Bengkel AC

AC Controller

Salam liks semua…

Ini cuman cerita. Tanpa bermaksud menyimpulkan, apalagi sampe menentukan atau memfatwakan.

Ceritanya saya pernah beberapa kali ke bengkel AC mobil. Dengan mbawa beberapa tipe mobil yg beda.

KIJANG

Suatu ketika AC kijang sangat apek. Kisi-kisi blowernya berembun, namun blower ndhak dingin. Saya bawa ke bengkel AC dan saya utarakan kondisi/keluhannya.

Sama bengkel langsung deh bongkar evap. Cuci sampe bersih. Ganti expansion-valve, tentunya ganti drier dan refrigerant-nya.

AC langsung dingin.

Jalan beberapa hari doang, eh selang depan meledak.

Kali ini balik ke bengkel yang berbeda. Ganti selang pake merk ternama.

Beres.

Eh selang beberapa hari kemudian lagi, AC gak dingin lagi. Ganti ke bengkel lain dan cek total, ternyata ada kebocoran di kompresornya. Olinya sampe meluber ke mana-mana. Untungnya ini Kijang. Part melimpah sekalipun di ujung dunia. Termasuk di kota kecil Kediri gini.

Tuker tambah kompresor. Cek total semuanya lagi. Kelar.

Moral cerita kali ini: jangan segan ngecek total dan reseh nanyak-nanyak ke bengkel. Mungkin karena -maaf- tipikal dominan kustomer yang mereka tangani yang hanya minta perbaikan pada item yg udah rusak, maka bengkel serasa kebawa keadaan. Mereka hanya ngerjakan apa yang perlu dikerjakan.

Nyatanya, bengkel pertama tidak menyarankan ke saya tentang kondisi selang yang udah tua dan keras-getas. Kalo keputusan untuk tidak mengganti ada di tangan kustomer, itu lain lagi.

BMW

Kali ini keluhan sama, AC ndhak dingin.

Posisi pas di Jakarta.

Nanyak referensi sana-sini, ada yg menginfokan (menginfokan belom tentu berarti merekomendasikan lho ya) ada bengkel AC kondang yg biasa nangani mobil Eropa.

Kali ini kerja mereka jitu. Di depan, mereka nawarkan general check-up. Seluruh perangkat dibongkar dan dibersihkan serta di-test satu per satu. Alhamdulilah kondisi aman. Hanya expansion-valve aja yg udah jebol.

Bengkel menyarankan perangkat lain diganti sekalian. Karena udah lumayan tua. Mulai dryer (dryer setelah sekian lama pemakaian akan ‘keruh’, karena fungsinya seperti ginjal buat nyaring kotoran); selang-selang udah menua, dll.

Cuman saya belom sanggup duitnya.

Meskipun ini mobmwil tua bmwangka, tetep aja ongkos bongkar pasang + check-up total lebih dari setengah juta. Nyaris sama dengan mobil eropa yang lebih baru.

Mungkin karena itu Jakarta, sampe segitunya harganya. Plus lagi, di itu bengkel memang isinya banyakan mobil mewah semua, dan imbang antara pabrikan Eropa sama Jepangan.

Ditambah ganti expansion-valve, tentunya ganti refrigerant juga sama oli, total ongkos yg keluar dua kali lipat dari harga dasar check-up tapi.

Kalo dibandingkan, ini senilai empat kali lipat untuk pekerjaan yang sama untuk kijang untuk harga Kediri.

*bibir bergetar mulut tak beruara*

AUDI

Kali ini sama, AC ndhak dingin.

Karena alasan jarak, saya bawa ke bengkel dimana sebelomnya BMW diservis. Oia, posisi di Jakarta.

Usai general check-up (dengan ongkos dasar yang sama), ketahuan semua banyak bocor halus. Evaporator sama kondensor bocor super halus. Gelembung udara baru kelihatan menembus air di bak stelah ditekan dengan tekanan kompresor udara yg agak tinggi tekanannya.

Atas persetujuan saya, kompresor dibelah. Kompresor juga udah pada ancur. Piston dan liner kompresor AC pada baret dan bocel semua. kayaknya ini kompresor sempat lama dipaksa kerja dalam kondisi unproper. Refrigerant sama oli abis.

