SPG

Anda yang biasa main ke mal, sering ‘kan liat mbak-mbak SPG (sales promotion girl) cantik pembagi brosur kartu kredit? Atau brosur mobil low-MPV atau mobil LCGC? Atau brosur alat-alat fitness?

Biasanya mereka berdiri/membagi brosur di tempat yang strategis, yakni tempat di mana pengunjung tidak bisa berkelit dari mereka.

Entah di depan tangga berjalan/eskalator, setelah pintu masuk, dll. Pokoknya intinya begitu diperhitungkan lokasi mereka bekerja. Dan pihak manajemen mal sendiri juga telah mempergitungkan (kebutuhan) ini. Pintu masuk yang lebar misalnya, biasanya kemudian dipecah menjadi koridor-koridor sempit agar pengunjung pasti melewati situ.

Atau penempatan eskalator dirancang saling-silang sehingga pengunjung akan merata melewati semua kios/tenant.

Ada yang sedikit saya perhatikan (secara diam-diam; ya diam-diam… maklum, pipi bisa kena gampar mendadak kalo tidak waspada terhadap keadaan) selain parade wajah manis dan kecantikan rupawi para mbak itu. Itu mbak-mbak kalo saya perhatikan, mereka biasanya hanya membagi brosur/menawarkan produknya ke orang kebanyakan, orang-orang -biasa-biasa saja, kaum ordinary-people in the mall.

Orang-orang extra-ordinary, orang-orang spesial, yakni orang-orang luar biasa yang penuh kharisma dan sarat wibawa biasanya mereka lewati. Saya yakin, mereka mbak-mbak SPG itu pasti takut dan sungkan dengan kharisma dan wibawa beberapa orang spesial yang sedang melintas di depannya.

Buktinya, setiap kali ada mbak cuantik SPG kartu kredit/mobil low-MPV – LCGC/alat fitness, setiap kali saya berada dalam barisan pengunjung yang mengular, setiap kali semua pengunjung dikasih brosur kartu kredit/mobil/alat fitness,

saya selalu dan selalu di-plengosi (diacuhkan).

Mbaknya pura-pura lihat ke mana gitu, dan kembali (melanjutkan) membagi brosur ke orang yang tepat di belakang saya.

Ini bukti paling kuat, nyata, dan shahih bahwa orang spesial yang sangat kharismatik dan penuh wibawa telah membuat para mbak cantik itu jiper. Itu pesan(an) moral yang pertama: kharismatik dan wibawa ada pada diri saya.

Pesan(an) moral yang kedua, alhamdulillah, saya ini ternyata berguna. Saya bisa menjadi ‘nafas dan istirahat sejenak’ bagi mbak pembagi brosur yang pasti capek berdiri seharian dan terus tersenyum paksa dan sok memperhatikan orang-orang yang melintas di depannya.

Terakhir orang yang dikasih adalah orang tepat di depan saya, dan kembali orang yang dikasih adalah orang di belakang saya. Tepat saya melintas di depan mbak SPG itu, si mbak bisa tarik nafas panjang sejenak.

Pas di pameran mobil klasik Kemayoran, Jakarta, yang mana antrian masuk pengunjungnya bener-bener berdesakan nyaris tanpa celah sama sekali, dan pergerakan jalannya pengunjung teramat lambat untuk masuk venue, mbak cantik pembagi brosur melakukan hal sedemikian itu.

Ia mlengos beberapa detik, mungkin sudah dalam hitungan menit, untuk menunggu saya melewati peris depan dirinya.

Alhamdulillah, si mbak pasti bisa beristirahat mental lebih panjang saat itu. Kondisi psikologisnya pasti kembali segar setelah ia beristirahat -meski hanya beberapa detik/menit- sambil menunggu saya, orang spesial ini, telah berada di koordinat yang tidak segaris lurus dengan jasad cantiknya itu.

Kala di sebuah mal mewah di Surabaya, alhamdulillah saya juga mendapat menebar manfaat yang sama: membuat mbak-mbak cantik pembagi brosur itu bernafas sejenak. Mengistirahatkan beban psikolgis pekerjaan mereka.

Paling sering ya mbak pembagi brosur stand makanan di food-court mal yang membagi-bagi brosur tepat di bawah eskalator.

Semua orang diberi oleh mereka. Kecuali saya yang berkharisma, berwibawa, dan spesial ndhak pake telor ini.

