Bakar Quran!

-Wiki-

Wulung Panji Sembada sedang dalam perjalanan bersama Ustadz Yan Yin Yap. Mereka berdua dari kotapraja membelah stepa di setapak punggung gunung untuk menuju desa Arga Lembu di lembah nan subur sana.

Hujan turun dengan lebat, kabut turun dengan deras. Maaf kebalik: hujan turun dengan deras, kabut turun dengan lebat. Pekat mendadak membungkus tengah hari di hutan lebat itu.

Bergegas mereka melangkah, karena di ujung tanjakan setapak itu ada makam orang tetua suci, Kyai Bagas Respati. Salah satu penyiar agama di kaki gunung Arga Lembu yang meninggal karena serangan dingin luar biasa di lekuk gigir (punggung) itu.

Perjalanan mereka sebagai utusan Adipati ke desa Arga Lembu untuk mengirim Al-Quran dan kitab ilmu harus terhenti di tengah stepa itu, tepat di pucuk bukit kecil di mana makam tersebut berada..

Penduduk desa kaki Arga Lembu biasanya senantiasa beriringan bersama kala hendak ke kota praja, empat hari empat malam perjalanan untuk mengejar hari pasaran di pasar samping alun-alun depan pendopo kota praja. Malam kedua biasa mereka mampir berziarah ke satu-satunya bangunan dalam bentangan stepa nan tepat diantara desa dan kotapraja.

Kali ini setapak itu sepi. Penduduk barusan pulang dari kota praja kemarin. Mereka akan menunggu panen mendatang untuk ke kotapraja lagi.

PETIR menjilat angkasa diikuti halilintar menggelegar tepat mereka berdua, guru dan murid itu masuk ke area cungkup makam. Tampak taburan bunga kering di atas makam. Pertanda ada yang berziarah namun telah lama waktu sebelumnya.

Hujan tiada kunjung berhenti. Kabut semakin pekat. Menjelang sepenggalah gelincir matahari, suasana serasa malam.

Dingin semakin menjadi.

“Kita bisa mati sia-sia meski terus berdoa kepada Tuhan, wahai ustadz…” Murid santun itu mulai galau.

“Bakar apa yang bisa dibakar,” titah Ustadz Yan.

Sang murid melongok-longok di luar cungkup makam. Tidak ada ranting sebiji pun. Stepa itu telah basah tiada terkira oleh hujan dan kabut.

Kita hanya punya singkong, baju di badan, dan kitab ini.

“Bakar baju kita?” tanya Ustadz.

“Itu justru mempercepat kematian kita dalam kesiaan. Yang kita butuhkan sekarang adalah kehangatan untuk mempertahankan kehidupan. Kita tidak menolak kematian, tugas kita adalah mempertahankan kehidupan…” renung si murid.

“Bakar Quran dan kitab itu…”

“Ini kitab suci, Guru! Tugas kita menjaga dan menghormatinya…”

“Kamu punya gagasan lain, wahai anak muda?”

Si murid terdiam. Ia mengambil dua batu kecil dalam buntalannya. Dipercikkan ke tumpukan Quran itu. Terbakarlah kalamullah dalam mushaf suci itu.

Hangat menyeruak.

Namun tidak berlangsung lama.

“Guru…”

“Kita bakar makam ini…”

“Guru…”

Ustadz Yan tidak menyahut. Muridnya mulai membakar kayu pagar makam. Merambat ke cungkupnya.

Api berkeliling seiring redanya hujan. Hujan telah kandas seiring lenyapnya cungkup makam orang suci itu.

Dua guru-murid kemudian melanjutkan perjalanan. Membawa satu serpih mushaf sisa pembakaran di sore hari itu, menemui kepala desa Arga Lembu.

– Jalan Kyai Doko, tidak jauh dari makam Prabu Anom, Kediri; sepertiga awal bulan pertama 2015 Masehi. (Freema HW)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s