Antara Aku, Kamu, dan Masyarakat

Chevy Spin

Chevrolet dari dulu sampe sekarang ndhak pernah mau menipiskan plat bodinya. Chevy Kalos terkenal platnya lebih tebel ketimbang kompetitornya yg sejenis.

Chevy spin punya ketebalan plat bodi 0,6 – 0,8 mm; kompetitornya hanya 0,4 – 0,6 mm. Chevy Spin punya 6-speed AT, kompetitor cuman 4-speed (ini paling banyak) atau 5-speed AT.

Namun dengan keunggulan teknisnya, penjualan Chevy tak pernah bisa menandingi Toyota di sini. Toyota banyakan gak bagus-bagus amat speknya. Kalo membandingkannya dengan kompetitor, harga Toyota cenderung overpriced.

Sayangnya, dengan kondisi demikian, Toyotalah yang merajai penjualan kendaraan di sini. Di Brasil yg econografisnya kurleb (kurang-lebih) sama dengan di Indonesia, Toyota hanya urutan ketujuh; lima besar atasnya semua pabrikan bule: Fiat, VW, GM/Chevrolet, Ford, Renault. Baru Honda, Toyota, Nissan, Hyundai, Citroen.

ANTARA Chevy vs Toyota vs masyarakat; menggambarkan kondisi kustomer Indonesia secara umum. Bukan hanya di mobil belaka.

Sering kita lihat, publik membeli sesuatu, dan faktualnya sesuatu yg dibeli itu bukan kebutuhan pokok/primer, kemudian berorientasi dengan harga murah ketimbang manfaatnya.

Contoh yang sering kami lihat adalah kala ibu-ibu membelikan snack untuk anak-anaknya. Yang penting murah!

Bahwa kemudian di snack/kudapan tersebut terlalu banyak mengandung bahan kimia yang sangat kurang baik (baca: berbahaya) untuk kesehatan anaknya, itu urusan belakangan.

Dan masih banyak barang dibeli dengan fungsi yang tak termanfaatkan. Padahal dengan cukup membeli fungsi (=kebutuhan), kita sebagai keluarga atau masyarakat luas ini bisa menghemat pengeluaran yang tidak perlu: membeli fugsi yang tak termanfaatkan.

ADA apa dengan (pola pikir) kustomer di sini? Mereka mencari barang berkualitas atau barang yang latah?

Kami mirisnya, kalo pola pikir latah kustomer produksi di sini mencerminkan pola pikir (baca: isi otak) dalam berperilaku di masyarakat. Sesuatu dianggap benar jika banyak dilakukan oleh banyak orang, bukan karena komparasi/spesifikasi obyektifnya.

Yakh, faktor pendidikan memang menjadi penyebab semua ini. Salahnya, regulasi pemerintah sangat tidak ketat untuk melindungi warganya yang (maaf) kurang well-educated.

Yang bisa kami lakukan hanyalah menjadi individualis, selamatkan anak kami sendiri. Perkara anak orang mati, itu bukan urusan kami.

Kami sudah bukan manusia lagi. Hiks…

Freema HW,
– Sok bijak.
Abaikan saja, tulisan ini mungkin tak berguna, apalagi menghadapi ribuan kustomer yg membeli mobil, atau barang mahal lainnya, yang tanpa ngeh specs teknisnya gitu.

REFS: http://www.fleetcare.com.au/news-info/fleet-beat-blog/july-2013/top-10-car-series-brazil-s-top-selling-cars-update.aspx

Ini dari Top Gear 03/2013:

Top Selling Car in Brazil 2012

Masa Sulit

Bersyukurlah untuk masa sulit, karena di masa seperti itulah kita “tumbuh”.

Tumbuh

Kami sepakat dengan petuah ini. Masa sulit akan membuat kita kuat. Pelaut yang handal lahir dari terjangan ombak besar.

Namun perlu kita perjelas dulu masa sulit itu yg seperti apa.

Menurut kami, masa sulit adalah ketika alam menguji kita dengan topan yang memporak-porandakan permukiman dan persawahan/perkebunan.

Masa sulit adalah ketika tsunami menghunjam kehidupan kita tanpa tersisa.

Masa sulit adalah ketika matahari berada pada titik terdekatnya sehingga suhu bumi naik sedemikian tajam dan banyak tanaman/persawahan yang mati dan gagal panen; sehingga bahan pangan langka drastis.

Masa sulit adalah ketika gempa menggoyang keimanan kita, apakah kita akan semakin kokoh bertakwa atau menderakan pesimis dalam dada.

