Suzuki

Ini kisah tentang motor Suzuki di keluarga kami. Ini cuman kebetulan. Motor di keluarga kami kebanyakan Suzuki.

Awalnya jaman bapak sama emak ane manten baru, mereka pake Vespa. Wajar, era 70an emang eranya produk-produk otomotif Eropa.

Selanjutnya, motor ganti Yamaha V70 (atau V80? Pokoknya bebek Yamaha yang awal-awal itulah…).

Era Suzuki dimulai sejak emak pake FR80 untuk kerja sehari-hari. Dan bapak pake TRS118. Sekian lama TRS ini menjadi motor keluarga.

Selanjutnya era saya. Saya berkeluarga, ada dua motor yang saya beli: sebuah Suzuki Spin 125 untuk operasional tim kerja saya dan sebuah Suzuki Thunder 125 untuk saya pake harian. Hingga saat ini Suzuki Nex. Tidak alasan fanatisme untuk ini semua.

Suzuki Spin

Waktu itu adalah satu-satunya skutik dengan cc 125, atau skutik pasaran dengan cc terbesar. Lawannya masih 110-an cc.

Skutik kami pilih karena kepraktisannya, dan dek-nya bisa buat bawa barang.

Kebetulan hingga sejauh ini, dari beragam skutik yang pernah saya coba, Suzuki Spin ini punya dek paling luas. Dua akua kardus masuk aman ke bawah selangkangan pengendaranya 😀

Suzuki Spin kami sejak sembilan tahun kemarin udah menempuh puluhan ribu kilometer. Dua kali terjungkal karena kejeblos aspal berlobang sampe bannya sobek parah! Dan berkali-kali kejedok lobang-lobang di jalanan hingga velgnya peyang-peyang yang kemudian kami press-kan ke tukang velg.

Namun alhamdulillah, sejauh ini bersama motor ini kami tidak pernah mengalami kecelakaan karena human-error.

Kondisinya saat ini… entahlah ini mengenaskan atau wajar-wajar aja. Suspensi udah bocor semua. Cakram peyang, velg bowel-bowel. Dek/kover body baret-baret di beberapa titik. Dan ada sedikit sobek di ujung depan jok.

Kondisinya tersebut mungkin kurang nyaman untuk perjalanan jauh. Meski mesinnya dulu pernah dibuka kop(/head)nya buat dibersihkan total.

Untuk layak dipakai lagi, motor ini musti direstorasi lumayan.

Namun demikian, kelengkapan motor ini masih berfungsi sempurna: lampu + sein depan-belakang masih utuh dan nyala kecuali pas putus dan belom saya ganti, soale lampu depan/belakang kadang sekian bulan sekali gitu putus.

Spion juga terpasang dua kiri-kanan. Knalpot juga utuh ndhak saya brong.

Termasuk panel-panelnya: speedometer dan indikator bensin juga masih bekerja, lampu indikator sein dan hi-beam juga bekerja sempurna.

Dan saya bangga melihatnya. Motor ini melambangkan perjuangan. Ke sana-kemari buat ngurusi kerjaan. Bahkan mungkin perjuangan melayani tuannya jauh lebih berat ketimbang perjuangan si tuannya sendiri. Hehehehe…

Di rumah, saya masih nyetok filter olinya, cadangan buat sewaktu-waktu waktunya ganti oli. Kini, ini motor hanya kami gunakan untuk jalan ‘dari sini ke situ’ doang aja 😀

Suzuki Thunder 125

Motor ini saya pakai harian dulu itu. Pertimbangan saya waktu itu adalah karena dia motor laki, model lumayan kece, dan harga paling murah serta fisiknya sama/turunan dari Thunder 250, maka pasti enak buat perjalanan ke kota-kota sebelah.

Kan ndhak kenceng? Itu justru yang saya perlukan, saya bukan penggila kecepatan motor.

Saat ini, udah sekian lama motor yang kami beli delapan taon silam ini mangkal di Blitar selatan. Tampangnya berubah jadi trail, buat nengok sawah di sana.

Suzuki Nex

Ini motor yang kami beli taon kemarin. Pas kami lagi hunting motor, sebenarnya ndhak ada niatan khusus harus Suzuki (lagi). Waktu itu saya hanya mikir, tetep nyari skutik, karena praktis buat harian: tinggal gas ndhak pake masukkan gigi persneling. Dan sekali lagi: dek-nya bisa buat bawa barang.

