Bengkel AC

AC Controller

Salam liks semua…

Ini cuman cerita. Tanpa bermaksud menyimpulkan, apalagi sampe menentukan atau memfatwakan.

Ceritanya saya pernah beberapa kali ke bengkel AC mobil. Dengan mbawa beberapa tipe mobil yg beda.

KIJANG

Suatu ketika AC kijang sangat apek. Kisi-kisi blowernya berembun, namun blower ndhak dingin. Saya bawa ke bengkel AC dan saya utarakan kondisi/keluhannya.

Sama bengkel langsung deh bongkar evap. Cuci sampe bersih. Ganti expansion-valve, tentunya ganti drier dan refrigerant-nya.

AC langsung dingin.

Jalan beberapa hari doang, eh selang depan meledak.

Kali ini balik ke bengkel yang berbeda. Ganti selang pake merk ternama.

Beres.

Eh selang beberapa hari kemudian lagi, AC gak dingin lagi. Ganti ke bengkel lain dan cek total, ternyata ada kebocoran di kompresornya. Olinya sampe meluber ke mana-mana. Untungnya ini Kijang. Part melimpah sekalipun di ujung dunia. Termasuk di kota kecil Kediri gini.

Tuker tambah kompresor. Cek total semuanya lagi. Kelar.

Moral cerita kali ini: jangan segan ngecek total dan reseh nanyak-nanyak ke bengkel. Mungkin karena -maaf- tipikal dominan kustomer yang mereka tangani yang hanya minta perbaikan pada item yg udah rusak, maka bengkel serasa kebawa keadaan. Mereka hanya ngerjakan apa yang perlu dikerjakan.

Nyatanya, bengkel pertama tidak menyarankan ke saya tentang kondisi selang yang udah tua dan keras-getas. Kalo keputusan untuk tidak mengganti ada di tangan kustomer, itu lain lagi.

BMW

Kali ini keluhan sama, AC ndhak dingin.

Posisi pas di Jakarta.

Nanyak referensi sana-sini, ada yg menginfokan (menginfokan belom tentu berarti merekomendasikan lho ya) ada bengkel AC kondang yg biasa nangani mobil Eropa.

Kali ini kerja mereka jitu. Di depan, mereka nawarkan general check-up. Seluruh perangkat dibongkar dan dibersihkan serta di-test satu per satu. Alhamdulilah kondisi aman. Hanya expansion-valve aja yg udah jebol.

Bengkel menyarankan perangkat lain diganti sekalian. Karena udah lumayan tua. Mulai dryer (dryer setelah sekian lama pemakaian akan ‘keruh’, karena fungsinya seperti ginjal buat nyaring kotoran); selang-selang udah menua, dll.

Cuman saya belom sanggup duitnya.

Meskipun ini mobmwil tua bmwangka, tetep aja ongkos bongkar pasang + check-up total lebih dari setengah juta. Nyaris sama dengan mobil eropa yang lebih baru.

Mungkin karena itu Jakarta, sampe segitunya harganya. Plus lagi, di itu bengkel memang isinya banyakan mobil mewah semua, dan imbang antara pabrikan Eropa sama Jepangan.

Ditambah ganti expansion-valve, tentunya ganti refrigerant juga sama oli, total ongkos yg keluar dua kali lipat dari harga dasar check-up tapi.

Kalo dibandingkan, ini senilai empat kali lipat untuk pekerjaan yang sama untuk kijang untuk harga Kediri.

*bibir bergetar mulut tak beruara*

AUDI

Kali ini sama, AC ndhak dingin.

Karena alasan jarak, saya bawa ke bengkel dimana sebelomnya BMW diservis. Oia, posisi di Jakarta.

Usai general check-up (dengan ongkos dasar yang sama), ketahuan semua banyak bocor halus. Evaporator sama kondensor bocor super halus. Gelembung udara baru kelihatan menembus air di bak stelah ditekan dengan tekanan kompresor udara yg agak tinggi tekanannya.

Atas persetujuan saya, kompresor dibelah. Kompresor juga udah pada ancur. Piston dan liner kompresor AC pada baret dan bocel semua. kayaknya ini kompresor sempat lama dipaksa kerja dalam kondisi unproper. Refrigerant sama oli abis.