Dan cara mereka semua beristirahat sejenak nyaris sama: menoleh ke arah tertentu dulu dan kemudianberbalik bertugas lagi membagi-bagi brosur.

Yang ini siy masih jadi pertanyaan yang belom terjawab oleh diri saya: kenapa mereka semua yang tidak saling kenal dan berada di kota yang berjauhan bisa menggunakan pola yang sama saat menghadai orang berkharisma dan berwibawa melintas di depannya?

Ah, mungkin pelatihannya memang seperti itu, jadi bukan sekedar refleks. Mereka harus bisa bernafas sejenak, beristirahat psikologis sejenak, tanpa harus menimbulkan pandangan negatif dan citra buruk dari orang yang mereka biarkan melintas lewat begitu saja.

Pesan(an) moral kedua: saya bermanfaat bagi orang lain, yakni membuat para mbak SPG itu bernafas sejenak pada beban kerja mereka; ini juga sekaligus menjadi pesan moral yang ketiga: bahwa saya selalu diberi dan mendapatkan previlege khusus di manapun saya berada. Saya selalu diutamakan, diberikan kemudahan, dispesialkan.

Saat semua orang harus berhenti sejenak, minimal melambatkan langkahnya, atau terganggu meski cuman sepersekian detik, saya selalu melewati lorong-lorong, koridor, dan meninggalkan eskalator mal dalam kondisi yang lancar dan tanpa gangguan.

Ini jarang sekali ada pengunjung mal mendapatkan perlakuan istimewa seperti saya ini.

Saya yakin, Anda belom tentu mendapatkan perlakuan istimewa seperti ini.

***

YA, pekerjaan mereka memang berat meskipun kelihatannya hanya berdiri dan membagi brosur begitu saja. Kecantikan para mbak itu, bahkan tidak menutupi kenyataan dan beban hidup mereka sesungguhnya.

Beban untuk tampil cantik, sementara kehidupan di belakang mereka belom tentu cantik: mungkin ibundanya sakit menahun dan dipulangkan oleh pihak BPJS karena telah terlalu lama dirawat;

mungkin sedang butuh mbayar LKS sekolah anaknya yang ditinggal minggat bapak (atau yang mungkin belom sah jadi bapaknya) sementara duit yang ada dipastikan bakal ludes untuk mbayar kos dan cicilan motor;

mungkin ditinggal selingkuh pacarnya yang telah merenggut keperawanan dan uang tabungannya padahal mereka belom menikah;

mungkin digodain pria kaya-raya bawa BMW namun tampangnya ancur dan istrinya galak;

mungkin harapannya untuk masuk pondok pesantren terus tertunda karena ia terus dikontrak jadi SPG;

mungkin warung dan kios kecil yang dibangunnya bersama keluarga di rumah kurang laku dan bahan dagangannya membusuk semua;

mungkin ia lama tidak mengaji bersama ibu-ibu pengajian kampung;

mungkin ia digoda ustadz dan kyai lokal setempat untuk dijadikan istri keempat;

mungkin ia sedang menghidupi suaminya yang bertahun lumpuh karena kecelakaan.

Atau mungkin ia belom bisa mengirim uang buat anaknya di kampung yang hendak ikut lomba MTQ (musabaqah tilawatil Qur’an – lomba melagukan ayat Quran) di kecamatan.

Mungkin.

Dalamnya laut bisa diterka, hati orang siapa yang tahu.

Itulah sekali lagi, saya bersyukur bisa membuat mbak SPG itu tarik nafas sejenak, untuk menghela isi hatinya dalam menjalani kehidupan yang, meski tidak angkut batu semen pasir atau karung beras, namun mungkin juga begitu berat mereka jalani.

***

Seperti juga kejadian terakhir beberapa hari silam.

Saat semua orang yang keluar dari bilik ATM center di sebuah mal itu disergap oleh satu peleton barisan sales: kartu kredit/mobil low-MPV – LCGC/alat fitness, cuman saya yang dilewati.

Mereka membiarkan saya melenggang kangkung penuh wibawa dan sarat kharisma.

Orang tepat sebelum dan sesudah saya yang keluar bilik (yang mana pintu bilik ATM center tersebut memang cukup untuk satu orang keluar dan satu orang masuk) selalu disergap oleh mereka; barisan salesman dan SPG yang semuanya ganteng – berdasi, cantik berbusana rapi, dan wangi itu.