Awalnya saya dan istri pingin ambil Suzuki Hayate. Pertimbangan dasarnya:

– Suspensi belakangnya coilover-ganda. Ini lebih maknyuss buat nahan beban meski kalah di stabilitas nikung dibanding single-suspension.

Faktor berpengaruhnya: kami ndhak butuh handling (dan kecepatan) yang terlalu racing, dan juga ndhak suka ngebut kalo bawaannya motor (saya pernah kecelakaan yang agak parah dulu pas naik motor, makanya agak trauma).

– Velg RIM 16″. Teori dasarnya, makin gedhe ukuran rim/lebar ban maka akan makin nyaman aja buat jalan.

Sayang beribu sayang, pas hunting, stok yang cuman warna limited merah-putih. Keren siy. Cuman kami pinginnya yang warna simpel aja. Selain juga yang versi limited harganya lebih mahal beberapa ratus ribu.

Alhasil, perburuan Hayate kami hentikan.

Kini opsi tinggal skutik pasaran yang lainnya.

Akhirnya kami milih Nex. Dengan satu pertimbangan saja: ini model yang kurang laku di pasaran, mudah-mudahan ndhak disukai maling motor.

Toh bagi kami, motor pasaran yang gitu-gitu aja kondisi dan rasanya. Ndhak ada ngaruh/perbedaannya secara signifikan.

Nex pas letusan Gunung Kelud 1402 2014. Kisahnya di sini https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10201703171286640&type=1&l=b0f7571bc7

***

BERBARENGAN dengan Suzuki Spin 125 kemarin dulu itu, saya juga ngambil Yamaha Mio. Buat harian emak saya.

Namun baru sebulan dipakai emak, beliau jatuh di jalan raya karena ulah anak muda yang zig-zag kenceng.

Bagian depan motor rusak, setirnya sowak.

Emak luka-luka, namun untungnya ndhak parah. Motornya kali ini yang lumayan parah.

Itung punya itung, ini motor baru saya bayar DP-nya doang (dan waktu itu murah bingit. Kini pun juga masih murah).

Akhirnya saya bilang ke orang leasing: kapan deadline motor ndhak dibayar akan ditarik.

Dia bilang tiga bulan.

Ya udah, kami bikin deal, tiga bulan lagi ambil aja motor ini.

Beneran. Tiga bulan berikutnya motor saya serahkan dengan kondisi remuk. Tapi saya cuci bersih duluan. Dan ndhak ada parts yang saya pretheli. Dan toh faktualnya ndhak ada masalah dengan pihak leasing-nya. Hehehehe…

Saya emang sengaja ambil leasing untuk motor, karena kebetulan rekan-rekan saya ada yang di leasing sehingga dikasih (tahu) harga terendahnya; dan yang terpenting: biar ada asuransinya. Meski untuk motor hanya asuransi TLO.

Lainnya itu, duitnya biar bisa diputer.

Umumnya saya ambil hanya dalam jangka 18-23 bulan saja, tidak pernah lebih dari itu. Dalam rentang waktu yang segitu, saya itung kasar over-price-nya ndhak terlalu ekstrim. Maklum, semakin panjang waktu leasing-nya, tentu itu artinya risiko akan semakin besar. Pihak leasing pasti akan masang riba… maaf, bunga yang jauh lebih tinggi.

Jadilah, lima motor Suzuki (dulu juga ada picup Carry, sempat/pernah) hadir di keluarga kami 😀

Pindah Operator Pemerintahan

Hidup ini enak.

Kalo koran/majalah ini kita anggap ndhak independen, tinggal ganti koran/majalah lain.

Provider ini kita anggap kurang melayani, kita ganti provider.

Maskapai ini kurang berkualitas pelayanannnya, ganti maskapai lain.

Bank ini kurang customer-oriented, antriannya luama, mesin CDM-nya ndhak ada, pindah aja ke bank lain, buanyak pilihannya.

Siaran/acara ini jelek, pindah channel lain.

Restoran ini ndhak enak rasanya, ndhak segar masakannya; besok lagi cari restoran lain.

