Transaksi Luar Negeri

Ini mungkin bukan hal aneh (untuk saat sekarang ini): sebuah situs belanja dari luar negeri menjanjikan pengiriman secara sederhana (pajak dan bea/proses pengiriman langsung di-handle mereka). Namun sekitar satu dekade silam, transaksi lintas negara, khususnya ke Indonesia, adalah barang gelap dalam dunia perdagangan internasional.

Kala itu, Indonesia di-black list dari dunia perdagangan/transaksi daring (online) lintas negara. Penyebabnya hanya satu: fraud (kecurangan), yang secara teknis adalah maraknya fenomena carding (pencurian (transaksi) kartu kredit) oleh cracker kita.

Metodenya, sederhananya kita menembus database kartu kredit di luar negeri, mengetahui nomor aktif mereka, kemudian menggunakan nomor/kata sandi kartu kredit orang lain untuk berbelanja. Cara lain untuk menyergap (trap) data semacam ini adalah dengan ‘menguping’ lalu-lintas internet, misalnya email, dari berbagai sumber untuk mendapatkan data-data yang ditransmisikan. Siapa tau dalam data tersebut ada data/nomor kartu kredit.

Jika pengiriman ke Indonesia gagal, biasanya mereka akan mengirimkan dulu barang incarannya ke luar negeri. Polanya seolah salah menuliskan alamat. Misalnya: Jalan Pelan Nomor 2, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia, Hong Kong. Dari sana, karena alamat tersebut dianggap salah, maka akan di-forward (diteruskan) ke Indonesia.

Dan banyak metode lainnya.

Seorang rekan saya pernah memesan seperangkat alat musik yang volumenya besar. Sudah nyampai di kantor pos. Ada surat pemberitahuan pengambilan dari kantor pos (barang tidak diantar ke rumah waktu itu). Yang ada, dia ngakak. “Gila apa aku ambil barang segedhe gini? Yang ada di sana polisi nungguin!”

Seorang rekan lainnya lagi, memesan spare-part (suku cadang) kendaraan. Nyampe juga di sini. Dan karena volume fisiknya, barang juga tertahan di kantor pos. Dan sama dengan teman satunya sebelumnya: barang dibiarkan begitu saja.

Dan dia pindah kos 😀 Ya, carding dikenal banyak dilakukan oleh mereka yang tinggal di kos, bukan rumah sendiri. Biar gampang menghapus jejak.

SAYA pribadi pernah mendapatkan ‘hadiah’ dari seorang teman akrab. Sebuah buku, tebal. Dia menemui saya dan menyerahkan sebuah buku, “Niy buat Mas, saya pusing membacanya…”

Sebuah buku shell-programming yang tak pernah serius saya baca.

Ketika saya bolak-balik buku itu, penerbitnya dari luar negeri. Berbahasa Inggris. Kertasnya menggunakan book-paper. Bukan kertas HVS putih yang licin yang banyak kita kenal, melainkan kertas bertekstur kasar, perat (kesat) saat di-plirit (digosok) menggunakan jari tangan, dan warnanya coklat pasir pantai.

Book-paper ini sukarang sudah jamak digunakan oleh berbagai penerbit buku. Namun sekitar (lebih dari) satu dekade silam, di sini hanya penerbit kelas kakap yang (mampu) menggunakannya. Setidaknya itu pengamatan sepintas saya. Dan saya tak tahu apa penyebabnya. Mungkin masalah harga perolehan. Mungkin masih terbatasnya suplai. Entahlah.

Saya amati, nyaris tidak ada hal yang mencirikan bahwa buku tersebut beredar di sini. Jika iya, kemungkinan (dibeli dari toko) buku impor. Dan di seputaran kota kecil Kediri ini hampir saya pastikan tidak ada yang menjual buku impor. Boro-boro, toko buku ‘biasa’ aja belom ada waktu itu. Gramedia dan Toga Mas baru masuk beberapa tahun setelahnya.

Yang disebut dengan toko buku di sini, identifikasinya adalah toko alat tulis. Beberapa menjual buku pelajaran anak sekolah jaman buku masih berada dalam pasar bebas, tidak disuplai oleh pemerintah seperti sekarang ini atau era P&K jaman dahulu kala.

Dan feeling saya juga mengatakan, ini bukan buku yang dibeli dari (toko buku impor di) Jakarta.