Hanya saya yang dibiarkan.

Ini bukti nyata, bahwa saya memang orang yang luar biasa.

Benar-benar bukti yang tak terbantahkan.

Jadi, jika Anda yang membaca posting ini belom tentu mendapatkan perlakuan istimewa seperti saya yang mendapatkan previlege di mal, maaf-maaf saja ya, mungkin Anda tergolong orang kebanyakan sebagaimana para pengunjung mal.

Anda mungkin termasuk kelas ordinary-people alias orang biasa, yakni yang biasa dikasih brosur kartu kredit, mobil low-MPV/LCGC, atau alat fitness di mal-mal gitu.

Beda sama saya.

Merdeka!

– Freema HW
not-ordinary extra ordinary-people in mall https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/04/21/suami-kaya/

Me, extra-ordinary people in mall.

Membuka vs Menutup Kartu Kredit

Kami tidak punya kartu kredit. Tapi ada hal menggelitik yang kami temukan dari komentar rekan-rekan fesbuk kami.


– Ilustrasi nyuplik dari http://www.dailyfinance.com/2012/10/31/worst-credit-cards-scary-plastic-hurts-finances/.

“Sekian tahun yang lalu, sewaktu pihak bank merayu saya agar membuka akun kartu kredit, sales bank dengan ramah dan baik hatinya MENDATANGI dan MEMBAWAKAN formulir-formulir untuk saya tanda-tangani.

Selanjutnya, account-statement selalu dikirim tanpa tanda tangan karena surat tersebut digenerate oleh komputer, dan/maka dianggap sah.

Lalu mengapa untuk menutupnya, saya yang repot buat surat ini-itu, bukannya sales bank yang mendatangi seperti sewaktu pembukaan akun?

Mengapa email saya yang menyatakan penutupan akun, tidak danggap oleh bank, melainkan mengharuskan saya menulis surat bertanda-tangan seperti jaman sekolah dulu?

Jawaban manajer bank-nya adalah: itu sudah ketentuan dari sononya.

Seorang manajer bank internasional hanya mempunyai jawaban seperti itu??????

Dimana kesetaraan antara bank dengan pelanggannya?”

-Catur Sudiro, seorag guru kehidupan-

“Tapi aku pernah ikut asuransi via kartu kredit yang offering-nya by phone. Waktu aku closed juga confirm by phone bisa juga. Pihak ngirim surat closing statement-nya ke kantor.”

-NLW, rekan-

“Untuk tutup kartu kredit cukup telepon ke call center-nya. Saya telah sukses nutup kk bn1, 4nz, bukop1n dan m3ga via call-center.”

“Tapi sebenernya memang harus mudah bukanya mudah tutupnya. Emang saya akui prosedur semua kartu kredit itu menyebalkan!”

-MU, seperti adik bagi kami-

“Mungkin kedengaran katrok; sebagai orang yang berkecimpung di perbankan, saya tidak memiliki satu pun kartu kredit. Kelihatan memudahkan tapi ribet, bunga juga gila-gilaan. Kata orang, belanja lebih murah. Iya murah saat belanja tapi repot di tagihan.

Yang terlanjur buka kartu kredit, gunakan dengan bijak.”

-AMA, rekan-

“Tanpa kartu kredit, saya enggak bisa transaksi ke ebay. Kuncinya memang bijak menggunakan.”

-RS-

Bagaimana dengan pengalaman Anda sebagai pengguna kartu kredit? πŸ˜€

– Deasy & Freema,
enggak punya kartu kredit πŸ˜›

Ref: http://www.forbes.com/sites/sherylnancenash/2012/06/19/5-credit-card-traps/

Jalan Rusak

- Foto: Andika FM Kediri

Ratusan warga dari tiga desa, Bedali, Kunjang dan Manggil, kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri, memblokade jalan perbatasan Kediri Blitar tadi pagi. Mereka memprotes kerusakan jalan raya yang disebabkan oleh truk bermuatan pasir melebihi tonase. Dalam aksinya, warga memasang spanduk dari kain putih dan pohon bambu, tepat di tengah jalan raya desa Bedali. Mereka menghentikan setiap kendaraan roda empat yang melintas di jalan tersebut.

