Atheis (Bersyukur)

SAYA membayangkan, kelak yg disiksa di neraka bukanlah atheis yg sebenarnya hanya kebingungan mengungkapkan ketauhidannya. Mereka para atheis hanya memilih menghindari dicatutnya asma Tuhan untuk peperangan dan segala kebiadaban lain yg katanya demi menegakkan amar maruf nahi munkar.

Atheis hanya sibuk menjalani kodrat dan khittahnya sebagai manusia: menggunakan otak/akal & pikirannya (aqli & fikr) untuk sesuatu yg membangun peradaban (=masyarakat madani), yakni masyarakat yg sehat karena dikembangkan ilmu medis, masyarakat yg tertib antri, tidak membuang sampah seenaknya, dan disiplin dalam berdagang karena dikembangkannya ilmu sosial dan ekonomi.

Masyarakat yg sehat karena dikembangkannya ilmu biologi/hayati. Masyarakat yg hidup mudah karena dikembangkannya ilmu fisika/eksakta. Serat masyarakat yg hidup indah karena dikembangkannya segala lini seni dan susastra.

Atheis, yg katanya menolak Tuhan, justru sangat bertuhan karena menjalankan kodratnya sebagai manusia, makhluk dan hamba ciptaan-Nya.

Mereka hanya kebingungan menyampaikan tauhiditasnya. Sebab jika meneriakkan Allahu Akbar atau haleluya, takutnya ada yg berperang karena dua kata itu…

Tuhan tau segalanya, Dia maha pengampun. Dialah yg menetukan kita semua bagaimana.

Kita hanya menjalaninya untuk mencari dan terus mencari.

SAYA membayangkan, kelak yg disiksa di neraka adalah mereka yg paling getol melecehkan Tuhan, Allah SWT.

Mereka yg gemar meneriakkan Allahu Akbar sambil mengotori bumi milik Allah. Sekali lagi, bukan bumi milik pemda atau juragan kaya, melainkan milik Allah!

Mereka yg senantiasa mengingat Allah namun sekaligus terus-menerus melupakannya. Bersedekap, membungkuk, dan bersujud menyembah Allah sekaligus dengan satu waktu membuat kerusakan: mengotori sungai dengan sampah, menebang pohon tanpa rekoveri, meminta pungli untuk pengurusan SIM, dan menyuap untuk menaikkan antrian haji.

Tak lupa, menebar rahmat… maaf, sampah di seantero bandara orang.

Mereka yg harusnya menebar rahmah mengayomi pelacur, memberi makan maling yg kelaparan, dan membangun budi pekerti dan keilmuan putra-putri anak peradaban justru sibuk dan tak kenal henti mengkafirkan orang lain.

Dengan satu kekuatan diri untuk menghadapi kata-kata ini: demi memurnikan akidah.

Mereka: para orang tua, guru, sampai menterinya sibuk menejrumuskan otak anak-anak bangsa ini ke otak yg jauh lebih rendah ketimbang naluri alamiah binatang.

Anak-anak penerus bangsa dicekoki dengan angka, angka, dan angka.

Angka raport harus tinggi. Angka ujian harus penuh. Berikutnya angka gaji harus melambung.

Oleh karenanya, sejak dini mereka hanya sibuk les, lupa cara antri dan membuang sampah.

Mereka sibuk mengejar nilai, lupa memenuhkan diri dengan budi pekerti dan jiwa kemanusiaan.

Sibuk mencari peluang jabatan, lupa terhadap kesalehan sosial.

Kebaikan belakang akan dinominalkan dengan CSR (corporate sin removal instead-of corporate social responsibility).

Kesuksesan pembangunan diukur dengan angka: angka pertumbuhan ekonomi yang linier dengan angka kejahatan segala kejahatan: kejahatan keras putih maupun kejahatan jalan raya.

Karena kesalehan sosial tidak pernah bisa diukur dengan angka, selamanya.

Karena sejak dini kita sudah didorong melebihi batas kemampuan kita berlari untuk mengejar angka.

Karena dosa kita konon bisa terhapus cukup dengan angka: 7 kali, 33 kali, dan seterusnya.

Dan para orang tua yg sibuk mendorong anaknya untuk berkaya dengan angka, sibuk menunggu les atau menjemput pulang sekolah, dengan memarkir motor sembarangkan ala kadarnya.

Satu menghadap barat satu menghadap timur satu menghadap utara.

Karena keseuaian arah bagi merka semua hanyalah arah kiblat.

Maka parkir motor sembarangan dan mengganggu jalannya lalu-lintas lalu-lalang kendaraan dan orang bukanlah sebuah perbuatan dosa. Karena tidak ada di Quran maupun hadisnya.

*Raimu suwek cuk!*

SAYA membayangkan, kelak yg disiksa di neraka adalah mereka yg paling getol mengkoreksi posisi tangan ketika bersedekap, arah mata ketika melihat sajadah, atau letak siku ketika bersujud.

