Motubmwa The Series: Kalut

BMW 3-Series

Tanpa bermaksud mendeskreditkan siapapun, ini hanya bantu cerita… kisah tentang seorang teman, sebut saja Lik Toni yang habis-habisan (duitnya) gara-gara biemnya ditangani oleh (maaf) bengkel yang kurang berkompeten. Maaf tanpa bermaksud mendeskreditkan siapapun, ini hanya sekedar cerita…

Saya dan temen-temen lainnya pernah ngobrol langsung dengan Lik Toni. Beliau tinggal di Jepara, kota yang beberapa jam perjalanan ke arah timur Semarang.

Biasa mudik ke Kediri, karena istri beliau orang Kediri.

Dari hasil ngobrol kami, intinya, beliau adalah korban salah bengkel.

Lik Toni beberapa kali mencoba ganti bengkel, dan permasalahan dengan biemnya belom bisa tuntas, sementara biaya udah habis sampai 25 jt itu tadi…

Sebenarnya mobil tersebut masih lumayan enak, kondisinya juga masih lumayan okey.

Cuman memang, ya itu tadi, dihajar oleh bengkel yang (maaf) gak terlalu ngeh dengan biem.

Ganti AFM sampe 3 kali itu juga, karena beliaunya cuman manut aja sama bengkel.

Mobil kondisinya begini-begini. Trus bengkel bilang ganti MAF. Harga dan biaya sekian. Beliau nurut aja. Padahal permasalahan bukan/belom tentu di situ.

Mencoba pindah-pindah bengkel, masalah gak kelar-kelar, yang ada duit makin lenyap.

Well, kita semua di sini hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar apa yang dialami Lik Toni tersebut ini segera ketemu jalan keluar terbaiknya.

Saya pribadi tentu sayang kalo sampe mobil itu lepas dari tangannya. Tapi beliau sendirilah yang tau kondisi dan keadaannya: keadaan mobil dan dirinya.

Jadi, saya hanya berharap pada Lik Toni, jika terpaksa membuat keputusan besar dan final kepada 320i-nya, semoga itu semua diputuskan dalam keadaan tenang, ndhak dalam kondisi emosi atau pikiran sedang suram, dan sebagainya.

Kepada semuanya, inilah memang segenap persoalan dan permasalahan yang banyak hinggap dan dihadapi oleh pengguna biem: bengkel yang ndhak paham bener.

Dilematis memang. Sudah keluar banyak biaya, ndhak ada hasilnya sama sekali. Mending kalo keluar sedikit lebih banyak lagi kemudian tuntas permasalahan dan biem bisa dinikmati enaknya, itu masih mending.

Memandang kejadian ini, Lik Ardian Boeng Satriyadi, temen ane yang lain sempat mewanti-wanti kepada sesiapa yang mau beli biem seken: kalo kondisinya bermasalah, nabunglah atau tunggu sampai anggarannya siap, kemudian tuntaskan semua PR-nya sampe kelar.

Meski ndhak bisa tuntas PR di sekujur tubuh kendaraan, setidaknya tuntaskan per segmen. Kalo kaki-kaki depan, ya semua kaki-kaki depan dulu meskipun kaki-kaki belakang masih nunggu ada anggaran.

Jangan setengah-setengah. Misal kaki-kaki depan kanan dulu diberesin, kekaki-kaki depan kiri ntar belakangan.

Yang kayak gini, jatuhnya malah ndhak worthed.

JADI poin pertama: kalo nyari bengkel, sebisa mungkin minta dulu rekomendasi dari temen. Ada yang pernah berhubungan dengan bengkel itu ndhak.

Kalo memang blank infonya, coba pastikan garansi dan sebagainya. Kalo bengkel ndhak mau menggaransi keputusannya sementara kita harus mengeluarkan biaya mahal, dengan kata lain mahalnya jelas di depan sementara hasilnya belom tentu pasti nantinya;

coba urungkan dulu.

Lebih baik sibuk menggali informasi sebelom kenapa-kenapa.