Masa sulit itu adalah ketika kita sedang memperjuangkan kebaikan sementara dunia menolaknya: kita menyodorkan ide renewable-bioenergy sementara pemerintah mencampakkannya; dsb.

Masa sulit itu adalah ketika kita bersama-sama mengajak tetangga untuk membuat kebun toziga sementara semua lebih suka bergosip.

Masa sulit itu adalah ketika kita harus berjuang melawan kanker, tumor, atau penyakit ganas lainnya yang kita serasa tak tau sebabnya.

Termasuk datangnya serbuan gadget yang bisa kita beli tanpa kita butuh fungsinya, adalah masa sulit yg harus dilawan dengan kekuatan mental pada jaman ini.

NAMUN ketika pemerintah terkooptasi dan dikendalikan kemauan asing misalnya;

atau hutan kita babat habis sehingga tiada tersisa cadangan air untuk musim kemarau atau longsor melanda di musim hujan;

atau kita suka menebang pohon sembarangan sehingga suhu di lingkungan permukiman kita tinggal jadi panas karena kurangnya suplai oksigen;

atau kita lebih suka mengekspor bahan mentah ketimbang bahan jadi;

atau jika pendidikan dasar lebih memprioritaskan rumus ketimbang budi pekerti, sehingga para siswa kurang mengenal yang namanya:

  • meminta tolong
  • meminta maaf
  • berterima kasih
  • antri
  • membuang sampah pada tempatnya

atau rakyat hanya dijadikan komoditas politik oleh segolongan pihak,

atau para pakar cendekia kita sampai tidak diperhatikan negara dan lebih dipiara oleh negeri asing;

atau kebutuhan hajat hidup orang banyak tidak dipenuhi oleh negara, atau sumber daya alam kita setorkan begitu saja ke antek asing;

atau kita merokok sembarangan sehingga otak anak-anak kita terkontaminasi racun yang luar biasa ganasnya mereduksi kesehatan atau kecerdasan mereka;

atau kita suka membuang sampah sembarangan sehingga sungai meluap dan banjir melanda;

atau kita tidak menguasai bahasa Indonesia yang baik dan benar sebelum berbahasa asing;

kami rasa itu bukan masa sulit. Kasarnya ngomong, itu kekonyolan kita. Mungkin demikian. IMHO CMIIW.

-Ortu yang sulit…-

(Jangan) Tolak Kenaikan Harga BBM Bersubsidi!

https://i1.wp.com/poskotanews.com/cms/wp-content/uploads/2012/03/pdi.jpeg

http://news.detik.com/surabaya/readfoto/2012/03/27/111114/1877383/473/1/massa-pdip-turun-ke-jalan-tolak-kenaikan-bbm

“Pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, RON95 dan diesel, sebesar 20 sen per liter, menyusul langkah rasionalisasi subsidi harga BBM yang berlaku pada Kamis (2/10/2014) pukul 00:01.

Kementerian Perdagangan Dalam Negeri, Koperasi dan Kepenggunaan Malaysia mengumumkan harga eceran baru untuk bensin RON95 naik dari 2,10 ringgit (Rp7.800) per liter menjadi 2,30 ringgit (Rp8.500) per liter.

Sementara harga diesel naik dari 1,90 ringgit (Rp7.000) menjadi 2,20 ringgit (Rp8.200) per liter. Seperti dikutip antaranews.com, Kamis (02/10). Harga pasaran sebelum subsidi untuk bensin RON95 dan diesel masing-masing adalah 2,58 ringgit (Rp9.600) dan 2,52 ringgit (Rp9.400) per liter.

Perbandingan harga bensin RON95 di antara negara-negara ASEAN paling tinggi tercatat di Singapura, disusul oleh Thailand, Kamboja, Laos, Filipina, Vietnam, Indonesia, Malaysia dan paling murah di Brunei.”

Lho, ini kenapa beritanya koq Malaysia?

Wah, saya pasti kebawa efek tiga desa seluas 54.000 hektar di Nunukan yang diklaim jadi wilayah Malaysia ini, jadinya serasa negeri ini udah dicaplok sama Malaysia http://www.facebook.com/groups/145664822172198?view=permalink&id=767214370017237 Hiks…

http://www.merdeka.com/foto/peristiwa/ratusan-kader-pdip-gelar-long-march-tolak-kenaikan-bbm.html

Well, barusan beberapa jam tadi, harga BBM bersubsidi naik lagi.

Saya pribadi tidak kaget, meski shock pada penyesuaiannya. Soale ini kuda tua bmwangka umur 20 taon bermesin V8 seharga sebuah motor Ninja roda dua dengan kapasitas tangki 80 litar memang saya isi dengan BBM bersubsidi.