Mau ndhak mau meski ganti semua.

Dan bengkel kondang itu gak punya stok parts untuk Audi.

Mereka nawarin nyarikan. Setelah nunggu beberapa saat, keluar estimasi harga. Kompresor doang harganya selangit. Itu pun mereka ndhak terlalu detail dan komplit menerangkan spek kompresor barunya.

Untuk kompresor, mereka (ngotot dan ngarahkan) nawari barang rekondisi. Merk kondang dari Jerman. Tapi bawaan pabrikan mobil lain yang mounting akan diubah/disesuaikan. Pas saya belokkan ke kompresor baru, mereka tidak terlalu membahasnya, cenderung bungkam, dan kembali menyeret keadaan ke kompresor rekondisi saja.

Saya konsultasi sebentar dengan teman via telepon. Saran beliau, mending tetep pake kompresor aslinya, sekalipun itu kelasnya di bawahnya.

Saya tawarkan ke bengkel, saya nyari parts sendiri, nanti bengkel tetep saya kasih tambahan komisi seperti jika ia njual parts stoknya sendiri.

Karena bengkel memang ndhak punya koneksi untuk Audi, mau ndhak mau mereka nurut.

Akhirnya saya belanja semua partsnya. Kompresor baru saya dapatkan dengan harga kurang dari separuh penawaran si bengkel.

Dan semuanya dipasang, running well.

Pas mbayar, sesuai janji saya, pihak bengkel saya suruh nambahkan harga keuntungan seumpama itu parts saya beli dari dia. Dengan nominal sewajarnya. (Dan kami bikin kesepahaman akan hal ini.)

Dengan malu-malu (kayaknya ini cuman penglihatan saya. Yg jelas kami sudah deal di depan dan saya yang menawarkan duluan); dia nambahkan angka tambahan.

Cuman yang rasa saya gak enak, mereka bilang, “Lain kali mbok jangan beli parts sendiri tho Mas…”

Astaga, kenapa dia ngomong gitu? Bukankah di depan tadi udah ada kesepakatan, dan kesepakatan itu terjadi karena memang mereka ndhak punya konektivitas dengan Audi?

Dan sebenarnya satu lagi, mereka ndhak terlalu paham ternyata dengan modul Audi yg sudah digital. Mereka bilang konon “perintah”nya buat AC agak gak normal. Kemudian mereka masang relay tambahan untuk menyalakan kompresor. Seperti umumnya montir masang relay tambahan untuk motor starter atau lampu utama yg aslinya digerakkan langsung dari switch.

Bejibun mobil yg mereka tangani di situ: BMW, Mercy, Camry, dll. saya yakin modulnya udah pada digital semua. Banyak sensor yg dibaca untuk menentukan kondisi auto-climate zone. Tapi mungkin mereka jadi unfamiliar kala menemui modulnya Audi, yg memang sedikit populasinya sehingga jadi aneh.

Usai membuat nota, pihak bengkel menyodorkan ke saya. Mereka bilang -kayaknya ini urusannya dengan ‘angka tambahan’ tadi, “Mungkin ada yg Mas ingin nawar dari angka ini?”

Saya bilang, meski nota ini bilang sepuluh juta untuk ongkos servisnya pun, saya akan coba bayar sekalipun mobil ini saya jual dulu atau saya harus ngutang kiri-kanan. Karena semua angkanya kita udah sepakat sebelomnya di depan. Jadi ndhak perlulah saya tawar.

Pihak bengkel diam.

Akhirnya semua saya beresi. Total sama belanja partsnya nyaris seharga motor baru, setara motor baru merk China/merk lokal setidaknya. Dan saya berjanji ndhak bakal balik ke bengkel itu lagi kecuali terpaksa.

***

Saat ini, dua tahun setelahnya. AC Audi troubel lagi. Blower gak muter. Kompresor tetep dingin (dari pipa di kompartemen mesin yg dingin dan berembun). Sekring ndhak putus. Dan modul/kontroler masih bisa dipencet-pencet.

Saya bawa ke bengkel spesialis.

Ketahuan blower lemah. Kondisi kotor. Sementara dibersihkan sana-sini dulu karena kalo ngganti unit, harganya setara blackberry baru tipe biasa. memang dua tahun kemarin, parts ini lolos dari perbaruan (renewal).

