Atheis (Bersyukur)

SAYA membayangkan, kelak yg disiksa di neraka bukanlah atheis yg sebenarnya hanya kebingungan mengungkapkan ketauhidannya. Mereka para atheis hanya memilih menghindari dicatutnya asma Tuhan untuk peperangan dan segala kebiadaban lain yg katanya demi menegakkan amar maruf nahi munkar.

Atheis hanya sibuk menjalani kodrat dan khittahnya sebagai manusia: menggunakan otak/akal & pikirannya (aqli & fikr) untuk sesuatu yg membangun peradaban (=masyarakat madani), yakni masyarakat yg sehat karena dikembangkan ilmu medis, masyarakat yg tertib antri, tidak membuang sampah seenaknya, dan disiplin dalam berdagang karena dikembangkannya ilmu sosial dan ekonomi.

Masyarakat yg sehat karena dikembangkannya ilmu biologi/hayati. Masyarakat yg hidup mudah karena dikembangkannya ilmu fisika/eksakta. Serat masyarakat yg hidup indah karena dikembangkannya segala lini seni dan susastra.

Atheis, yg katanya menolak Tuhan, justru sangat bertuhan karena menjalankan kodratnya sebagai manusia, makhluk dan hamba ciptaan-Nya.

Mereka hanya kebingungan menyampaikan tauhiditasnya. Sebab jika meneriakkan Allahu Akbar atau haleluya, takutnya ada yg berperang karena dua kata itu…

Tuhan tau segalanya, Dia maha pengampun. Dialah yg menetukan kita semua bagaimana.

Kita hanya menjalaninya untuk mencari dan terus mencari.

SAYA membayangkan, kelak yg disiksa di neraka adalah mereka yg paling getol melecehkan Tuhan, Allah SWT.

Mereka yg gemar meneriakkan Allahu Akbar sambil mengotori bumi milik Allah. Sekali lagi, bukan bumi milik pemda atau juragan kaya, melainkan milik Allah!

Mereka yg senantiasa mengingat Allah namun sekaligus terus-menerus melupakannya. Bersedekap, membungkuk, dan bersujud menyembah Allah sekaligus dengan satu waktu membuat kerusakan: mengotori sungai dengan sampah, menebang pohon tanpa rekoveri, meminta pungli untuk pengurusan SIM, dan menyuap untuk menaikkan antrian haji.

Tak lupa, menebar rahmat… maaf, sampah di seantero bandara orang.

Mereka yg harusnya menebar rahmah mengayomi pelacur, memberi makan maling yg kelaparan, dan membangun budi pekerti dan keilmuan putra-putri anak peradaban justru sibuk dan tak kenal henti mengkafirkan orang lain.

Dengan satu kekuatan diri untuk menghadapi kata-kata ini: demi memurnikan akidah.

Mereka: para orang tua, guru, sampai menterinya sibuk menejrumuskan otak anak-anak bangsa ini ke otak yg jauh lebih rendah ketimbang naluri alamiah binatang.

Anak-anak penerus bangsa dicekoki dengan angka, angka, dan angka.

Angka raport harus tinggi. Angka ujian harus penuh. Berikutnya angka gaji harus melambung.

Oleh karenanya, sejak dini mereka hanya sibuk les, lupa cara antri dan membuang sampah.

Mereka sibuk mengejar nilai, lupa memenuhkan diri dengan budi pekerti dan jiwa kemanusiaan.

Sibuk mencari peluang jabatan, lupa terhadap kesalehan sosial.

Kebaikan belakang akan dinominalkan dengan CSR (corporate sin removal instead-of corporate social responsibility).

Kesuksesan pembangunan diukur dengan angka: angka pertumbuhan ekonomi yang linier dengan angka kejahatan segala kejahatan: kejahatan keras putih maupun kejahatan jalan raya.

Karena kesalehan sosial tidak pernah bisa diukur dengan angka, selamanya.

Karena sejak dini kita sudah didorong melebihi batas kemampuan kita berlari untuk mengejar angka.

Karena dosa kita konon bisa terhapus cukup dengan angka: 7 kali, 33 kali, dan seterusnya.

Dan para orang tua yg sibuk mendorong anaknya untuk berkaya dengan angka, sibuk menunggu les atau menjemput pulang sekolah, dengan memarkir motor sembarangkan ala kadarnya.

Satu menghadap barat satu menghadap timur satu menghadap utara.

Karena keseuaian arah bagi merka semua hanyalah arah kiblat.

Maka parkir motor sembarangan dan mengganggu jalannya lalu-lintas lalu-lalang kendaraan dan orang bukanlah sebuah perbuatan dosa. Karena tidak ada di Quran maupun hadisnya.

*Raimu suwek cuk!*

SAYA membayangkan, kelak yg disiksa di neraka adalah mereka yg paling getol mengkoreksi posisi tangan ketika bersedekap, arah mata ketika melihat sajadah, atau letak siku ketika bersujud.

Biar ndhak mirip onta, biar ndhak mirip ini itu.

Doa yang menyatakan ketaklukan kita sebagai manusia di hadapan Tuhan, manusia yg sesungguh-sungguhnya hanya bisa semua-semuanya karena pemberian, petunjuk, dan tuntutan Tuhan semata bolah dan bisa di-by pass.

Ndhak menghilangkan rukun dan syaratnya katanya.

Padahal seluruh sikap dan perbuatan kita dalam hidup ini sesungguhnya adalah rukun dan syarat.

Kita berdiri agar Tuhan mengenal kita: kita yg mengaku sebagai hambanya.

Kita membungkuk agar Tuhan menerima penghormatan dan permohonan ampun kita hanya kepada-Nya.

Kita bersujud agar Tuhan menerima sembah kita.

Tuhan tidak memerlukan itu semua, Dia tidak akan pernah kehilangan kebesaran-Nya hanya karena kita melakukanny atau tidak.

Kitalah yang membutuhkan, sebab kita manusia.

Manusia yg kemudian harus berjalan untuk bersyukur.

Bersyukur atas anugerah sehat kita untuk bekerja membangun peradaban, bukan untuk menumpuk harta.

Bersyukur atas anugerah otak kita untuk berpikir, berpikir membangun peradaban, bukan untuk menguasai sumber daya alam untuk kepentingan diri sendiri.

Bersyukur bahwa di kiri-kanan kita ada tumbuhan. Untuk dilestarikan. Untuk hidup kita.

Bersyukur bahwa kita semua punya beragam teman. Untuk dikasihi dan dicintai sesama dan semuanya.

Bersyukur dan senantiasa bersyukur, hingga senja dan malam hidup kita datang menjelang.

Ya Allahu ya rabb, berikan selalu hamba dan seluruh umat manusia ini petunjukmu. Yakni jalan yang Engkau ridhai, bukan jalan yang Engkau murkai bukan pula jalan yang sesat.

Freema HW,
– serasa atheis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s