Maklum, mesinnya memang punya kemampuan untuk membakar beragam jenis oktan BBM. Dan logis, saya nyari yang termurah.

APAKAH SAYA MENOLAK KENAIKAN HARGA BBM BERSUBSIDI?

Sebaliknya, saya pribadi justru mendukung kenaikannya. Bahkan sebenarnya saya mengharap tidak ada lagi BBM bersubsidi di negeri ini. Hapuskan subsidi pada BBM, namun subsidi total pada kebutuhan energi rakyat!

Beberapa kalangan masih kuat mengikuti pendapat pak Kwik, bahwa sebenarnya ongkos produksi BBM kita hanya beberapa ratus rupiah saja, tak sampe seribu rupiah http://kwikkiangie.com/v1/2012/03/kontroversi-kenaikan-harga-bbm/

ALASAN Pak Kwik sangat logis: BBM kita itu given dari Tuhan YME. Sehingga yang dihitung mestinya cuman ongkos produksi saja. Tidak perlu mengikuti harga minyak pada perdagangan internasional.

Namun kalangan lain menyatakan, BBM kita sebenarnya sudah menipis dari perut bumi kita. Dan sekarang kita sudah menjadi negar apengimpor minyak instead-of penghasil/pengekspor.

SAYA pribadi percaya dengan penjelasan pak Kwik. Dan saya percaya kita masih punya banyak minyak.

Buktinya?

Chevron masih ganas menyedot minyak kita. Sederhana saja, kalo sumurnya sudah tua dan berada pada nadirnya, titik dimana kegiatan produksi justru tidak akan menguntungkan jika diteruskan, maka Chevron pasti akan hengkang ketimbang terus beriklan CSR (corporate’s social responsibility – saya membacanya corporate’s sin removal) dengan slogan Kami Setuju! (Tapi saya tidak!)

Lantas, kenapa saya justru menolak subsidi dan menginginkannya untuk dihapus?

Paling pertama yang ingin saya sampaikan, dengan menolak subsidi dan justru menginginkan subsidi BBM dihapus, saya bukan simpatisan dan sama sekali tak bersimpati kepada partai yang dulu koar-koar nolak kenaikan harga BBM bersubsidi namun sekarang diam suaranya, apapaun dalih mereka!

Saya ngomong ngablak asal njeplak kayak gini, murni dari opini pribadi!

Saya tidak bisa menjelaskan secara ilmiah dengan data dan fakta atas kondisi ini. Pertimbangan saya murni pakai feeling belaka:

  • Subsidi selama ini berpotensi hanya jadi alat permainan anggaran di atas sana. Masalah subsidi ini juga jadi alat politis para par-tai itu semua. Ada yg menjilat ludah sendiri: dulu koar-koar nolak kenaikan harga BBM bersubsidi, sekarang tak ada lagi suaranya. Paling alasannya: kondisi berubah. Prekkk!!!
  • Subsidi selama ini gak tepat yang menikmati. Yang beli mobil harga ratusan juta masih tega beli BBM subsidi.
  • Segala cara yang dilakukan pemerintah infeketif. Semuanya! Mulai pembatasan pembelian, pakai RFID, dll. Karena memang habbit secara keseluruhan memang tidak memungkinkan untuk dilakukan cara-cara parsial seperti itu.
  • Urusan BBM bersubsidi ini bukan lagi urusan parsial, melainkan sudah urusan sosial yang sangat luas lingkupnya. Kalo memang pemerintah mau ngasih subsidi pada BBM, ya subsidi saja. Ndhak usah pake urusan etika, moral, dll. yg ini buat orang kaya yg ini buat orang miskin.
    Moral memang menegakkan hukum, namun hukum juga bisa memaksa kondisi tanpa perlu bisa moral. Setidaknya ini subyektivitas saya.
  • Lebih baik anggaran subsidi dialihkan ke hal yang memang lebih urgent. Selain layanan pendidikan dan kesehatan gratis, lebih bijak jika pemerintah menggaji sopir angkutan umum. Dengan sistem yang sedemikian rupa, misalnya absensi sidik jari pada trayek yang dilalui sesuai dengan perkiraan jam kedatangan/keberangkatan, dsb.
  • Kalo masih ada subsidi, pemerintah bisa beralasan kurangnya anggaran pembangunan karena duitnya dipakai buat subsidi BBM. Kalo subsidi hilang, pemerintah gak punya lagi alasan kalo ada pelayanan pendidikan dan kesehatan masih buruk. Jadi gampang bagi rakyat buat nggantung leher pemerintah. 😀 Hehehe…

    Upsss!

Pemerintah wajib menyediakan/memenuhi hajat hidup orang banyak, bukan berupa bensin melainkan: energi!