Menurut Tegel – koordinator aksi, ada sekitar 20 hingga 30 kilometer jalan yang rusak parah, dan menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu-lintas. Warga sebenarnya sudah sering melaporkan kerusakan jalan tersebut, tetapi tidak ada respon tegas dari pemerintah. Tegel mengakui, aksi protes jalan rusak ini sebenarnya sudah berulang kali dilakukan olah warga. Tetapi para sopir truk pasir bermuatan melebihi tonase bandel.

Sesuai pantauan Radio Liiur FM, aksi blokade jalan ini menyebabkan arus lalu-lintas penghubung kabupaten Kediri dan kabupaten Blitar lumpuh selama kurang dua jam. Bahkan, sejumlah aparat kepolisian dan TNI yang ada di lokasi kejadian tidak bisa berbuat banyak. Sementara warga terus memberhentikan setiap kendaraan roda empat yang melintas, hingga menyebabkan penumpukan kendaraan dari dua arah.

http://news.detik.com/surabaya/read/2015/01/21/102340/2809297/475/jalur-alternatif-kediri-blitar-rusak-warga-blokade-jalan http://www.liiurfm.com/rusak-akibat-akibat-truk-pasir-ratusan-warga-perbatasan-kabupaten-kediri-blitar-memblokade-jalan/ http://www.andikafm.com/news/detail/10446/1/ribuan-warga-blokade-jalan-cegat-truk-muatan-pasir

Ini adalah jalanan yang rutin saya lewati saat perjalanan Kediri – Blitar PP. Bukan jalan utama dan hanya jalan alternatif, dari Kediri ke arah timur, melewati kaki gunung Kelud, kemudian mengarah ke selatan menuju Blitar. Pemandangannya indah. Sementara jalan utama dari Kediri ke selatan, kemudian mengarah ke timur hingga sampai Blitar.

Meski KTP saya Kediri, keluarga saya berasal dari Blitar. Separuh darah saya ada di Blitar.

Beberapa bulan silam, kala masih musim kemarau, saat berhenti dalam antrian/giliran gantian jalan dengan kendaraan lain karena rusaknya jalan, saya ngomong dengan warga setempat, “Kalo saya jadi penduduk sini, Pak, saya sudah tanami ini jalanan depat rumah dengan pohon pisang.”

Sebab kala musim kemarau, debu di sini terbang luar biasa tebal, menutupi lantai-lantai rumah penduduk. Saat musim hujan, jalanan licin dan membahayakan. Padahal jalanan ini bukan jalanan khusus untuk kebutuhan dan keperluan khusus.

Dan kini, penduduk setempat sudah pada batas kesabarannya.

INI cuman peristiwa lokal, namun fenomena jalan rusak ini sering kita lihat dan dengar banyak terjadi, merata, di seantero Indonesia. Ini bukan cerita baru, yang kayak ginian ini udah jadi cerita basi di negeri ini. Sayangnya, cerita basi ini masih saja selalu kembali hadir terulang kembali.

Berkali-kali velg saya peyang gara-gara aspal bolong. Biasanya bolongnya yang pola kebakan betmen. Aspal overall mulus. Eh mendadak ada lobang dalam menganga yang susah kita menghindarinya.

“Jedhaggg!!!”

Peyanglah ini velg.

Berkali-kali.

Ban pecah juga sering.

Ini masih saya, belom orang lain…

***

Jalanan kita dibiayai pembangunan dan perawatannya dari pajak yang kita bayar. Ingat, jika kita telat sehari saja membayar pajak, denda langsung terpampang di depan mata.

Namun ketika pemerintah telat berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun melunasi kewajibannya kepada rakyat, semua serasa lenyap sirna hilang dari depan mata. Termasuk lambatnya segera menangani jalan rusak.

Tidak perlu harus segera di-layering kembali, cukup 1×24 jam aspal bolong langsung ditambal, itu sudah hal yang luar biasa. Maaf, seharusnya ini hal yang semestinya.

INI memang peristiwa lokal, namun semoga ini bisa menginspirasi Indonesia. Menginspirasi pemerintah negeri ini agar tidak terus-terusan mendzalimi rakyatnya.

Semoga dalam lima tahun pemerintahan yang sekarang ini, negara ini benar-benar berubah.

Semoga rusaknya infrastruktur akan menjadi hal yang langka didapati di negeri ini.

Ya Allah, berkatilah negeri ini.

– Freema HW,
bukan pembayar pajak yang baik, hanya seorang rakyat keparat pengkhianat negara.