Mau ndhak mau meski ganti semua.

Dan bengkel kondang itu gak punya stok parts untuk Audi.

Mereka nawarin nyarikan. Setelah nunggu beberapa saat, keluar estimasi harga. Kompresor doang harganya selangit. Itu pun mereka ndhak terlalu detail dan komplit menerangkan spek kompresor barunya.

Untuk kompresor, mereka (ngotot dan ngarahkan) nawari barang rekondisi. Merk kondang dari Jerman. Tapi bawaan pabrikan mobil lain yang mounting akan diubah/disesuaikan. Pas saya belokkan ke kompresor baru, mereka tidak terlalu membahasnya, cenderung bungkam, dan kembali menyeret keadaan ke kompresor rekondisi saja.

Saya konsultasi sebentar dengan teman via telepon. Saran beliau, mending tetep pake kompresor aslinya, sekalipun itu kelasnya di bawahnya.

Saya tawarkan ke bengkel, saya nyari parts sendiri, nanti bengkel tetep saya kasih tambahan komisi seperti jika ia njual parts stoknya sendiri.

Karena bengkel memang ndhak punya koneksi untuk Audi, mau ndhak mau mereka nurut.

Akhirnya saya belanja semua partsnya. Kompresor baru saya dapatkan dengan harga kurang dari separuh penawaran si bengkel.

Dan semuanya dipasang, running well.

Pas mbayar, sesuai janji saya, pihak bengkel saya suruh nambahkan harga keuntungan seumpama itu parts saya beli dari dia. Dengan nominal sewajarnya. (Dan kami bikin kesepahaman akan hal ini.)

Dengan malu-malu (kayaknya ini cuman penglihatan saya. Yg jelas kami sudah deal di depan dan saya yang menawarkan duluan); dia nambahkan angka tambahan.

Cuman yang rasa saya gak enak, mereka bilang, “Lain kali mbok jangan beli parts sendiri tho Mas…”

Astaga, kenapa dia ngomong gitu? Bukankah di depan tadi udah ada kesepakatan, dan kesepakatan itu terjadi karena memang mereka ndhak punya konektivitas dengan Audi?

Dan sebenarnya satu lagi, mereka ndhak terlalu paham ternyata dengan modul Audi yg sudah digital. Mereka bilang konon “perintah”nya buat AC agak gak normal. Kemudian mereka masang relay tambahan untuk menyalakan kompresor. Seperti umumnya montir masang relay tambahan untuk motor starter atau lampu utama yg aslinya digerakkan langsung dari switch.

Bejibun mobil yg mereka tangani di situ: BMW, Mercy, Camry, dll. saya yakin modulnya udah pada digital semua. Banyak sensor yg dibaca untuk menentukan kondisi auto-climate zone. Tapi mungkin mereka jadi unfamiliar kala menemui modulnya Audi, yg memang sedikit populasinya sehingga jadi aneh.

Usai membuat nota, pihak bengkel menyodorkan ke saya. Mereka bilang -kayaknya ini urusannya dengan ‘angka tambahan’ tadi, “Mungkin ada yg Mas ingin nawar dari angka ini?”

Saya bilang, meski nota ini bilang sepuluh juta untuk ongkos servisnya pun, saya akan coba bayar sekalipun mobil ini saya jual dulu atau saya harus ngutang kiri-kanan. Karena semua angkanya kita udah sepakat sebelomnya di depan. Jadi ndhak perlulah saya tawar.

Pihak bengkel diam.

Akhirnya semua saya beresi. Total sama belanja partsnya nyaris seharga motor baru, setara motor baru merk China/merk lokal setidaknya. Dan saya berjanji ndhak bakal balik ke bengkel itu lagi kecuali terpaksa.

***

Saat ini, dua tahun setelahnya. AC Audi troubel lagi. Blower gak muter. Kompresor tetep dingin (dari pipa di kompartemen mesin yg dingin dan berembun). Sekring ndhak putus. Dan modul/kontroler masih bisa dipencet-pencet.

Saya bawa ke bengkel spesialis.

