Suzuki

Ini kisah tentang motor Suzuki di keluarga kami. Ini cuman kebetulan. Motor di keluarga kami kebanyakan Suzuki.

Awalnya jaman bapak sama emak ane manten baru, mereka pake Vespa. Wajar, era 70an emang eranya produk-produk otomotif Eropa.

Selanjutnya, motor ganti Yamaha V70 (atau V80? Pokoknya bebek Yamaha yang awal-awal itulah…).

Era Suzuki dimulai sejak emak pake FR80 untuk kerja sehari-hari. Dan bapak pake TRS118. Sekian lama TRS ini menjadi motor keluarga.

Selanjutnya era saya. Saya berkeluarga, ada dua motor yang saya beli: sebuah Suzuki Spin 125 untuk operasional tim kerja saya dan sebuah Suzuki Thunder 125 untuk saya pake harian. Hingga saat ini Suzuki Nex. Tidak alasan fanatisme untuk ini semua.

Suzuki Spin

Waktu itu adalah satu-satunya skutik dengan cc 125, atau skutik pasaran dengan cc terbesar. Lawannya masih 110-an cc.

Skutik kami pilih karena kepraktisannya, dan dek-nya bisa buat bawa barang.

Kebetulan hingga sejauh ini, dari beragam skutik yang pernah saya coba, Suzuki Spin ini punya dek paling luas. Dua akua kardus masuk aman ke bawah selangkangan pengendaranya 😀

Suzuki Spin kami sejak sembilan tahun kemarin udah menempuh puluhan ribu kilometer. Dua kali terjungkal karena kejeblos aspal berlobang sampe bannya sobek parah! Dan berkali-kali kejedok lobang-lobang di jalanan hingga velgnya peyang-peyang yang kemudian kami press-kan ke tukang velg.

Namun alhamdulillah, sejauh ini bersama motor ini kami tidak pernah mengalami kecelakaan karena human-error.

Kondisinya saat ini… entahlah ini mengenaskan atau wajar-wajar aja. Suspensi udah bocor semua. Cakram peyang, velg bowel-bowel. Dek/kover body baret-baret di beberapa titik. Dan ada sedikit sobek di ujung depan jok.

Kondisinya tersebut mungkin kurang nyaman untuk perjalanan jauh. Meski mesinnya dulu pernah dibuka kop(/head)nya buat dibersihkan total.

Untuk layak dipakai lagi, motor ini musti direstorasi lumayan.

Namun demikian, kelengkapan motor ini masih berfungsi sempurna: lampu + sein depan-belakang masih utuh dan nyala kecuali pas putus dan belom saya ganti, soale lampu depan/belakang kadang sekian bulan sekali gitu putus.

Spion juga terpasang dua kiri-kanan. Knalpot juga utuh ndhak saya brong.

Termasuk panel-panelnya: speedometer dan indikator bensin juga masih bekerja, lampu indikator sein dan hi-beam juga bekerja sempurna.

Dan saya bangga melihatnya. Motor ini melambangkan perjuangan. Ke sana-kemari buat ngurusi kerjaan. Bahkan mungkin perjuangan melayani tuannya jauh lebih berat ketimbang perjuangan si tuannya sendiri. Hehehehe…

Di rumah, saya masih nyetok filter olinya, cadangan buat sewaktu-waktu waktunya ganti oli. Kini, ini motor hanya kami gunakan untuk jalan ‘dari sini ke situ’ doang aja 😀

Suzuki Thunder 125

Motor ini saya pakai harian dulu itu. Pertimbangan saya waktu itu adalah karena dia motor laki, model lumayan kece, dan harga paling murah serta fisiknya sama/turunan dari Thunder 250, maka pasti enak buat perjalanan ke kota-kota sebelah.

Kan ndhak kenceng? Itu justru yang saya perlukan, saya bukan penggila kecepatan motor.

Saat ini, udah sekian lama motor yang kami beli delapan taon silam ini mangkal di Blitar selatan. Tampangnya berubah jadi trail, buat nengok sawah di sana.