Entrepreneur – Wirausahawan

Becermin dari seorang wirausahawan kolega saya;

seorang wirausahawan itu bukan gagal karena modalnya ludes, usahanya tutup, bisnisnya kolaps, project-nya hancur, hartanya amblas, segalanya tiada tersisa.

Seorang wirausahawan itu akan gagal jika semangatnya (untuk bangkit kembali) sirna.


“The impossible is often the untried.” – J. Godwin –

Menjadi wirausahawan itu memang maha berat. Sebab sekecil apapun wirausaha para wirausahawan, mereka harus berjuang dalam ketidakpastian.

Harus jeli merangkai proyeksi, namun tetap tidak akan pernah bisa membuat kepastian.

Harus punya skill teknis, sekaligus punya kemampuan prinsipal-konseptual.

Tidak perlu tahu banyak tentang banyak hal memang, sudah ada pakar dan ahlinya ada masing-masing bidang. Namun wirausahawan memang harus tahu tentang banyak hal meskipun itu tahu sedikit; dan tahu banyak pada sedikit hal sekaligus. Artinya, dengan kata lain, meski benar-benar menguasai bidangnya.

Kaum wirausahawan memang akan berpikir berbeda. Mereka kaum wirausahawan sejati pasti (ya, pasti) merupakan kaum yang berani mengambil risiko (risk taking). Tanpa keberanian mengambil risiko, dunia tidak akan jalan.

Jika yang lain lebih memilih main aman, kaum wirausawahan memilih berhitung, memperhitungkan sematang mungkin, dan bergerak. Bergerak adalah keputusan tertinggi. Sebab gagal atau berhasil hanya bisa diketahui setelah semua dijalani.

Wirausahawan tidak pernah mengenal (kata) hambatan. Mereka hanya mengenal (kata) tantangan. Tiada keberhasilan tanpa tantangan. Dan ‘kegagalan’ adalah tantangan itu sendiri.

Inilah yang membuat mereka kaum wirausahawan kadang terbiasa mengatakan sanggup ketika seluruh dunia mengatakan tidak.

Inilah yang kemudian wirausahawan secara prinsipal akan terdepak dari kakunya birokrasi, feodalnya struktural, pekatnya organisasi yang tidak sistemis.

Wirausahawan terbiasa dituntut melayani dunia, terbiasa dituntut mencarikan pemecahan/solusi persoalan meskipun mereka sendiri bukan pemberi pemecahan persoalan. Sementara mereka bahkan bukan penuntut kondisi dan keadaan.

***

Bukan merupakan kesombongan, tapi merekalah para wirausahawan yang akan tampil menjadi pahlawan bagi dunia: menunjukkan hasil dari sebuah hipotesis. Entah hasilnya sesuai dengan hipotesis atau berbalik dengan hipotesis, nyatanya mereka menunjukkan.

Itulah yang kemudian membuat perusahaan-efektif akan membangun iklim intrapreneurship di dalam organisasinya: menjadikan para karyawannya bekerja layaknya wirausahawan. Longgar dari kekakuan birokrasi, cair dalam struktur, namun memegang teguh goal dan pencapaian.

Hanya bedanya, wirausahawan mengejar pencapaian, perusahaan mengejar target. Target adalah hal paling melemahkan dalam pencapaian. Anda boleh percaya boleh tidak πŸ˜€

***

Sesiapapun bekerja dalam ketidakpastian, sekiranya mereka semua adalah wirausahawan.

Wirausahawan adalah sintesa dari pemikiran dan uji langsung untuk membangun kenyataan. Kenyataan pahit atau manis, itu urusan belakangan. Sebab dari kenyataan itulah dunia bercermin.

Baik melalui pujian atau cacian, sesungguhnya dunia bercermin kepada mereka: para wirausahawan.

Dan yang terpenting: wirausahawan harus bisa menjaga nyala semangatnya meski seluruh lilin, lampu, rembulan, bintang, bahkan matahari dan seluruh penerangan di dunia ini padam!

Yang artinya, nyala semangatnya harus tak boleh pernah terkalahkan oleh apapun.

Ia boleh saja percaya dan bersandar pada apapun, namun satu-satunya sandaran paling benar dalam perjuangannya hanyalah Tuhan yang maha esa.

Freema HW
– Kontemplasi dalam perjalanan hari, bercermin dari perjalanan rekan-rekan dan para kolega saya; para wirausahawan nan luar biasa. Yang belum tentu selalu berhasil serta terkadang juga hancur lebur pecah berkeping, namun nyala semangat mereka begitu menerangi hati dan jiwa saya.

