Anakku Kularang Ikut Pengajian

Di keseharian kami, dengan kultural sekitaran yang ada, sering ada pengajian. Baik di rumah, tetangga, maupun di mushalla.

Saat peringatan meninggalnya salah satu tokoh setempat di sini, usai pembacaan tahlil dan doa, dilanjutkan pengajian oleh salah seorang ustadz. Isinya, intinya, untuk peningkatan iman dan takwa.

Di mushalla juga sering. Khususnya pas hari besar keagamaan. Anak-anak kecil juga banyak yang ikutan nimbrung di berbagai pengajian yang ada. Kadang jika pengajiannya besar, banyak pedagang dadakan menggelar lapak di sekitaran lokasi.

Sayangnya, saya berat untuk mengizinkan si kecil ikut bergabung, nimbrung, di pengajian. Entah sendirian atau bersama bapaknya. Padahal hal seperti ini baik untuknya. Agar keimanannya terjaga sejak dini. Dan agar ia mengenal lingkungan sosialnya.

Cuman, hiks …

Bukan apa-apa, para bapak di pengajian biasanya merokok, meski tidak pasti dan tidak sepenuhnya (dan mohon tidak diartikan bahwa pengajian = kalangan perokok). Dan terkadang bukan pas pengajiannya. Bisa jadi sebelum atau sesudahnya. Dan kebanyakan yang ada demikian.

Bahkan, dengar-dengar, pernah ada pengajian yang kyainya sambil pegang rokok. Apa yang bisa saya jelaskan kepada si kecil nantinya?

Saya khawatir dengan si kecil.

Dilematis.

Dan ‘jelek’nya, saya keukeuh, melarang si kecil ikut pengajian, jika berpotensi banyak perokok di sana.

Saya tidak hendak menentang Anda yang merokok. Silakan, itu urusan Anda. Namun jika keadaan itu terlihat di mata anak-anak, apalagi asapnya beredar di udara terbuka, saya terpaksa menghindarinya.

Saya, kami sekeluarga, adalah manusia yang jauh dari sempurna. Kami juga bermasalah dengan orang lain dan diri sendiri. Itulah kenapa, sebisa mungkin kami mencoba mengurangi dan menghindari masalah. Dan ini sulit, super sulit.

Seperti masalah rokok ini. Karena kaum seperti kami, biasanya kalah jumlah. Kebenaran di sini seolah menjadi masalah jumlah dan dominasi. Kamilah yang akan bermasalah dengan mereka, kumpulan para perokok yang banyak jumlahnya.

Maafkan kami, Nak! Maafkan kami, para tetangga! Maafkan kami, Tuhan!

Allahu Akbar …

– Deasy Ibune Rahman
Mengaji kehidupan bersama keluarga yang menyendiri.

Advertisements

One thought on “Anakku Kularang Ikut Pengajian

  1. Reblogged this on Mind & Coffee and commented:

    “Jgn terlalu dilebarkan kalau perokok itu ga punya etika, seakan2 perokok itu pembangkang dan radikal ga bisa di omongin ngerokok d depan anak2, bekomunikasilah dg baik pasti perokok jg ngerti dan malu. Klo ngelarangnya sinis dan kasar bukannya mereka berhenti tapi malah disengajain”;

    kami punya pengalaman gini:

    ya, para perokok memang kebanyakan bersedia mematikan rokoknya jika diperingatkan.

    Tapi gini Pak, kalo memang mereka beretika, maaf beribu maaf, bukannya tanpa harus diperingatkan, jika memang di sekitar mereka ada orang lain, ada anak-anak, bukankah semestinya itu automate mereka-mereka dengan sendirinya tidak akan menyalakan rokok dan mencari tempat yang tidak mengkontaminasi orang lain?

    Kenapa harus nunggu dikasih tau duluan?

    Barusan ini tadi saya pulang pertemuan wali murid. Apa yang saya lihat? Para bapak berkumpul di kantin dan berjamaah mereka menyalakan rokok, DI DALAM SEKOLAH Pak…

    Naudzubillah….

    Apakah hal seperti ini harus nunggu diperingatkan?

    Bukankah jika mereka kaum perokok itu beretika, hal demikian mestinya otomatis: ini sekolahan, tempat para murid menempuh pendidikan, kenapa bisa mereka para wali murid yang terhormat itu masih dengan santainya dan berjamaah merokok?

    Kejadian barusan saja sebelum saya posting, dan fenomena ini bukan sekalinya saya menjumpai di berbagai konteks.

    Saya tidak ingin memprotes Pak, saya hanya ingin bercerita saja.

    Yang saya pikirkan adalah sederhana: kami berusaha mengajarkan ke si kecil, bahwa perbuatan baik itu biasanya bisa diawali dengan ucapan basmallah dan diakhiri dengan ucapan alhamdulillah.

    Misal:

    – bismillah nawaitu belajar kelompok. Alhamdulillah belajar kelompok hari ini selesai.

    – bismillah pergi berangkat kerja, alhamdulillah hari ini pekerjaan kelar/nyampe rumah.

    – bismillah mau merbaiki rumah. alhamdulillah sejauh ini sudah selesai setengah.

    Nah, yang ini saya hanya tidak tau: bisakah merokok diawali dengan bimillah dan diakhiri dengan alhamdulillah?

    Anda-anda sekalian yang jauh lebih paham ketimbang saya/kami.

    Saya, kami sekeluarga, adalah manusia yang jauh dari sempurna. Kami juga bermasalah dengan orang lain dan diri sendiri. Dan kami sekedar tidak ingin menambah beban kehidupan kami ini dengan membiarkan anak kami, dan Insya Allah anak-anak penerus negeri ini, menyaksikan para bapak yang sesungguhnya adalah panutan dan idola masa depan kehidupan mereka para putra kita, mengajarkan tata-cara merokok di tempat umum yang mana kaum bukan perokok memiliki hak otomatis yang sama dan sepenuhnya.

    Kami para ibu hanya memberikan kehangatan jiwa bagi putra-putri kami, Anda para Bapaklah yang memberikan pondasi masa depan kepada mereka, putra-putri kehidupan kita ini.

    Wallahualam…

    – Deasy Ibune Rahman-

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s