***

DENGAN dicabutnya subsidi BBM, pemerintah mestinya langsung bergerak cepat membangun power-plant renewable. Dengan angin atau air. Kondisi sekarang ini, semuanya sudah semakin murah dan terjangkau. namun masih akan sangat mahal bisa itu semua (membangun power-plant) dilakukan secara individual oleh rakyat dan tidak kolektif.

Pertimbangannya sederhana saja: sesuatu yang dibeli dalam skala besar akan lebih murah investasinya.

Power-plant ini bisa dibangun dalam skala provinsi atau kota, tergantung daerah, dengan memanfaatkan potensi/kelebihan sumber daya alam setempat. Bagi yang potensi sumber daya alamnya minus, baru diambilkan dari daerah lain.

Ngomong-ngomong, selain Jakarta, di mana sih di indonesia ini yang kekurangan energi angin dan air?

BTW niy betewe, di negeri ini, BBM yang bersubsidi itu cuman AKI 88. Di Malaysia, yang disubsidi yang RON95 (= AKI92/Pertamax di Indonesia) cuy!

Freema HW,
– paling jagoan kalo urusan asal njeplak kayak gini.

Goa Maria Pohsarang

Gereja Pohsarang - foto dari internet

Dulu, beberapa taon silam, setengah dekade lewat sepertinya, saya beberapa kali nganter temen kuliah (saya kuliah di Malang) ke Goa Maria Lourdes, Pohsarang.

Lokasinya sekitar 10km barat kota Kediri, di kaki Gunung Wilis. Jalannya menanjak untuk menuju ke sana.

Saya suka banget tempatnya. Sejuk karena berada di kaki gunung. Dan arsitektural gerejanya unik artistik banget. Dibikin serupa pura Hindu. Bangunan baru yang bertiang besi pun dicat coklat dengan konstruksi mirip rumah adat Jawa/tradisonal.

Kompleks Gereja Pohsarang - foto dari internet

Kompleks Gereja Pohsarang - foto dari internet

Kompleks Gereja Pohsarang - foto dari internet

Kadang kami ke sana siang, kadang malam.

Saat teman berdoa, saya nunggu di bangku-bangku, kadang jalan-jalan menikmati suasana sekitar goa dalam kompleks gereja.

Patung Bunda Maria ada di ketinggian. Tinggi patungnya sendiri hampir 4 meter. Dan goanya juga berada di atas gitu. Di bawahnya ada altar dengan lilin di sekitarnya. Dan setelah altar ada ada pelataran yang luas, antara altar dan bangku-bangku.

Tampaknya disiapkan untuk jemaat yang membludak.

Di belakang bangku-bangku pun berupa tanah lereng bertaman nan indah dan luas. Saya perkirakan, ratusan-ribuan jemaat bisa beribadah dengan nyaman di sana.

Kalo ke sananya malam, saya hanya menemaninya berdoa, lantas itu pulang. Suasana terlalu gelap untuk diperhatikan. Udah gitu, hawanya ser-ser gimanaaa gitu. Merinding disko juga ini bulu kuduk. Hehehe…

Kalo siang, usai berdoa, saya diajak jalan-jalan melihat jalan salib. Saat Yesus/Isa Almasih disalib hingga bangkit.

Saya kurang memahami (dan tentu tidak punya keperluan atau bermaksud memahami) jalan cerita yang digambarkan, meski saya menyimak dengan seksama penjelasan kawan saya tersebut termasuk membaca keterangan yg termaktub.

Namun tetap ada nilai moral yang bisa saya petik dari kisah/diorama tersebut: dalam menjalankan pengabdian memang dibutuhkan pengorbanan. Itu yang pertama.

Yang kedua, pengorbanan sangat bertalian erat dengan keikhlasan.

Yang ketiga, tak ada yg namanya pengorbanan itu gampang. Yang ada pasti susah. Dalam skup lebih luas: memperjuangkan kebenaran itu pasti susah dan tidak gampang. Plus perlu keikhlasan berbarengan dengan kesungguhan.

Karena yang kita tuju adalah hikmah, nilai, dan makna.

Nilai moral diorama jalan salib ini sangat senada dengan beragam kisah perjuangan mulai Gandhi yang melayani bangsanya; Bunda Theresa yang melayani kaum papa; Romo Mangun yang mengelokkan kali Code; Muhammad Yunus yang mendirikan gramen bank; Nuh yang dicaci kaumnya karena membuat bahtera di panas terik nan gersang; Ibrahim yang harus menyembelih keinginannya; juga Muhammad yang diludahi dan dilempar batu oleh orang lain;

atau Bung Hatta yang melilinkan dirinya untuk Indonesia dengan menancapkan konsep ekonomi paling sempurna untuk negeri ini: ekonomi Pancasila.

