Risk Taking

Rock-climbing, risk-taking.

Risk-taking, berani ngambil risiko. Sederhananya demikian. Tidak perlu kita jabarkan lebih detail, tapi sesiapa berani mengambil risiko, ia adalah risk-taker.

Biasanya sosok demikian ada dalam dunia bisnis. Mereka berani membuat keputusan dan menetapkan langkah meskipun dasar yang dipegang hanya proyeksi dan segala analisis yang diperhitungkan sematang-matangnya. Tanpa ada kepastian sama sekali!

Bagi yang tidak mengenal atau memahami karakter ini, sosok-sosok yang berani risk-taking mungkin adakan dianggap sebagai: suka nyari masalah, nyari perkara, salah sendiri begini-begitu.

Sebaliknya, mereka yang menjauhi risk-taking, biasanya adalah sosok yang suka aman-aman saja, namun bisa jadi hidupnya mungkin malah penuh masalah! Koq bisa?

BAGUS dong suka aman-aman saja?

Bagus-bagus aja…

Hanya saja secara empiris, saya pribadi dan secara subyektif mendapati perbedaan dua kubu karakter tersebut sebagai berikut.

SOSOK RISK-TAKING

  • Wawasannya luas. Ia memerlukan banyak referensi dalam mengambil keputusan.
  • Pikirannya maju ke depan. Namanya risk-taking, ia harus berpikir ke depan sebagai bekal keberaniannya mengambil keputusan.
  • Matang analisisnya. Ya, tanpa analisis yang matang, mereka bukan lagi risk-taking melainkan beneran bakal nyari masalah.
  • Membuat dunia bergerak. Ya, tanpa mereka dunia akan monoton.
  • Kuat mental dan fisik. Mereka bukan sosok yang tidak pernah gagal. Tapi mereka adalah sosok-sosok yang kuat karena keadaan. Kegagalan tidak akan membuatnya terpuruk. Mungkin akan ada sedikit drop dalam beberapa waktu. Namun selanjutnya mereka akan bangkit dan pada umumnya justru akan bergerak, berjalan, melangkah, melaju lebih perfect lagi ketimbang sebelumnya.
  • Menyadari bahwa kebaikan pasti akan menang. Penjudi sekalipun, yang notabene step-by-step yang mereka lakukan juga merupakan langkah-langkah risk-taking, menyadari bahwa berjudi bukanlah perbuatan baik karena ada klausul yang kontraproduktif: gain bukan diperoleh dengan pain. Ini bahasa obyektifnya untuk menjelaskan kenapa berjudi itu buruk. Dan bahasa ini justru keluar dari mereka kaum penjudi sendiri.

So, kaum risk-taking sejati justru akan mengolah langkah-langkah tindakannya untuk menuju sesuatu yang produktif, bukan kontra-produktif. Kaum risk-taking menyadari bahwa no pain no gain. Pendapatan hidup diperoleh dari kerja, berpikir, dan mengkonversi sumber daya menjadi hasil. Bukan sekedar menjalani waktu dengan melakukan tindakan linear dan mendapatkan hasil begitu saja.

Kaum risk-taking menyadari, dalam hasil ada banyak yang yang termaktub di dalamnya: re-capital yang harus disimpan dan dikembangkan, re-source yang harus dijaga dan dikembangkan, re-production yang harus dimunculkan dan dianakkan. Dalam beragam bentuknya.

Jika ada pepatah bijak yang sering diumbar di postingan medsos: “kegagalan adalah bla… bla… bla…”, kaum yang berani risk-taking lebih menyerapi tuah bajik tersebut ketimbang postinger kosong belaka.

Satu lagi, kaum risk-taking pada umumnya benar-benar kaum yang lebih sigap menyalakan lilin ketimbang sibuk menghujat kegelapan. Saya mendapati fakta, rekan-rekan saya yang berbisnis mandiri dan merupakan sosok risk-taking pada umumnya memiliki sikap diri demikian.

Jika kita menganggap tolok ukur kaum risk-taking adalah nominal atau finansial, pada banyak kondisi saya menjumpai justru tidak sama sekali. Kadang dalam berbisnis, penumpukan materi angkawi besar-besaran bukan tujuan utama mereka.

