lehernya itu.

Maklum, baik si besar maupun si kecil – bapak dan anak ini, dari kecilnya masing-masing memang sudah dibiasakan fakir-vetsin, khususnya pada masakan keluarga sendiri.

Dan begitu mendengar kata mie ini tadi, si kecil langsung girang. Kelihatan membayangkan nikmatnya bahkan sebelum menyantapnya. Alhamdulillah, semangkuk mie pepaya ludes dilahapnya malam ini tadi.

“Besok mau bawa bekal mie pepaya ini buat sekolah?”

“Mau!”

Dia girang. Kami semua tersenyum riang.

Alhamdulillah kegemarannya sederhana.

Dan semoga dia enggak gemar minta pizza.

Bukan masalah idealisme. Ini murni persoalan ekonomi. Sebab kami belom tentu pegang uang dan sanggup membelikannya pizza. Sementara sejauh ini, Tuhan senantiasa menganugerahkan segala tetumbuhan yang tiada putus untuk bisa kami konsumsi.

Maka nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kami dustakan?

-Bapak & Ibunya Aleef Rahman yang senantiasa berbahagia, alhamdulillah wasyukurillah-

Tuhan Telah Mati

“Tuhan telah mati…” Ini salah satu ungkapan kondang dari Pakdhe Nietzsche, yang banyak merenung dan mengungkapkan pemikirnnya untuk kehidupan.

Dalam konteks masa-nya, mungkin pemikiran Pakdhe Nietzsche berkorelasi dengan era Kristiani. “Tuhan sudah mati” tidak boleh ditanggapi secara harafiah, seperti dalam “Tuhan kini secara fisik sudah mati”; sebaliknya, inilah cara Nietzsche untuk mengatakan bahwa gagasan tentang Tuhan tidak lagi mampu untuk berperan sebagai sumber dari semua aturan moral atau teleologi.

Alhasil, pemikirannya akhirnya jadi debat panjang, khususnya bagi kaum non-kristiani (Muslim atau bahkan atheis) yang ingin ‘menggencet’ kaum Kristiani dengan menabrakkan pemikiran pakdhe Nietzsche yang sebenarnya merupakan sebuah kritik inspiratif-konstruktif. Hingga kemudian ini melebar menjadi trigger (pemicu) jadi debat antar agama, khususon debat Islam – Kristen yang serasa kekal permanen di bawah tanah sana.

Anda semua yang masih terus berdebat Islam-Kristen silakan diteruskan, karena apapun hasilnya, misalnya Kristen itu agama jelek, tidak akan meningkatkan keimanan saya sebagai muslim. Karena saya punya keyakinan yang berada di lubuk hati saya yang membuat saya bergerak dalam kelemahan saya sebagai manusia, sebagai muslim. Keyakinan lillahitaala bukan keyakinan karena hal di luar ke-lillahitaala-an.

Dan jikalau kemudian ternyata Kristen itu agama baik, juga ndhak akan mengganggu keimanan saya. Ya karena itu tadi, keimanan saya cuman lillahitaala.

Dan taruh kata Islam menang debat di sini, saya yakin juga tidak akan mengganggu keimanan rekan-rekan Kristiani. Karena saya yakin bahwa rekan-rekan Kristiani juga punya keyakinan yang berada di lubuk hati mereka yang membuat mereka bergerak dalam kelemahannya sebagai manusia, sebagai manusia Kristiani.

Pun sebaliknya jika Islam itu ternyata jelek, saya yakin juga ndhak ngaruh, ndhak meningkatkan keimanan rekan-rekan kristiani. Karena mereka juga punya keyakinan di lubuk hati terdalam.

Jadi yang hobi debat Islam-Kristen, bagi saya itu semua adalah perbuatan membuang-buang waktu belaka. Saya tidak akan menyimak debat seperti ini, karena bagi saya pribadi, jauh lebih penting bagaimana saya, kita semua, bisa berkiprah pada kehidupan secara nyata.

Bagi saya pribadi, agama -termasuk Islam- adalah pegangan untuk hidup dan kehidupan. Untuk tindakan yang universal. Untuk kemenangan bukan untuk pemenangan. Untuk kemenangan kita menjadi manusia. Bukan untuk pemenangan kita menjadi golongan.