Juga (pengorbanan) Gus Dur yang nilai-nilainya bisa menjadi pengayom seluruh elemen bangsa.

Dan banyak lagi yang lain.

Satu persamaan dari semuanya ketika memperjuangkan kebenaran adalah: kebenaran itu adalah dan harus membawa kebaikan kepada umat dan peradaban. Dan kebenaran hakiki kita tak pernah mengetahui karena hanya Tuhan YME yang memilikinya.

Yang bisa kita lakukan hanyalah menggali, mencari, meyakini, dan mengimplementasikannya dalam satu dan hanya satu-satunya bentuk dan wujud: kebaikan untuk seluruh alam semesta ini dengan segala petunjuk yang ada.

***

KINI saya sudah beberapa tahun tak bersua lagi dengan teman saya tersebut. Dan tentunya tak pernah main ke goa/gereja Pohsarang lagi. Karena alasan saya ke sana memang mengantar teman.

Tapi keelokan lokasi itu memang banyak menginspirasi saya. Khususon, ini bukan nadzar bukan janji, namun jika Tuhan mengijinkan saya mendirikan secuil mesjid atau sebongkah surau/mushalla, saya ingin membangunnya dengan arsitektural serupa: seperti pura.

Buat sesiapa saja bisa berdoa dengan khusuk di dalamnya; mengembangkan kegiatan sosial di dalam(area)nya; dan di sana juga tersimpan perpustakaan mini yang mencerahkan, mengembangkan, membuka, dan menghidupkan jiwa.

Jiwa para anak manusia yang lahir dari peradaban.

Sudah sejak sangat luama saya membayangkan bisa membangun masjid/surau/mushalla serupa pura. Sebagaimana banyak masjid di sini yang serupa klentheng, cantik nian dipandangnya.

Masjid Ceng Ho - Surabaya

Masjid Ceng Ho - Purbalingga

Satu yang selalu saya sesali kala mengantar teman ke goa Maria Kediri, hanyalah satu: teman saya selalu nawari nraktir saya makan di kafetaria yang ada di kompleks goa, dan dia tau pasti benar kalo saya pasti nolak.

Karena nyaris seluruh menunya: bakso, sate, krengsengan, oseng-oseng, dll. kontennya pake babi. Kecuali kopi (kaleng) dan mie instan tentunya. Hahahaha…

Freema HW,
– tempat ibadah bukan hanya sepetak bangunan, hamparan tanah luas di bumi dan alam semesta ini adalah ruang ibadah juga untuk mengagungkan kebesaran Tuhan.

*Foto-foto nemu dari internet, hak cipta ada pada masing-masing pemilik. Ref http://kartikachairunnisa.wordpress.com/2012/02/07/hotel-mitra-inn-dan-goa-maria-lourdes/ http://www.google.com/search?tbm=isch&q=goa+pohsarang http://travel.detik.com/read/2012/08/14/155158/1991278/1383/ada-masjid-mirip-klenteng-di-surabaya http://siarmasjid.blogspot.com/2010/09/masjid-tan-kok-liong-gaya-klenteng.html http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2012/12/01/nuansa-merah-di-masjid-cheng-hoo-purbalingga–513338.html

Motubmwa The Series: Jok Kulit Bukan Kain

BMW E34

Motubmwa = Mobmwil Tua Bmwangka. Gambar dapet dari temen.

Sekarang adalah tahun 2014, banyak hal berbeda saat ini: mobil dibuat berisi panel serat kaca yang tipis, serta lebih banyak cup-holder ketimbang silinder.

Namun jika Anda sedikit peduli dengan (keselamatan) mengemudi, atau menyadari betapa berharganya hidup Anda, inilah yang Anda perlukan: sebuah BMW!

Bayangkan jika badan Anda semakin hancur karena mengendarai Corolla dalam perjalanan yang sangat panjang. Bayangkan bahwa mobil Anda tidak memiliki fitur kaca yang bisa dinaik-turunkan hanya dengan memutar kunci, atau sound-system dengan 10 speaker.

Anda akan segera menyadari: hanya dengan duit yg bahkan kurang dibanding harga sebuah sebuah Civic Nouva,

…Anda dapat meninggalkan mobil-mobil yang cuman kayak papan seluncur gitu,

…dan beralih ke seuatu yang lebih: jok kulit yang super nyaman dan pedal yang dengan sedikit tekan saja akan langsung melesatkan Anda!

Dan pastikan itu semua adalah sebuah BMW!