Transaksi Luar Negeri

Ini mungkin bukan hal aneh (untuk saat sekarang ini): sebuah situs belanja dari luar negeri menjanjikan pengiriman secara sederhana (pajak dan bea/proses pengiriman langsung di-handle mereka). Namun sekitar satu dekade silam, transaksi lintas negara, khususnya ke Indonesia, adalah barang gelap dalam dunia perdagangan internasional.

Kala itu, Indonesia di-black list dari dunia perdagangan/transaksi daring (online) lintas negara. Penyebabnya hanya satu: fraud (kecurangan), yang secara teknis adalah maraknya fenomena carding (pencurian (transaksi) kartu kredit) oleh cracker kita.

Metodenya, sederhananya kita menembus database kartu kredit di luar negeri, mengetahui nomor aktif mereka, kemudian menggunakan nomor/kata sandi kartu kredit orang lain untuk berbelanja. Cara lain untuk menyergap (trap) data semacam ini adalah dengan ‘menguping’ lalu-lintas internet, misalnya email, dari berbagai sumber untuk mendapatkan data-data yang ditransmisikan. Siapa tau dalam data tersebut ada data/nomor kartu kredit.

Jika pengiriman ke Indonesia gagal, biasanya mereka akan mengirimkan dulu barang incarannya ke luar negeri. Polanya seolah salah menuliskan alamat. Misalnya: Jalan Pelan Nomor 2, Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia, Hong Kong. Dari sana, karena alamat tersebut dianggap salah, maka akan di-forward (diteruskan) ke Indonesia.

Dan banyak metode lainnya.

Seorang rekan saya pernah memesan seperangkat alat musik yang volumenya besar. Sudah nyampai di kantor pos. Ada surat pemberitahuan pengambilan dari kantor pos (barang tidak diantar ke rumah waktu itu). Yang ada, dia ngakak. “Gila apa aku ambil barang segedhe gini? Yang ada di sana polisi nungguin!”

Seorang rekan lainnya lagi, memesan spare-part (suku cadang) kendaraan. Nyampe juga di sini. Dan karena volume fisiknya, barang juga tertahan di kantor pos. Dan sama dengan teman satunya sebelumnya: barang dibiarkan begitu saja.

Dan dia pindah kos πŸ˜€ Ya, carding dikenal banyak dilakukan oleh mereka yang tinggal di kos, bukan rumah sendiri. Biar gampang menghapus jejak.

SAYA pribadi pernah mendapatkan ‘hadiah’ dari seorang teman akrab. Sebuah buku, tebal. Dia menemui saya dan menyerahkan sebuah buku, “Niy buat Mas, saya pusing membacanya…”

Sebuah buku shell-programming yang tak pernah serius saya baca.

Ketika saya bolak-balik buku itu, penerbitnya dari luar negeri. Berbahasa Inggris. Kertasnya menggunakan book-paper. Bukan kertas HVS putih yang licin yang banyak kita kenal, melainkan kertas bertekstur kasar, perat (kesat) saat di-plirit (digosok) menggunakan jari tangan, dan warnanya coklat pasir pantai.

Book-paper ini sukarang sudah jamak digunakan oleh berbagai penerbit buku. Namun sekitar (lebih dari) satu dekade silam, di sini hanya penerbit kelas kakap yang (mampu) menggunakannya. Setidaknya itu pengamatan sepintas saya. Dan saya tak tahu apa penyebabnya. Mungkin masalah harga perolehan. Mungkin masih terbatasnya suplai. Entahlah.

Saya amati, nyaris tidak ada hal yang mencirikan bahwa buku tersebut beredar di sini. Jika iya, kemungkinan (dibeli dari toko) buku impor. Dan di seputaran kota kecil Kediri ini hampir saya pastikan tidak ada yang menjual buku impor. Boro-boro, toko buku ‘biasa’ aja belom ada waktu itu. Gramedia dan Toga Mas baru masuk beberapa tahun setelahnya.

Yang disebut dengan toko buku di sini, identifikasinya adalah toko alat tulis. Beberapa menjual buku pelajaran anak sekolah jaman buku masih berada dalam pasar bebas, tidak disuplai oleh pemerintah seperti sekarang ini atau era P&K jaman dahulu kala.

