Goa Maria Pohsarang

Gereja Pohsarang - foto dari internet

Dulu, beberapa taon silam, setengah dekade lewat sepertinya, saya beberapa kali nganter temen kuliah (saya kuliah di Malang) ke Goa Maria Lourdes, Pohsarang.

Lokasinya sekitar 10km barat kota Kediri, di kaki Gunung Wilis. Jalannya menanjak untuk menuju ke sana.

Saya suka banget tempatnya. Sejuk karena berada di kaki gunung. Dan arsitektural gerejanya unik artistik banget. Dibikin serupa pura Hindu. Bangunan baru yang bertiang besi pun dicat coklat dengan konstruksi mirip rumah adat Jawa/tradisonal.

Kompleks Gereja Pohsarang - foto dari internet

Kompleks Gereja Pohsarang - foto dari internet

Kompleks Gereja Pohsarang - foto dari internet

Kadang kami ke sana siang, kadang malam.

Saat teman berdoa, saya nunggu di bangku-bangku, kadang jalan-jalan menikmati suasana sekitar goa dalam kompleks gereja.

Patung Bunda Maria ada di ketinggian. Tinggi patungnya sendiri hampir 4 meter. Dan goanya juga berada di atas gitu. Di bawahnya ada altar dengan lilin di sekitarnya. Dan setelah altar ada ada pelataran yang luas, antara altar dan bangku-bangku.

Tampaknya disiapkan untuk jemaat yang membludak.

Di belakang bangku-bangku pun berupa tanah lereng bertaman nan indah dan luas. Saya perkirakan, ratusan-ribuan jemaat bisa beribadah dengan nyaman di sana.

Kalo ke sananya malam, saya hanya menemaninya berdoa, lantas itu pulang. Suasana terlalu gelap untuk diperhatikan. Udah gitu, hawanya ser-ser gimanaaa gitu. Merinding disko juga ini bulu kuduk. Hehehe…

Kalo siang, usai berdoa, saya diajak jalan-jalan melihat jalan salib. Saat Yesus/Isa Almasih disalib hingga bangkit.

Saya kurang memahami (dan tentu tidak punya keperluan atau bermaksud memahami) jalan cerita yang digambarkan, meski saya menyimak dengan seksama penjelasan kawan saya tersebut termasuk membaca keterangan yg termaktub.

Namun tetap ada nilai moral yang bisa saya petik dari kisah/diorama tersebut: dalam menjalankan pengabdian memang dibutuhkan pengorbanan. Itu yang pertama.

Yang kedua, pengorbanan sangat bertalian erat dengan keikhlasan.

Yang ketiga, tak ada yg namanya pengorbanan itu gampang. Yang ada pasti susah. Dalam skup lebih luas: memperjuangkan kebenaran itu pasti susah dan tidak gampang. Plus perlu keikhlasan berbarengan dengan kesungguhan.

Karena yang kita tuju adalah hikmah, nilai, dan makna.

Nilai moral diorama jalan salib ini sangat senada dengan beragam kisah perjuangan mulai Gandhi yang melayani bangsanya; Bunda Theresa yang melayani kaum papa; Romo Mangun yang mengelokkan kali Code; Muhammad Yunus yang mendirikan gramen bank; Nuh yang dicaci kaumnya karena membuat bahtera di panas terik nan gersang; Ibrahim yang harus menyembelih keinginannya; juga Muhammad yang diludahi dan dilempar batu oleh orang lain;

atau Bung Hatta yang melilinkan dirinya untuk Indonesia dengan menancapkan konsep ekonomi paling sempurna untuk negeri ini: ekonomi Pancasila.

Juga (pengorbanan) Gus Dur yang nilai-nilainya bisa menjadi pengayom seluruh elemen bangsa.

Dan banyak lagi yang lain.

Satu persamaan dari semuanya ketika memperjuangkan kebenaran adalah: kebenaran itu adalah dan harus membawa kebaikan kepada umat dan peradaban. Dan kebenaran hakiki kita tak pernah mengetahui karena hanya Tuhan YME yang memilikinya.

Yang bisa kita lakukan hanyalah menggali, mencari, meyakini, dan mengimplementasikannya dalam satu dan hanya satu-satunya bentuk dan wujud: kebaikan untuk seluruh alam semesta ini dengan segala petunjuk yang ada.

***

KINI saya sudah beberapa tahun tak bersua lagi dengan teman saya tersebut. Dan tentunya tak pernah main ke goa/gereja Pohsarang lagi. Karena alasan saya ke sana memang mengantar teman.

Tapi keelokan lokasi itu memang banyak menginspirasi saya. Khususon, ini bukan nadzar bukan janji, namun jika Tuhan mengijinkan saya mendirikan secuil mesjid atau sebongkah surau/mushalla, saya ingin membangunnya dengan arsitektural serupa: seperti pura.

Buat sesiapa saja bisa berdoa dengan khusuk di dalamnya; mengembangkan kegiatan sosial di dalam(area)nya; dan di sana juga tersimpan perpustakaan mini yang mencerahkan, mengembangkan, membuka, dan menghidupkan jiwa.

Jiwa para anak manusia yang lahir dari peradaban.

Sudah sejak sangat luama saya membayangkan bisa membangun masjid/surau/mushalla serupa pura. Sebagaimana banyak masjid di sini yang serupa klentheng, cantik nian dipandangnya.

Masjid Ceng Ho - Surabaya

Masjid Ceng Ho - Purbalingga

Satu yang selalu saya sesali kala mengantar teman ke goa Maria Kediri, hanyalah satu: teman saya selalu nawari nraktir saya makan di kafetaria yang ada di kompleks goa, dan dia tau pasti benar kalo saya pasti nolak.

Karena nyaris seluruh menunya: bakso, sate, krengsengan, oseng-oseng, dll. kontennya pake babi. Kecuali kopi (kaleng) dan mie instan tentunya. Hahahaha…

Freema HW,
– tempat ibadah bukan hanya sepetak bangunan, hamparan tanah luas di bumi dan alam semesta ini adalah ruang ibadah juga untuk mengagungkan kebesaran Tuhan.

*Foto-foto nemu dari internet, hak cipta ada pada masing-masing pemilik. Ref http://kartikachairunnisa.wordpress.com/2012/02/07/hotel-mitra-inn-dan-goa-maria-lourdes/ http://www.google.com/search?tbm=isch&q=goa+pohsarang http://travel.detik.com/read/2012/08/14/155158/1991278/1383/ada-masjid-mirip-klenteng-di-surabaya http://siarmasjid.blogspot.com/2010/09/masjid-tan-kok-liong-gaya-klenteng.html http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/12/01/nuansa-merah-di-masjid-cheng-hoo-purbalingga–513338.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s