Suzuki Nex

Ini motor yang kami beli taon kemarin. Pas kami lagi hunting motor, sebenarnya ndhak ada niatan khusus harus Suzuki (lagi). Waktu itu saya hanya mikir, tetep nyari skutik, karena praktis buat harian: tinggal gas ndhak pake masukkan gigi persneling. Dan sekali lagi: dek-nya bisa buat bawa barang.

Awalnya saya dan istri pingin ambil Suzuki Hayate. Pertimbangan dasarnya:

– Suspensi belakangnya coilover-ganda. Ini lebih maknyuss buat nahan beban meski kalah di stabilitas nikung dibanding single-suspension.

Faktor berpengaruhnya: kami ndhak butuh handling (dan kecepatan) yang terlalu racing, dan juga ndhak suka ngebut kalo bawaannya motor (saya pernah kecelakaan yang agak parah dulu pas naik motor, makanya agak trauma).

– Velg RIM 16″. Teori dasarnya, makin gedhe ukuran rim/lebar ban maka akan makin nyaman aja buat jalan.

Sayang beribu sayang, pas hunting, stok yang cuman warna limited merah-putih. Keren siy. Cuman kami pinginnya yang warna simpel aja. Selain juga yang versi limited harganya lebih mahal beberapa ratus ribu.

Alhasil, perburuan Hayate kami hentikan.

Kini opsi tinggal skutik pasaran yang lainnya.

Akhirnya kami milih Nex. Dengan satu pertimbangan saja: ini model yang kurang laku di pasaran, mudah-mudahan ndhak disukai maling motor.

Toh bagi kami, motor pasaran yang gitu-gitu aja kondisi dan rasanya. Ndhak ada ngaruh/perbedaannya secara signifikan.

Nex pas letusan Gunung Kelud 1402 2014. Kisahnya di sini https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10201703171286640&type=1&l=b0f7571bc7

***

BERBARENGAN dengan Suzuki Spin 125 kemarin dulu itu, saya juga ngambil Yamaha Mio. Buat harian emak saya.

Namun baru sebulan dipakai emak, beliau jatuh di jalan raya karena ulah anak muda yang zig-zag kenceng.

Bagian depan motor rusak, setirnya sowak.

Emak luka-luka, namun untungnya ndhak parah. Motornya kali ini yang lumayan parah.

Itung punya itung, ini motor baru saya bayar DP-nya doang (dan waktu itu murah bingit. Kini pun juga masih murah).

Akhirnya saya bilang ke orang leasing: kapan deadline motor ndhak dibayar akan ditarik.

Dia bilang tiga bulan.

Ya udah, kami bikin deal, tiga bulan lagi ambil aja motor ini.

Beneran. Tiga bulan berikutnya motor saya serahkan dengan kondisi remuk. Tapi saya cuci bersih duluan. Dan ndhak ada parts yang saya pretheli. Dan toh faktualnya ndhak ada masalah dengan pihak leasing-nya. Hehehehe…

Saya emang sengaja ambil leasing untuk motor, karena kebetulan rekan-rekan saya ada yang di leasing sehingga dikasih (tahu) harga terendahnya; dan yang terpenting: biar ada asuransinya. Meski untuk motor hanya asuransi TLO.

Lainnya itu, duitnya biar bisa diputer.

Umumnya saya ambil hanya dalam jangka 18-23 bulan saja, tidak pernah lebih dari itu. Dalam rentang waktu yang segitu, saya itung kasar over-price-nya ndhak terlalu ekstrim. Maklum, semakin panjang waktu leasing-nya, tentu itu artinya risiko akan semakin besar. Pihak leasing pasti akan masang riba… maaf, bunga yang jauh lebih tinggi.

Jadilah, lima motor Suzuki (dulu juga ada picup Carry, sempat/pernah) hadir di keluarga kami 😀

Advertisements

3 thoughts on “Suzuki

  1. setoke… pirang drim kae…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s