Dan feeling saya juga mengatakan, ini bukan buku yang dibeli dari (toko buku impor di) Jakarta.

Maka saya kemudian berani ambil kesimpulan, “Kamu dapet dari hasil carding niy?”

Rekan saya tertawa. “Cuman nyoba-nyoba aja koq Mas… Eh nyampe juga barangnya ke (Indonesia) sini…”

Saya tidak pernah membenarkannya, meski saya membiarkannya dan menerima buku tersebut. Saya juga tidak berpesan kepadanya untuk berhenti. Sebab saya sepenuhnya paham, bawa dia rekan saya tersebut sangat sadar dengan perbuatannya.

Sekedar tidak menghujatnya saja dan sekedar tidak memintanya bertransaksi untuk saya, saya pikir itu sudah merupakan penolakan halus atas kelakuannya. Menghujat atau menasihatinya, termasuk menolak pemberiannya, saya khawatirkan justru akan menyinggungnya.

Meski sebagai sahabat, kami senantiasa blak-blakan bicara, haram sampai ada tedeng aling-aling.

Bahkan sebagai sesama anak muda yang akrab, kami juga tidak jarang menggunakan kosa kata yang kotor, rusuh, pedas, norak, dsb. yang jika itu kami gunakan kepada orang (yang menjadi) lain, pasti akan menimbulkan masalah emosional bagi mereka. Inilah, kata yang sama dan makud yang sama, bisa menjadi berbeda ketika kita (memilih) mengakrabkan (batin) diri atau (memilih) tidak.

SELAIN carding, rekan saya terebut juga lama menggeluti transaksi forex (foreign exchange market, FX, currency market). Modalnya sekitar USD1000, dan itu juga dari hasil carding!

Ini masih satu dekade silam.

Selanjutnya dia mendadak kaya. Duitnya bertumpuk di rekeningnya. Hingga kemudian jatuh miskin. Semua isi rekeningnya ludes.

“Saya kalah Mas… Kalo boleh saya membela diri, bukan karena saya kalah, melainkan karena sekarang saya insaf. Saya ndhak mau lagi main (carding) gituan…”

Alhamdulillah. Padahal sejauh mulai awal saya mengenalnya, dia sebenarnya anak baik, agamanya kuat. Lingkungannya juga bukan lingkungan anak-anak “korak”.

“Saya sebenarnya cuman nyoba-nyoba aja. Njajal ilmu (nge-test skill) aja. Bukan berniat nyari duit secara prfessional dari situ.”

Meski sebenarnya kelakauan masuk kategori kriminal (melanggar hukum), saya hanya memandangnya sebagai polah nakal anak muda saja. Anak muda yang mencoba berekspresi.

***

Kini Indonesia sudah (kembali) diverifikasi. Dengan meningkatnya sistem sekuriti virtual dan dengan prinsip kehati-hatian yang semakin meningkat, sesiapa saja kini semakin banyak dan lancar membeli berbagai barang dari luar negeri.

Kini sudah jamak kita dengar ada rekan berkata, “Ane dapet dari ebay bro… Mayan niy, di sini enggak ada. Tapi kalo ada, biasanya malah justru lebih murah di sini ketimbang nyari di ebay. Base-price-nya sama, malah ketambahan ongkir…”

Meskipun banyak juga yang ngumpat, “Gila ini, sekian bulan barang ane belom dateng! Ke mana niy perginya barang? Kemarin juga, ane pesen ginian, sekian bulan baru nyampe! Wedian!”

Atau, “Dasar bea cukai kita, masak barang kayak ginian doang kena tarifnya segini? Ini pemerasan namanya! Gedean cukainya ketimbang harga barangnya, padahal ini bukan kategori barang mewah! Cuman spare-parts doang! Kalo kagak terpaksa berhubung di sini enggak ada yang jual dan ane butuh, kagak bakal ane urusan ama bea cukai!”

πŸ˜€

***

MASIH sekitar cerita satu dekade silam. Setelah insaf jadi carder dan main forex, dia rekan saya kemudian bekerja normal saja. Kerja macam-macam, yang tak jauh dari bidang teknologi informasi.

Kini, dia sudah menikah, hidup bahagia bersama keluarganya. Sementara buku pemberiannya, masih saya simpan. Dan saya tak pernah tuntas membacanya, dari satu dekade silam hingga saat ini.

Freema HW
– Anak IPS.