Menengok Si Sakit

Kami mungkin harus siap dirasani (di-ghibah) tetangga. Kami mungkin harus siap dipandang aneh oleh tetangga. Sebab kami berseberangan dengan tetangga.

Saat tetangga berbondong-bondong menengok tetangga lain yg sedang dirawat di rumah sakit, dengan alasan memberikan support;

kami pilih meringkuk ngenet di rumah.

Kenapa?

– MENGGANGGU. Kadang mengunjungi si sakit bukannya malah menyenangkan, pada kondisi tertentu justru mengganggu dia. Termasuk mengganggu keluarga yg nungguin di RS.

Termasuk mengganggu kenyamanan pasien lain yg ndhak punya urusan dengan kita. Sering rumah sakit kelihatan crowded karena banyaknya pengunjung, dan jadinya kayak pasar.

– MUBADZIR. Saat mengunjungi teman/sodara yg sakit, sering kita membawa bingkisan, entah roti kaleng, buah. dll.

Si sakit belom tentu bisa memakan itu semua. Sementara bagi yg nunggu, bertumpuknya bingkisan yg dibawa si pembezoek kadang justru merepotkan. Disimpan di tempat ndhak ada tempat, buah bisa busuk/mengkerut karena mungkin dapat kelas kamar yg tanpa kulkas.

Akhirnya jatuhnya dibagi-bagi ke sanak-sodara yg lain.

GPP siy, cuman koq rasanya sebenarnya kurang enak aja memberikan pemberian orang.

– MERUSAK. Si sakit butuh istirahat untuk segera sembuh. itulah kenapa ada jam bezoek (berkunjung). Yg sudah dipertimbangkan sedemikian rupa ada si sakit tidak terganggu oleh kunjungan keluarga, teman, sodara, kolega, atau relasinya.

Pihak medis tentu sudah merancang pola penyembuhan buat si sakit. Ada program, skema, dan pola penyembuhan tadi yg kadang harus steril dari gangguan atau keterlibatan orang lain.

Kunjungan kita (dan kita-kita yg lain) yg sedikit demi sedikit jika diitung jatuhnya jadi bertubi-tubi bisa saja merusak skema penyembuhan medis untuk si sakit.

SEMENTARA di luar sana, ndhak mengunjungi si sakit seolah gak tepa-selira dengan tetangga. Ndhak ingat tetangga. Dll. dsb. dst.

GPP, sudah jadi konsekuensi untuk menentang pakem yg sudah kuat berlaku seperti itu.

Toh kami punya alasan. Dan siapa yg lebih logis dalam hal ini? 😛

KUNJUNGAN bisa dilakukan nantinya jika tetangga sudah sembuh. Sambil menjelaskan kenapa kita ndhak ke rumah sakit. Tentu pada jam di mana antar tetangga bisa luang untuk saling bertemu. Habis Isya’ misalnya.

Dimana para orang tua sedang santai sambil menunggu jam istirahat.

Bingkisan juga bisa dialihkan ke gula atau beras atau tetap roti kaleng atau buah. Toh memberikannya di rumah, tetangga yg pasca-sakit jadinya ndhak repot buat nyimpennya.

Deasy & Freema,
– Ekstrim terhadap tetangga, maaf kalo ndhak mengunjungi Anda ke rumah sakit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s