SPG

Anda yang biasa main ke mal, sering ‘kan liat mbak-mbak SPG (sales promotion girl) cantik pembagi brosur kartu kredit? Atau brosur mobil low-MPV atau mobil LCGC? Atau brosur alat-alat fitness?

Biasanya mereka berdiri/membagi brosur di tempat yang strategis, yakni tempat di mana pengunjung tidak bisa berkelit dari mereka.

Entah di depan tangga berjalan/eskalator, setelah pintu masuk, dll. Pokoknya intinya begitu diperhitungkan lokasi mereka bekerja. Dan pihak manajemen mal sendiri juga telah mempergitungkan (kebutuhan) ini. Pintu masuk yang lebar misalnya, biasanya kemudian dipecah menjadi koridor-koridor sempit agar pengunjung pasti melewati situ.

Atau penempatan eskalator dirancang saling-silang sehingga pengunjung akan merata melewati semua kios/tenant.

Ada yang sedikit saya perhatikan (secara diam-diam; ya diam-diam… maklum, pipi bisa kena gampar mendadak kalo tidak waspada terhadap keadaan) selain parade wajah manis dan kecantikan rupawi para mbak itu. Itu mbak-mbak kalo saya perhatikan, mereka biasanya hanya membagi brosur/menawarkan produknya ke orang kebanyakan, orang-orang -biasa-biasa saja, kaum ordinary-people in the mall.

Orang-orang extra-ordinary, orang-orang spesial, yakni orang-orang luar biasa yang penuh kharisma dan sarat wibawa biasanya mereka lewati. Saya yakin, mereka mbak-mbak SPG itu pasti takut dan sungkan dengan kharisma dan wibawa beberapa orang spesial yang sedang melintas di depannya.

Buktinya, setiap kali ada mbak cuantik SPG kartu kredit/mobil low-MPV – LCGC/alat fitness, setiap kali saya berada dalam barisan pengunjung yang mengular, setiap kali semua pengunjung dikasih brosur kartu kredit/mobil/alat fitness,

saya selalu dan selalu di-plengosi (diacuhkan).

Mbaknya pura-pura lihat ke mana gitu, dan kembali (melanjutkan) membagi brosur ke orang yang tepat di belakang saya.

Ini bukti paling kuat, nyata, dan shahih bahwa orang spesial yang sangat kharismatik dan penuh wibawa telah membuat para mbak cantik itu jiper. Itu pesan(an) moral yang pertama: kharismatik dan wibawa ada pada diri saya.

Pesan(an) moral yang kedua, alhamdulillah, saya ini ternyata berguna. Saya bisa menjadi ‘nafas dan istirahat sejenak’ bagi mbak pembagi brosur yang pasti capek berdiri seharian dan terus tersenyum paksa dan sok memperhatikan orang-orang yang melintas di depannya.

Terakhir orang yang dikasih adalah orang tepat di depan saya, dan kembali orang yang dikasih adalah orang di belakang saya. Tepat saya melintas di depan mbak SPG itu, si mbak bisa tarik nafas panjang sejenak.

Pas di pameran mobil klasik Kemayoran, Jakarta, yang mana antrian masuk pengunjungnya bener-bener berdesakan nyaris tanpa celah sama sekali, dan pergerakan jalannya pengunjung teramat lambat untuk masuk venue, mbak cantik pembagi brosur melakukan hal sedemikian itu.

Ia mlengos beberapa detik, mungkin sudah dalam hitungan menit, untuk menunggu saya melewati peris depan dirinya.

Alhamdulillah, si mbak pasti bisa beristirahat mental lebih panjang saat itu. Kondisi psikologisnya pasti kembali segar setelah ia beristirahat -meski hanya beberapa detik/menit- sambil menunggu saya, orang spesial ini, telah berada di koordinat yang tidak segaris lurus dengan jasad cantiknya itu.

Kala di sebuah mal mewah di Surabaya, alhamdulillah saya juga mendapat menebar manfaat yang sama: membuat mbak-mbak cantik pembagi brosur itu bernafas sejenak. Mengistirahatkan beban psikolgis pekerjaan mereka.

Paling sering ya mbak pembagi brosur stand makanan di food-court mal yang membagi-bagi brosur tepat di bawah eskalator.

Semua orang diberi oleh mereka. Kecuali saya yang berkharisma, berwibawa, dan spesial ndhak pake telor ini.

Dan cara mereka semua beristirahat sejenak nyaris sama: menoleh ke arah tertentu dulu dan kemudianberbalik bertugas lagi membagi-bagi brosur.

Yang ini siy masih jadi pertanyaan yang belom terjawab oleh diri saya: kenapa mereka semua yang tidak saling kenal dan berada di kota yang berjauhan bisa menggunakan pola yang sama saat menghadai orang berkharisma dan berwibawa melintas di depannya?

