Bersih

- Ilustrasi dari internet.

Si Bungsu senantiasa setia menjaga kakak kedua. Kakak kedua selama ini agak sakit; bisa beraktivitas namun kehidupannya memang tidak senormal kedua saudaranya yang lain.

Kakak kedua sebenarnya tidak butuh bantuan. Ia masih bisa mandi sendiri, memberesi bajunya, hanya saja ia kesulitan jika harus setiap hari membersihkan rumah. Ia kesulitan jika harus menyapu lantai dan halaman.

Kondisi fisiknya normal, namun pergerakan badannya teramat lambat. Kakinya serasa diseret jika harus berjalan. Berjalan sebentar saja, tulang-belulangnya akan terasa teramat ngilu.

Kakak kedua sudah pasrah dengan lupus, penyakit menahunnya ini. Berkali berkunjung ke dokter, sekalipun ditanggung oleh negara, penyakitnya masih tiada kunjung sembuh. Kesehariannya hanya banyak dihabiskan dengan menjalankan aktivitas rutin semampunya.

Si Bungsulah yang menuntaskan sisanya. Si Bungsu yang membuat rumah senantiasa bersih dan rapi. Si Bungsu yang mencuci semua baju hingga menyeterikanya. Si Bungsu yang membuat rumah senantiasa beres.

Selebihnya, si Bungsu rajin menuntut ilmu.

Si Sulung, kakak pertama, kakak tertua bekerja di kejauhan sana. Ia pulang hanya pada momen-momen tertentu saja. Ketika bertiga mereka berkumpul, kehidupan begitu ceria, serasa dunia hanya milik mereka bertiga. Mereka kerap menghabiskan malam dengan bercengkerama bersama.

Terkadang mereka pergi mengunjungi pantai, museum kota, atau taman kota. Yang mana yang membuat kakak kedua cukup dia di kendaraan atau sedikit saja berjalan. Mungkin dibantu dengan kursi roda.

Hingga usai sesi liburan, kakak pertama kembali ke rantau untuk bekerja.

Kehidupan berjalan seperti biasanya. Hal yang serasa sama dan berulang-ulang. Dari matahari terbit hingga terbit lagi, pada matahari terbenam hingga terbenam kembali.

***

Pagi yang tenang. Kesibukan mulai berjalan di segenap sisi dunia. Si Bungsu harus berkutat dengan tas besarnya.

“Aku harus mengikuti acara ini, sebagai bagian dari tugas akhir,” pamit si Bungsu kepada kakak kedua.

“Makanan aku siapkan di kulkas. Ada sayur dan buah untuk seminggu. Kakak tinggal menanak nasi seperti biasa. Aku minta warung sebelah untuk mengirimkan tempe dan kerupuk tiap hari. Nanti mintalah sayur dan buah lagi untuk persediaan seminggu. Minta yang jangan cepat keriput. Simpan di kulkas.” Tambahnya.

Kakak kedua melepas keberangkatan si Bungsu dengan air mata. Ia berdoa luar biasa untuk keberhasilan si Bungsu menuntut ilmu.

***

Sepuluh hari berlalu. Rumah bersih itu telah berubah. Daun kering tertiup angin mulai merangsek ke teras yang membentang dari depan himgga ke samping rumah.

Kaca rumah mulai buram olh dingin malam dan tiupan debu siang.

Kursi kayu bertatak rotan dengan kaki-kaki selaksa roda bundar itu semakin lusuh. Kecoak mulai berani mendekati ruang ramu. Meja makan coklat tua di depan televisi tabung 21 inci itu kini mulai kosong dari denting sendok beradu piring.

Rumah tua bergaya Belanda peninggalan orang tua itu seperti mundur dari dunia.

Kakak kedua serasa kehilangan kesehariannya. Aktivitas si Bungsu sehari-hari telah menjadi warna hidupnya.

Ia tak ingin mengeluh, namun ia memang tak sanggup melakukan semuanya. Kakinya semakin berat untuk digerakkan. Mengangkat setapak langkahnya kini tiga kali lebih berat ketimbang hari biasanya.

Ia banyak berbaring dan mulai melupakan makanan.

***

Minggu siang yang cerah. Dua minggu si Bungsu meninggalkan rumah untuk tugas akhirnya.

Kakak pertama pulang, tepatnya mampir rumah. Ada tugas kerja ke daerah nan jauh, ia menyempatkan diri menengok rumah.

Rumah itu begitu suram. Beberapa bungkus sayuran busuk dan mengering tergantun di pintu depan. Dan ia mendapati adiknya berbaring lemas dengan nafas sangat pelan. Tak ada kata terucap sepatahpun.

Sekejap ia larikan adiknya ke rumah sakit.

Ia panggil si Bungsu untuk pulang.

“Kenapa kakakmu kau biarkan seperti ini?” Tanya kakak pertama.

“Saya tak membiarkannya. Saya harus meninggalkannya karena tugas, jawab si Bungsu.

“Kenapa tak kau pesan kepada tetangga agar bisa merawatnya dan membersihkan rumah?” Si Sulung, kakak pertama mulai marah.

“Siapa tetangga yang bisa kita mintai tolong? Tak satupun ada yang bisa kita mintai tolong dan kita bayar. Semua sibuk dengan urusan masing-masing.” si Bungsu berusaha menjelaskan. “Aku sudah menyiapkan semuanya, aku sudah pesan ke warung di sana agar mengirimkan lauk saban hari, atau berapa hari sekali asal layak.”

“Nyatanya kakakmu sampai begini keadaannya?” Kakak pertama menukas, ia berkata kepada awan.

Si Bungsu diam. Si Bungsu hanya berbisik kepada sang waktu. Dia juga bingung kenapa mendadak seperti ini. Tak perlu ia menjawab atau mengeluarkan kata-kata.

Kakak pertama tidak selalu bersama mereka sepanjang hari. Kakak pertama hanya marah karena cinta.

Hingga kemudian, kakak kedua berpulang menghadap illahi.

Si Bungsu yang pergi dan kakak pertama yang bekerja, berdua mereka kembali meninggalkan keadaan demi keadaan.

– Deasy 10 Freema, di Kediri yang entahlah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s