Kisah (Bukan) Kasih Duwi

Duwai Dudu. Demikian nama akun fesbuknya. Saya mengenalnya baru dalam hitungan beberapa minggu ini. Sebulanan mungkin. Dia rekan kerja saya. Tepatnya, saya rekan kerja barunya.

Dia masih gadis, udah lulus kuliah kemariiin. Asalnya dari Lampung, dan menurut kami semua, dia dikirim ke Jawa oleh orang tuanya demi untuk menyelamatkan Lampung yang terancam dan berpotensi tertimpa goncangan peradaban karena punya warga macam dia 😛

BARU saja mengenalnya, saya berkesan dengan sikap dan karakter-kepribadiannya.

Apa yang ada di pikiran saya nyaris sama dengan apa yang ada di pikiran rekan-rekan lain dalam tim kami. Si Duwi (beneran Duwi namanya, bukan Dwi) itu lucu. Periang. Simpel. Supel. Bisa membawa suasana. Maksudnya, suasana tenang bisa mendadak heboh dan hancur jika ia datang.

Namun kedatangannya bukan tak ditunggu. Setiap kali tim berkumpul, semua pada menanyakannya jika belom datang. Bukan untuk disanjung-sanjung siy, melainkan untuk dipuji dengan cara yang sama sekali terbalik. Dengan segala “cacian”, “hinaan”, dan segala serapah lainnya. Hehehehe…

Sebenarnya ini serius. Kami serius memujinya, dan serius memujinya dengan segala serapah sampah kata-kata.

Namun itulah Duwi. Yang bisa menerima segala (kelakuan) rekan dan temannya. Dan tanpa marah.

Cuman sesekali saja (dan sedikit berulang rasanya) dia ngambek tanpa sebab. Ngambek yang membingungkan kami semua. Karena susah untuk ditebak penyebabnya. Dan dalam sekejap dia langsung tersenyum menutup ngambeknya. Hingga mendadak membuka lagi lembaran baru ngambeknya tepat setelah seyumnya kering disungging.

Cabedeh…

Coretan Duwi

Njepret.

Penggemar

Terlepas karakter lucunya, yang ini semuanya sesungguhnya hanya murni penilaian subyektif kami -saya tepatnya- kepadanya dan bukan sesuatu yang berasal dari pengakuannya (karena terhadap segala pengakuannya, apapun itu, kami nyaris tak pernah percaya. Kami hanya mempercayai jiwanya, bukan apa kata-katanya. Xixixixi…) kami memendam cinta nan luar biasa.

Cinta pada ketulusannya untuk bekerja sama bersama kami dalam tim. Cinta pada ketulusannya yang begitu cekatan membantu rekannya. Cinta pada kesantaiannya yang semakin menjadi kala kami godain. 😛

Dan cinta pada sejumput padat keluarbiasaannya yang terpendam.

Dalam segala hiruk-pikuk polah tingkahnya, dia punya ketenangan yang luar biasa dalam menghasilkan karya.

Berupa tulisan-tulisan indah yang tertuang dalam majalah budaya yang kami awaki.

Tulisannya mungkin bukan masakan kelas chef kondang kalo kami nilai. Namun juga bukan sop tanpa rasa atau rasa kacau morat-marit ke sana kemari.

Tulisannya hanyalah secawan sayur lodeh yang lumrah dijumpai di mana-mana. Tulisan lumrah, namun begitu berbumbu dan berasa.

Ini yang bagi kami luar biasa. Luar biasa karena rasanya, yang tersaji dalam kesederhanaan.

Dan sore itu ketika hujan deras melanda Blitar Bumi Bung Karno, Duwi memojokkan diri (sebenarnya ndhak di pojok siy); menyendiri dalam tuangan murni dan cantiknya.

Bukan sebuah sketsa atau lukisan yang begitu rumit, unik, dan mendalam; namun hanyalah putaran-putaran ujung spidol dalam coretan nan ringan, santai, namun begitu menggambarkan.

Ketika ia menggambarkan isi hatinya, dan ternyata isi hatinya berisi dunia. Dunia yang terisi oleh rekan-rekannya, dunia yang terisi oleh fenomena dan peristiwa, dan dunia yang terisi oleh angan dan bayangannya. yang saya tak sanggup menterjemahkannya. Bahkan dengan ngawur dan asal njeplak tanpa dasar sebagaimana posting ini saya tulis dan wujudkan.

YANG pasti kami semua menyukai dan sungguh mengapresiasinya.

Karya sederhananya adalah keluarbiasaan di mata kami. Setidaknya ini keluarbiasaan bagi kami atau (mungkin) hanya bagi kami.

Tapi sesederhana apapun, karya semua orang yang ‘menggambarkan’, tetaplah luar biasa. Bahkan mungkin apa yang kami katakan ini, sama sekali tak menterjemahkan apa yang ada dalam isi hatinya. Entah karena terlalu mendalam isi(hati)nya, atau mungkin malah kosong melompong sehingga tak ada yang bisa diterjemahkan 😛

Kami menyayangimu, Duwi!

Freema HW
– Ngaku-ngaku sebagai rekannya Duwi. Semoga dia menerima pengakuan ini.

Advertisements

2 thoughts on “Kisah (Bukan) Kasih Duwi

  1. Klo kata Duwi sey Om Freema menilai kita si anak2 bau kencur ini ketinggian hehe 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s