Lha kalo PLN masih byar-pet; polisi kurang serve and protect;

kantor pelayanan perijinan mblegadhus pelayannya;

samsat, PDAM, dll. masih ndhak world-class service-nya: cuman lihai narik denda doang;

bina marga/dinas PU blas ndhak peduli jalan berlobang: 1×24 jam ndhak langsung ditambal, perbaikan jalan ndhak pernah ada tanda peringatan yang jelas dan teramat sangat membahayakan pengendara pengguna jalan;

rakyat yang mbuang sampah seenaknya ndhak pernah dikenai sanksi super-duper-sangat tegas sekali-banged;

… trus kita mau pindah ke mana?

Isih wani ngomong penak, masih berani bilang enak?

(Pohon) Pisang


– Gerumbulan pohon pisang, dari gang di belakang rumah.

Di lahan belakang rumah Uti, Kediri ada segerumbul pohon pisang. Entah jenis pisang apa ini, mestinya siy disebut pisang kluthuk, yakni jenis pisang yang ber(banyak)biji dalam buahnya.

Itu pohon pisang punya cerita lucu.

Entah kapan kejadiannya kami udah lupa, duluuu tetangga seberang rumah agak sono membersihkan halamannya karena mau mendirikan bangunan. Ada pohon pisang yang didongkel hendak dibuang.

Uti-nya AleefRahman pas lewat dan ngelihat. Kemudian beliau minta.

Yang punya pohon seneng aja, karena enggak repot ngebuangnya 😀

Trus oleh Uti itu pohon diletakkan begitu saja di pinggir kubangan pembuangan sampah organik di belakang rumah. Kami sejak duluuu memang memisahkan sampah rumah jadi dua: organik yang kami buang begitu saja di kubangan, dan anorganik yang kami bungkus dan kami buang ke bak sampah.

Kata Uti-nya AleefRahman, “Jika ini pohon pisang memang ditakdirkan tumbuh, biarlah tumbuh. Kal toh nanti mati, ya udah karena itu emang pisang dibuang…”

Mungkin karena naruhnya di kubangan sampah organik, alhasil pisang itu tumbuh!

Akarnya memanjang. Merasuk ke dalam tanah mencari nutrisi-makanannya.

Hingga kemudian menguat, tegak sebagaimana pohon yang tertanam normal. Bonggolnya sudah tertanam sempurna di dalam tanah. Sebenarnya ‘pohon’ pisang kan bonggolnya itu kan? Karena yang tumbuh ke atas serupa pohon itu kan kumpulan tangkai daunnya kan?

Efye-i aja, kata orang-orang, pohon pisang emang terkenal gampang tumbuh enggak gampang mati.

Hingga kemudian itu pohon bertunas, beranak-pinak. Hingga kemudian dia berbuah. Jantung pisangnya juga biasanya kami sayur. Sekedar direbus buat sayur pecel atau dibikin lodeh pedas nikmat 😀

***

AWALNYA berbuah, isinya penuh biji, buanyak gitu pokoknya bijinya. Kami mendengar, jenis seperti ini disebut pisang kluthuk. Beberapa sisir sampai kami berikan ke orang buat makanan burung piaraan.

Hanya saja, di balik kekurangannya yang penuh biji itu, kalau digoreng rasanya luar biasa nikmat! Manis legit enak pokoknya!

Alhasil, biasa itu buah pisang digoreng dengan diiris kecil-kecil. Agar mudah membuang biji dari kunyahan.

***

WAKTU berjalan. Itu pisang terus tumbuh dan bertunas beranak-pinak. Bertunas dan terus tumbuh. Terus berbuah.

Eh lama-lama, ternyata biji dalam buahnya semakin sedikit, hingga belakangan ini kami sudah panen beberapa tandan, biji dalam buahnya udah ilang total!

Ajaib!

Pas kami tanya ke tetangga kiri-kanan, kata mereka: kadang emang ada yang kayak gitu. Pisang biji, lama-lama bijinya yang buahnya bisa ilang!

Hanya saja, semenjak buah pisang ini tak lagi berbiji, legitnya seperti berkurang. Jika digoreng terasa tak semanis saat manis banyak mengandung biji.

Jadi ini jenis pisang apa, kami juga kurang paham. 😀 Belakangan kami ketahui, pisang ini di sini disebut dengan raja dengklek.

