Toko Daring

Saya amat-amati secara sangat sepintas, Kaskus tampaknya mulai super serius ngurusi FJB-nya. Kini situasinya udah mirip dan setanding dengan Lazada.

Bedanya, kaskus berangkat dari basis massa. Lazada atau toko daring/online yg umpama dia nyata adalah berwujud hipermarket dibangun dengan basis modal.

Sedikit berbeda lagi adalah Lamido (anakannya Lazada) atau Tokopedia yang merupakan marketplace, isinya dari banyak penjual yang menawarkan dagangannya melalui situs tersebut.

FJB Kaskus sedikit unik. Ia seperti marketplace, tapi dipola forum biasa dan dari sini bisa dianggap yang jualan itu (kumpulan) perorangan, bukan kumpulan toko online. Namun pihak admin Kaskus mengorganisasikan dan mengelola FJb ini sedemikian rupa sehingga lebih profesional.

SAYA pribadi koq curiga, tetep Lazada yg unggul. Karena jika sudah berbicara bisnis profesional, tampaknya basis modal susah untuk dipungkiri dan dielak.

Hanya ketika berbicara kontinyuitas, basis massa yg sepertinya lebih menjamin.

FJB Bazaar ala Kaskus mungkin akan terus berlangung, bahkan akan berlangsung selamanya. Namun kapitalisasi mereka mungkin tidak akan seganas Lazada.

Terlebih dengan idealisme tim kaskus yg dulu berani menolak pinangan pemodal besar (Djarum Group) dan terus tetap memilih menjadi entitas independen. Artinya mungkin mereka tetap tidak akan menjadi kapitalis ganas dalam kancah jual-beli online.

DAN, mendadak saya mengingat seorang rekan yang beberapa tahun mengeluti bisnis online. Ia sudah tepat membuat kunci diferensiasinya: produk unik.

Sebuah produk makanan bikinan sendiri yg di-positioning-kan sebagai lauk sekaligus cemilan sehat, bebas MSG, pengawet, dan hanya menggunakan bahan pilihan.

(Sebelumnya ia memulai bisnisnya hanya sebagai reseller barang orang).

Meski kemudian hal lainnya generik: dijual secara online, dengan promosi standar, an-sich.

Keunikan dalam pola promosi atau pola selling-nya belom kelihatan. Hal yang sangat bisa dimahfumi: biaya promosi memang kadang menjadi uang judi; harus disiapkan dalam kapital besar dan bisa jadi lenyap tanpa dampak jika salah merancang strategi promosi dan komunikasi.

Maka main safe adalah pilihan tepat meski pahit dalam menempuh perjalanan waktu bisnisnya.

BISNIS online kini telah menunjukkan deskripsi dan bentuknya setelah sekian lama mencari jati diri.

Ini persis dengan fenomena portal online. Sepuluh tahun silam, kita mengenal Satunews-group, kopitime.com, LippoNews, dll. yg dibangun dengan kapital milyaran.

Bahkan mereka berani membajak editor dari media massa cetak ternama dan mengandakan gajinya untuk masuk ke tim mereka.

Hingga selanjutnya portal itu tumbang semua!

Yg tetap bertahan tercatat hanyalah Detik yang dulunya malah sama sekali tidak punya nama, sekaligus tidak punya kapital. Detik hanya dibuat dari dua orang dengan langkah awal yang ala kadarnya: seorang teknisi komputer/internet yang tidak mengerti jurnalistik dan seorag jurnalis yang tidak mengerti internet.

Berdua mereka berkolaborasi membuat situs yang memposting lalu-lintas komunikasi dari handy-talkie polisi yang kala itu masih menggunakan frekuensi terbuka. Goalnya, masyarakat era ’97an yang baru mulai kemaruk internet namun masih sangat secuil populasinya bisa mengetahui berita yang beredar detik itu juga.

Dan selanjutnya kini Detik semakin besar didampingi oleh portal anakan dari media massa offline atau media broadcasting.

Detik dan semua portal berita masih mengusung nuansa yang sama: straight-news yang diberitakan secepatnya, atau artikel yang ringan dan ringkas berasa kerupuk: tak terlalu bergizi namun nikmat dikunyah oleh mata dengan piringnya berupa gadget.

Intinya: maisng-masing portal online ternyata tidak bisa memberikan keunikan produk secara khusus yg bisa berbeda antara satu dengan yg lainnya.

Semua (portal online) hanya berbicara terhadap satu hal: kecepatan waktu tayang. Dengan isi kebanyakan straight-news.

Kalo toh ada extended-nya, biasanya hanya seputar hal ‘remeh-temeh’ yang jika itu dilupakan pembaca pun tak akan terlalu berdampak dalam torehan catatan sejarah kehidupan.

