Asing Bermain

Rapor Aleef Rahman

Di rapornya barusan, si kecil mendapat advis dari Guru Wali Kelasnya, “Lebih meningkatkan konsentrasi belajar, bermainlah dengan temanmu, kurangi BERJALAN-JALAN DI KELAS SAAT PELAJARAN BERLANGSUNG. Semangat terus!”

Seorang rekan kami bertanya, “Emang selama ini dia main sama siapa?”

Mestinya siy Aleef Rahman ya bermain dengan teman-temannya. Kurang tahu juga apa maksudnya Bu Guru dengan suggest demikian. Mungkin ini.

BEKAL & ISTIRAHAT

Si kecil saban hari kami bawain bekal. Uang sakunya hanya 2rb rupiah. Ya beneran, dua ribu rupiah saja! Hari gini?

Cukup koq… Dia kami ajari memilih dan memilah dalam membeli makanan. Kami melarangnya membeli -maaf- snack/kudapan murmer-murmer yang enggak jelas isinya itu…

Yang kami perkenankan dia beli hanya semacam susu segar cair, biskuit ‘branded’, dan beberapa list lainnya yang sebenarnya sangat sedikit item-nya.

Alhamdulillah sejauh ini dia nurut.

Jadinya, saat istirahat, kala teman-temannya menyerbu pedagang makanan, si kecil hanya sendirian di kelas menikmati bekal makannya. Menghabiskan waktu istirahat yang hanya 20 menit.

Istirahat pertama dia menikmati bekal kudapan, istirahat kedua dia menikmati makan siang. Jika ada sisa waktu, ia baru bermain dengan rekan-rekannya.

Ibu Guru wali kelasnya pas kami bertemu dan ngobrol banyak pernah menyatakan keheranannya dengan fenomena si kecil ini 😀

Di sini saja si kecil sudah ‘berbeda telak’ dengan teman-temannya.

BUKU

Lainnya lagi, si kecil membangun dunianya sendiri di rumah.

Kami tidak memaksa dia harus les ini, ikut itu, dll. Apapun kegiatan di luar sekolahnya, kami selalu nawari dia atau dia yang minta. Dan jika dia bosan, tentu akan kami biarkan berhenti.

Dulu pernah les ngedrum. Bosen, berhenti. Les renang. Bosen, berhenti. Satu aja yang kami sedikit ‘memaksa’ ke dia: ikut olah raga bela diri. Kebetulan pencak silat.

Sebab selain untuk mengenali budaya/kearifan lokal, dalam olah raga tersebut juga diajarkan kedisiplinan, rendah hati (pelatihnya ‘mengancam’, kalo sampe ada yg berkelahi, mereka justru akan ‘dihajar’ sendiri :D  Hehehe…) Serta agar dia ‘menjadi laki-laki’. 😀

Kebetulan lagi, oleh bapaknya dikenalkan komputer dan desain sejak dini. Kini, dia menggeluti aplikasi Blender 3D.

Kami perhatikan, imajinasinya berkembang merajalela di situ. Dia membuat pesawat terbang, membuat kereta api, membuat permainan/game dan animasi sederhana.

Semuanya bukan kami injeksi. Kami hanya memfasilitasi, selebihnya dia berkembang sendiri. Justru kami banyak mengerem ‘kecanduan’nya terhadap komputer agar ingat main bersama teman-teman sekitaran rumah: bersepeda bersama, saling bertukar mainan, dll. Intinya agar dia tetap bergerak juga secara fisik (hiks, padahal kalo udah polah, dia enggak bisa diam…) Pun agar ia tetap tak lupa makan.

(Well, biar enggak kayak bapaknya tuh: kalo pas inget makan, makannya buanyak; tapi kalo udah lupa makan juga kelewatan sampe sakit gitu. Hiks…)

Selain dia masih terus menekuni kegemarannya membaca. Sejauh ini buku-buku tentang applied-technology yang dia gemari: buku-buku tentang kereta api, pesawat terbang, selain juga buku-buku dongeng untuk anak-anak.

Saat kami amati, maaf, kegemaran si kecil ini memang kurang nyambung dengan aktivitas banyak temannya. Sepertinya, buku kurang diakrabi oleh teman-temannya.

Kebanyakan rekan-rekan si kecil menghabiskan waktu di luar sekolahnya dengan les, para orang tua masih banyak yang ketakutan dengan nilai angkawi rapor anak-anaknya ketimbang perilaku dasar yang mesti kita bentuk saat anak masih kecil: biasa meminta tolong, biasa meminta maaf, biasa berterima kasih, biasa membuang sampah pada tempatnya, dan bisa antri dengan tertib.

