Nyadran, Istighotsah, Tahlilan

Hari ini saya agak repot. Banyak rangkaian acara bersih desa yg perlu untuk saya ikuti.

I

Sore nyadran di punden desa. Biasa, beberapa tetangga ada yg rutin setiap taon/setiap sura/muharram ‘nyadran’ (selamatan) di punden desa.

Mereka menyembah kuburan?

Bukan. Mereka berdoa kepada Allah, agar arwah yg dikubur diampuni segala dosanya dan diterima segala amalnya.

Yg dikubur adalah Prabu Anom/Kyai Doko. Dipercaya sebagai cikal bakal desa kami. Karena jasa beliaulah Tuhan memberi kami untuk memiliki kehidupan di sini, di desa ini.

Karena menata kehidupan kemasyarakatan, beliau dianggap penyiar islam juga (islam = berserah diri kepada Allah dan menata kehidupan ini untuk lebih baik, rahmatan lil alamin).

Selanjutnya setelah doa (dibaca dalam bahasa Jawa dan bahasa Arab), yg punya hajat nyadaran membagi makanan. Ini adalah sedekah dan syukur atas kehidupan sejauh ini.

Makanannya penuh simbolik. Ada ayam kampung dst., penuh bahasa simbolik.

Semuanya (makanan dan penataannya itu) berbicara tentang fislosofi kehidupan. Sebagaimana pelukis berbicara dengan lukisan dan penari berbicara dengan tarian. Atau penyanyi berbicara dengan nada. Atau penyair yg berbicara panjang lebar dengan seuntai bait-bait syair.

Orang Jawa dan banyak masyarakat tradisional kita berbicara kepada kehidupan milik Tuhan ini dengan berbagai bahasa simbolik yg tertuang dalam berbagai pernak-pernik, termasuk upacara, adat masing-masing.

Tumpeng misalnya, menyimbolkan kesadaran kita untuk mengerucutkan dan memuncakkan kehidupan ini kepada Tuhan YME.

“Lalu bagaimana kalo ada yg menyembah kuburan?”

Itu klausulnya sama persis dengan sesiapa yg menyembah kekuasaan. menyembah harta-benda, sehingga begitu ketakutan jika tak punya harta dan mendudukkan harta sebagai penjamin kehidupannya.

Silakan Anda jawab sendiri.

“Om Freema musrik dong?”

Mungkin iya, karena saya begitu ketakutan kalo koneksi internet ini lambat banget; saya begitu ketakutan kalo ndhak punya duit; saya begitu ketakutan sama klien, bukan lagi sekedar keseganan profesional.

Bahkan mungkin saya sudah menuhankan agama & aliran saya, menganggapnya yg paling benar dan yg lain pasti salah instead-of menggunakannya untuk pengembangan & memperbaiki kualitas diri dan sebagai jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan turut bersama para manusia menata kehidupan dan menebar rahmat untuk semesta alam.

Dan berkali-kali saya juga menuhankan kebebasan saya, segala kebebasan saya tanpa mengenal batasan yg ada di sekitar: kebebasan inteletual saya tanpa pernah peduli batasan pemikiran orang lain, kebebasan pemikiran sosial saya tanpa pernha peduli keterbatasan pemikiran sosial orang lain, dan batasan logika saya tanpa pernah menggunakan hati, iman, dan takwa.

Kadang itu semua melebihi ketakutan saya kepada Tuhan YME. Rasanya mungkin saya sudah bertuhan ke tuhan selain Allah.

Itu mungkin saya.

Anda?

II

Malam bakda maghrib, istighotsah -meminta pertolongan Allah- di mushalla. Intinya sama, hanya kalo yg nyadran di kuburan memohon kepada Tuhan, Allah Sang Hyang Widhi Wasa dengan bahasa adat, yg ini dengan bahasa kultural islamis.

Saya ndhak membahasakan ini sebagai ajaran islam. Saya lebih menganggap ini sebagai budaya, tradisi saja. Yg dipengaruhi oleh nilai-nilai islam: tauhid, dan berserah diri serta hanya memohon segala sesuatu kepada Allah SWT.

Sebab di pandangan golongan lain, hal kayak ginian dianggap bidah/mengada-ada.

GPP, mereka juga punya alasan. Yg penting ndhak merugikan orang lain, dan yg penting semua tetep rukun, ndhak saling menyakiti, dan tidak mau diadu domba oleh siapapun.