Karena mereka terus berbuah, ya kami bersyukur aja pokoknya. Apalagi jika mengingat, harga sesisir apalagi setandan pisang di pasar udah mulai kerasa angkanya. Hehehehe…

Bener kata sesiapapun, bahwa menanam pohon/tanaman itu sama artinya menanam rejeki. Faktanya emang beneran iya!

Alhamdulillah.

Head Unit, Radio Mobil


– Gambar nyomot dari internet.

Setiap kendaraan selalu dilengkapi dengan head-unit/car audio. Minimal slot-nya buat diisi head-unit sendiri.

Bahkan banyak dan jamak yang melengkapinya dengan in-car-entertainment (ICE), audio mobil yang di-extend lebih lengkap lagi. Misal: speaker-systemnya menjadi lebih lengkap item perangkatnya, ditambahi sub-woofer, sampai layar video. Entah cuman di head unit-nya, atau ditambah ke head-rest, atau mungkin nempel di plafon/roof.

Maklum, banyak yang mengemudikan kendaraan tanpa hiburan itu serasa garing rasanya.

Apalagi di kota besar yang macet. Car-entertainment alih-alih sebagai perangkat tambahan untuk hiburan, kadang fungsinya justru menjadi alat pokok untuk memenuhi kebutuhan psikologis: jadi teman biar ndhak stress kala macet panjang.


– Gambar nyomot dari internet.

Mungkin kami aja yang sedikit berbeda. Ini murni preferensi pribadi. Karena kalo bawa mobil biasanya kami cuman pas turing AKAP (antar kota antar provinsi) bersama keluarga, senengnya malah ndengerkan radio. Biasanya kami pilih radio yang tema siarannya khas lokal. Radio lokal yang gaya siarannya ala elu-gue Jakartanan, haram kami puter.


– Gambar nyomot dari internet.

Ndengerkan radio lokal itu serasa kita uluk (hatur) salam dengan daerah yang kita lalui dan berbaur dengan kondisi/nuansa setempat. Ibara kata, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, di mobil radio diputer 😛

Bayangkan, dari Kediri, masuk Jateng kemudian ketemu radio dengan isi siaran gending-gending Jawa dan dengan gaya siaran Jawa alus. Kemudian masuk Pemalang, Tegal, dapet saluran radio dengan gaya bahasa ngapak. Seru! 😀

Masuk Cirebonan, search siaran dengan nuansa/bahasa khas Cirebonan. Bahasa Cirebonan masih sedikit bisa kami ngerti.

Kemudian masuk Indramayu, Subang, atau Bandung kalo ke Bandung, searching siaran dengan nuansa/bahasa Sunda meski ndhak ngerti, namun bisa di-feel nangkap-nangkap apa maksud ucapan si penyiarnya.

Pun kalo lewt jalur selatan, tetep nyari siaran dengan nuansa lokal setempat. Nuansa Yogya, Banyumasan, hingga masuk Pasundan.

Hingga masuk Jakarta, yang kami puter pasti radio berita (Trijaya, Elshinta, KBR68H), sama kalo ke Surabaya, cuman muter Suara Surabaya. Hehehehe…

Yang seru pas semingguan keliling Sulawesi Selatan-Barat beberapa tahun silam. Bener-bener asyik mendengarkan siaran dengan nuansa lokal yang kental, meski kadang kurang ngeh apa yg lagi disiarkan. Tapi tetep aja asyik, jadi lebih mengenal Indonesia gitu!

Cuman kalo pas keluar kota, trus pas melewati kawasan hutan-hutan gitu, siaran radio jadi ilang. Alhasil, kepingan CD harus bergangsing di dalam drive pemutarnya.

So biar ndhak bosan (karena mendengarkan lagu yang udah sering kita denger), biasanya kami akali: kami beli CD baru yang belom pernah kami dengerkan sebelomnya. Dan kalo mau murah/gampang nyarinya, asal ada suara aja di mobil terlepas kita suka atao ndhak lagunya, beli aja di Indomaret/Alfamart. Hehehe…

Bagaimana dengan si kecil?

Biasanya biar ndhak bosan, dia kalo ndhak main game di gadget, ya bobok. Atau kalo sama Uti-nya, biasanya berpanjang-panjang waktu perjalanan mereka berdua akan saling bercerita di bangku belakang. 😀

***

Lainnya itu, kalo penumpang lagi pada tidur, saya milih konsentrasi nyetir dan ngecilkan volume radio (kadang cuman speaker depan yang saya nyalakan, fader belakang off).

