(Pohon) Pisang


– Gerumbulan pohon pisang, dari gang di belakang rumah.

Di lahan belakang rumah Uti, Kediri ada segerumbul pohon pisang. Entah jenis pisang apa ini, mestinya siy disebut pisang kluthuk, yakni jenis pisang yang ber(banyak)biji dalam buahnya.

Itu pohon pisang punya cerita lucu.

Entah kapan kejadiannya kami udah lupa, duluuu tetangga seberang rumah agak sono membersihkan halamannya karena mau mendirikan bangunan. Ada pohon pisang yang didongkel hendak dibuang.

Uti-nya AleefRahman pas lewat dan ngelihat. Kemudian beliau minta.

Yang punya pohon seneng aja, karena enggak repot ngebuangnya 😀

Trus oleh Uti itu pohon diletakkan begitu saja di pinggir kubangan pembuangan sampah organik di belakang rumah. Kami sejak duluuu memang memisahkan sampah rumah jadi dua: organik yang kami buang begitu saja di kubangan, dan anorganik yang kami bungkus dan kami buang ke bak sampah.

Kata Uti-nya AleefRahman, “Jika ini pohon pisang memang ditakdirkan tumbuh, biarlah tumbuh. Kal toh nanti mati, ya udah karena itu emang pisang dibuang…”

Mungkin karena naruhnya di kubangan sampah organik, alhasil pisang itu tumbuh!

Akarnya memanjang. Merasuk ke dalam tanah mencari nutrisi-makanannya.

Hingga kemudian menguat, tegak sebagaimana pohon yang tertanam normal. Bonggolnya sudah tertanam sempurna di dalam tanah. Sebenarnya ‘pohon’ pisang kan bonggolnya itu kan? Karena yang tumbuh ke atas serupa pohon itu kan kumpulan tangkai daunnya kan?

Efye-i aja, kata orang-orang, pohon pisang emang terkenal gampang tumbuh enggak gampang mati.

Hingga kemudian itu pohon bertunas, beranak-pinak. Hingga kemudian dia berbuah. Jantung pisangnya juga biasanya kami sayur. Sekedar direbus buat sayur pecel atau dibikin lodeh pedas nikmat 😀

***

AWALNYA berbuah, isinya penuh biji, buanyak gitu pokoknya bijinya. Kami mendengar, jenis seperti ini disebut pisang kluthuk. Beberapa sisir sampai kami berikan ke orang buat makanan burung piaraan.

Hanya saja, di balik kekurangannya yang penuh biji itu, kalau digoreng rasanya luar biasa nikmat! Manis legit enak pokoknya!

Alhasil, biasa itu buah pisang digoreng dengan diiris kecil-kecil. Agar mudah membuang biji dari kunyahan.

***

WAKTU berjalan. Itu pisang terus tumbuh dan bertunas beranak-pinak. Bertunas dan terus tumbuh. Terus berbuah.

Eh lama-lama, ternyata biji dalam buahnya semakin sedikit, hingga belakangan ini kami sudah panen beberapa tandan, biji dalam buahnya udah ilang total!

Ajaib!

Pas kami tanya ke tetangga kiri-kanan, kata mereka: kadang emang ada yang kayak gitu. Pisang biji, lama-lama bijinya yang buahnya bisa ilang!

Hanya saja, semenjak buah pisang ini tak lagi berbiji, legitnya seperti berkurang. Jika digoreng terasa tak semanis saat manis banyak mengandung biji.

Jadi ini jenis pisang apa, kami juga kurang paham. 😀 Belakangan kami ketahui, pisang ini di sini disebut dengan raja dengklek.

Karena mereka terus berbuah, ya kami bersyukur aja pokoknya. Apalagi jika mengingat, harga sesisir apalagi setandan pisang di pasar udah mulai kerasa angkanya. Hehehehe…

Bener kata sesiapapun, bahwa menanam pohon/tanaman itu sama artinya menanam rejeki. Faktanya emang beneran iya!

Alhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s