Martabak Tahu

Ceritanya sebenarnya sederhana saja. Suatu hari sepulang sekolah, dia pingin martabak tahu. Dia hanya bisa mendekati pak penjual martabak yang ada di luar pagar sekolah. Mengamatinya sambil menahan perasaan, kemudian entah dengan isi hati seperti apa dia meninggalkannya.

Selain karena uang sakunya hanya kami jatah 2rb saja per hari (ya, dua ribu rupiah!) yang biasanya udah dia belikan susu segar bantal kecil itu, ia juga tunduk terhadap larangan kami untuk jajan sembarangan di sekolah.

Ia tidak mau membeli penganan di luar list yang telah kami approve. Sebagian besar yang masuk dalam black-list kami tentunya chiki-chikian yang murmer itu.

Di rumah akhirnya dia meminta saya untuk mewujudkan keinginannya.

Martabak tahu yang sederhana.

Cukup siapkan tahu dicacah dicampur telor dalam mangkuk. Tambahkan irisan daun bawang.

Gelar kulit pangsit di minyak sedang. Tuangkan sesendok cacahan tahu, lipat kulitnya seperti tukang martabak melipatnya. Goreng sampai matang.

Alhamdulillah, jajanan murmer sehat terhidang untuknya.

Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang hendak kami dustakan?

Alhamdulillah wasyukurillah…

– Deasy Ibune Rahman
Ibu rumah tangga yang berbahagia.

Advertisements

(Mari Membaca) Buku

Menarik mendapati sharing posting tersebut dari seorang teman di jejaring sosial. Kampanye yang dibuat oleh sebuah perpustakaan umum. Intinya sederhana: ketimbang menenggelamkan diri di Facebook, Youtube, atau Twitter; (lebih baik) mending tenggelamkan diri di buku dan buku.

Yep, 1000% right!!!

DULU, bangsa ini malah punya insinyur (en: engineer) canggih yg bisa mbangun Borobudur, Prambanan, dan ribuan candi kala kita belom mengenal semen dan kecanggihan teknologi konstruksi.

Dulu, kita punya ribuan prasasti dan serat (gubahan, writing) saat teknologi komunikasi bahkan “belom ada”.

Kini, dengan maraknya teknologi komunikasi, informasi, dan kemajuan peradaban, budaya membaca di negeri ini (seolah serasa) malah tenggelam.

Kini, kita hanya bercerita tentang masa kejayaan lampau, misalnya masa kejayaan Islam (Islamic golden age), di mana para ilmuwan Islam dengan semangat peradaban menemukan berbagai hal: penemuan kedokteran, penemuan matematika, penemuan astronomi, penemuan macam-macam yang clue-nya sudah ditunjukkan oleh Quran.

Buku (kitab, mushaf, setidaknya yang berlaku sejenis itu) -saya yakin demikian- pasti menjadi senjata mereka -para ilmuwan era Islamic golden age– dalam menembus waktu, mendobrak kungkungan, dan memajukan peradaban.

Kini, tampaknya mall fashion lebih ramai ketimbang toko buku. Keluarga lebih banyak menenteng tas belanja ini-itu penunjang penampilan ketimbang berberat-berat menenteng tas belanjaan buku yang mencerahkan.

MEMANG, berganti pakaian (mode ter)baru memang lebih membuat angan melayang ketimbang menghabiskan waktu tenggelam membaca buku. Membaca buku itu bikin eneg! Ya kan?

Tapi, kami sekeluarga punya semangat yang semoga tak pernah padam oleh waktu. Semangat tidak eneg membaca buku. Dan syaraf ini seolah malah ketagihan membaca.

Kami boleh saja “miskin”: meskipun pingin, kami bisa abai enggak punya kulkas empat pintu, kami bisa abai dengan itu; meskipun pingin, kami bisa abai tak punya kursi tamu berkayu jati atau berbungkus kulit asli; meskipun pingin, kami bisa abai tak punya TV LCD 3D; meskipun pingin, kami boleh abai tak punya ponsel terbaru dengan fitur terkini;

tapi kami galau jika lama tak beli buku. Biarpun jelek, alhamdulillah kami punya rak buku mini yang Insya Allah akan terus kami isi.

