Gelap

Ilustrasi - dari internet.

Perkampungan ini mulai habis. Di depan, sebentar lagi akan terbentang seruas stage yang tidak terlalu panjang memang, mungkin hanya sekilometer, yang membelah perkebunan/persawahan tanpa penerangan sama sekali, berpagar tanaman rindang dan jadi peneduh jika siang namun jadi pagar kegelapan kala malam, dengan aspal yang berlubang-lubang.

Saya mulai tegang. Sebab jarum bensin sudah tampak di bawah huruf E. Tidak ada waktu untuk kembali mundur. Sebab terakhir saya sempat meninggalkan warung bensin eceran malah banyak kilometer di belakang.

Mundur ke belakang kadang itu belom tentu berarti jelek. Mundur ke belakang kadang malah membawa kebaikan, karena kita tidak akan meneruskan kerugian lebih banyak lagi dari yang sudah ada.

Namun dalam konteks ini, mundur ke belakang malah akan membuang waktu, bikin saya lebih capek baik secara fisik dan khususnya mental (maklum, mental saya kan lembek belom sekuat baja), dan akan kembali membuang bensin untuk kembali maju ke depan. Plus belom tentu kalo saya mundur lagi, berkilo-kilo jauhnya, penjual bensinnya masih buka.

Dengan kabut yang sedemikian tebal dan serangan dingin yang melebihi hari-hari biasanya, satu-satunya yang membuatku berharap hanyalah tekat: tekat jika tiada warung benin eceran, saya akan nekat menuntun motor menembus jalan membelah perkebunan ini, hingga ketemu kampung berikutnya yang juga belum tentu ada kios bensin eceran, karena memang kehidupan sedang beristirahat tepat setelah tengah malam ini.

Bismillahi tawakaltu…

Ciiittt!

*Rem mendadak*

Ada warung yang masih buka dengan kios bensin ecerannya!

Alhamdulillah… Puji Tuhan!

Langsung kuisi seliter. Sambil nanyak penjualnya, apakah kalau habis hujan di sini kabutnya selalu tebal banget seperti ini. Sama penjualnya dibilang, “Berkabut, tapi rasanya tak seluar biasa ini…”

Kami saling mengucapkan terima kasih, karena saya terbantu dengan keberadaannya dan ia terbantu dengan saya membeli bensinnya, saya kembali melanjutkan perjalanan.

Sedikit lega. Namun masih tegang.

Lho?

Ya, rasanya ini adalah perjalananku paling luar biasa dalam rute Kediri – Blitar/Blitar – Kediri.

Tepat tengah malam ini saya meninggalkan Blitar. Balik ke Kediri.

Tanpa sadar, lampu motor mati. Gak punya cadangan. Ya udah, nekat aja.

Jalan perlahan sedapatnya. Toh setidaknya, saya sedikit hafal keadaan dan suasana rute yang jamak saya lewati ini. Meski saya tidak hafal benar di mana letak lobang-lobang yang bertebaran di sepanjang jalan. Baik di kawasan Blitar maupun kawasan Kediri.

Alhasil, beberapa kali saya kejedhag dengan suara yang lumayan keras.

Alhamdulillah, ban tidak pecah sampai rumah.

Padahal beberapa tahun silam, saya sempat terseok karena menghantam lobang. Dan ban motor langsung sobek. Situasi mirip: habis hujan, dan ada lobang yang tersamar dengan genangan. Dan lampu standar motor tua ini tak cukup mampu untuk menerangi keadaan.

Beruntung lagi, jalan tak terlalu lama, ada tambal ban yang bisa saya ketuk dan saya mintai tolong. Sebab lapak tambal ban tersebut ada di teras rumah pak tambal ban.

Kata pak tambal ban setelah melihat ban saya, “Mas masih beruntung cuman ban mas yang pecah, atau mungkin velg ini peyang. Beberapa hari silam, sekeluarga bapak – ibu – anak terjungkal dari motornya karena menghajar lobang yang di situ itu. Si anak yang duduk di depan, dihantam jatuhan motornya. Kalo kata saya Mas, mending itu anak mati ketimbang hidup dengan derita…”

Saya hanya terdiam.

Waktu itu untungnya saya bawa uang yang cukup buat beli ban baru. Malam barusan ini tadi, saya hanya pegang selembar uang yang kemudian saya konversi jadi bensin. Jika ada apa-apa di jalan, yasalam…

Bukan sekali ini saya ‘celaka’ karena lobang di jalan. Di kawasan lain ban motor saya juga sampe seperti disobek-sobek oleh Hulk. Tukang tambal ban aja sampai geleng-geleng melihatnya.

“Mas jalan berapa siy koq bisa sampe kayak gini?” Heran tukang tambal ban.

“Kalo saya melarikan motor super kencang, mungkin bukan cuman sobek pak, tapi saya pasti terpelanting dari motor. Berhubung ini tadi saya cuman terseok ndhak sampe jatuh apalagi terpelanting, maka kemungkinannya adalah: saya lari normal, namun lobangnya di aspal memang tajam dan dalam. Sehingga ban sampe sobek…”

Dan beruntung lagi, pas itu saya juga bawa uang buat ganti ban baru, luar dalam.

Yang itu kejadian beberapa tahun silam.

WELL, alhamdulillah saya nyampe rumah. Dua jam tiga puluh menit. Mungkin ini rekor terlama saya jalan tanpa rehat Blitar – Kediri. padahal normalnya jalur ini cukup ditempuh tiga perempat jam saja. Sejamlah.

Lampu mati, jalan berlobang-lobang, ditambah kabut yang super tebal jadi faktor penyebabnya. Rutenya daerah pedalaman, melewati kaki gunung Kelud.