Ketahuan blower lemah. Kondisi kotor. Sementara dibersihkan sana-sini dulu karena kalo ngganti unit, harganya setara blackberry baru tipe biasa. memang dua tahun kemarin, parts ini lolos dari perbaruan (renewal).

Dan untuk mendeteksi ini hanya perlu beberapa menit saja. Blower Audi yg posisinya di balik laci sisi penumpang untuk RHD, alias di sebelah kiri, dibuka dengan membongkar set laci/locker dulu.

Pas mbongkarnya saya liat, tapi pas bersih-bersihnya saya tinggal duluan. Saya laper soale.

Sedikit jam kerja diperlukan. Mungkin cuman satu jam saja.

Hanya kena ongkos kerja 100rb saja.

Padahal itu bengkel spesialis saya nilai bukan yang termurah.

Hehehe…

MORAL cerita dari kasus (Audi) ini, untuk urusan apapun tentang merk dari pabrikan yang ndhak umum, mending ke bengkel spesialis si merk ketimbang bengkel spesialis per parts, khususnya dalam hal ini AC.

Kami pernah juga ngonsultasikan radiator Audi ke bengkel spesiali jagoan radiator yg sangat kondang dan lumrah mengerjakan mobil mewah. Niat mau nanyak tentang kondisi radiatornya: seberapa bagus atau ataukah udah sakit. Soale temperatur lumayan agak cepet naiknya pas macet menggila.

Meski bawaan orok Audi memang gampang naik temperaturnya kalo macet, namun kali itu naiknya agak cepet aja.

Pas itu di sana ada Mercy juga di itu bengkel radiator. Namun begitu liat Audi, mereka angkat tangan dan ndhak berani megang.

Sementara pas kami bawa ke bengkel spesialis, mereka langsung cepat mendeteksi dan menanganinya. Penyebabnya bukan radiator. Namun ada slang air panas yang ngembes halus. Akhirnya saya minta dilepas dan dilas (las kuningan mereka nyebutnya).

Sebab kalo ngganti, harga itu pipa yang melingkari sisi luar atas cylinder-bank berkonfigurasi V6 lumayan juga: 2,4jt. Belom ongkos bongkar pasangnya, karena mesti mbongkar head/intake dan printhilan kiri-kanannya.

Alhasil, kena ongkos las plus ongkos bongkar pasangnya cuman setengah jutaan. mayan menghemat banyak.

Kini saat macet, temperatur gak terlau bikin was-was. Meski mesti siap minggir kalo udah melewati setrip tengah, yakni setrip kondisi suhu kerja normalnya.

Oia, di Audi ada fitur pertahanan sebenarnya. Kalo temperatur mulai naik, kontroler AC akan mendeaktifkan AC-nya. Meng-cut off. Entahlah, apa karena modul kami ini udah agak sowak atau karena adanya relay tambahan tadi sehingga mengganggu akurasi pembacaan si komputer modul tadi, beberapa kali macet dan temperatur mulai naik, AC belom cut-off. Ane ndhak sempat nebak-nebak buah manggis.

Yg penting sekarang AC jalan dan dingin dulu aja… Hehehehe…

***

DI SEBUAH sentra otomotif di Jakarta, ada satu bengkel/montir yang mengerjakan total dari semua sistem si mobil, namun mereka hanya boleh pegang satu merk saja. Gak boleh pegang merk lain.

Untuk merk lain, kayaknya kerjaannya disebar ke berbagai bengkel spesialis. Kaki-kaki ada bengkel khususnya. AC ada bengkel khususnya. Audio ada bengkel khususnya. Semua ngumpul di kawasan sentra onderdil tsb. Dan merk yg dikerjakan campur-campur. Khususnya Jepangan.

Jadi bagi Anda yang miara mobil aneh-aneh, coba upayakan aja dulu ke bengkel spesialis merk instead-of bengkel spesialis parts. Namun ini bukan kesimpulan, bukan fatwa, dan bisa jadi berbeda telak dengan pengalaman Anda.

Freema HW
– Spesialis yg gak punya spesialisasi.

—————————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/
Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/
Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/
Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/
Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/
Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/
Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s