Makan (=nutrisi) adalah urusan pertama dalam keluarga. Pendidikan dan kesehatan adalah hal utama yang harus kami penuhi dan jaga. Dan buku adalah hal tepat setelahnya dalam kami menjalani kehidupan ini.

YUK, kurangi belanja konsumtif. Hentikan kebiasaan mengkoleksi sepatu yang tak perlu. Hentikan kebiasaan menumpuk pakaian tanpa pernah dipakai. Alihkan belanjanya untuk buku.

Ya, membaca buku itu eneg. Tidak bisa membuat angan melayang ke awang-awang sebagaimana kita habis belanja tas kulit, sepatu, atau gaun baru. Bahkan hijab baru.

Namun, membaca buku itu adalah nyala api penerus generasi kita.

Jangan biarkan anak-anak kita tumbuh tanpa buku-buku yang bermartabat dan bermanfaat. Jadikan membaca buku adalah kesenangan ‘bermain’ bagi mereka.

Parents, khususon para ibu, sama sekali belom terlambat sedikitpun untuk memulai membudayakan membaca buku.

Jika eneg membaca buku yg banyak isinya, belilah buku yang ringan saja. Yang penting, tiap habis gajian, terima honor, atau dapet upah, sisihkan selalu untuk membeli buku. Mulai saja dari langkah demikian.

Semurah apapun buku yang Anda beli (well, kami juga banyakan sanggupnya mbeli buku-buku yg lagi diobral dengan harga super diskon); yang penting belilah dulu.

Membaca buku itu eneg. Namun jiwa kita mungkin akan lebih eneg melihat jasad kita jauh dari buku.

Begitu pentingnya buku, hingga Quran pun sampai dibukukan.

Kurang apa lagi pentingnya buku untuk kehidupan?

Dan, ingat pesan sayyidina Ali: ilmu menjaga kita, harta kita yang harus menjaga. Ilmu jika dibagi akan bertambah, harta jika dibagi akan berkurang. Harta bisa lenyap hilang (oleh waktu), ilmu tak akan pernah hilang (oleh waktu). Harta bisa bikin pikiran gelap, ilmu yang bermanfaat akan senantiasa mencerahkan dan menyinari.

Yuk mari, kita timbun dan kita bagikan ilmu. Ilmu ada di kehidupan, ilmu ada di alam ini, ilmu ada di buku. Ilmu ada di semangat kita membaca buku. Sebagaimana para empu menorehkan serat-nya. Sebagaimana para ilmuwan mencatatkan penemuannya di atas lembar peradaban.

Sebagaimana putra-putri kita bisa kita bentuk, kita bangun, dan kita jadikan seperti mereka.

*Semangat ini khususon untuk kami sekeluarga, dan untuk sesiapa yang menyepakati dan bersedia mengikuti kampanye batin kami ini.*

– Deasy Ibune Rahman,
Ibu rumah tangga yang selalu merasa bahagia.

Toko Daring

Saya amat-amati secara sangat sepintas, Kaskus tampaknya mulai super serius ngurusi FJB-nya. Kini situasinya udah mirip dan setanding dengan Lazada.

Bedanya, kaskus berangkat dari basis massa. Lazada atau toko daring/online yg umpama dia nyata adalah berwujud hipermarket dibangun dengan basis modal.

Sedikit berbeda lagi adalah Lamido (anakannya Lazada) atau Tokopedia yang merupakan marketplace, isinya dari banyak penjual yang menawarkan dagangannya melalui situs tersebut.

FJB Kaskus sedikit unik. Ia seperti marketplace, tapi dipola forum biasa dan dari sini bisa dianggap yang jualan itu (kumpulan) perorangan, bukan kumpulan toko online. Namun pihak admin Kaskus mengorganisasikan dan mengelola FJb ini sedemikian rupa sehingga lebih profesional.

SAYA pribadi koq curiga, tetep Lazada yg unggul. Karena jika sudah berbicara bisnis profesional, tampaknya basis modal susah untuk dipungkiri dan dielak.

Hanya ketika berbicara kontinyuitas, basis massa yg sepertinya lebih menjamin.

FJB Bazaar ala Kaskus mungkin akan terus berlangung, bahkan akan berlangsung selamanya. Namun kapitalisasi mereka mungkin tidak akan seganas Lazada.

