Tukang Sate

Tukang sate lucu

Pemberitaan tukang satu lugu yang mewarnai media massa belakangan ini membuka satu sisi mata batin kami.

Dia memposting sebuah materi yg dianggap menghina presiden.

Beragam tanggapan pun menyeruak. Kalangan pendukung presiden Jokowi langsung sontak meneriakkan suara: betapa masih tersimpannya dendam kaum pendukung capres Prabowo.

Sementara kalangan pendukung capres Prabowo juga berteriak tak kalah lantangnya: okey itu tukang sate dihukum karena posting tak senonohnya; tapi pemerintah harus adil, para pem-bully tak senonoh capres Prabowo juga harus dihukum sama adilnya!

Hingga akhirnya situasi mereda karena Presiden Jokowi telah memaafkan si tukang sate setelah dia dan keluarganya bertemu dengan bapak presiden di istana.

***

Well, kasus ini alhamdulillah telah selesai. Dan kami juga berharap begitu. Karena tak baik masalah dibiarkan berlarut-larut.

Cuman ada satu benang merah yg sedang kami renungkan; kisah si tukang sate ini sebenarnya adalah gambaran kondisi bangsa ini, kondisi kita semua, kondisi kami dan Anda semua.

Postingan tak senonoh dari si tukang sate, adalah cerminan kondisi pola pikir dan budaya pikir yg ada di sebagian (besar) masyarakat kita.

Kami membahasakannya: budaya berpikir picisan.

(Maaf kalau kata yang kami gunakan terkesan merendahkan atau menuduh. Kami hanya membahasakan, dari apa yg nampak di depan mata sejauh ini.)

YA, pilpres kemarin hal-hal seperti ini tampak meledak di dunia maya, dan tuduhan kami: seolah semuanya dipelihara.

Banyak posting, dari kedua kubu maupun kubu tengah yg pesimis dengan keduanya, yg nada-nadanya tak lebih dari demikian itu.

KAMI sempat mencermati banyak forum, banyak posting, dan banyak lalu-lintas linimassa saat pilpres kemarin.

Alih-alih mengupas visi-misi dan usulan strategis dari para capres, dominan yang kami dapati hanyalah posting-posting yang justru membuat kami merasa kasihan kepada para capres yg maju.

Mereka didukung bukan dengan kecerdasan pendukungnya. Setidaknya pendukung yg kami lihat lalu-lintas linimassanya.

Posting-posting picisan yg mengkiaskan para capres dengan kiasan-kiasan tak senonoh justru paling rame dikomentari.

Posting-posting yang menjatuhkan, posting-posting negatif, juga posting-posting hitam paling laku disebar.

Okelah posting berbobot -yang menyoroti berbagai usulan kebijakan- memang berat untuk dicerna oleh masyarakat awam.

Tapi ide kebijakan dll. itu sebenarnya bukanlah ide yang berat-berat amat untuk dicerna, dan tim kampanye masing-masing capres sudah merancang bahasa yang sangat mudah untuk dipahami awam.

Hanya saja, melihat banyaknya posting-posting picisan yang tidak senonoh, menunjukkan bahwa masyarakatnya kita aja yang tidak dibentuk untuk bisa menyerap tuangan-tuangan pemikiran sebagaimana tersebut.

Kami melihat, apa yang dilontarkan oleh para capres kemarin, sesungguhnya adalah hal yang jamak bisa dipahami, diserap, dan dimengerti oleh masyarakat luas jika (maaf) pola pikir masyarakat kita rata-rata disiapkan untuk memahami.

Semua membuat batin kami menangis menjadi anak bangsa ini.

Bangsa yg oleh pendirinya sangat ditegaskan untuk dicerdaskan. Negeri ini didirikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sementara di sisi sana, pola pikir pembodohan justru dipelihara dan dilestarikan, malah dikembangkan sepertinya.

Alhasil yang terjadi, masyarakat kita hanya akan sibuk menyelamatkan perutnya sendiri ketimbang bersama-sama bareng-bareng mengenyangkan perut kita bersama.

Masyarakat akhirnya akan sibuk dengan elu-elu gua-gua. Padahal diantara kebebasan kita menjadi gue sendiri, ada hak orang lain yang mesti kita hormati.

Alhasil, masyarakat bukan beradu dalam segala argumen yang konstruktif, yang ada hanyalah koalisi dan kubu-kubuan karena like dan dislike; karena kemampuan kita hanya dikonstruksi sedemikian sata mentok batasnya.

Alhasil, kesalehan sosial di negeri ini jadi entah kemana, lenyap ditelan badai pilpres, dan hingga kini masih menyisakan dekadensinya.

Jadinya, kemana hendak di bawa Indonesia ini?

Jika kelak posting-postingan picisan yang sama sekali tidak mengandung tuangan pemikiran apapun di dalamnya masih banyak beredar dan menyeruak di media massa, mungkin bangsa ini kembali telah gagal dan terjerumus dalam jurang nestapa wawasan.

Dan itu artinya, kami mungkin juga telah gagal menjadi rakyat negeri ini. Karena bisa jadi, melalui akun dunia maya kami, kami turut memforward segala posting yang picisan dan sama sekali tidak mengandung muatan pemikiran.

Allah SWT menganugerahkan kita, para manusia ini, akal (aqli). Dan inilah satu-satunya pembeda kita dengan hewan.

Sudah semestinya jika memang harus berbeda dengan hewan: selalu menggunakan akal-pikiran kita.

Tinggal kita mau milih yang mana, menjadi sate yang seperti apa: sate dengan daging yang bernutrisi atau glonggongan.

Pilihan ada di tangan kita: kita secara bersama-sama, bukan kita secara individu. Karena niscaya kita adalah makhluk sosial, yang mustahil bisa hidup dengan hanya diri sendiri.

Kita pasti butuh orang lain untuk menuju masa depan.

Dengan dua pilihan: masa depan suram atau cemerlang.

Wallahu’alam…

Deasy & Freema
– Bingung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s