Biar ndhak mirip onta, biar ndhak mirip ini itu.

Doa yang menyatakan ketaklukan kita sebagai manusia di hadapan Tuhan, manusia yg sesungguh-sungguhnya hanya bisa semua-semuanya karena pemberian, petunjuk, dan tuntutan Tuhan semata bolah dan bisa di-by pass.

Ndhak menghilangkan rukun dan syaratnya katanya.

Padahal seluruh sikap dan perbuatan kita dalam hidup ini sesungguhnya adalah rukun dan syarat.

Kita berdiri agar Tuhan mengenal kita: kita yg mengaku sebagai hambanya.

Kita membungkuk agar Tuhan menerima penghormatan dan permohonan ampun kita hanya kepada-Nya.

Kita bersujud agar Tuhan menerima sembah kita.

Tuhan tidak memerlukan itu semua, Dia tidak akan pernah kehilangan kebesaran-Nya hanya karena kita melakukanny atau tidak.

Kitalah yang membutuhkan, sebab kita manusia.

Manusia yg kemudian harus berjalan untuk bersyukur.

Bersyukur atas anugerah sehat kita untuk bekerja membangun peradaban, bukan untuk menumpuk harta.

Bersyukur atas anugerah otak kita untuk berpikir, berpikir membangun peradaban, bukan untuk menguasai sumber daya alam untuk kepentingan diri sendiri.

Bersyukur bahwa di kiri-kanan kita ada tumbuhan. Untuk dilestarikan. Untuk hidup kita.

Bersyukur bahwa kita semua punya beragam teman. Untuk dikasihi dan dicintai sesama dan semuanya.

Bersyukur dan senantiasa bersyukur, hingga senja dan malam hidup kita datang menjelang.

Ya Allahu ya rabb, berikan selalu hamba dan seluruh umat manusia ini petunjukmu. Yakni jalan yang Engkau ridhai, bukan jalan yang Engkau murkai bukan pula jalan yang sesat.

Freema HW,
– serasa atheis.

Bidah

Di kalangan muslim, banyak berkembang tentang fenomena bidah: bahwa hari sekarang ini banyak sekali terjadi bidah. Dengan pengertian sederhana: sesuatu yg mengada-ada, yg di jaman Rasulullah ndhak ada tuntutan syariatnya, dan kita ada-adakan sendiri.

Bentuk pencontohan paling populer tentang fenomena ini adalah tahlilan, yg mana prosesinya adalah copas dari prosesi Hindu.

Lainnya itu beragam bentuk selamatan lainnya. Yg selain bidah, ini juga dianggap syirik.

Kalo kategorinya bidah adalah sesuatu yg bukan syariat tapi dilakukan seakan-akan itu syariat dan itu banyak diadopsi dari agama Hindu, saya agak sangsi dengan klasifikasi ini.

Kalo Hindu: sembahyangan di tempat khusus yg disucikan (Pura), muslim juga sembahyangan di tempat khusus yg disucikan (masjid).

Kalo Hindu menyembah patung, muslim juga menyembah batu besar kotak hitam.

Pendukung anti-bidah (yg kategorinya kayak tadi) pasti marah dan ndhak setuju, lho kita kan menyembah Tuhan, bukan menyembah Kabah!

Mungkin di internal umat Hindu juga, mereka menyembah Tuhan yang esa, bukan menyembah patung.

Kitalah yg secara sepihak memfatwa mereka menyembah patung, jika demikian kita juga harus legowo jika difatwa oleh pihak yg tidak tau kita, bahwa kita menyembah batu kubus besar hitam 🙂

Kalo Hindu baca-baca mantra-mantra ghaib, muslim juga suka komat-kamit baca mantra-mantra yg itu entah apa, katanya siy buat mohon ampun dosa dan minta pertolongan Allah agar kita selamat dan masuk sorga.

Pendukung anti-bidah (yg kategorinya kayak tadi) pasti marah dan ndhak setuju, lho kita kan beneran berdoa kepada Allah SWT?

Mungkin kita juga tidak paham, bahwa umat Hindu juga berdoa kepada Tuhan Yang Esa.

“Lho, tuhan mereka kan bukan Allah SWT?”

Mungkin itu cara mereka menyebut Tuhan Yang Maha Esa, dengan nama yg baik-baik dari mereka. Allah kan suka disebut dengan nama yang baik-baik to?

“Wah, mas Freema ini sesat, mencampur-adukkan agama, liberal, dst.”

Alhamdulillah, silakan dicerca saya sebanyak dan setinggi mungkin, jika itu bisa meningkatkan keimanan dan ketakwaan Anda, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan membuat Anda menjadi orang yg semakin bisa berbuat dan menebar kebaikan, semakin berlomba-lomba dalam kebaikan, dst.

Tapi jika Anda mencerca dengan kebencian: memvonis orang lain sementara kita bukan hakim, nanti urusannya sama Gusti Allah lho… 🙂 Berat lho itu 🙂

TADI saya mengatakan, bahwa memang banyak terjadi bidah jaman sekarang ini.