Terlebih dengan idealisme tim kaskus yg dulu berani menolak pinangan pemodal besar (Djarum Group) dan terus tetap memilih menjadi entitas independen. Artinya mungkin mereka tetap tidak akan menjadi kapitalis ganas dalam kancah jual-beli online.

DAN, mendadak saya mengingat seorang rekan yang beberapa tahun mengeluti bisnis online. Ia sudah tepat membuat kunci diferensiasinya: produk unik.

Sebuah produk makanan bikinan sendiri yg di-positioning-kan sebagai lauk sekaligus cemilan sehat, bebas MSG, pengawet, dan hanya menggunakan bahan pilihan.

(Sebelumnya ia memulai bisnisnya hanya sebagai reseller barang orang).

Meski kemudian hal lainnya generik: dijual secara online, dengan promosi standar, an-sich.

Keunikan dalam pola promosi atau pola selling-nya belom kelihatan. Hal yang sangat bisa dimahfumi: biaya promosi memang kadang menjadi uang judi; harus disiapkan dalam kapital besar dan bisa jadi lenyap tanpa dampak jika salah merancang strategi promosi dan komunikasi.

Maka main safe adalah pilihan tepat meski pahit dalam menempuh perjalanan waktu bisnisnya.

BISNIS online kini telah menunjukkan deskripsi dan bentuknya setelah sekian lama mencari jati diri.

Ini persis dengan fenomena portal online. Sepuluh tahun silam, kita mengenal Satunews-group, kopitime.com, LippoNews, dll. yg dibangun dengan kapital milyaran.

Bahkan mereka berani membajak editor dari media massa cetak ternama dan mengandakan gajinya untuk masuk ke tim mereka.

Hingga selanjutnya portal itu tumbang semua!

Yg tetap bertahan tercatat hanyalah Detik yang dulunya malah sama sekali tidak punya nama, sekaligus tidak punya kapital. Detik hanya dibuat dari dua orang dengan langkah awal yang ala kadarnya: seorang teknisi komputer/internet yang tidak mengerti jurnalistik dan seorag jurnalis yang tidak mengerti internet.

Berdua mereka berkolaborasi membuat situs yang memposting lalu-lintas komunikasi dari handy-talkie polisi yang kala itu masih menggunakan frekuensi terbuka. Goalnya, masyarakat era ’97an yang baru mulai kemaruk internet namun masih sangat secuil populasinya bisa mengetahui berita yang beredar detik itu juga.

Dan selanjutnya kini Detik semakin besar didampingi oleh portal anakan dari media massa offline atau media broadcasting.

Detik dan semua portal berita masih mengusung nuansa yang sama: straight-news yang diberitakan secepatnya, atau artikel yang ringan dan ringkas berasa kerupuk: tak terlalu bergizi namun nikmat dikunyah oleh mata dengan piringnya berupa gadget.

Intinya: maisng-masing portal online ternyata tidak bisa memberikan keunikan produk secara khusus yg bisa berbeda antara satu dengan yg lainnya.

Semua (portal online) hanya berbicara terhadap satu hal: kecepatan waktu tayang. Dengan isi kebanyakan straight-news.

Kalo toh ada extended-nya, biasanya hanya seputar hal ‘remeh-temeh’ yang jika itu dilupakan pembaca pun tak akan terlalu berdampak dalam torehan catatan sejarah kehidupan.

Kekuatan yang ada adalah jika mereka menemukan berita unik, misalnya ada anak miskin yang tak terjamah fasilitas publik sehingga kondisinya memprihatinkan; atau yang lain sejenisnya.

Intinya kemudian tetap saja: straight-news.

Membaca deep-news, analytic-news, apalagi sampe artikel yg detail kupas-tuntasannya tetap saja lebih menyenangkan dalam bentuk lembaran tercetak.

Karena membacanya pun memerlukan waktu yg super santai dan lengang dari aktivitas.

Membaca artikel panjang lebar di gadget tetap berpotensi membuat kita melupakan awal bacaan ketika sudah sampai di akhir tulisan. Dan ini yg tidak bisa ditandingi dari buku/printed-media.

Membaca buku tebal pun, kita masih akan sanggup mengingat awal tulisan ketika sudah sampai pada sesi akhir bacaan.