Kecuali kalo misalnya bengkelnya bilang: nanti kalo ternyata ini gak solved, parts bisa dikembalikan. Atau kami akan garansi servis sampe ketemu penyebab pastinya.

Ini mungin bisa dipertimbangkan.

Karena sepakar-pakarnya bengkel, kadang salah nebak itu biasa.

Namanya mobil bekas, optimalnya siy kalo ada penggantian, ya nyaris semuanya, alias restorasi.

Kalo penggantiannya parsial, secara teori tentu tak akan pernah menuntaskan suatu case/problem. Karena bisa jadi case yg ada adalah sistemik.

Misal: terdeteksi filter bensin buntu. Belom tentu ini solved hanya dengan menggantinya saja tanpa memastikan tingkat kesehatan fuel-pump dan relaynya. Karena bisa terjadi kemungkinan, saat fuel-filter udah buntu, fuel-pump sebenarnya tingga 75% kinerjanya dan relay juga sudah mulai teroksidasi logam-logam konduktornya.

Kalo menurut sistem, maka semuanya satu paket itu semua musti diganti, sama selang-selangnya. Dan ini gila duitnya!

So, di sinilah kita semua berkumpul: untuk saling berbagi (sharing).

Kita di sini punya latar belakang yang beragam. Ada yang biemnya ratusan juta dan kalo servis tinggal ke beres (bengkel resmi) berapapun nilai notanya, yang penting biem sehat dan nyaman, karena itu juga berkaitan dengan safety.

Ada yang yang terpaksa ke bengkel spesialis, beli parts via suplier yang biasa dikenal, dan ditangani semaksimal mungkin yang penting biem bisa kembali jalan nyaman meski tanpa garansi. (Garansinya cuman kepercayaan dan reputasi si bengkel).

Ada yang beli parts saja dan oprekannya ditangani sendiri atau manggil montir tetangga dengan arahan kita, demi menghemat biaya lagi.

Ada yang terpaksa pake parts akal-akalan: nyomot dari mobil lain asal pas dan diakal sendiri masangnya.

Ada yang sampe pake kawat, karena memang pas biem rusak dan butuh pas ndhak ada duit.

MEREKA yg terakhir itu ndhak peduli safety?

Bukan. Siapa siy yang ndhak mau biemnya safe? Saya yakin semuanya pasti maunya kalo ngganti parts ya pingin yang orisinal, dan diganti secara sistemik sepaket/keseluruhan, bukan per item parsial.

Tapi ya itu, kondisi dompet berbeda untuk masing-masing orang.

Yang penting semua telah berusaha maksimal, selebihnya biar Tuhan yang melindungi.

Tapi ingat: yang panting jangan maksa!

Maksudnya, kalo memang ada kerusakan yang memang tak bisa diakal, atau berbahaya beneran kalo diakal, mending kandangkan biem kita. Tunggu sampe punya duit. Misal selang bensin getas. Jangan diakal pake selang bensin sekenanya ketimbang ntar malah kebakaran.

KALO lama belom punya duit?

Ya anggap aja brarti itu takdir.

Kalo diolok-olok temen, “Punya biem koq ndhak mau keluar biaya perawatan?”

Kasih senyum aja. Apalagi kalo yang bilang gitu ndhak ada sumbangsihnya sama sekali.

Kasih senyum aja, jangan digampar pake linggis.

Biem-biem kita, kita dulu beli pake duit-duit kita sendiri, dan memang jaman lagi rolling, maka mau kita apakan itu urusan kita.

Kita beli biem bekas ini sah secara hukum, bukan pinjem dari BMW atau BMW Indonesia.

So mau kita kawati pun, hukum apa yang kita langgar?

Moral?

Sebutkan di mana moralnya….

Regards,
Freema HW
– Punya biem simpenan.

—————————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/
Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/
Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/
Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/
Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/
Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/
Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/

Advertisements

2 thoughts on “Motubmwa The Series: Kalut

  1. emang bmw bukan motuba biasa, walau mobilnya bermasalah pun hati membara menjadi fansboy bengemweh susah padam :mrgreen:

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s