Berbuat Baik: Pindah Ibu Kota

Indonesia

SAYA VS WIMA

ADA beberapa hal yang saya sepakati dari Bung Wima Brahmantya, (jika Anda belom mengenalnya, intinya dia adalah:) seorang rekan baik, sahabat karib, sekaligus musuh berpikir saya.

Salah satu ide besarnya yg saya sungguh sepakat yakni: sebagai anak bangsa Indonesia kita sangat perlu membangun dan terus membangun semangat kebangsaan, kemanusiaan, dan tentunya semangat berbuat baik dalam menghadapi segala problematika bangsa dan negara kita.

Hal-hal teknis yg merupakan implementasi taktis sebagai bagian dari upaya solusi/pemecahan masalah yg ada biarlah menjadi bagian para ahlinya. Sebab belom tentu kita berkompetensi secara aplikatif terhadap persoalan yg harus dipecahkan tersebut.

Misal: kita perlu dan terus menjaga nyala semangat nasionalisme di dada kita.

Sebab (dengan) nasionalisme inilah, akan menjadi modal kuat dalam menghadapi AFTA, pasar bebas global, menata ketertiban kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dengan semangat nasionalisme, kita akan secara kumulatif bercita-cita sama: mewujudkan program pendidikan nasional yang mencerdaskan kehidupan bangsa; menyelamatkan isi bumi, air, dan angkasa Indonesia dari jarahan antek asing, dan seterusnya.

Dan masih banyak contoh lagi tentang aplikasi nyata dari semangat nasionalisme kita dalam menjalankan roda dinamisme berbangsa dan bernegara.

Menurut pandangannya, demikian adanya.

YA, saya sepakat!

Bukan hanya nasionalisme, tetapi juga semangat berbuat baik sebagai khittah (garis perjuangan kita sebagai manusia). Dengan adanya semangat berbuat baik dalam dada, kita semua hanya akan sibuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Kita hanya dan hanya sibuk menorehkan prestasi dalam kapasitas dan bidang kita masing-masing.

Yg guru akan sibuk memahami karakgter para muridnya dan memberikan penjelasan yg bisa dipahami mereka semua kesemanya. Menciptakan metode belajar yg kreatif yg disesuaikan dengan kondisi, kultur, dan pola pemahaman para murid yg ada di depannya.

Yg PNS akan sibuk mati-matian melayani rakyat.

Akan berkoordinasi lintas instansi jika ada hal yg harus diselesaikan, bukan sibuk meringan-ringankan pekerjaan dan mempimpong masyarakat yg butuh pelayanan ke sana-kemari.

Sebab dengan adanya kesadaran dan semangat berbuat baik, meringan-ringankan pekerjaan hakikatnya justru akan menumpuk pekerjaan. Banyak pekerjaan yg tidak segera selesai dan akan terus menumpuk untuk diselesaikan.

Alhasil yg ada jadinya stress.

Dengan semangta berbuat baik dan semangat segera menyelesaikan pekerjaan yg berat, justru pekerjaan akan segera tuntas, beban segera berkurang, tingkat depresi karena pekerjaan akan lenyap.

Badan justru sangat sehat dan batin akan sangat riang karena bekerja.

Dengan semangat berbuat baik, yg Polisi akan mati-matian menjaga sumpahnya untuk menjaga ketertiban dan melayani masyarakat. Dengan semangat berbuat baik, polisi akan sadar kemuliaan tugas dan beban kerjanya.

Polisi akan ketakutan teramat sangat jika menerima uang suap serupiahpun. Polisis tidak akan khawatir dengan godaan kemawahan duniawi: pajero sport, rumah ber-keramik italia, dan sebagainya.

Maka kebanggaannya akan bergeser, dan megahnya bangunan rumah yg bisa dia hasilkan, menjadi kokohnya pengabdian yg dia lakukan.

Bagaimana bisa? Sebab mereka menyadari adanya Tuhan yg Maha Kuasa di atas sana yg kelak akan kita temui dengan mempertanggungjawabkan apa yg telah kita perbuat dalam kapasitas kita masing-masing selama di dunia.

Dengan adanya semangat berbuat baik, rekan-rekan mahasiswa hanya akan sibuk menyerap ilmu habis-habisan. Mereka akan sibuk mengisi otaknya dengan bekal pengetahuan untuk mengarungi samudera kehidupan, sebagaimana onta akan memenuhi tubuhnya dengan air untuk bekal membelah padang pasir.

Termasuk, rekan-rekan mahasiswa akan sibuk mengkritisi banyak kekurangan secara konstruktif: kritisi yg bisa dikonversi menjadi aksi nyata untuk mengubah dan memperbaiki keadaan, baik keadaan bangsa dan negara, keadaan lingkungan-masyarakat sekitar, termasuk keadaan dirinya sendiri.

Dengan adanya semangat berbuat baik, para bapak hanya akan sibuk bekerja mencari nafkah demi masa depan anak-anaknya. Agar anaknya bisa sekolah tinggi, punya sumber dana untuk membeli buku-buku tambahan yang memperkaya wawasan dan pengetahuan, atau membeli barang-barang untuk penelitiannya.

Dengan semangat berbuat baik, par abapak sudah tidak akan sempat untuk selingkuh, mencari pelacur dan pergi ke pelacuran, atau menghabiskan uang untuk dibakar begitu saja tanpa ada manfaat positif untuk kesehatan badan dan mental.