PUN dengan bisnis konvensional. Inilah kenapa butik tetap berjamur. Orang masih tetap menyenangi memegang langsung target barang yang mereka beli. Khususon jika si barang menawarkan aksentual lain selain fungsi dasarnya. Misalnya aksentual/nuansa artistik.

Sepatu punya fungsi dasar melindungi kaki. Namun dengan pemilihan bahan, pola jahitan, atau tekstur bahan, itu semua memberikan nuansa dan aksentual seni dalam si produk.

Jika dipegang dan diraba, syaraf sensorik menyampaikan data-data khusus ke otak, yang mana ini tidak bisa/susah di-experience jika kita membeli secara online.

Alhasil, bisnis online akhirnya hanya berkutat di perancangan modelnya belaka. Dan meski orang tetap membelinya, bahkan berbondong-bondong membelinya, untuk jenis produk yg mengandung unique tertentu, pembeli dan penjual tetap nyaman dengan bertemu dalam sebuah butik.

Bisnis online sejauh ini masih berkutat ke satu klausul: (nuansa)barangnya generik. Entah itu parts komputer, ponsel, sepatu fungsional, dll.

Maka, jika Anda ingin penjualan (langsung) tinggi, sepertinya mau tak mau: kapital berbicara. Dan ini berat. Sebab operator telekomunikasi pun sudah merangsek ke jualan online juga! Ini sudah berbeda dengan produsen barang yang menjual produknya secara online, mereka memang sudah membuka toko online!

Namun jika Anda ingin kontinyuitas dan loyalitas kustomer, dengan produk yg unique dan bisa Anda deskripsikan keunikannya, itu akan sangat membangun, mendukung, dan mengembangkan perjalanan waktu bisnis (online) Anda.

Jika tidak, jika produk Anda generik, maka coba carilah faktor dan elemen pendukung lainnya. Misal: seperti bisnis radio berbodi kayu. Pembeli akan mengenali kecantikan produk Anda bahkan sebelum memegangnya jika mereka adalah orang yang sudah melihat cantiknya tekstur kayu.

Atau jika Anda menjual cinderamata, maka baiknya Anda adalah orang Yogya atau Bali, yang memang asal produk Anda akan ter-sawab (apa ya bahasa Indonesianya sawab?) sense dari Yogya atau Bali yg kental dengan unsur seni.

Ketika Caterpillar berani menjual ponsel, dia sudah punya brand-image duluan. Makanya ponselnya akan langsung diasosiakan dengan nuansa thought.

Jika itu semua; faktor pendukung eksternal belum termaktub dalam jualan daring Anda, maka tetaplah berjualan dengan keunikan. Pastikan Anda memiliki diferensiasi yang benar-benar unique. Dan ini tidak ada rumusan bakunya. Dan ini perlu Anda pertahankan dan Anda kelola komunikasinya sebaik-baiknya dengan (calon) kustomer, dengan dunia.

Jika budget memang slow but sure, kelola komunikasi deferensiasi dan keunikan produk Anda dengan kata-kata Anda.

Entah berbicara/posting langsung kepada kustomer, entah dengan membuat blog.

Amazon yang sekarang segini besar, tetaplah memulai diri dengan keunikan: keunikan untuk berani memulai berjualan secara online (saja) saat pola ini belom populer dan orang masih suka ke toko.

Jadi, buat Anda yang telah memulai bisnis online, selamat! Anda telah membantu menyelamatkan negeri ini agar senantiasa terus berputar, beraktivitas, dan berdinamisme.

Freema HW
– Bukan pelaku bisnis online, hanya sesekali beli barang secara online. Selebihnya, saya masih suka ketemu penjualnya langsung 😀 Hehehe…

VAG The Series: Belilah BMW!

VAG adalah singkatan dari VW-Audi Group. Sebuah holding (induk perusahaan) yg menaungi beberapa merk di bawahnya, antara lain Volkswagen/VW Passenger Car, VW Commercial Vehicle (jadi antara VW Beetle, Passat, Golf, Polo dengan VW Transporter/Caravelle itu sudah beda manajemen), Audi, Porsche, Skoda, Seat, termasuk sekarang Lamborghini dan motor Ducati.

Saking terkenal dan populernya pabrikan ini di Eropa sono, dihitung dari akumulasi total kendaraannya dengan sebaran merk itu semua tadi, sebuah situs penjualan perangkat pendukung/oprekan elektronikal otomotif dari Eropa sampe memiliki menu khusus: VAG Tools.