Dan untuk mendeteksi ini hanya perlu beberapa menit saja. Blower Audi yg posisinya di balik laci sisi penumpang untuk RHD, alias di sebelah kiri, dibuka dengan membongkar set laci/locker dulu.

Pas mbongkarnya saya liat, tapi pas bersih-bersihnya saya tinggal duluan. Saya laper soale.

Sedikit jam kerja diperlukan. Mungkin cuman satu jam saja.

Hanya kena ongkos kerja 100rb saja.

Padahal itu bengkel spesialis saya nilai bukan yang termurah.

Hehehe…

MORAL cerita dari kasus (Audi) ini, untuk urusan apapun tentang merk dari pabrikan yang ndhak umum, mending ke bengkel spesialis si merk ketimbang bengkel spesialis per parts, khususnya dalam hal ini AC.

Kami pernah juga ngonsultasikan radiator Audi ke bengkel spesiali jagoan radiator yg sangat kondang dan lumrah mengerjakan mobil mewah. Niat mau nanyak tentang kondisi radiatornya: seberapa bagus atau ataukah udah sakit. Soale temperatur lumayan agak cepet naiknya pas macet menggila.

Meski bawaan orok Audi memang gampang naik temperaturnya kalo macet, namun kali itu naiknya agak cepet aja.

Pas itu di sana ada Mercy juga di itu bengkel radiator. Namun begitu liat Audi, mereka angkat tangan dan ndhak berani megang.

Sementara pas kami bawa ke bengkel spesialis, mereka langsung cepat mendeteksi dan menanganinya. Penyebabnya bukan radiator. Namun ada slang air panas yang ngembes halus. Akhirnya saya minta dilepas dan dilas (las kuningan mereka nyebutnya).

Sebab kalo ngganti, harga itu pipa yang melingkari sisi luar atas cylinder-bank berkonfigurasi V6 lumayan juga: 2,4jt. Belom ongkos bongkar pasangnya, karena mesti mbongkar head/intake dan printhilan kiri-kanannya.

Alhasil, kena ongkos las plus ongkos bongkar pasangnya cuman setengah jutaan. mayan menghemat banyak.

Kini saat macet, temperatur gak terlau bikin was-was. Meski mesti siap minggir kalo udah melewati setrip tengah, yakni setrip kondisi suhu kerja normalnya.

Oia, di Audi ada fitur pertahanan sebenarnya. Kalo temperatur mulai naik, kontroler AC akan mendeaktifkan AC-nya. Meng-cut off. Entahlah, apa karena modul kami ini udah agak sowak atau karena adanya relay tambahan tadi sehingga mengganggu akurasi pembacaan si komputer modul tadi, beberapa kali macet dan temperatur mulai naik, AC belom cut-off. Ane ndhak sempat nebak-nebak buah manggis.

Yg penting sekarang AC jalan dan dingin dulu aja… Hehehehe…

***

DI SEBUAH sentra otomotif di Jakarta, ada satu bengkel/montir yang mengerjakan total dari semua sistem si mobil, namun mereka hanya boleh pegang satu merk saja. Gak boleh pegang merk lain.

Untuk merk lain, kayaknya kerjaannya disebar ke berbagai bengkel spesialis. Kaki-kaki ada bengkel khususnya. AC ada bengkel khususnya. Audio ada bengkel khususnya. Semua ngumpul di kawasan sentra onderdil tsb. Dan merk yg dikerjakan campur-campur. Khususnya Jepangan.

Jadi bagi Anda yang miara mobil aneh-aneh, coba upayakan aja dulu ke bengkel spesialis merk instead-of bengkel spesialis parts. Namun ini bukan kesimpulan, bukan fatwa, dan bisa jadi berbeda telak dengan pengalaman Anda.

Freema HW
– Spesialis yg gak punya spesialisasi.

—————————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/
Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/
Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/
Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/
Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/
Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/
Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/

Advertisements

Linux: Aman Bekerja

Linux

Perasaan sekejam-kejamnya update (pemutakhiran) Linux, gk sekejam update Windows(7).

