Goal, Antara Proses vs Hasil

Hanya ada dua tujuan dari segala hal:

  • Kemenangan/hasil yg terserah gimana cara kita mendapatkannya: mau kerja super keras, mau banting tulang, mau jungkir balik, mau pake sikut, mau pake dukun, mau cara apapun. Kita bisa mengendalikan proses untuk menentukan probabilitas pencapaian hasilnya. Atau
  • Kemenangan/hasil yg terserah apa jadinya, yang terpenting disiplin pada proses, entah apapun hasilnya nanti. Jadikan proses sebagai poin utama. Hasilnya benar-benar kita serahkan pada proses. Yakni proses yg dijalankan dengan matang. Biarkan proses yang sepenuhnya menentukan apa hasil yang apa yang kita jalankan. Kita cukup menentukan prosesnya.

Inilah pelajaran dan kontemplasi saya hari ini. Dilontarkan oleh seorang senior kehidupan saya. Dan saya merenungkan ini dalam-dalam, dalam sempitnya pemahaman saya.

DALAM mengerjakan sesuatu, khususnya bekerja/mencari uang/berbisnis, tentu kita berharap hasil: pendapatan, penjualan, terpenuhinya target, dll.

Wajar. Buat apa bekerja kalo tiada pendapatan?

Bukannya mata duitan, namun pendapatan pada fungsi mendasar adalah buat memenuhi kebutuhan kita.

Alhasil, kita biasa dengan segala target pencapaian, yang secara halus dibahasakan menjadi tolok ukur prestasi. Sementara kasarnya kata, ia adalah beban.

BUKANKAH itu tanggung jawab?

Bekerja, atau menyelesaikan pekerjaan/tugas meskipun itu bukan pekerjaan komersial, adalah tanggung jawabnya. Sebenarnya cukup di titik ini.

Kalo sekedar menjalankan, (meski) menjalankan dengan profesional – tanpa ada proyeksi dan target pencapaian (angkawi), bagaimana kita bisa tidak menentukan target hasil pencapaian?

Saya pribadi sering berhenti menjawab jika ada pertanyaan demikian. Karena saya hanya bisa meyakini belaka. Bahwa proses adalah hal yang paling utama.

Saya hanya bisa meyakini, proses yang dijalankan dengan disiplin dan matang, niscaya akan membawa hasil yang optimal.

Dan pada saat bersamaan, dalam kedisiplinan kita menjalankan proses, kita… saya mungkin, jangan mengharap apalagi mematok hasil.

Nah!

DALAM dunia profesional yang semua penuh dengan klausul memastikan dalam ketidakkepastian: ada biaya bulanan yang rutin harus dibayarkan, ada tanggungan bulanan yang rutin harus dituntas-selesaikan, dll. tentu keyakinan saya seperti itu tidak akan berlaku.

Saya pernah berdiskusi dengan seseorang yang minat mendanai project komersial yang saya bisa melakukan. Pas saya ditanya, berapa proyeksi bla… bla… bla… per satuan periode waktu?

Saya jawab, “Saya tidak (pernah) bisa membuat proyeksi kalkulasi angkawi. Saya hanya bisa menjalan dengan kesungguhan, dengan otonomi penuh operasional di tangan saya, dengan segala rencana strategis dan taktis berikut antisipasi risikonya; termasuk analisis risiko dan persiapan langkah antisipasi jika diperlukan. Anda cukup memverifikasi, tapi jangan diintervensi.”

Apa jadinya? Project gagal/batal/gk jadi dimulai. Hehehehe…

BISAKAH karyawan yang bekerja sungguh-sungguh, seller yang bekerja sungguh-sungguh, dsb. namun tidak membuahkan hasil sesuai target perusahaan akan terus-menerus dipekerjakan?

Tentu sebuah alasan hasul akan disiapkan: si karyawan tersebut mungkin tidak cocok menempati posisinya. Mungkin dia lebih cocok menempati bidang pekerjaan lain.

Mungkin demikian.

Mungkin.

Freema HW
– Proses atau hasil ya…

Advertisements

One thought on “Goal, Antara Proses vs Hasil

  1. Blognya sangat menginspirasi,
    Follback blog ya 🙂 | cahayatanpawarna.wordpress.com

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s