Tanpa banyak menggunakan kosa-kata agamis, apa yang menjadi motivasi mereka kaum risk-taking justru agamis sekali, setidaknya di mata saya. Umumnya mereka bekerja atau membangun bisnis demi menyambung hidup keluarga, memberi pekerjaan kepada yang membutuhkan, mengurangi polemik birokrasional, dan agar banyak hal yang disumbangsihkan kepada masyarakat dan kehidupan. Apapun bentuknya.

Dalam teori human-resources, merekalah level tertinggi motivasi orang bekerja: bukan lagi motivasi insentif, bukan lagi motivasi awards/rewards/penghargaan, melainkan sudah pada taraf motivasi untuk menjaga jati dirinya (existence) sebagai manusia, makhluk Tuhan yang dianugerahi akal-pikiran.

Memberi pekerjaan kepada yang membutuhkan, mengurangi polemik birokrasional, dan agar banyak hal yang disumbangsihkan kepada masyarakat dan kehidupan; jika diperkenankan saya menilai, ini adalah bentuk penghibahan diri mereka untuk masyarakat dan kehidupan.

Kalimat-kalimat ini memang sama sekali tidak berkorelasi dengan kalimat-kalimat pada ayat-ayat kitab suci, namun jika kita bersedia terbuka menelaahnya, mereka kaum risk-taking sebenarnya adalah kaum yang berlomba-lomba dalam kebaikan.

Kaum risk-taking yang sepanjang hidupnya “mencari masalah”, bisa jadi mereka malah ringan dan kosong masalah. Karena mereka terbiasa dan sepanjang waktu mengelola masalah dengan pola tindak yang terperhitungkan.

MAIN AMAN

Berbalik dengan kaum risk-taking, kaum yang main-aman, saya ndak tahu istilah yang pas untuk karakter demikian, adalah mereka yang sangat nikmat dan menikmati ketika dunia akan bergerak dan melaju kencang dalam gerakan yang statis, monoton, kontra-dinamis.

Segala hal yang bersifat mengandung risiko, tidak jelas kepastiannya di depan, akan dihindari sebisa dan sekuat mungkin.

Mereka tidak akan memiliki banyak masalah dalam hidupnya. Namun kehidupan biasanya hanya sekedar menggunakan jasa tenaga mereka dan membayar secukupnya.

Bayaran yang dicari dari kaum pencari aman belaka biasanya cukup nominal. Yang mana, meski bersyukur setinggi langit, masih terbuka kemungkinan bahwa pendapatan nonimal yang mereka terima bisa jadi akan selalu kurang.

Kaum pencari aman kadang justru malah mendapatkan income rutin yang lumayan tinggi nilainya. Namun karena tidak terbiasa dengan risk-taking, income yang datang secara rutin itu sendiri juga berpotensi untuk menimbulkan risiko: risiko kegoncangan manajerial diri, manajerial kehidupan sendiri, atau manajerial kehidupan rumah tangga yang tingkatnya bisa kecil-kecilan atau mungkin besar.

Apapun bentuk potensi risiko ini, itu semua justru muncul karena mereka terbiasa menghindari risiko dan bukan mengelola risiko. Inilah kenapa bisa jadi hidup mereka mungkin malah penuh “masalah”.

Sebab, padahal, risiko adalah keniscayaan dalam hidup ini. Dengan adanya hari esok atau masa depan, itu semua adalah risiko.

Tinggal kembali pada diri kita masing-masing: memandang dan menjadikan risiko itu sebagai tantangan dan pertanyaan yang harus dijawab atau menjadikannya sebagai konteks perubahan yang sebisa mungkin harus dihindari (=status quo).

Semua kembali pada diri kita masing-masing, sebab kitalah yang menjalaninya sendiri.

Ditulis berdasarkan pengamatan kepada para teman pribadi dan pakai teori ngawur sendiri.

– Freema HW
Belom risk-taking, masih taraf suka mencari masalah saja 😛

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s