Interior pada setiap BMW dijejali dengan begitu banyak teknologi yang luar biasa handal, mumpuni, tahan banting, dan tahan lama; yang Anda tidak akan temukan di tombol-tombol plastik gembung jelek seperti pada Honda atau Toyota.

Coba ambilah sebuah sendok perak atau stainless-steel, seperti itulah sepenggal contoh kekuatan kejayaan teknologi dari Bavaria.

ANDA menjumpai mobil berpenggerak roda depan (FWD) dengan jok kain di dalamnya?

Tersenyumlah, di dalam sebuah mobmwil tua bmwangka (motubmwa) BMW, Anda sedang berada di mobil yang tepat dan jauh lebih baik ketimbang mereka (y)

– BMW
Mobmwil Tua Bmwangka Mewah Yang Murah Didapat Karena Harganya Jeblog Tiada Terkira; The Ultimate Depreciation Machine

V8 VERSION
Sekarang adalah tahun 2014, banyak hal berbeda saat ini.Mobil dibuat berisi panel serat kaca yang tipis, serta lebih banyak cup-holder ketimbang silinder.

Namun jika Anda sedikit peduli dengan (keselamatan) mengemudi, atau menyadari betapa berharganya hidup Anda, inilah yang Anda perlukan: sebuah BMW 530i dan 540i yang dipersenjatai mesin halus DOHC V8 yang menyemburkan kekuatan naga 218 ps atau 282 ps.

Bayangkan jika badan Anda semakin hancur karena mengendarai Corolla dalam perjalanan yang sangat panjang. Bayangkan bahwa mobil Anda tidak memiliki fitur kaca yang bisa dinaik-turunkan hanya dengan memutar kunci, atau sound-system dengan 10 speaker.

Anda akan segera menyadari hanya dengan duit yg bahkan kurang dibanding harga sebuah sebuah Civic Nouva,

…Anda dapat meninggalkan mobil-mobil yang cuman kayak papan seluncur gitu deh,

…dan beralih ke seuatu yang lebih: jok kulit yang super nyaman dan pedal yang dengan sedikit tekan saja akan langsung melesatkan Anda!

Dan pastikan itu semua adalah sebuah V8!

Interior pada setiap BMW dijejali dengan begitu banyak teknologi yang luar biasa handal, mumpuni, tahan banting, dan tahan lama; yang Anda tidak akan temukan di tombol-tombol plastik gembung jelek seperti pada Honda atau Toyota.

Coba ambilah sebuah sendok perak atau stainless-steel, seperti itulah sepenggal contoh kekuatan kejayaan teknologi dari Bavaria.

ANDA menjumpai mobil berpenggerak roda depan (FWD) dengan jok kain di dalamnya?

Tersenyumlah, di dalam sebuah mobmwil tua bmwangka (motubmwa) BMW, Anda sedang berada di mobil yang tepat dan jauh lebih baik ketimbang mereka (y)

– BMW
Mobmwil Tua Bmwangka Mewah Yang Murah Didapat Karena Harganya Jeblog Tiada Terkira; The Ultimate Depreciation Machine 😀

—————————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/
Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/
Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/
Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/
Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/
Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/
Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/

Makan: Investasi Sosial /Lingkungan

Paddy field in Indonesia

Sekedar pengalaman pribadi. Teman saya di kota, dia bekerja keras. Hidup hemat meskipun pendapatannya tinggi. Namun banyak ditabung. Untuk apa?

“Saya perlu mempersiapkan masa depan untuk anak-anak saya…”

Sementara masyarakat desa yang saya lihat, karena memiliki lahan lebih luas ketimbang masyarakat kota, mereka menanaminya dengan banyak tanaman. Untuk apa?

“Untuk makan sehari-hari… Kalo kami tidak punya tanaman di pekarangan, kami akan susah makan…”

Keduanya adalah pola menyambung hidup dan kehidupan dalam konteks dan kapasitas masing-masing. Namun dalam perbedaan konteks tersebut, semuanya punya satu persamaan: butuh makan!

***

DALAM skala yang lebih luas, ini seperti negara. Kebutuhan makan bagi suatu negara adalah sektor agrikulturnya.

Singapura si negara kota yang tak punya lahan, mereka harus menjamin dirinya dengan memiliki banyak investasi yang produktif dan berputar.

Namun mereka menyadari, mereka tetap memerlukan alam-lingkungan untuk hidup. Alhasil, Singapura yang seuprit itu mamti-mati mempertahankan secuil hutan tropis yang mereka miliki dan membeli air dari Malaysia karena kurangnya sumber daya air baku.

