Macapat

Kidung Macapat

Macapat (mocopat), adalah tembang/syair/lagu puitis yang harus tunduk pada aturan gatra (kalimat), guru wilangan (suku kata), dan guru lagu (sajak akhir).

Selain tunduk pada regulasi di atas, macapat juga memiliki konteksnya. Misal:

Sinom ada hubungannya dengan kata Sinoman, yaitu perkumpulan para pemuda untuk membantu orang punya hajat. Pendapat lain menyatakan bahwa Sinom ada kaitannya dengan upacara-upacara bagi anak-anak muada zaman dahulu.

Asmaradana berasal dari kata Asmara dan Dhana. Asmara adalah nama dewa percintaan. Dhana berasal dari kata Dahana yang berarti api.

Dhangdhanggula diambil dari nama kata raja Kediri, Prabu Dhandhanggendis yang terkenal sesudah prabu Jayabaya. Dalam Serat Purwaukara, Dhandhanggula diberi arti ngajeng-ajeng kasaean, bermakna menanti-nanti kebaikan.

Durma dari kata jawa klasik yang berarti harimau. Sesuai dengan arti itu, tembangDurma berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana seram.

Mijil berarti keluar. Selain itu , Mijil ada hubungannya dengan Wijil yang bersinonim dengan lawang atau pintu. Kata Lawang juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang bunganya berbau wangi. Bunga tumbuh-tumbuhan itu dalam bahasa latin disebut heritiera littoralis.

Kinanthi berarti bergandengan, teman, nama zat atau benda , nam bunga. Sesuai arti itu, tembang Kinanthi berwatak atau biasa digunakan dalam suasana mesra dan senang.

Dan lain sebagainya.

MACAPAT konon sudah ada sejak jaman sebelum datangnya Islam ke Indonesia, yakni jauh sebelum era akhir Majapahit. Hingga kemudian pada jaman datangnya Islam ke nusantara, para wali juga menggunakan susastra ini untuk bersyiar.

Macapat dengan nama lain juga bisa ditemukan dalam kebudayaan Bali, Sasak, Madura, dan Sunda. Selain itu macapat juga pernah ditemukan di Palembang dan Banjarmasin.

Dalam konteks yang sama namun dalam bentuk yang berbeda, kita juga mengenal pantun. Kidung bersajak akhir yang terdiri dari sampiran dan isi.

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti “petuntun”. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa)

SEBAGAI susastra yang adiluhung: menceritakan sesuatu, menceritakan kiasan, menceritakan makna, menceritakan pemahaman, menceritakan kehidupan;

macapat ataupun juga pantun mestinya senantiasa hadir di keseharian kita.

Macapat mestinya hadir dalam upacara pernikahan. Khitanan. Bayi lahir. Kita mbuka usaha. Kita panen sawah. Dan lain sebagainya.

Bukan sekedar dengan dangdhut koplo yang kadang dalam beberapa konteks justru degradatif maknanya jika ditonton oleh anak-anak.

Macapat mestinya bisa terus kita gubah, kita sesuaikan dengan konteks kekinian, membicarakan kekinian, untuk terus menjadikannya bagian dari bahasa dan konteks pendidikan, konteks spiritual.

Lho, bukannya ada doa berbahasa Arab dalam buku kumpulan doa?

Well, apa salahnya jika kita menggunakan bahasa Jawa?

Baik menggunakan bahasa Arab maupun bahasa Jawa, keduanya maknanya sama sepanjang tujuannya sama.

Berbahasa Arab (dalam kegiatan keseharian) itu baik. Tapi kita mesti ingat, berbahasa Arab jangan langsung diasosiakan sebagai bahasa Islam sementara doa yang gak pake bahasa Arab bukan doa yang islami.

Bedakan Arabi dan Islami.

Macapat yang kita gubah untuk memuja, menyembah, dan mengagungkan Tuhan serta untuk menata dan menjaga kehidupan dan peradaban, saya yakin itu adalah bahasa Islami.

Freema HW
– Ndhak ngerti macapat.

Sumber foto dan referensi tambahan http://www.eastjavatraveler.com/menjaga-macapat-di-era-modern, wiki.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s