Update gedhe-gedhean di Linux tinggal unduh (download), pasang (installing), kelar. Kalo restart paling sekali. Sama sekali ndhak nganggu kerja selama download/update berlangsung.

Di Windows(7), update yg kelewatan tidak dilakukan secara parsial membuat resources disedot luar biasa. Kompie jadi bego. Udah gitu perubahannya luama bingit plus bisa beberapa kali restart.

LINUX adalah sistem operasi. Jika di ponsel Anda mengenal Symbian, Windows Phone, Android, Firefox OS, IOS, di komputer juga ada kayak gitu. Ada MacOS yang hanya berjalan di perangkat keras Macintosh, ada Windows, ada AmigaOS, BSD, pun Linux.

Kebanyakan selain Windows, semua adalah turunan Unix/*NIX. Berasal dari satu bahasa komputasi yang sama. Termasuk juga si Android.

Sistem operasi turunan Unix, biasanya bersifat open-source. Kodenya terbuka. Sesiapa saja bebas (=free) untuk memodifikasi dan mengembalikan hasilnya kepada komuntas. MacOS yang mengunci kode desktopnya (tampilan graphical user interface/GUI/tampak muka)nya pun masih membuka kernel, inti utama, sistem operasinya.

Linux dibangun oleh komunitas. Secara prinsip bisa dibilang mereka bukan tim profesional. Sementara Windows dikerjakan oleh tim profesional murni, sebagaimana Mac.

Kalo toh orang Linux nyari duit, mereka biasnya cuman karena menjual tenaga dan pikiran/waktunya. Menjual layanan, perawatan, solusi, dan berbagai tindakan lain yang juga dilakukan sama persisi untuk sistem operasi lainnya. Bedanya, Linux-nya itu sendiri tidak dijual.

Linux Milestone

Di luar negeri, negara-negara maju yang logis cara berpikir mereka, banyak pemerintahan di sana yang beralih menggunakan Linux untuk sistem komputasi pemerintahannya. Dan ini sudah berlangsung sejak lama. Sekali lagi alasannya logis: keamanan, daya tahan sistem, stabilitas sistem.

KALO sampe Windows lebih keren dibanding Linux, itu wajar. Wong yang ngerjakan tim profesional Tapi kalo sampe Windows kalah keren: performa, kinerja, stabilitas, skalabilitas, dll.nya dibanding Linux, enggg……gak jadi deh 😀

Lagian, sekeren-kerenya tampang Windows, banyak yang mengatakan bahwa tetep aja Windows ndhak pernah lebih keren tampangnya dibanding Mac. Tidak pernah!

– Lho, di Linux kan gk bisa diinstali ini ini ini? (Semua yg disebutkan aplikasi bajakan yg harga ribuan dollar)

Bukan ndhak bisa, pembuatnya aja yg ndhak mau bikin versi Linux.

Jika Anda hanya menggunakan kompie untuk aplikasi officing dan tasking sederhana sehari-hari plus internetan, saya tidak mengkampanyekan, hanya mengatakan bahwa menggunakan Linux akan membuat Anda aman dan selamat dalam bekerja. Karena Linux stabil dan sejauh ini relatif bebas virus. Mudah-mudahan demikian.

– Kampanye niy?

Santai, Linux bukan perusahaan. Sesiapa yang ber’kampanye’ seperti saya, sesungguhnya murni untuk kemaslahatan umat belaka dan tidak mengandung unsur komersial. Gampangnya kata: siapa siy yg mbayar orang yg mengkampanyekan Linux?

Rasanya gk ada. Kita semua hanya merasa mendapatkan manfaat dan kebaikan, dan sekedar ingin berbagi atas apa yang kita dapatkan. Itu aja siy 😀

Dan, jika kita berkoar-koar meneriakkan negara yang terbebani macam-macam beban/hutang sehingga harus berhemat, dengan menggunakan Linux sesungguhnya kita telah membantu negara berhemat. Sebab tidak akan pernah ada devisa negara yang keluar untuk pembelian lisensi penggunaan Linux.

Berbeda dengan Windows yang kita perlu membayar (lisensi)nya untuk digunakan.

Bayangkan jika sebiji Windows seharga 100 dollar, kali sekian juta komputer di negeri ini, berapa banyak kita menghamburkan duit untuk hal yang semestinya kita bisa menggantinya dengan Linux?