Negara-negara maju, yang kita kenal dengan teknologi dan perekonomian-keuangannya, ternyata justru juga menyandarkan kekuatan ekonomi mereka dari agrikultur.

JERMAN

Meskipun di Jerman sektor jasa menyumbang sekitar 70% dari total GDP, industri 29.1%, dan agrikultur 0.9%., agrikultur di Jerman sangat ekstrim produktivitasnya.

Jerman berhasil mengkover 90% kebutuhan nutrisinya dari produksi domestik.

Jerman adalah produsen agrikultur terbesar ketiga di Uni-Eropa setelah Perancis dan Italia.

Dengan kata lain bisa dikatakan: setelah rakyatnya kenyang, mereka baru mikir nyari untung besar. Dengan industri/jasanya.

JEPANG

Sektor ekonomi alam di jepang lebih tinggi menyumbangkan GDP dibanding Jerman, yakni 1,4%.

Karena Jepang terbatas memiliki lahan pertanian, hanya sekitar 12% dari seluruh area Jepang yang bisa ditanami, Jepang akhirnya kalap di sektor perikanan. Tahun 2005, Jepang adalah penangkap ikan terbesar kelima di dunia setelah China, Amerika, Chile, dan Indonesia.

Selain China yg berhasil menjala 17 juta ton ikan, rata-rata peringkat besar penangkapan ikan hanya sekitar 4 jutaan ton. Sekedar diingat, penduduk Jepang hanya setengah dari Indonesia dan sepersepuluh dari China.

Dengan kata lain, jika penduduk China hanya makan ikan rata-rata 12 kg per tahun, maka penduduk Jepang makan ikan rata-rata 30 kg ikan per tahun.

Berikut perbandingan sektor agrikultur dalam menyumbang produksi negara/GDP (2011) dan ranking per capita income (PCI)/pendapatan rata-rata per kepala, antara lain:
– China 10% (918,138 jt dollar) – PCI rank 76
– India 17% (320,458 jt dollar) – PCI rank 129
– USA 1,12% (188,217 jt dollar) – PCI rank 9
– Brazil 5,4% (129,382 jt dollar) – PCI rank 49
– Indonesia 14,3% (127,964 jt dollar) – PCI rank 127
– Russia 3,9% (78,856 jt dollar) – PCI rank 41
– Jepang 1,2% (71,568 jt dollar) – PCI rank 14

Berikut perbandingan output sektor agrikultur (milyar dollar) dibanding jumlah populasi negara. Dan jika dihitung kasar, maka hasil dari pertanian ini akan menanggung makan per kepala (dalam rb dollar per jiwa per tahun):

– China 1,036 – 1,368 jt jiwa; memberikan 0,75
– India 356 – 1,262 jt jiwa; memberikan 0,28
– USA 192 – 319 jt jiwa; memberikan 0,60
– Nigeria 184 – 178 jt jiwa; memberikan 1,03
– Brazil 123 – 203 jt jiwa; memberikan 0,60
– Indonesia 122 – 252 jt jiwa; memberikan 0,48
– Russia 86 – 146 jt jiwa; memberikan 0,58
– Turkey 72 – 76 jt jiwa; memberikan 0,94
– Australia 56 – 23 jt jiwa; memberikan 2,43
– France 55 – 66 jt jiwa; memberikan 0,83
– Japan 52 – 127 jt jiwa; memberikan 0,40
– Thailand 46 – 64 jt jiwa; memberikan 0,71
– Spain 43 – 46 jt jiwa; memberikan 0,93
– Iran 43 – 77 jt jiwa; memberikan 0,55
– Italy 43 – 60 jt jiwa; memberikan 0,71
– Malaysia 38 – 30 jt jiwa; memberikan 1,26

Dari data kasar di atas bisa sedikit disimpulkan, bahwa sebenarnya di banyak negara maju, mereka telah mengenyangkan dulu perut warganya.

Agak sedikit rendah nilai di atas adalah negara maju Jepang. Tapi sekali lagi kita ingat, orang Jepang sudah banyak makan ikan (daging putih) meski output total agrikultur per kapita mereka rendah, karena luasan tanah pertanian yang rendah di sana.

JADI kalo mungkin kita selama ini mengenal negara maju itu hanya karena mereka maju di bidang industri/jasanya belaka, ternyata diam-diam mereka telah mengenyangkan perut rakyatnya terlebih dahulu.

Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan sektor perolehan makanan ini, khususnya secara khifayah/kumulatif oleh suatu negara. Hal paling prioritas yang harus dilakukan oleh negara manapun hanyalah satu: makan!