Kekuatan yang ada adalah jika mereka menemukan berita unik, misalnya ada anak miskin yang tak terjamah fasilitas publik sehingga kondisinya memprihatinkan; atau yang lain sejenisnya.

Intinya kemudian tetap saja: straight-news.

Membaca deep-news, analytic-news, apalagi sampe artikel yg detail kupas-tuntasannya tetap saja lebih menyenangkan dalam bentuk lembaran tercetak.

Karena membacanya pun memerlukan waktu yg super santai dan lengang dari aktivitas.

Membaca artikel panjang lebar di gadget tetap berpotensi membuat kita melupakan awal bacaan ketika sudah sampai di akhir tulisan. Dan ini yg tidak bisa ditandingi dari buku/printed-media.

Membaca buku tebal pun, kita masih akan sanggup mengingat awal tulisan ketika sudah sampai pada sesi akhir bacaan.

PUN dengan bisnis konvensional. Inilah kenapa butik tetap berjamur. Orang masih tetap menyenangi memegang langsung target barang yang mereka beli. Khususon jika si barang menawarkan aksentual lain selain fungsi dasarnya. Misalnya aksentual/nuansa artistik.

Sepatu punya fungsi dasar melindungi kaki. Namun dengan pemilihan bahan, pola jahitan, atau tekstur bahan, itu semua memberikan nuansa dan aksentual seni dalam si produk.

Jika dipegang dan diraba, syaraf sensorik menyampaikan data-data khusus ke otak, yang mana ini tidak bisa/susah di-experience jika kita membeli secara online.

Alhasil, bisnis online akhirnya hanya berkutat di perancangan modelnya belaka. Dan meski orang tetap membelinya, bahkan berbondong-bondong membelinya, untuk jenis produk yg mengandung unique tertentu, pembeli dan penjual tetap nyaman dengan bertemu dalam sebuah butik.

Bisnis online sejauh ini masih berkutat ke satu klausul: (nuansa)barangnya generik. Entah itu parts komputer, ponsel, sepatu fungsional, dll.

Maka, jika Anda ingin penjualan (langsung) tinggi, sepertinya mau tak mau: kapital berbicara. Dan ini berat. Sebab operator telekomunikasi pun sudah merangsek ke jualan online juga! Ini sudah berbeda dengan produsen barang yang menjual produknya secara online, mereka memang sudah membuka toko online!

Namun jika Anda ingin kontinyuitas dan loyalitas kustomer, dengan produk yg unique dan bisa Anda deskripsikan keunikannya, itu akan sangat membangun, mendukung, dan mengembangkan perjalanan waktu bisnis (online) Anda.

Jika tidak, jika produk Anda generik, maka coba carilah faktor dan elemen pendukung lainnya. Misal: seperti bisnis radio berbodi kayu. Pembeli akan mengenali kecantikan produk Anda bahkan sebelum memegangnya jika mereka adalah orang yang sudah melihat cantiknya tekstur kayu.

Atau jika Anda menjual cinderamata, maka baiknya Anda adalah orang Yogya atau Bali, yang memang asal produk Anda akan ter-sawab (apa ya bahasa Indonesianya sawab?) sense dari Yogya atau Bali yg kental dengan unsur seni.

Ketika Caterpillar berani menjual ponsel, dia sudah punya brand-image duluan. Makanya ponselnya akan langsung diasosiakan dengan nuansa thought.

Jika itu semua; faktor pendukung eksternal belum termaktub dalam jualan daring Anda, maka tetaplah berjualan dengan keunikan. Pastikan Anda memiliki diferensiasi yang benar-benar unique. Dan ini tidak ada rumusan bakunya. Dan ini perlu Anda pertahankan dan Anda kelola komunikasinya sebaik-baiknya dengan (calon) kustomer, dengan dunia.

Jika budget memang slow but sure, kelola komunikasi deferensiasi dan keunikan produk Anda dengan kata-kata Anda.

Entah berbicara/posting langsung kepada kustomer, entah dengan membuat blog.

Amazon yang sekarang segini besar, tetaplah memulai diri dengan keunikan: keunikan untuk berani memulai berjualan secara online (saja) saat pola ini belom populer dan orang masih suka ke toko.

Jadi, buat Anda yang telah memulai bisnis online, selamat! Anda telah membantu menyelamatkan negeri ini agar senantiasa terus berputar, beraktivitas, dan berdinamisme.

Freema HW
– Bukan pelaku bisnis online, hanya sesekali beli barang secara online. Selebihnya, saya masih suka ketemu penjualnya langsung 😀 Hehehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s