Berdiskusi saling mengetahui agama satu dengan lainnya itu baik. Agar kita saling memiliki pemahaman. “Oh ternyata kamu begitu, saya begini. It’s okey: lakum dinukum waliyadin.”

Udah gitu aja!

Kalo saya meyakini Islam itu lebih baik dari yang lain misalnya, maka satu-satunya jalan untuk menggapai kemenangan Islam adalah: bahwa dengan Islam saya harus menjadi manusia terbaik dari yang lainnya. Saya harus menggelontorkan kebaikan paling banyak dibanding lainnya!

Dan seru kalo kita semua berlomba-lombanya hanya dalam kebaikan semata. Karena perlombaan kebaikan, dan kebaikan itu sendiri, syaratnya sederhana: ibarat tangan kanan melakukan maka tangan kiri pun serasa tak mengetahuinya. Tampakkan saja wujudnya! Atau jika kita ungkapkan, jadikan itu hanya dalam kebutuhan inspiratif. Bukan riya. Niat kita dan keikhlasan kita yang akan menjaga hal demikian ini. (Bismillahitaala…)

TAPI menarik menyimak pernyataan Nietzsche yang karya-karyanya saya ikuti sejak 17 taon silam namun juga selama ini saya anggap dengan ndhak terlalu serius, khususnya pada statemen tadi: Tuhan telah mati.

Diskusi beberapa rekan, mencoba menterjemahkan ungkapan Pakdhe Nietzsche tersebut dengan: “ternyata secara tidak sadar kita telah membunuh Tuhan bahkan melenyapkan Tuhan melalui perkataan, pemikiran, bahkan perilaku kita…”

Saya mencoba meresapinya sebagai muslim.

Rasanya pernyataan Pakdhe Nietzsche tersebut korelatif dengan perilaku umat dalam konteks kekinian.

Korelasinya banyak.

Namun intinya: Tuhan (apapun tuhan dan keyakinan Anda, saya yakin sama) menitahkan kita sebagai manusia untuk membangun peradaban. Dalam bahasa muslimnya: kita ini bertugas menjadi khalifah di bumi [QS 2:30]. Menjadi pemimpin. Pemimpin atas sunatullah yang sudah disiapkan-Nya.

Dengan kemanusiaan kita (otak, pimikiran, perilaku/tindakan kita), kita mencari tanda-tanda alam, tanda-tanda peradaban diantara siang dan malam dan memimpin semua pergerakannya [QS 3:190]:

  • Kita memimpin pergerakan ombak, air sungai, angin, panas matahari, dll. untuk menjadi sumber energi terbarukan.
  • Kita memimpin kawasan hutan agar terlindungi dan terkelola dengan baik: kita manfaatkan keberadaannya namun secara pararel kita jaga terus kelestarian, keberlangungannya.
  • Kita pimpin segala sumber daya yang given dari-Nya semata ini untuk modal-modal membangun peradaban, membangun pengetahuan, dan melanjutkan kehidupan. Bukan kta habiskan tanpa road-map penggantian/pembaruan/subtituennya.
  • Kita pimpin diri kita sendiri agar apapun takdir yang kita pegang, kita bisa menghidupkan Tuhan: menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya dalam peradaban ini.

Itulah pemikiran saya pribadi dalam konteks mencoba memahami pemikiran Pakdhe Nietzsche yang sekampung sama Hitler itu.

Kita turun ke bumi untuk menghidupkan Tuhan: menjalankan perintahnya dan menjauhi larangan-Nya. Kita awalnya berada di surga rahim Ibu sebagai embrio, hasil dari pertemuan mani Adam dan sel telur Hawa.

Hingga dari surga itu kemudian kita turun ke bumi sebagai bayi. Dan kemudian kita masing-masing menjadi Adam atau Hawa saat turun ke bumi; meniti waktu dan pelan-pelan belajar isi bumi: belajar berkata, belajar berjalan, belajar mengenali benda-benda melalui orang tua – sang wakil Tuhan di bumi; belajar fisika, kimia, biologi, ekonomi, sosial, sejarah, dll.

Hingga kemudian kita menjadi Adam atau menjadi Hawa sebagai utusan Tuhan: menjadi manusia yang berpikir, menjalankan anugerah otak, dan masing-masing kita menjadi khalifah. Bertugas menghidupkan kalamullah – segala titah dan tuntunan Tuhan untuk kehidupan dan peradaban.