Nyaris jarang, meski bukan berarti ndhak pernah, kami muter lagu di mobil. Muter lagu gitu rasanya membosankan aja siy kalo di preferensi kami pribadi.

Itu tadi, enakan ndengerkan radio, lebih dinamis. Lebih mengenali nuansa daerah setempat yang sedang kita lintasi.

Atau kalo yang diputer lagu-lagu, kita ndhak ngerti lagu apa yang bakal diputer. Begitu ketemu lagu enak, langsung deh seneng 😀

Ini serupa dengan kita berusaha mencari kuliner lokal saat singgah. Jadi memperkaya nuansa, tambah menyenangkan dan ngurangi capek perjalanan, dan bikin kita lebih bikin kita cinta Indonesia!

Bagaimana dengan (musik) pada perjalanan Anda?

Salam! 😀

– Freema HW
Sopir keluarga.

Mobil Rakyat

April 1934, Adolf Hitler memberikan order kepada Dr. Ing. Ferdinand Porsche untuk mengembangkan sebuah Mobil Rakyat.

Sekarang, ‘mobil rakyat’ itu menunjukkan kelas rakyat….sono, bukan rakyat sini. 😦

Jerman mencapai kemajuannya bukan dengan mendapatkan durian runtuh. Mereka memperoleh kemajuan, dan ‘kelas rakyat’-nya dengan perjuangan dan kerja keras, menemukan sesuatu yang genuine, serta tentunya: POLITICAL WILL (kemauan pemerintah, saya yakin juga kemauan rakyatnya) untuk menjadikan negerinya maju dan beradab.

Ciri (untuk memulai) negara maju, yang saya amati adalah, ternyata tidak selalu mereka (negara maju) itu punya industri mobil. Namun negara maju sepertinya pasti punya ciri yang sama, yakni antara lain…

…rakyatnya:
– tertib antri,
– tidak membuang sampah seenaknya.

Cek saja di semua negara maju. Ada yang keliru?

– Tapi kan, orang Jerman itu kafir-kafir, minum alkohol, bukan muslim? Kenapa kita harus bercermin kepada mereka? Itu juga kenapa materi standarnya? Bukankah kemajuan dan kehidupan itu tidak haru selalu diukur dengan materi?

Saya ndhak ingin jadi kemenakannya Gusti Allah di sini dan memastikan kekafiran orang lain. Alih-alih mengkafir-kafirkan orang, dalam keislaman saya mungkin saya malah jauh lebih kafir ketimbang orang yang kita cap kafir. Wallahualam bisawab. Yang gituan urusan Gusti Allah.

Tapi gini aja. Ingat petuah orang tua: sesuatu yang baik ambilah, yg (menurutmu) kurang baik buanglah.

That is, an-sich! Itu saja!

Ndhak usah ngeles mereka itu kafir-lah, inilah, itulah, dll.

Sekarang kita bicara sebagai manusia, kita semua adalah khalifah di muka bumi ini.

Bener kehidupan ini jangan pernah kita ukur dari materi. Tapi gini, kita ngeh dong, kalo apa yang bisa diraih oleh bangsa Jerman itu bukan sekedar numpuk materi, melainkan itu wujud pola pikir mereka untuk mempermudah dan memajukan kehidupan & peadaban?

Dan jika kita mau memandangnya lebih dalam, menutup mata dan memandangnya lebih luas, maka apa yang mereka peroleh itu sebenarnya adalah: hasil dari kesibukan mengisi kehidupan!

Mereka sibuk menterjemahkan kalam Tuhan yang terbentang luas di jagad raya ini.

Kalo memang kita muslim dan merasa memang takdir kita lebih baik, harusnya dengan keberadaan kaum muslimin maka peradaban dan kehidupan ini akan lebih baik, lebih tertata: muda-mudi berbusana rapi pergi mengaji, lingkungan bersih di mana-mana – tidak ada sampah yang dibuang sembarangan, lalu-lintas tertib, hutan terus hijau dan terjaga kelestariannya, tidak kekurangan air bersih, pemukiman kumuh tidak ada, pendidikan terjamin. Dan seterusnya.