Dengan semangat berbuat baik, para ibu akan menjadi penentu masa depan keluarganya: anak-anaknya. Para ibu tidak akan menjadi kaum yg gampang mengupas segala hal yg belum mereka ketahui kepastiannya (=ghibah).

Para ibu bukan akan membahas sesuatu dengan asumsi dan rasa-rasanya atau mungkin-mungkinnya.

Dengan semangat berbuat baik, para ibu hanya akan sibuk menyiapkan nutrisi terbaik dan termurah untuk bekal anaknya sekolah. Para ibu akan sibuk turut belajar untuk mengikuti pelajaran anaknya di sekolah.

Dengan semangat berbuat baik, para ibu akan mati-matian dan setiap detik memastikan bahwa anak-anaknya memahami arti berterima kasih, meminta tolong, dan memohon maaf.

Dengan semangat berbuat baik, para ibu tidak akan menuntut anaknya harus ranking tinggi atau besar nilainya. Dengan semangat berbuat baik, para ibu hanya akan sibuk memastikan bahwa anaknya (kelak)menjadi manusia sungguhan: makhluk yang memahami kebutuhannya akan manusia/makhluk lain.

Dengan semangat berbuat baik, para ibu dengan sendiri tidak akan sanggup menontot sinetron atau infotainment yang tidak memberikan manfaat untuk nutrisi psikologis dirinya dan keluarganya.

Dengan semangat berbuat baik, para ibu akan membimbing apa yg bisa dan menjadi kelebihan putra/putrinya: apakah putra-putrinya kuat di bidang eksakta, ataukah di bidang hayati, di bidang kalkulasi/matematika, ataukah di bidang seni, atau mungkin di bidang olahraga prestasi.

Sebab dengan beragam dan berbedanya manusia, masing-masing hanya cukup mahir dan menguasai apa yg bisa dikuasainya, tidak perlu mahir dan menguasai semua, sebab kita semua adalah makhluk sosial yang saling memerlukan dan membutuhkan.

Dengan semangat berbuat baik, para ibu akan menelurkan anak-anak peradaban yang sesungguhnya.

Dengan semangat berbuat baik, dengan semangat nasionalisme, para manusia produktif berani menciptakan dan membuka lapangan kerja. Nominal (baca: keuntungan besar) tidak akan menjadi tujuan utamanya.

Dengan semangat berbuat baik, maka para pencipta lapangan kerja hanya akan mengobarkan semangat mengisi kemerdekaan dengan hal baik dan positif, hal konstruktif. Konstruktif bagi bangsa, negara, masyarakat, dan dirinya sendiri.

Laba hanya akan dijadikan pemicu untuk terus menjalankan bisnis, untuk menjaga sustainabilitas. Laba yang besar hanyalah sekedar hasil dari kesungguhan dan kerja keras, bukan karena memanfaatkan ketidaktahuan orang lain untuk meraih kesempatan dan peluang secara individual.

Dengan semangat berbuat baik, orang tidak akan melulu berbondong-bondong ke Jakarta dan menambah masalah.

Dengan semangat berbuat baik, maka pemerintah akan segera berbikir untuk memindahkan ibu kota negara.

Sebab inilah dasarnya: memindah ibukota negara, sangat baik untuk memeratakan perhatian. Ini kata kuncinya: perhatian!

Perhatian kepada bangsa, negara, dan masyarakat.

ibu kota negara perlu dipindah, secara teknis ke Palangkaraya misalnya. Yg mana Soekarno telah mempersiapkannya dan merancang dengan matang. Kami pribadi kurang paham apa dasar pertimbangannya, kami hanya percaya bahwa Soekarno telah memiliki pertimbangan yang matang untuknya, apapun itu.

Dengan memindah ibukota negara, pemerintah dan kita semua menyadari bahwa Indonesia bukan hanya Jawa bukan hanya Jakarta. Selebihnya lainnya dapat dijadikan pusat-pusat keunggulan sesuai kharakteristik khas daerah masing-masing.

Dengan semangat berbuat baik, memisahkan ibukota negara dan pusat bisnis adalah simbol implementasi nyata wujud kesatuan bangsa, negara, dan republik ini:

bahwa kita semua adalah sama dan sejajar. Itulah persatuan sesungguhnya.

JIKA Bung Wima mengatakan memindah ibukota negara belum tentu (artinya bisa iya bisa tidak) untuk menyelesaikan segumpal persoalan besar di negeri ini, di sini kami berbeda dasar pemikirannya: saya justru mempercai sepenuhnya (meskipun saya juga yakin, Bung Wima pasti juga menyepakati pemindahan Ibu Kota negara ini, hanya mungkin latar alasannya yg berbeda).

Jadi sekali lagi dari berkali-kali saya pribadi pernah mengungkapkan di berbagai kesempatan ruang dan waktu, saya akan terus berharap dan berdoa: semoga bangsa ini memindahkan ibu kota negaranya, khususon ke Palangkaraya.

Saya berharap besar, ini demi kebaikan Indonesia.

Wallahualam bisawab, aamiin ya rabbalalaamiin…

Freema HW,
– Bukan orang baik dan bukan orang baik-baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s