Padahal hari sebelumnya saya menyarankan ke seorang rekan agar jangan menempuh rute itu. Lewat jalan raya normal saja. Yang jarak tempuhnya lebih panjang, namun waktu tempuhnya lebih pendek karena jalanan yang lumayan normal.

Eh saya malah lewat rute yang tidak saya sarankan 😛

Terlanjur kebiasaan siy. Lagian sebenarnya asyik aja menikmati perjalanan di kaki gunung itu. Pas di kaki Kelud, udara memang lebih dingin dari stage lainnya. Dan di situlah seninya. Perasaan jadi gimanaaa gitu, serasa lebih dekat dengan Tuhan.

Plus jika siang, rute ini melewati area pedesaan, dengan suasana yang asri, serta terkadang tercium bau warga yang memasak nira untuk dijadikan gula kelapa, baunya persisi kayak emak bikin serundeng. Bau nan nikmat!

Tapi kalo malam ini saya berjalan tanpa penerangan, ini bukan berarti saya berani. Ini benar-benar nekat namanya. Dan kembali Tuhan saya jadikan ‘kambing hitam’. Saya yang tolol karena tidak membawa lampu cadangan, tapi Tuhan yang saya mintai pertolongan agar menjaga perjalanan saya.

Padahal mestinya Tuhan kita hormati. Meski Dia ndhak gila hormat, tapi kita ini cuman manusia yang cuman ciptaan-Nya. Mestinya saya persiapkan lampu cadangan. Busi cadangan. Emergency toolkit yang memadai. Tekanan ban yang tercek. Dan seterusnya (termasuk cek radiator bagi kendaraan yang menggunakan radiator). Baru setelahnya berpasrah memohon Tuhan menjaga perjalanan kita.

Lha ini, preparasi ndhak ada, Tuhan kita suruh njaga. Lha koq enak? 😀

Dan beneran. Beberapa kali papasan dengan truk muat material sirtu gunung Kelud, ndilalah pas melewati ruas membelah perkebunan tadi koq ndhak ada kendaraan. Ada siy kendaraan arah papasan. Dua kali truk dan sekali motor.

Alhasil, saya jalan super pelan. Lampu sein yang saya nyalakan pun serasa tak mampu menembus kabut.

Tuhan…

BUKAN sekali ini saya menembus tengah malam dengan mati lampu. Sekian tahun silam, saya dalam perjalanan dari Kediri ke Bandung. Bermobil bersama keluarga.

Di kawasan sebelum Manjenang, yang kondisinya berbukit-bukit berkelok-kelok, mendadak lampu mati di tengah jalan. kayaknya relay-nya. Saya mencoba minggir. Menengarai suasana, kayaknya ndhak ada ini bengkel. Mana kondisi lewat tengah malam lagi.

Ketimbang nunggu pagi yang masih lama, saya putuskan jalan pelan-pelan saja. Mengandalkan lampu kecil. Dan pakai strategi ngikuti kendaraan di depan saya.

Mulanya lancar pas mbuntuti kendaraan di depan saya. Namun jadi masalah pas ada lobang (lobang lagi…). Dia dengan santai menghindar dan tancap gas, saya harus ngerem lebih lama dan memastikan ndhak sampe nginjek lobang.

Alhasil saya ketinggalan. Dan kembali melaju sangat pelan dengan harap-harap cemas nunggu ada kendaraan nyalip lagi.

Pas ada yang nyalip, saya ikuti, ada lobang, ketinggalan lagi.

Tak terhitung akhirnya, mobil sampai berdentum menghajar lobang di jalanan.

Sore berangkat dari Kediri, jam 7an nyampe Bandung.

***

Ini semua pengalaman yang lumayan membuat jantung dhag-dhig-dhug-derrr. Menurut banyak kisah dari para rekan, saya simpulkan secara kasar, nyaris semua yang biasa ‘hidup di jalanan’ selalu punya pengalaman menarik dan menegangkan di jalanan.

Ada yang terpaksa jalan berpuluh kilometer dengan mesin mati separo. Dan macem-macem. Sampe cerita-cerita yang berbau mistis.

Semuanya membawa hikmah masing-masing.

Meski tak bakal seserem dan setegang tim SAR yang naik gunung atau menyelam lautan untuk menyelamatkan korban bencana; petugas pemadam kebakaran yang berjibaku menembus padatnya perkampungan untuk memadamkan api, penduduk yang mengungsi karena banjir yang menenggelamkan rumah mereka, atau yang pasti paling menegangkan: tentara yang berperang;

…namun saya percaya, semuanya akan memberi pelajaran masing-masing.

Setidaknya, kali ini, saya harus segera memeriksa semua parts cadangan yang sekiranya diperlukan dalam perjalanan.

Sebab hal ‘sepele’ kayak gini, bisa jadi urusannya nyawa. Entah mengancam nyawa dan keselamatan diri kita sendiri, yang paling serem jika itu mengancam nyawa atau keselamatan orang lain.

‘Apes’nya, biasanya saya senantiasa mencadangkan busi dan lampu di bagasi motor, pas yang kali ini koq ya pas kelewatan. Terakhir ganti bohlam di rumah, saya belom menyempatkan diri beli lampu lagi. Sebab sejak ada regulasi lampu nyala siang, ini motor tua yang masih ada saklar untuk menyalakan lampu, mendadak tiap tiga bulan selalu putus lampu.

Entah memang ada korelasinya dengan regulasi tersebut atau murni kebetulan belaka karena semakin tuanya usia motor, saya tidak bisa memastikan.

Jangan tiru kelalaian saya ini.

Apa cerita menegangkan Anda? 😀

– Freema HW,
sang kegelapan.

Advertisements

2 thoughts on “Gelap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s