Ah, mungkin pelatihannya memang seperti itu, jadi bukan sekedar refleks. Mereka harus bisa bernafas sejenak, beristirahat psikologis sejenak, tanpa harus menimbulkan pandangan negatif dan citra buruk dari orang yang mereka biarkan melintas lewat begitu saja.

Pesan(an) moral kedua: saya bermanfaat bagi orang lain, yakni membuat para mbak SPG itu bernafas sejenak pada beban kerja mereka; ini juga sekaligus menjadi pesan moral yang ketiga: bahwa saya selalu diberi dan mendapatkan previlege khusus di manapun saya berada. Saya selalu diutamakan, diberikan kemudahan, dispesialkan.

Saat semua orang harus berhenti sejenak, minimal melambatkan langkahnya, atau terganggu meski cuman sepersekian detik, saya selalu melewati lorong-lorong, koridor, dan meninggalkan eskalator mal dalam kondisi yang lancar dan tanpa gangguan.

Ini jarang sekali ada pengunjung mal mendapatkan perlakuan istimewa seperti saya ini.

Saya yakin, Anda belom tentu mendapatkan perlakuan istimewa seperti ini.

***

YA, pekerjaan mereka memang berat meskipun kelihatannya hanya berdiri dan membagi brosur begitu saja. Kecantikan para mbak itu, bahkan tidak menutupi kenyataan dan beban hidup mereka sesungguhnya.

Beban untuk tampil cantik, sementara kehidupan di belakang mereka belom tentu cantik: mungkin ibundanya sakit menahun dan dipulangkan oleh pihak BPJS karena telah terlalu lama dirawat;

mungkin sedang butuh mbayar LKS sekolah anaknya yang ditinggal minggat bapak (atau yang mungkin belom sah jadi bapaknya) sementara duit yang ada dipastikan bakal ludes untuk mbayar kos dan cicilan motor;

mungkin ditinggal selingkuh pacarnya yang telah merenggut keperawanan dan uang tabungannya padahal mereka belom menikah;

mungkin digodain pria kaya-raya bawa BMW namun tampangnya ancur dan istrinya galak;

mungkin harapannya untuk masuk pondok pesantren terus tertunda karena ia terus dikontrak jadi SPG;

mungkin warung dan kios kecil yang dibangunnya bersama keluarga di rumah kurang laku dan bahan dagangannya membusuk semua;

mungkin ia lama tidak mengaji bersama ibu-ibu pengajian kampung;

mungkin ia digoda ustadz dan kyai lokal setempat untuk dijadikan istri keempat;

mungkin ia sedang menghidupi suaminya yang bertahun lumpuh karena kecelakaan.

Atau mungkin ia belom bisa mengirim uang buat anaknya di kampung yang hendak ikut lomba MTQ (musabaqah tilawatil Qur’an – lomba melagukan ayat Quran) di kecamatan.

Mungkin.

Dalamnya laut bisa diterka, hati orang siapa yang tahu.

Itulah sekali lagi, saya bersyukur bisa membuat mbak SPG itu tarik nafas sejenak, untuk menghela isi hatinya dalam menjalani kehidupan yang, meski tidak angkut batu semen pasir atau karung beras, namun mungkin juga begitu berat mereka jalani.

***

Seperti juga kejadian terakhir beberapa hari silam.

Saat semua orang yang keluar dari bilik ATM center di sebuah mal itu disergap oleh satu peleton barisan sales: kartu kredit/mobil low-MPV – LCGC/alat fitness, cuman saya yang dilewati.

Mereka membiarkan saya melenggang kangkung penuh wibawa dan sarat kharisma.

Orang tepat sebelum dan sesudah saya yang keluar bilik (yang mana pintu bilik ATM center tersebut memang cukup untuk satu orang keluar dan satu orang masuk) selalu disergap oleh mereka; barisan salesman dan SPG yang semuanya ganteng – berdasi, cantik berbusana rapi, dan wangi itu.

Hanya saya yang dibiarkan.

Ini bukti nyata, bahwa saya memang orang yang luar biasa.

Benar-benar bukti yang tak terbantahkan.

Jadi, jika Anda yang membaca posting ini belom tentu mendapatkan perlakuan istimewa seperti saya yang mendapatkan previlege di mal, maaf-maaf saja ya, mungkin Anda tergolong orang kebanyakan sebagaimana para pengunjung mal.

Anda mungkin termasuk kelas ordinary-people alias orang biasa, yakni yang biasa dikasih brosur kartu kredit, mobil low-MPV/LCGC, atau alat fitness di mal-mal gitu.

Beda sama saya.

Merdeka!

– Freema HW
not-ordinary extra ordinary-people in mall https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/04/21/suami-kaya/

Me, extra-ordinary people in mall.

Advertisements

One thought on “SPG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s