Jadi, jikalau kita sudah mengingkari tugas kita turun ke bumi ini dengan berbuat kerusakan, tidak berlaku adil [QS 5:8], mengurangi timbangan – mengurangi spesifikasi barang/curang menjual produk/ngembat duit negara [QS 11:85, 55:9], dll. maka tidak berlebihan rasanya jikalau memang kita telah membunuh Tuhan.

Jikalau kita mengingkari tugas kita turun ke bumi ini dengan korupsi; membabat hutan seenak udelnya sendiri; mencemari sungai dengan limbah industri atau sampah-sampah yang kita buang seenaknya sendiri; menjual barang busuk atau rusak – menyembunyikannya dan mengatakan sebagai barang normal; tidak tertib dan tidak bertatakrama lalu-lintas di jalan raya; merokok seenaknya sembarangan dan memaksa kaum bukan perokok menerima asep kita; maka tidak berlebihan rasanya jikalau memang kita telah membunuh (titah) Tuhan. Titah Allah. Titah Sang Hyang Widhi. Titah Sang Maha Kuasa.

Jika kita telah berbuat seolah dunia ini bukan milik Tuhan, dalam hal kita mengikrarkan diri sebagai orang beriman, mungkin kita justru malah menjadi atheis: karena melecehkan titah-Nya dan seolah Dia ndhak ada.

Jika kita telah berbuat seolah dunia ini bukan milik Tuhan, dalam hal kita mengikrarkan diri sebagai orang beriman meskipun kita menyembah-nyembahnya, maka Tuhan tak lebih dari sekedar berhala: sesuatu yang kita sembah-sembah, komat-kamit menyebut nama-Nya, namun tindakan kita pada peradaban justru jauh dari kehendak-Nya.

Yakni kehendak-Nya kepada kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Khalifah peradaban.

– Freema Nietzsche Widiasena,
suka berbuat kerusakan: mbuang sampah seenaknya dan naik motor seenak udel sendiri; dan suka pamer-pamer keimanan sendiri. Padahal saya bukan Iman apalagi Imam; sebab saya ini Freema.

Lodeh Pepaya

Siapa mau nyayur/ngelodeh pepaya? Orang Jawa bilangnya: jangan kates! Jangan dalam bahasa Jawa berarti sayur dan refers lagi ke lodeh, dan kates adalah pepaya. Ini kami barusan manen dikit pepaya muda siap dilodeh πŸ˜€

Pepaya muda dilodeh pedas, maknyusss…! Lainnya dilodeh, biasanya di sini juga diiris tipis-tipis, direbus, dan dibuat komposisi sayur pecel bersama bayam, sawi, daun pepaya-nya juga, daun ubi jalar, kenikir, bunga turi, macam-macam lah pokoknya πŸ˜€ Lainnya lagi, pepaya ranum -kalo yang masih terlalu muda/mentah kurang enak- juga bisa ditumis. Sama: diiris-iris kecil dulu, tumis kecap seperti biasanya. Dan tetep: pedas lebih nikmat πŸ˜€

Ini pepaya dari pekarangan sendiri, bukan beli di hipermarket. Ini pepaya yang tumbuh dengan sendirinya itu karena hobi-kelakuan-kebiasaan kami: buang sampah organik sesuka kami di lahan belakang yang kami posting sebelumnya di sini https://freemindcoffee.wordpress.com/2014/09/25/pepohonan-pepaya-hutan-mini-kami/

Eh biji-biji pepaya itu kini udah jadi gerumbulan lebat pepohonan pepaya yang berbuah buanyakkk! Alhamdulillah…

Buah matangnya juga manis dan legit. Kami ndhak tau ini jenis apa. Kalo liat fisiknya siy mirip pepaya California. Cuman kami kurang yakin juga. Maklum, ndhak pernanh nginget biji pepaya jenis apa aja yang udah kami lempar sekenanya ke pekarangan belakang. Yang kami inget cuman, banyak jenis pepaya yang sebelumnya udah kami lumatkan di usus perut πŸ˜€

Ah, siapa peduli ini jenis apa kalo nyatanya manis dan legit? πŸ˜€ Hehehehe…

Ada yang mau? Mau pepayanya atau lodeh pedasnya? Monggo kemari πŸ˜€

Maka nikmat Tuhan mana lagi yang hendak kami dustakan?