Di sini saya mau dateng, soale semua dateng untuk mengagungkan nama Allah. Pun saya ketemu tetangga. Bisa sedikit ngobrol ke sana-kemari untuk menjalin keakraban. Selain juga untuk berembug tentang kondisi lingkungan tempat tinggal kami: fenomena pengendara yg semakin kencang di jalanan kampung, dst.

Jadi, bukan cuman komat-kamitnya yg dapet penghargaan dari gusti Allah (letsay pahala). Semangat yg menjiwai dalam doa itulah yg insya Allah akan dihargai-Nya: semangat menjaga kerukunan dan perdamaian, semangat bekerja keras mengisi kehidupan, semangat menjaga peradaban, dst.

Kalo komat-kamit doang lantas percaya itu jadi tiket sorga tanpa implementasi nyata di dunia, wallahu alam…

Cuman saya mengartikannya seperti orang yg belajar terus dan ndhak mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan nyata.

Ini cuman pandangan saya pribadi.

III

Bakda Isya’ kembali dilanjutkan tahlilan besar di punden Kyai Doko/Prabu Anom.

Dipimpin oleh Ustadz/Imam masjid terdekat. Diikuti oleh para warga sedesa yg bisa mengikuti.

Intinya sama, mengagungkan kekuasaan & kebesaran Allah bukan kekuasaan presiden RI apalagi presiden Amerika. Kemudian meminya segala ampunan atas dosa kita, dan meminta pengharapan hanya kepada Allah.

Kesimpulannya: kita sebagai manusia hanya bisa berusaha (ikhtiyar). Allah tetep yg menentukan.

Ini ying-yang sekali, balance.

Manusia khittahnya berusaha. Sebab hanya kita kaum manusia ini satu-satunya makhluk yg dianugerahi akal-pikiran. Dan itu untuk digunakan: diaplikasikan, diimplementasikan.

Kalo akal-pikiran ndhak digunakan dalam sisi kemanusiaan, itu kayak binatang ntar jadinya.

Dan usaha sekeras apapun kitam usaha tak boleh mengenal batas, hanya dan hanyalah diliputi oleh pengaharapan kepada ridha Allah semata, agar apa yg kita usahakan bermanfaat untuk semesta alam.

Sebab sebaik-baiknya manusia adalah manusia yg bermanfaat bagi sesama, bagi semua.

“Om Freema kaum sarungan ahlul-bidah wal jamaah niy?”

Silakan Anda nilai sendiri.

Sejauh itu ndhak merugikan saya, saya kan cueknya luar biasa.

Lebih enak saya mengikrarkan diri islam freelance aja, ndhak mau terikat aliran atau mahdzab. Sebagaimana rasulullah juga ndhak mengajarkan mahdzab atau aliran. Dan sebagaimana para imam pengajar mahdzab juga masih menggarisbawahi bahwa pandangan mereka bisa salah bisa benar juga.

Ndhak percaya sama imam brarti? Lebih dari itu, saya percaya dan justru ingin mencontoh mereka, sebagaimana mereka mencontoh rasulullah.

Para imam, ulama, dan semua wali itu bekerja keras dalam menyiarkan islam (ketauhidan, kepasrahan kepada tuhan yme). Mereka menggunakan banyak cara dan metode untuk implementasinya.

Dan ini yang harus kita contoh. Bukan justru mematikan otak hanya karena buta mengikuti mereka.

“Wah sesat niy orang!”

Alhamdulillah iya, dan hingga saat ini saya masih merasa senantiasa disayang Allah SWT.

Yg jelas saya juga membiarkan jenggot saya tumbuh, dan kadang celana saya saya naikkan, agar ndhak kesrimpet kalo pas perlu jalan cepet-cepet.

Freema HW,
– manusia ndhak jelas.

Ref: http://id.wikipedia.org/wiki/Bersih_Desa http://sebuah-dongeng.blogspot.com/2013/12/kirab-dan-bersih-desa-doko.html http://kabkediri.blogspot.com/2011/08/mokswanya-prabu-jayabaya-berserta.html http://id.wikipedia.org/wiki/Kyai_Tunggul_Wulung http://m.kaskus.co.id/post/000000000000000530705964#post000000000000000530705964

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s