Fenomena rakyat yang latah menggunakan Windows ini, mungkin mirip dengan rakyat yang membuang sampah seenaknya ke sungai. Sama-sama mengotori (kondisi) dan membebani negara.

Mungkin demikian. Mohon maaf jika ada kurang-lebihnya dan salah kata.

Freema HW,
– Pengguna Linux, dan
– Pengguna Windows haram/hasil maling/curian.

*Lanjut dimari https://freemindcoffee.wordpress.com/2015/01/13/aplikasi/*

Kisah (Bukan) Kasih Duwi

Duwai Dudu. Demikian nama akun fesbuknya. Saya mengenalnya baru dalam hitungan beberapa minggu ini. Sebulanan mungkin. Dia rekan kerja saya. Tepatnya, saya rekan kerja barunya.

Dia masih gadis, udah lulus kuliah kemariiin. Asalnya dari Lampung, dan menurut kami semua, dia dikirim ke Jawa oleh orang tuanya demi untuk menyelamatkan Lampung yang terancam dan berpotensi tertimpa goncangan peradaban karena punya warga macam dia 😛

BARU saja mengenalnya, saya berkesan dengan sikap dan karakter-kepribadiannya.

Apa yang ada di pikiran saya nyaris sama dengan apa yang ada di pikiran rekan-rekan lain dalam tim kami. Si Duwi (beneran Duwi namanya, bukan Dwi) itu lucu. Periang. Simpel. Supel. Bisa membawa suasana. Maksudnya, suasana tenang bisa mendadak heboh dan hancur jika ia datang.

Namun kedatangannya bukan tak ditunggu. Setiap kali tim berkumpul, semua pada menanyakannya jika belom datang. Bukan untuk disanjung-sanjung siy, melainkan untuk dipuji dengan cara yang sama sekali terbalik. Dengan segala “cacian”, “hinaan”, dan segala serapah lainnya. Hehehehe…

Sebenarnya ini serius. Kami serius memujinya, dan serius memujinya dengan segala serapah sampah kata-kata.

Namun itulah Duwi. Yang bisa menerima segala (kelakuan) rekan dan temannya. Dan tanpa marah.

Cuman sesekali saja (dan sedikit berulang rasanya) dia ngambek tanpa sebab. Ngambek yang membingungkan kami semua. Karena susah untuk ditebak penyebabnya. Dan dalam sekejap dia langsung tersenyum menutup ngambeknya. Hingga mendadak membuka lagi lembaran baru ngambeknya tepat setelah seyumnya kering disungging.

Cabedeh…

Coretan Duwi

Njepret.

Penggemar

Terlepas karakter lucunya, yang ini semuanya sesungguhnya hanya murni penilaian subyektif kami -saya tepatnya- kepadanya dan bukan sesuatu yang berasal dari pengakuannya (karena terhadap segala pengakuannya, apapun itu, kami nyaris tak pernah percaya. Kami hanya mempercayai jiwanya, bukan apa kata-katanya. Xixixixi…) kami memendam cinta nan luar biasa.

Cinta pada ketulusannya untuk bekerja sama bersama kami dalam tim. Cinta pada ketulusannya yang begitu cekatan membantu rekannya. Cinta pada kesantaiannya yang semakin menjadi kala kami godain. 😛

Dan cinta pada sejumput padat keluarbiasaannya yang terpendam.

Dalam segala hiruk-pikuk polah tingkahnya, dia punya ketenangan yang luar biasa dalam menghasilkan karya.

Berupa tulisan-tulisan indah yang tertuang dalam majalah budaya yang kami awaki.

Tulisannya mungkin bukan masakan kelas chef kondang kalo kami nilai. Namun juga bukan sop tanpa rasa atau rasa kacau morat-marit ke sana kemari.

Tulisannya hanyalah secawan sayur lodeh yang lumrah dijumpai di mana-mana. Tulisan lumrah, namun begitu berbumbu dan berasa.

Ini yang bagi kami luar biasa. Luar biasa karena rasanya, yang tersaji dalam kesederhanaan.

Dan sore itu ketika hujan deras melanda Blitar Bumi Bung Karno, Duwi memojokkan diri (sebenarnya ndhak di pojok siy); menyendiri dalam tuangan murni dan cantiknya.