Harusnya, seperti itulah jika sebuah bangsa dipenuhi oleh kaum muslimin yang berpegang teguh pada kitab sucinya, kitab yang mengajarkan ketuhanan dan kehidupan.

So?

Tidak perlu berkecil hati. Negara maju tidak selalu punya industri mobil. Namun negara maju sepertinya pasti punya ciri yang sama, yakni antara lain rakyatnya tertib antri dan tidak membuang sampah sembarangan.

Justru kita, khususon kaum muslimin dan umumnya bangsa Indonesia, kita sangat bisa menjadi negara maju.

Sebagai rakyat, kita bisa mencirikan bangsa kita sesuai ciri-ciri negara maju, kita bisa mulai dengan hal super guampang banget aja:

– tertib antri,
– bertatakrama lalu-lintas,
– jangan buang sampah sembarangan.

Bener-bener guampang banget kan untuk (memulai) menjadi negara maju itu? 🙂

– Freema HW
maju-mundur.

Indonesia = Surga

Di manakah surga itu berada?

Ndhak usah bingung, surga itu ndhak berada jauh-jauh dari kita. Surga itu: ada di negeri kita ini sendiri!

Ya, Indonesia!

Dibalik segala kebusukan secuil anak manusia Indonesia yg hobinya jual-beli pasal, melacurkan kekayaan alam dan isi perut bumi, sesungguhnya Tuhan menciptakan negeri ini dengan segala kesempurnaan:

alamnya; masyarakatnya; kulinernya; seninya; sejarahnya; & budayanya: gotong-royong, asah-asih-asuh, tepa-selira, dan keramah-tamahannya.

Perhatikan foto-foto cantik ini.

Itu foto-foto dari blog orang, bukan foto-foto kami. Membacanya, membaca blog ini http://wisata-auda.blogspot.com/2014/11/labuan-cermin-secuil-surga-di-pelosok.html jadi terharu biru perasaan ini, sontak membuncah. Menggelora satu ledakan dahsyat dalam dada: damn, I love Indonesia!

Teringat carpacker kami keluarga: saya, istri, dan si kecil seminggu menjelajahi Sulawesi Selatan – Barat enam taon silam. Yg kami dapati hanya satu: keren, keren, dan keren!

*Ya, carpacker! Kami mengelilingi Sulawesi Selatan – barat non-stop pake mobil. Dari lima hari lima malam perjalanan, cuman semalam nginep di losmen. Selebihnya: malem buat jalan antar venue, siangnya buat menjelajahi venue. Istirahat dan mandi-nya di SPBU yg alhamdulillah keren-keren semua. Kisah perjalanan ini akan kami ebook-kan nanti, gratis untuk Anda.*

Indonesia sungguh keren!

Bingung di mana surga itu berada?

Surga itu ndhak berada jauh-jauh dari kita. Surga itu: ada di negeri kita ini sendiri!

Kenali negerimu, cintai negerimu. Indonesia tiada pernah habis keindahannya pada setiap jengkal kita menjelajahinya.

Allahu Akbar!

Begal Mobil

Pertama, nooffense untuk pemilik kendaraan merk lain.

Liks, akhir-akhir ini marak peristiwa begal motor/mobil. Linearnya, kendaraan yang dibegal tentunya yang populer, yang gampang dijual, atau lebih tepatnya yang gampang di-prethel dan di(jual)kampak(an).

Well, kita semua tahu dan menyadari, bahwa BMW susah banget dijual kembali. Khususnya tipe-tipe tertentu, dalam hal ini Seri 5, khususnya lagi yang mata bunder telanjang.

So, dengan kita memakai BMW, yang susah banget dijual gini, mungkin secara tidak langsung kita telah berupaya melindungi diri sendiri dan keluarga atau penumpang yang bersama kita dari potensi tindakan kejahatan, khususon begal/perampokan mobil.

Jika premis ini logis dan kuat obyektivitasnya, maka semakin susah dijual model BMW kita, akan semakin aman kita/kendaraan kita dari ancaman begal mobil.

Maka dari itu, BMW terbaik untuk melindungi diri kita dan keluarga adalah E34.

Owlraittt Liksss???

*Ngajak perang warga angkringan.* 😀

– Freema Bapakne Rahman,
Enggg….

—————————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/
Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/
Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/
Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/
Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/
Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/
Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/