Hijrah/Migrasi DomiNasi

Yummy!
– Foto nemu dari internet.

Selama ini nasi beras telah menjadi makanan utama saya/kami. Mungkin juga kita. Padahal bahan makanan pokok (karbohidrat) selain nasi ada banyak: singkong, ubi jalar, jagung, talas, kentang, dll. Mendadak terpikir oleh saya, gimana ya memulai hijrah dan meninggalkan hal yang teramat sangat super familier di kehidupan saya/kami/kita: meninggalkan nasi sebagai makanan pokok dan berhijrah ke ketela/singkong atau jagung?

Sebabnya antara lain berikut ini.

– Nasi (beras) sering terbuang

Mulai dari berasnya tercecer terbuang saat diproses dari gabah menjadi beras, atau beras saat proses pengemasan, maupun beras saat dicuci (di-pususi, Jawa).

Bahkan saat kita makan pun, ada beberapa bulir nasi yang terbuang karena terselip bersama tulang ayam, lengkuas dari sayur lodeh, atau lengket di sendok nasi (Jawa: centhong).

Ceceran sedikit, jika dikumpulkan pasti bisa jadi bukit.

Sementara singkong relatif aman dari product-loss macam gini. Umbinya besar, ndhak bakal tercecer. Ketika dikupas, kulit dan umbinya terpisah sehingga tidak akan ada umbi yang ikut terkupas sebagaimana kita mengupas kulit buah (mangga, jambu, apel) yang mana ada sedikit buah ikut terkupas dan terbuang bersama kulit.

Pun jagung. Bulirnya besar, baik bulir pipihan maupun tumbukan. Relatif lebih aman saat dikemas. Meski bukan berarti memang aman total. Setidaknya potensinya lebih mengecil. Mudah-mudahan demikian.

– Karbohidrat pada singkong lebih baik ketimbang karbohidrat pada beras

Kecuali beras merah/basmati. Selebihnya mohon cek di sini http://nyata.co.id/tips/sehat/karbohidrat-baik-nggak-bikin-gemuk/

– Olahan dasar nasi beras agak membosankan

Beras tampangnya begitu, diolahnya cuman berbentuk nasinya atau kalo dilanjutkan jadi bubur. Sementara singkong/jagung bisa diolah menjadi ‘nasi’ dalam bentuk singkong potongan atau berbentuk tiwul (tumbukan setelah digaplekkan/dikeringkan); dan jagung buliran (rebus) atau berbentuk ampog (jagung tumbuk yang dikukus selaksa nasi beras).

Di beberapa kultur, misalkan China, India, Jepang, Korea, dll. yang juga makan nasi, mereka selain/disamping nasi juga makan mie/roti yang berbahan dasar gandum/tepung lain. Bisa kita artikan secara simpel, bahwa nasi adalah makanan pokok namun bukan yang utama bagi mereka.

Di sini, di kultur Jawa khususnya, secara massif nasi masih menjadi makanan pokok utama. Bahkan saking dominannya nasi menguasai diri kita hingga sisi psikologis yg melebihi sisi biologis sebagai peminta utama kebutuhan terhadap makanan/nutrisi sampai ada pameo, (orang Jawa) kalo belom makan nasi tetaplah belom makan sekalipun barusan menghabiskan roti satu kardus. Meskipun ada sebagian pihak yang sudah sangat terbiasa mengganti nasi dengan bahan makanan pokok lain.

Secara teknis, mengganti nasi dengan singkong/jagung harusnya tidak sulit. Jaman penjajahan, tetua kita biasa makan makanan “susah” tersebut. Nasi jagung dengan sayur terong plus lauk rempeyek. Nikmatnya serasa mendekripsikan itulah surga!

Hari sekarang ini, sebagian makanan pokok ‘alternatif’ tersebut malah naik kelas jadi makanan elit. Selain elit dari sisi populasinya, ia kadang juga elit dari sisi ekonomi/harganya. Nasi tiwul/ketela kadang harganya melebihi nasi beras untuk menu dan porsi yang setanding. Meski ini sama sekali tidak mutlak.

Dari kondisi keseharian, switching nasi beras ke nasi tiwul (singkong) atau nasi ampog (jagung) ini tentunya tidak sulit. Terlepas dari angka statistikal yang mungkin kurang imbang dari ketiga bahan tersebut, nyatanya di pasar ketiga bahan tersebut senantiasa tersedia. Bahkan jarang kita dengan harga tiwul/singkong melejit seperti harga beras pada kondisi tertentu misalnya.

Lainnya itu, olahan tiwul/ampog juga telah lama dipraktikkan leluhur kita. Artinya, tidak perlu ada proses baru/ulang untuk menghadirkan kedua bahan makanan pokok tersebut sebagai menu sajian di meja makan.

Kita tinggal mengolahnya seperti biasa. Menjadi nasi ampog/jagung dengan sayur lodeh atau sop atau gulai ikan; nasi tiwul goreng seafood; atau sekedar dengan sambal dan tempe. Nikmatnya juara!

Bahkan soto yang dimakan dengan singkong rebus juga luar biasa nikmatnya! Saya pernah makan menu ini enam belas tahun silam di Makassar.

Atau -maaf- semiskin-miskinnya kita ndhak bisa menyadikan sayur (Jawa: janganan, artinya kurleb =lodeh) dan lauk, tiwul dimakan begitu saja bersama parutan kelapa juga sudah nikmat. Atau jagung tanpa dinasi, hanya direbus dalam buliran dan juga dimakan bersama parutan kelapa juga juara sedapnya.

Sementara nasi jika dimakan sendirian tanpa dampingan lauk rasanya relatif hambar. (Ini bukan masalah bersyukur/tidak bersyukur, ini hanya sekedar menggambarkan realita yang dominan ada. Mudah-mudahan demikian.)

Jadi, secara teknis ini harusnya migrasi domi-nasi ini bisa.

Tinggal persoalan secara psiko-emosional.

Mau ndhak mau ini urusannya tinggal niat, kemauan, tekat, dan usaha. Lain tidak, tiada lainnya.

Jadi… bismillah, nawaitu hijrah/migrasi domi-nasi: dari dominasi nasi beras ke keberimbangan dengan bahan makanan pokok lainnya. Bukan meninggalkan nasi, melainkan meninggalkan domi-nasinya πŸ˜€

Semoga Allah mengawal upaya saya/kami/kita ini.

Freema Bapakne Rahman,
– Abis berdiskusi dengan nutrisionis keluarga: Deasy Ibune Rahman, sarjana gizi. πŸ˜€

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s