Bukan sebuah sketsa atau lukisan yang begitu rumit, unik, dan mendalam; namun hanyalah putaran-putaran ujung spidol dalam coretan nan ringan, santai, namun begitu menggambarkan.

Ketika ia menggambarkan isi hatinya, dan ternyata isi hatinya berisi dunia. Dunia yang terisi oleh rekan-rekannya, dunia yang terisi oleh fenomena dan peristiwa, dan dunia yang terisi oleh angan dan bayangannya. yang saya tak sanggup menterjemahkannya. Bahkan dengan ngawur dan asal njeplak tanpa dasar sebagaimana posting ini saya tulis dan wujudkan.

YANG pasti kami semua menyukai dan sungguh mengapresiasinya.

Karya sederhananya adalah keluarbiasaan di mata kami. Setidaknya ini keluarbiasaan bagi kami atau (mungkin) hanya bagi kami.

Tapi sesederhana apapun, karya semua orang yang ‘menggambarkan’, tetaplah luar biasa. Bahkan mungkin apa yang kami katakan ini, sama sekali tak menterjemahkan apa yang ada dalam isi hatinya. Entah karena terlalu mendalam isi(hati)nya, atau mungkin malah kosong melompong sehingga tak ada yang bisa diterjemahkan 😛

Kami menyayangimu, Duwi!

Freema HW
– Ngaku-ngaku sebagai rekannya Duwi. Semoga dia menerima pengakuan ini.

Goal, Antara Proses vs Hasil

Hanya ada dua tujuan dari segala hal:

  • Kemenangan/hasil yg terserah gimana cara kita mendapatkannya: mau kerja super keras, mau banting tulang, mau jungkir balik, mau pake sikut, mau pake dukun, mau cara apapun. Kita bisa mengendalikan proses untuk menentukan probabilitas pencapaian hasilnya. Atau
  • Kemenangan/hasil yg terserah apa jadinya, yang terpenting disiplin pada proses, entah apapun hasilnya nanti. Jadikan proses sebagai poin utama. Hasilnya benar-benar kita serahkan pada proses. Yakni proses yg dijalankan dengan matang. Biarkan proses yang sepenuhnya menentukan apa hasil yang apa yang kita jalankan. Kita cukup menentukan prosesnya.

Inilah pelajaran dan kontemplasi saya hari ini. Dilontarkan oleh seorang senior kehidupan saya. Dan saya merenungkan ini dalam-dalam, dalam sempitnya pemahaman saya.

DALAM mengerjakan sesuatu, khususnya bekerja/mencari uang/berbisnis, tentu kita berharap hasil: pendapatan, penjualan, terpenuhinya target, dll.

Wajar. Buat apa bekerja kalo tiada pendapatan?

Bukannya mata duitan, namun pendapatan pada fungsi mendasar adalah buat memenuhi kebutuhan kita.

Alhasil, kita biasa dengan segala target pencapaian, yang secara halus dibahasakan menjadi tolok ukur prestasi. Sementara kasarnya kata, ia adalah beban.

BUKANKAH itu tanggung jawab?

Bekerja, atau menyelesaikan pekerjaan/tugas meskipun itu bukan pekerjaan komersial, adalah tanggung jawabnya. Sebenarnya cukup di titik ini.

Kalo sekedar menjalankan, (meski) menjalankan dengan profesional – tanpa ada proyeksi dan target pencapaian (angkawi), bagaimana kita bisa tidak menentukan target hasil pencapaian?

Saya pribadi sering berhenti menjawab jika ada pertanyaan demikian. Karena saya hanya bisa meyakini belaka. Bahwa proses adalah hal yang paling utama.

Saya hanya bisa meyakini, proses yang dijalankan dengan disiplin dan matang, niscaya akan membawa hasil yang optimal.

Dan pada saat bersamaan, dalam kedisiplinan kita menjalankan proses, kita… saya mungkin, jangan mengharap apalagi mematok hasil.

Nah!

DALAM dunia profesional yang semua penuh dengan klausul memastikan dalam ketidakkepastian: ada biaya bulanan yang rutin harus dibayarkan, ada tanggungan bulanan yang rutin harus dituntas-selesaikan, dll. tentu keyakinan saya seperti itu tidak akan berlaku.