Maka saya kemudian berani ambil kesimpulan, “Kamu dapet dari hasil carding niy?”

Rekan saya tertawa. “Cuman nyoba-nyoba aja koq Mas… Eh nyampe juga barangnya ke (Indonesia) sini…”

Saya tidak pernah membenarkannya, meski saya membiarkannya dan menerima buku tersebut. Saya juga tidak berpesan kepadanya untuk berhenti. Sebab saya sepenuhnya paham, bawa dia rekan saya tersebut sangat sadar dengan perbuatannya.

Sekedar tidak menghujatnya saja dan sekedar tidak memintanya bertransaksi untuk saya, saya pikir itu sudah merupakan penolakan halus atas kelakuannya. Menghujat atau menasihatinya, termasuk menolak pemberiannya, saya khawatirkan justru akan menyinggungnya.

Meski sebagai sahabat, kami senantiasa blak-blakan bicara, haram sampai ada tedeng aling-aling.

Bahkan sebagai sesama anak muda yang akrab, kami juga tidak jarang menggunakan kosa kata yang kotor, rusuh, pedas, norak, dsb. yang jika itu kami gunakan kepada orang (yang menjadi) lain, pasti akan menimbulkan masalah emosional bagi mereka. Inilah, kata yang sama dan makud yang sama, bisa menjadi berbeda ketika kita (memilih) mengakrabkan (batin) diri atau (memilih) tidak.

SELAIN carding, rekan saya terebut juga lama menggeluti transaksi forex (foreign exchange market, FX, currency market). Modalnya sekitar USD1000, dan itu juga dari hasil carding!

Ini masih satu dekade silam.

Selanjutnya dia mendadak kaya. Duitnya bertumpuk di rekeningnya. Hingga kemudian jatuh miskin. Semua isi rekeningnya ludes.

“Saya kalah Mas… Kalo boleh saya membela diri, bukan karena saya kalah, melainkan karena sekarang saya insaf. Saya ndhak mau lagi main (carding) gituan…”

Alhamdulillah. Padahal sejauh mulai awal saya mengenalnya, dia sebenarnya anak baik, agamanya kuat. Lingkungannya juga bukan lingkungan anak-anak “korak”.

“Saya sebenarnya cuman nyoba-nyoba aja. Njajal ilmu (nge-test skill) aja. Bukan berniat nyari duit secara prfessional dari situ.”

Meski sebenarnya kelakauan masuk kategori kriminal (melanggar hukum), saya hanya memandangnya sebagai polah nakal anak muda saja. Anak muda yang mencoba berekspresi.

***

Kini Indonesia sudah (kembali) diverifikasi. Dengan meningkatnya sistem sekuriti virtual dan dengan prinsip kehati-hatian yang semakin meningkat, sesiapa saja kini semakin banyak dan lancar membeli berbagai barang dari luar negeri.

Kini sudah jamak kita dengar ada rekan berkata, “Ane dapet dari ebay bro… Mayan niy, di sini enggak ada. Tapi kalo ada, biasanya malah justru lebih murah di sini ketimbang nyari di ebay. Base-price-nya sama, malah ketambahan ongkir…”

Meskipun banyak juga yang ngumpat, “Gila ini, sekian bulan barang ane belom dateng! Ke mana niy perginya barang? Kemarin juga, ane pesen ginian, sekian bulan baru nyampe! Wedian!”

Atau, “Dasar bea cukai kita, masak barang kayak ginian doang kena tarifnya segini? Ini pemerasan namanya! Gedean cukainya ketimbang harga barangnya, padahal ini bukan kategori barang mewah! Cuman spare-parts doang! Kalo kagak terpaksa berhubung di sini enggak ada yang jual dan ane butuh, kagak bakal ane urusan ama bea cukai!”

😀

***

MASIH sekitar cerita satu dekade silam. Setelah insaf jadi carder dan main forex, dia rekan saya kemudian bekerja normal saja. Kerja macam-macam, yang tak jauh dari bidang teknologi informasi.

Kini, dia sudah menikah, hidup bahagia bersama keluarganya. Sementara buku pemberiannya, masih saya simpan. Dan saya tak pernah tuntas membacanya, dari satu dekade silam hingga saat ini.

Freema HW
– Anak IPS.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s