(Mari Membaca) Buku

Menarik mendapati sharing posting tersebut dari seorang teman di jejaring sosial. Kampanye yang dibuat oleh sebuah perpustakaan umum. Intinya sederhana: ketimbang menenggelamkan diri di Facebook, Youtube, atau Twitter; (lebih baik) mending tenggelamkan diri di buku dan buku.

Yep, 1000% right!!!

DULU, bangsa ini malah punya insinyur (en: engineer) canggih yg bisa mbangun Borobudur, Prambanan, dan ribuan candi kala kita belom mengenal semen dan kecanggihan teknologi konstruksi.

Dulu, kita punya ribuan prasasti dan serat (gubahan, writing) saat teknologi komunikasi bahkan “belom ada”.

Kini, dengan maraknya teknologi komunikasi, informasi, dan kemajuan peradaban, budaya membaca di negeri ini (seolah serasa) malah tenggelam.

Kini, kita hanya bercerita tentang masa kejayaan lampau, misalnya masa kejayaan Islam (Islamic golden age), di mana para ilmuwan Islam dengan semangat peradaban menemukan berbagai hal: penemuan kedokteran, penemuan matematika, penemuan astronomi, penemuan macam-macam yang clue-nya sudah ditunjukkan oleh Quran.

Buku (kitab, mushaf, setidaknya yang berlaku sejenis itu) -saya yakin demikian- pasti menjadi senjata mereka -para ilmuwan era Islamic golden age– dalam menembus waktu, mendobrak kungkungan, dan memajukan peradaban.

Kini, tampaknya mall fashion lebih ramai ketimbang toko buku. Keluarga lebih banyak menenteng tas belanja ini-itu penunjang penampilan ketimbang berberat-berat menenteng tas belanjaan buku yang mencerahkan.

MEMANG, berganti pakaian (mode ter)baru memang lebih membuat angan melayang ketimbang menghabiskan waktu tenggelam membaca buku. Membaca buku itu bikin eneg! Ya kan?

Tapi, kami sekeluarga punya semangat yang semoga tak pernah padam oleh waktu. Semangat tidak eneg membaca buku. Dan syaraf ini seolah malah ketagihan membaca.

Kami boleh saja “miskin”: meskipun pingin, kami bisa abai enggak punya kulkas empat pintu, kami bisa abai dengan itu; meskipun pingin, kami bisa abai tak punya kursi tamu berkayu jati atau berbungkus kulit asli; meskipun pingin, kami bisa abai tak punya TV LCD 3D; meskipun pingin, kami boleh abai tak punya ponsel terbaru dengan fitur terkini;

tapi kami galau jika lama tak beli buku. Biarpun jelek, alhamdulillah kami punya rak buku mini yang Insya Allah akan terus kami isi.

Makan (=nutrisi) adalah urusan pertama dalam keluarga. Pendidikan dan kesehatan adalah hal utama yang harus kami penuhi dan jaga. Dan buku adalah hal tepat setelahnya dalam kami menjalani kehidupan ini.

YUK, kurangi belanja konsumtif. Hentikan kebiasaan mengkoleksi sepatu yang tak perlu. Hentikan kebiasaan menumpuk pakaian tanpa pernah dipakai. Alihkan belanjanya untuk buku.

Ya, membaca buku itu eneg. Tidak bisa membuat angan melayang ke awang-awang sebagaimana kita habis belanja tas kulit, sepatu, atau gaun baru. Bahkan hijab baru.

Namun, membaca buku itu adalah nyala api penerus generasi kita.

Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh tanpa buku-buku yang bermartabat dan bermanfaat. Jadikan membaca buku adalah kesenangan ‘bermain’ bagi mereka.

Parents, khususon para ibu, sama sekali belom terlambat sedikitpun untuk memulai membudayakan membaca buku.

Jika eneg membaca buku yg banyak isinya, belilah buku yang ringan saja. Yang penting, tiap habis gajian, terima honor, atau dapet upah, sisihkan selalu untuk membeli buku. Mulai saja dari langkah demikian.

Semurah apapun buku yang Anda beli (well, kami juga banyakan sanggupnya mbeli buku-buku yg lagi diobral dengan harga super diskon); yang penting belilah dulu.

Membaca buku itu eneg. Namun jiwa kita mungkin akan lebih eneg melihat jasad kita jauh dari buku.

Begitu pentingnya buku, hingga Quran pun sampai dibukukan.

Kurang apa lagi pentingnya buku untuk kehidupan?

Dan, ingat pesan sayyidina Ali: ilmu menjaga kita, harta kita yang harus menjaga. Ilmu jika dibagi akan bertambah, harta jika dibagi akan berkurang. Harta bisa lenyap hilang (oleh waktu), ilmu tak akan pernah hilang (oleh waktu). Harta bisa bikin pikiran gelap, ilmu yang bermanfaat akan senantiasa mencerahkan dan menyinari.

Yuk mari, kita timbun dan kita bagikan ilmu. Ilmu ada di kehidupan, ilmu ada di alam ini, ilmu ada di buku. Ilmu ada di semangat kita membaca buku. Sebagaimana para empu menorehkan serat-nya. Sebagaimana para ilmuwan mencatatkan penemuannya di atas lembar peradaban.

Sebagaimana putra-putri kita bisa kita bentuk, kita bangun, dan kita jadikan seperti mereka.

*Semangat ini khususon untuk kami sekeluarga, dan untuk sesiapa yang menyepakati dan bersedia mengikuti kampanye batin kami ini.*

– Deasy Ibune Rahman,
Ibu rumah tangga yang selalu merasa bahagia.

Advertisements

One thought on “(Mari Membaca) Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s