Saya pernah berdiskusi dengan seseorang yang minat mendanai project komersial yang saya bisa melakukan. Pas saya ditanya, berapa proyeksi bla… bla… bla… per satuan periode waktu?

Saya jawab, “Saya tidak (pernah) bisa membuat proyeksi kalkulasi angkawi. Saya hanya bisa menjalan dengan kesungguhan, dengan otonomi penuh operasional di tangan saya, dengan segala rencana strategis dan taktis berikut antisipasi risikonya; termasuk analisis risiko dan persiapan langkah antisipasi jika diperlukan. Anda cukup memverifikasi, tapi jangan diintervensi.”

Apa jadinya? Project gagal/batal/gk jadi dimulai. Hehehehe…

BISAKAH karyawan yang bekerja sungguh-sungguh, seller yang bekerja sungguh-sungguh, dsb. namun tidak membuahkan hasil sesuai target perusahaan akan terus-menerus dipekerjakan?

Tentu sebuah alasan hasul akan disiapkan: si karyawan tersebut mungkin tidak cocok menempati posisinya. Mungkin dia lebih cocok menempati bidang pekerjaan lain.

Mungkin demikian.

Mungkin.

Freema HW
– Proses atau hasil ya…

Man Behind The Gun

Pistol bisa digunakan untuk melakukan kejahatan namun juga untuk membasmi kejahatan.

Pisau bisa digunakan untuk memasak makanan namun juga bisa digunakan untuk membunuh orang.

Komputer bisa digunakan untuk membuat program baik namun juga bisa digunakan untuk membuat program jahat (malware).

Media bisa digunakan untuk menyebarkan pengetahuan namun juga bisa digunakan untuk menyempitkan wawasan. tergantung kepentingan.

Kopi bisa bermanfaat untuk menyegarkan badan/pikiran namun juga bisa merusak lambung.

Hewan bisa jinak bisa buas.

Tumbuhan bisa bernutrisi bisa beracun.

Air bisa menghidupi bisa membasmi.

Asap bisa menjadi racun, namun bisa juga menjadi pengawet makanan. Tergantung bahan, dimana dan pada apa dia diasapkan, dan untuk apa diasapkan.

Api bisa menerangi, mematangkan, menghangatkan; bisa juga membakar; tergantung keadaan.

Pikiran bisa kita luaskan bisa kita picikkan, tergantung kemauan.

Polah bisa santun bisa liar, tergantung pengendalian.

Manusia bisa berbuat baik bisa berbuat mengingkari dan melawan kebaikan. Yang kita dibahasakan dengan jahat. Tergantung pilihan, semua ada konsekuensinya.

Hanya Allah yang selalu berbuat baik dan tidak pernah berbuat buruk, jahat, jelek; kepada kita. Dan Dia menyuruh kita demikian, berbuat baik. Agar kita bahagia.

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni’matan) dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. 28:77)

Freema HW
– Bukan orang baik(-baik).

Macapat

Kidung Macapat

Macapat (mocopat), adalah tembang/syair/lagu puitis yang harus tunduk pada aturan gatra (kalimat), guru wilangan (suku kata), dan guru lagu (sajak akhir).

Selain tunduk pada regulasi di atas, macapat juga memiliki konteksnya. Misal:

Sinom ada hubungannya dengan kata Sinoman, yaitu perkumpulan para pemuda untuk membantu orang punya hajat. Pendapat lain menyatakan bahwa Sinom ada kaitannya dengan upacara-upacara bagi anak-anak muada zaman dahulu.

Asmaradana berasal dari kata Asmara dan Dhana. Asmara adalah nama dewa percintaan. Dhana berasal dari kata Dahana yang berarti api.

Dhangdhanggula diambil dari nama kata raja Kediri, Prabu Dhandhanggendis yang terkenal sesudah prabu Jayabaya. Dalam Serat Purwaukara, Dhandhanggula diberi arti ngajeng-ajeng kasaean, bermakna menanti-nanti kebaikan.

Durma dari kata jawa klasik yang berarti harimau. Sesuai dengan arti itu, tembangDurma berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana seram.

