Bukan Terbatas, Melainkan Ada Batas(an)nya: Itu Nikmat

Foto nemu dari internet

Sadarkah kita, bahwa sesuatu itu menarik karena terbatas?

Ponsel kita menarik karena tak semua orang memilikinya. Bukan, dia tak harus tipe yg mahal, bisa jadi ia adalah sebuah Nokia 5110 peninggalan lama yang masih kita rawat dan pelihara baik-baik, yang tak kita sangka sekarang jadi menarik malahan.

Namun kalo salah rawat, ia tak lebih dari plastik yang digunakan untuk apa fungsi lainnya juga entah… Dan jika semua orang sedunia punya ponsel sama seperti yg kita punya, jadinya garing.

Mobil kita menarik karena tak semua orang memilikinya. Bukan, dia tak harus tipe yang mahal. Bisa jadi adalah sebuah van serupa mobil dinas camat era lapanpuluhan (Mitsubishi Colt T120) itu, yg dulu kita beli seken dan teramat murah untuk ukuran sebuah mobil, dan kini ternyata jaid barang antik karena kita pelihara.

Namun kalo salah rawat, ia tak lebih dari seonggok besi tua yang tinggal ditimbang. Dan jika semua orang sedunia punya mobil seperti yang kita punya, jadinya garing.

Pohon bonsai kita mungkin sama-sama jenisnya dengan yang lain. Tapi karena ia kita rawat dengan metode tersendiri, akhirnya jadi menarik dan asyik karena berbeda bentuknya. Namun kalo salah rawat, ia bisa kayak bonsai gagal…

Hutan belantara kita menarik karena terbatas, tidak semua luasan negeri kita adalah hutan belantara. Namun kalo salah rawat, jadinya mungkin hutan gundul karena pohonnya mati semua.

Dan jika semua orang sedunia punya pohon bonsai dengan corak sebagaimana kita punya, jadinya garing.

Mata air jernih di pegunungan atau di bagian akar bawah pohon rindang akan sangat menarik. Tapi kalo jadi air bah yang berlebih-lebihan, celakalah kita…

Termasuk dada perempuan. Ia menarik karena Tuhan menciptakannya hanya dua aslinya. Hingga (maaf) perempuan yang terkena kanker payudara serasa hilang hidupnya jika payudara mereka diangkat.

Namun kalo itu susu, ditambah, entahlah apa jadinya…

Ane koq ndhak tertarik sama sekali ya…

Entahlah…

MAKANAN yang terbatas mungkin kurang baik untuk kesejahteraan masyarakat. Namun kuota perut yang terbatas, akan membuat makanan menjadi berguna.

Dan ketika kita dibatasi oleh lapar, rasa makanan akan meningkat tajam. Sampai kemudian nikmatnya rasa (makanan) itu menjadi luruh seiring memadatnya isi perut.

TUHAN sudah mentakdirkan, bahwa sesuatu yg ada batasannya, itu ternyata lebih menarik.

Kecuali memang jika semua perempuan sedunia, dari dulu dan seterusnya, susunya memang tiga, mungkin itu sudah takdir. Dan di situ batasannya.

Mungkin.

Tapi rasanya, bukan sesuatu yang terbatas, melainkan sesuatu yang ada batas(an)nya itu sepertinya nikmat.

Freema HW
– Posting iseng.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s