Sementara untuk merk/pabrikan lain dikategorikan menurut klasifikasi tiap tools, misal tools untuk ECU, tools untuk immobilizer, tools untuk key+chip, dll.

Sayangnya, di Indonesia kondisi ini berbalik 180°. VAG Group yang dulu sudah kondang dengan VW Beetle atau Safari bersama Mercy dan Vespa, bahkan sebelum BMW kondang di negeri ini, kemudian tenggelam bersama masa.

Belakangan ini VAG Group mulai kembali bangkit. VW Caravelle, Golf, Polo, Beetle, beragam jenis Audi mulai sedan (A-Series) dan SUV (Q-Series) pun Porsche tentunya mulai turut menyesaki jalanan persilatan premium-car bersama BMW dan Mercy yg merajai.

Hanya saja, meski mulai banak populasinya, perangkat/tools pendukung oprekan/kelas bengkel namun dalam menu ‘kaki-lima’ masih sangat kurang populasinya.

Kita jamak mendapati bengkel yang sanggup ngoprek ECU atau immobilizer BMW atau Mercy. Namun belakangan ini, saya (mendapati bengkel spesialis ginian) sungguh kesulitan mengatasi nge-lock-nya immo Audi (nanti saya kisahkan di lain post).

Untuk spesialis parts teknikal memang ada dan rata-rata parts tersedia. Kalo toh inden juga masih bisa dinanti secara relatif wajar.

Bengkel yang bisa menangai persoalan teknisnya juga ada saja. Meski harganya kadang kurang bersahabat dibanding merk premium lainnya. Menangani beberapa perbaikan teknis VAG kadang memang berbeda dengan merk premium lainnya siy…

Pola konstruksi pada beberapa kompartemen VAG, Audi khususnya dalam hal ini, sungguh berbeda. Jika Mercy atau BMW bermesin membujur/longitudinal memiliki throttle-body/valve di bagian depan, mesin membujur Audi memiliki throttle-body/valve di sisi belakang!

Jika pada BMW mau ngganti thermostat+housing cukup langsung dibuka, di Audi kita harus melepas panel depan yang itu gabungan bumper+lampu dan beberapa kover mesin. Soale tempatnya nyelempit, ribet.

Di beberapa case elektrikal, semacam key-chip atau modul immobiliser, untuk BMW – Mercy relatif banyak tersedia, entah baru atau copotan. Tinggal diprogram ulang untuk dipasangkan pada mobil yg mau dipasangi.

Di Audi, parts ginian statusnya langka! Gampangnya ngomong: belom tentu parts tersedia/ada yang mau nyetok.

Singkatnya demikian. Sekali lagi, intinya, dalam case pada electrical/computerized dan beberapa case tertentu, kondisi VAG di sini masih belom bisa kita pandang sama dan setara dengan kondisi ngoprek BMW/Mercy.

Meski kata banyak orang menangani mobil Eropa itu ribet dan rumit, bagi beberapa kalangan tertentu yang sudah memahami dan mengenalinya, itu sungguh sedemikian wajar dan sama mudahnya dengan menangani mobil Jepang.

Tapi untuk Audi, pikirlah lagi jika Anda meliriknya. Siapkan mental berlebih-lebih lagi dibanding surplus mental untuk miara BMW, sebab kadang urusannya bukan sekedar kesiapan duit belaka.

Melihat komparasi yang saya alami ini, kerasa banget jika motubmwa BMW itu adalah mobmwil tua bmwangka yang luar bmwiasa nan tak pernah bmwisa bmwinasa! Harga perolehannya relatif murah, perawatanya masih relatif mudah, dan value-nya: kenyamanan dan kemananan -dan kesenangannya juga- masih bisa kita dapat dengan sempurna. Mengalahkan banyak mobil Jepang dengan komparasi angkawinya yang masih berlipat nominalnya.

Jadi, jangan beli Audi, apalagi mobil Jepang. Beli BMW saja. Sumpeh enak dan worthed!

*Nanti saya saja yang koleksi Audi*
*Ngarep A8 D3 Transporter* 😛

Hehehe…

– Freema HW,
Immobilizer otak ane lagi kedip-kedip. Hiks…