Makan: Investasi Sosial /Lingkungan

Paddy field in Indonesia

Sekedar pengalaman pribadi. Teman saya di kota, dia bekerja keras. Hidup hemat meskipun pendapatannya tinggi. Namun banyak ditabung. Untuk apa?

“Saya perlu mempersiapkan masa depan untuk anak-anak saya…”

Sementara masyarakat desa yang saya lihat, karena memiliki lahan lebih luas ketimbang masyarakat kota, mereka menanaminya dengan banyak tanaman. Untuk apa?

“Untuk makan sehari-hari… Kalo kami tidak punya tanaman di pekarangan, kami akan susah makan…”

Keduanya adalah pola menyambung hidup dan kehidupan dalam konteks dan kapasitas masing-masing. Namun dalam perbedaan konteks tersebut, semuanya punya satu persamaan: butuh makan!

***

DALAM skala yang lebih luas, ini seperti negara. Kebutuhan makan bagi suatu negara adalah sektor agrikulturnya.

Singapura si negara kota yang tak punya lahan, mereka harus menjamin dirinya dengan memiliki banyak investasi yang produktif dan berputar.

Namun mereka menyadari, mereka tetap memerlukan alam-lingkungan untuk hidup. Alhasil, Singapura yang seuprit itu mamti-mati mempertahankan secuil hutan tropis yang mereka miliki dan membeli air dari Malaysia karena kurangnya sumber daya air baku.

Negara-negara maju, yang kita kenal dengan teknologi dan perekonomian-keuangannya, ternyata justru juga menyandarkan kekuatan ekonomi mereka dari agrikultur.

JERMAN

Meskipun di Jerman sektor jasa menyumbang sekitar 70% dari total GDP, industri 29.1%, dan agrikultur 0.9%., agrikultur di Jerman sangat ekstrim produktivitasnya.

Jerman berhasil mengkover 90% kebutuhan nutrisinya dari produksi domestik.

Jerman adalah produsen agrikultur terbesar ketiga di Uni-Eropa setelah Perancis dan Italia.

Dengan kata lain bisa dikatakan: setelah rakyatnya kenyang, mereka baru mikir nyari untung besar. Dengan industri/jasanya.

JEPANG

Sektor ekonomi alam di jepang lebih tinggi menyumbangkan GDP dibanding Jerman, yakni 1,4%.

Karena Jepang terbatas memiliki lahan pertanian, hanya sekitar 12% dari seluruh area Jepang yang bisa ditanami, Jepang akhirnya kalap di sektor perikanan. Tahun 2005, Jepang adalah penangkap ikan terbesar kelima di dunia setelah China, Amerika, Chile, dan Indonesia.

Selain China yg berhasil menjala 17 juta ton ikan, rata-rata peringkat besar penangkapan ikan hanya sekitar 4 jutaan ton. Sekedar diingat, penduduk Jepang hanya setengah dari Indonesia dan sepersepuluh dari China.

Dengan kata lain, jika penduduk China hanya makan ikan rata-rata 12 kg per tahun, maka penduduk Jepang makan ikan rata-rata 30 kg ikan per tahun.

Berikut perbandingan sektor agrikultur dalam menyumbang produksi negara/GDP (2011) dan ranking per capita income (PCI)/pendapatan rata-rata per kepala, antara lain:
– China 10% (918,138 jt dollar) – PCI rank 76
– India 17% (320,458 jt dollar) – PCI rank 129
– USA 1,12% (188,217 jt dollar) – PCI rank 9
– Brazil 5,4% (129,382 jt dollar) – PCI rank 49
– Indonesia 14,3% (127,964 jt dollar) – PCI rank 127
– Russia 3,9% (78,856 jt dollar) – PCI rank 41
– Jepang 1,2% (71,568 jt dollar) – PCI rank 14

Berikut perbandingan output sektor agrikultur (milyar dollar) dibanding jumlah populasi negara. Dan jika dihitung kasar, maka hasil dari pertanian ini akan menanggung makan per kepala (dalam rb dollar per jiwa per tahun):

– China 1,036 – 1,368 jt jiwa; memberikan 0,75
– India 356 – 1,262 jt jiwa; memberikan 0,28
– USA 192 – 319 jt jiwa; memberikan 0,60
– Nigeria 184 – 178 jt jiwa; memberikan 1,03
– Brazil 123 – 203 jt jiwa; memberikan 0,60
– Indonesia 122 – 252 jt jiwa; memberikan 0,48
– Russia 86 – 146 jt jiwa; memberikan 0,58
– Turkey 72 – 76 jt jiwa; memberikan 0,94
– Australia 56 – 23 jt jiwa; memberikan 2,43
– France 55 – 66 jt jiwa; memberikan 0,83
– Japan 52 – 127 jt jiwa; memberikan 0,40
– Thailand 46 – 64 jt jiwa; memberikan 0,71
– Spain 43 – 46 jt jiwa; memberikan 0,93
– Iran 43 – 77 jt jiwa; memberikan 0,55
– Italy 43 – 60 jt jiwa; memberikan 0,71
– Malaysia 38 – 30 jt jiwa; memberikan 1,26

Dari data kasar di atas bisa sedikit disimpulkan, bahwa sebenarnya di banyak negara maju, mereka telah mengenyangkan dulu perut warganya.

Agak sedikit rendah nilai di atas adalah negara maju Jepang. Tapi sekali lagi kita ingat, orang Jepang sudah banyak makan ikan (daging putih) meski output total agrikultur per kapita mereka rendah, karena luasan tanah pertanian yang rendah di sana.

JADI kalo mungkin kita selama ini mengenal negara maju itu hanya karena mereka maju di bidang industri/jasanya belaka, ternyata diam-diam mereka telah mengenyangkan perut rakyatnya terlebih dahulu.

Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan sektor perolehan makanan ini, khususnya secara khifayah/kumulatif oleh suatu negara. Hal paling prioritas yang harus dilakukan oleh negara manapun hanyalah satu: makan!

Kasih makan rakyatnya hingga kenyang! Dengan pengertian, negara wajib menjamin kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. (Sebab kalo pengertian makan ini Anda terjemahkan mentah-mentah, akan berbahaya… Bisa tabrakan dengan program keimanan berupa puasa 😛 Hehehe…)

Dalam sebuah kiasan, ini seperti Khalifah Umar bin Khattab yang memikul gandum sendiri langsung kepada (seorang) rakyatnya yang kelaparan. Dalam konteks negara, negara wajib memprioritaskan sustainabilitas kehidupan sektor agrikultur.

Maka dari itu, maka jaga sumber makanan kita. Jaga air, laut, hutan, dan lahan pertanian kita.

Jaga tanaman-tanaman kita. Jaga lingkungan dan alam kita. Jaga kehidupan sosial-pertanian kita.

Karena itu semua adalah langkah untuk menjaga kehidupan kita, kelangsungan hidup kita.

CMIIW, CMIIW, CMIIW.

Freema HW
– di KTP saya, pekerjaan saya tertera sebagai Petani.

Data didapat dari wiki, sebagian saya olah secara mandiri. Mohon periksa, telaah, dan koreksi lebih dalam, lebih detail, dan lebih lanjut.

Advertisements

One thought on “Makan: Investasi Sosial /Lingkungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s