Mijil berarti keluar. Selain itu , Mijil ada hubungannya dengan Wijil yang bersinonim dengan lawang atau pintu. Kata Lawang juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang bunganya berbau wangi. Bunga tumbuh-tumbuhan itu dalam bahasa latin disebut heritiera littoralis.

Kinanthi berarti bergandengan, teman, nama zat atau benda , nam bunga. Sesuai arti itu, tembang Kinanthi berwatak atau biasa digunakan dalam suasana mesra dan senang.

Dan lain sebagainya.

MACAPAT konon sudah ada sejak jaman sebelum datangnya Islam ke Indonesia, yakni jauh sebelum era akhir Majapahit. Hingga kemudian pada jaman datangnya Islam ke nusantara, para wali juga menggunakan susastra ini untuk bersyiar.

Macapat dengan nama lain juga bisa ditemukan dalam kebudayaan Bali, Sasak, Madura, dan Sunda. Selain itu macapat juga pernah ditemukan di Palembang dan Banjarmasin.

Dalam konteks yang sama namun dalam bentuk yang berbeda, kita juga mengenal pantun. Kidung bersajak akhir yang terdiri dari sampiran dan isi.

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Pantun berasal dari kata patuntun dalam bahasa Minangkabau yang berarti “petuntun”. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa)

SEBAGAI susastra yang adiluhung: menceritakan sesuatu, menceritakan kiasan, menceritakan makna, menceritakan pemahaman, menceritakan kehidupan;

macapat ataupun juga pantun mestinya senantiasa hadir di keseharian kita.

Macapat mestinya hadir dalam upacara pernikahan. Khitanan. Bayi lahir. Kita mbuka usaha. Kita panen sawah. Dan lain sebagainya.

Bukan sekedar dengan dangdhut koplo yang kadang dalam beberapa konteks justru degradatif maknanya jika ditonton oleh anak-anak.

Macapat mestinya bisa terus kita gubah, kita sesuaikan dengan konteks kekinian, membicarakan kekinian, untuk terus menjadikannya bagian dari bahasa dan konteks pendidikan, konteks spiritual.

Lho, bukannya ada doa berbahasa Arab dalam buku kumpulan doa?

Well, apa salahnya jika kita menggunakan bahasa Jawa?

Baik menggunakan bahasa Arab maupun bahasa Jawa, keduanya maknanya sama sepanjang tujuannya sama.

Berbahasa Arab (dalam kegiatan keseharian) itu baik. Tapi kita mesti ingat, berbahasa Arab jangan langsung diasosiakan sebagai bahasa Islam sementara doa yang gak pake bahasa Arab bukan doa yang islami.

Bedakan Arabi dan Islami.

Macapat yang kita gubah untuk memuja, menyembah, dan mengagungkan Tuhan serta untuk menata dan menjaga kehidupan dan peradaban, saya yakin itu adalah bahasa Islami.

Freema HW
– Ndhak ngerti macapat.

Sumber foto dan referensi tambahan http://www.eastjavatraveler.com/menjaga-macapat-di-era-modern, wiki.

Flashdisk

Udah sekian bulan ini, mungkin ada kalo setahun lebih, saya hidup tanpa flashdisk.

Udah hilang berkali-kali.

Ada yg kebawa temen, ada yg ketinggalan dimana, ada yg ilang keselip, ada yg ikut kecuci.

Ada yang mampus atau nyala tapi gak bisa kepake karena ternyata barang palsu.

Beberapa point klausa kejadian ilangnya, sempat menimpa pada beberapa unit flashdisk.

Paling sering yg ketinggalan. Dan beberapa kali yg kecuci. Karena flashdisknya slim, gak kepegang jari tangan pas saya rogoh.

(Kalo copet mungkin bisa nemu. Hehehehe)

Beli lagi siy bisa aja. Cuman bolak-balik ilang lagi itu yg bikin males…

Sekarang kalo transporting data mending pake henpun.

Atau mungkin sekalian kalungan harddisk (eksternal) kayak Saykoji, biar gak lupa kalo masih di kantong dan modyar kecuci.

Berapa kali Anda kehilangan flashdisk? 😀

Freema HW
– mengenang para mantan(flashdisk)ku.