Kasih makan rakyatnya hingga kenyang! Dengan pengertian, negara wajib menjamin kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya. (Sebab kalo pengertian makan ini Anda terjemahkan mentah-mentah, akan berbahaya… Bisa tabrakan dengan program keimanan berupa puasa 😛 Hehehe…)

Dalam sebuah kiasan, ini seperti Khalifah Umar bin Khattab yang memikul gandum sendiri langsung kepada (seorang) rakyatnya yang kelaparan. Dalam konteks negara, negara wajib memprioritaskan sustainabilitas kehidupan sektor agrikultur.

Maka dari itu, maka jaga sumber makanan kita. Jaga air, laut, hutan, dan lahan pertanian kita.

Jaga tanaman-tanaman kita. Jaga lingkungan dan alam kita. Jaga kehidupan sosial-pertanian kita.

Karena itu semua adalah langkah untuk menjaga kehidupan kita, kelangsungan hidup kita.

CMIIW, CMIIW, CMIIW.

Freema HW
– di KTP saya, pekerjaan saya tertera sebagai Petani.

Data didapat dari wiki, sebagian saya olah secara mandiri. Mohon periksa, telaah, dan koreksi lebih dalam, lebih detail, dan lebih lanjut.

(Ekonomi) Pancasila Syariah

Strong-sustainability

Sementara ini, saya hanya bisa meyakini, bahwa para (muslim) founder negeri ini adalah muslim smart & brilian dg kualitas jempolan A1 plus-plus; bukan muslim KW sekalipun KW super atau king-copy.

Kecerdasan dan kebrilianan mereka sebagai muslim justru dicerminkan dengan merumuskannya Pancasila sebagai dasar negara instead-of syariat Islam, meskipun banyak yg mengatakan bahwa meski dg “syariat Islam”, umat/pemeluk agama lain tetap terlindungi dsb. dst.

Termasuk perumusan sistem demokrasi-ekonomi Pancasila, yg mana ekonomi dijalankan dg azas kebersamaan/kekeluargaan; dan negara berhak menguasai sumber kekayaan alam namun sekaligus wajib menggunakannya untuk sebesar-besarnya memakmuran rakyat.

Sesungguhnya mereka telah menancapkan satu proses mutlak sistem ekonomi syariah: bahwa perekonomian harus dijalankan ‘based-on resources’ instead-of ‘based-on capital’.

Perekonomian dipondasikan pada proses: menggapai kepastian bersama (bahwa Tuhan hanya akan mengubah nasib kita jika kita berusaha mengubahnya) dan menghindari memastikan hal yg tidak bisa dipastikan (ribawi).

Hanya sekali lagi, prinsip syariah ini justru disembunyikan dengan halus alih-alih ditampakkan terbuka.

KENAPA mereka para muslem pendiri bangsa ini justru ‘menyembunyikan’ sistem syariah ini dan meng-rename-nya dengan nama demokrasi-ekonomi Pancasila?

Sebab mereka ingin negeri ini menjadi negeri yg Islami, mengimplementasikan nilai Islam: semua manusia berdiri sejajar untuk berproses mengejar masa depan, mengedepankan keadilan bersama, bermusyawaroh dalam merumuskan dan menetukan mufakat, menjaga kerukunan – persatuan dan kemanusiaan;

bukan menjadikan Indonesia negeri yg Arabi yg (menterjemahkan pola pandang Islam yg) dibangun dengan kekuasaan dinasti.

PARA pendiri negeri ini telah memagari negeri ini dari potensi adzab: kemiskinan, kemunduran peradaban, dst. dll. dsb. yg itu bisa datang melanda hanya karena polah-tingkah kita sendiri.

Kitalah yg kemudian berbuat kerusakan atas cita-cita itu: kita menyerahkan kekayaan alam dan SDM berkualitas ke antek asing, dan menggunakan sistem ekonomi yg based-on capital bukan yg based-on resources.

Kita telah berbuat kerusakan di muka bumi ini, merusak ‘sistem syariah’ berupa demokrasi-ekonomi Pancasila yg telah dipondasikan oleh para founding-fathers negeri ini.

Alhasil, krisis moneter & finansial dg enteng memporak-porandakan negeri kita dan menjerat setiap anak bangsa yg lahir dari rahim Ibu Pertiwi ini dengan tanggungan utang luar negeri yg nyaris mustahil terbayarkan jika tidak ada langkah revolusioner yg ‘super ekstrim’.

Itu hanya bayangan dan keyakinan saya, tanpa saya bisa menjelaskannya secara deskriptif, analitif, dan ilmiah.

Dengan kata lain, saya hanya asal njeplak ini.

Namun saya meyakininya sejauh ini.

Freema HW,
– pingin jadi kapitalis sayangnya gagal total telak. Hiks…