Atau jika tidak, mereka teman-teman si kecil bermain secara natural.

Sepertinya ini poin yang mungkin bikin kurang-nyambungnya si kecil kami dengan ‘dunia’nya, dengan teman-temannya. Dunia yang mereka geluti serasa berbeda.

Jika bertemu teman-temannya, si kecil banyak membicarakan apa yang barusan dia baca, apa yang barusan dia bikin, dan sejenisnya.

Si kecil kami lihat kurang nyambung saat rekan-rekannya membicarakan apa-apa, yang pada umumnya anak-anak membicarakannya. Sependengaran kami siy, obrolan mereka tak jauh dari mainan atau main-main.

MAINAN

Mainan, mungkin menjadi faktor lain ‘pemisah’ si kecil dengan rekan-rekannya. Kami -maaf- mendidik si kecil agar ringan tangan. Pinjamkan mainanmu kepada teman-temanmu saat berkumpul. Jangan pernah posesif dengan benda-bendamu. Namun sebisa mungkin jangan pernah meminjam mainan teman-temanmu, kecuali mereka menawarkan.

Kita tahu, bagi anak-anak, tentunya mainan adalah benda paling berharga yang mereka pegang/miliki.

Kadang, Aleef Rahman tak tahan untuk meminjam mainan teman-temannya, mungkin karena saking penasarannya.

Beberapa temannya ada yang biasa saja meminjamkan mainannya, dan tukar pinjam dengan mainan Aleef Rahman; namun beberapa temannya cukup posesif.

Di sini si kecil sering protes, “Koq aku gak boleh pinjem mainannya? (Padahal) aku ‘kan udah minjemkan mainanku?”

Jujur, sejauh ini kami masih kesulitan menjelaskan fenomena ini kepadanya. Dan kami hanya bisa tersenyum, terus memberi penjelasan bahwa tidak semua orang sama, dan seterusnya. Sambil terus berdoa dan meyakini, Insya Allah kelak jika ia dewasa, ia akan memahami fenomena ini.

***

“Keganjilan-keganjilan” Aleef Rahman inilah yang mungkin membuatnya tampak asing, teralienasi, dari kumpulan massif teman-temannya.

Sebab ketika ia berada diantara banyak teman-temannya, ia bertabiat aneh sendiri. Ngomongin TGV atau Shinkansen sementara lumayan tidak sedikit teman-temannya nyanyi lagunya Noah atau Cita Citata.

Dulu, kami berdua orang tua si kecil ini berdebat panjang saat hendak memutuskan si kecil bersekolah dasar di mana.

Saya menginginkan ia bersekolah di sekolah alam, sekolah khusus, yang muridnya hanya 5 orang per kelas sehingga guru-gurunya bisa memberikan perhatian penuh kepadanya, kepada para siswa. Sebab si kecil terlalu hiperaktif untuk dibiarkan tanpa perhatian penuh dan khusus.

Namun bapaknya berpendapat lain. Bapaknya tetap menginginkan si kecil kami bersekolah di sekolah ‘biasa’ saja. Bagaimana jika ia kurang terperhatikan karena sekelas aja isi siswanya tiga puluh lebih?

Satu alasan Bapaknya si kecil dulu itu, “Kita enggak peduli berapa nilai angkawinya. Dan mungkin di sekolah dia akan lolos dari perhatian gurunya, yang seorang diri harus mengawasi tiga puluh lebih siswa. Namun biarkan ia sekolah di sana, biarkan ia mengenali beragam karakter manusia: ada yang begini, ada yang begitu. Ada yang demikian, ada yang berseberangan. Itu justru jadi bekal kelak dia mengenali dunia dengan beragam isi dan karakternya. Lainnya itu, biarkan ia bermain dengan teman-temannya. Itu masa yang harus dia jalani: belajar dengan bermain. Selebihnya, kita akan meng-home schooling-nya ala kita sendiri di rumah.”

Jadilah kemudian ia kami masukkan ke sekolah pemerintah dekat rumah 😀

KAMI tidak pernah bisa memastikan jadi apa atau jadi seperti apa Aleef Rahman kami kelak. Yang kami lakukan hanya satu: berusaha yang terbaik.

Semoga Allah menuntun langkah dan jalannya, bagi Aleef Rahman kami dan aleefrahman-aleefrahman sedunia. Insya Allah, aamiin.

Deasy Widiasena,
– Ibune Aleef Rahman, masih terus belajar menjadi orang tua. Mohon bimbingan, arahan, dan doa restu Anda semuanya. Tq.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s