Iya, saya berani membuktikannya!

Bidah dalam pengertian dasar adalah mengada-ada, hal yg tidak ada di jaman rasululullah kemudian kita ada-adakan sekarang.

Apa saja itu? Apakah kalo dulu rasulullah naik onta sekarang kita bidah karena naik mobil?

Bukan 🙂 Karena pada dasarnya kita bertransportasi. Bentuknya aja yg berkembang. Karen apara ulama (=ilmuwan) di muka bumi ini menggunakan akalnya untuk semakin memudahkan kehidupan kita.

Para ulama itu menciptakan mobil, pesawat, kereta api, dst.

Lho, mereka kan bukan ahli agama? Kenapa disebut dengan ulama?

Astaga, ulama itu kan ilmuwan to? Jadi semua yg menggunakan ilmuanya adalah ulama!

Jangan mempersempit diri!

Mereka kan bukan orang islam! Mereka kan kristen!

Okey, kalo mereka kristen dan Anda tidak menyukainya, jangan gunakan semua produk mereka! Apapun!

Hayo, yg konsisten jadi orang Islam!

Jangan apa yg tidak disukai disalah-salahkan kemudian apa yg disukai dibenar-benarkan, dicari benarnya!

Ini kelakuan muslim yg kayak gini, malah jadi bahan olok-olokan dunia laho! Muslim itu plin-plan. Muslim itu maunya sendiri. Muslim itu begini-begitu!

Ibu Sina juga dulu yg diurus adalah masalah medis dan kedokteran. Itu ‘bukan islam’ kan?

Itu kan sama to kaya para dokter sekarang?

“Lho, tapi Ibnus Sina kan Islam?”

Trus apa bedanya kedokteran islam dengan non-islam? Bukankah mereka sama-sama melakukan proses penyembuhan terhadap penyakit?

-_-

*Silakan dipikir dengan pikiran terbuka, jangan pikiran sempit*

JADI, apa saja bidah jaman sekarang?

– BIDAH SHIDDIQ

Shiddiq artinya benar. Bukan hanya perkataannya yang benar, tapi juga perbuatannya juga benar. Sejalan dengan ucapannya. Beda sekali dengan pemimpin sekarang yang kebanyakan hanya kata-katanya yang manis, namun perbuatannya berbeda dengan ucapannya.

Sekarang kita banyak menghembuskan isu. Hal yg belom diverifikasi kebenaran dan buktinya, kita sudah main fatwa aja.

Rasulullah juga shiddiq dalam berdagang: beliau menunjukkan jika ada ujugn karpet yg beliau jual ada cacatnya, bukan disembunyikan sebisa mungkin.

Bagaimana dengan kita?

Pakah kita sudah menjaga syariah shiddiq ini atau telah membidahkannya sehingga banyak hal yg harusnya disampaikan kepada kustomer malah kita sembunyikan?

Benarkah kita sudah memverifikasi bahwa kustomer yang hendak kita beri kredit benar-benar mampu membayarnya hingga kredit lunas?

Benarkah kita sudah menyampaikan dengan segamblang-gamblangnya akad kredit dan kontrak kerja dengan klien/kustomer sehingga tidak menimbulkan selisih paham di kemudian hari?

Benarkah kita sudah shiddiq dalam menjual produk: spesifikasinya sesuai kita sampaikan, tidak ada yg tertutupi, dan ada jaminan purna jual atas produk yg salah spesifikasi/produksi?

Benarkah kita sudah melaksanakan juklak dan juknis tanpa ada sesiapa yg mengawasi kita selain Tuhan YME; ALlah SWT?

Benarkah gaji yg kita terima sudah sesuai dengan kinerja yg kita hasilkan?

Jangan melakukan bidah: kerja baca koran, gaji kelebihan beban. Yang penting target kustomer terpenuhi, kontrak kerja asal ditandatangani. Buah spek rendah dicampur kemudian dijual dengan buah spek tinggi.

Buat naik haji duitnya?

-_-

– BIDAH AMANAH

Amanah artinya benar-benar bisa dipercaya. Jika satu urusan diserahkan kepadanya, niscaya orang percaya bahwa urusan itu akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itulah Nabi Muhammad SAW dijuluki oleh penduduk Mekkah dengan gelar “Al Amin” yang artinya terpercaya jauh sebelum beliau diangkat jadi Nabi. Apa pun yang beliau ucapkan, penduduk Mekkah mempercayainya karena beliau bukanlah orang yang pembohong.

Saat ini, kita umat muslim yg dipercaya meneruskan khittah Quran dalam menebar rahmat bagi semesta alam, menciptakan masyarakat yg ihsan, islah, dan madani semakin terkaburkan amanah kita.

Kita semakin suka bertikai.

Kita malah suka mengkafir-kafirkan orang, sementara kafir kita sendiri lewat untuk kita koreksi sendiri.

-BIDAH TABLIGH

Tabligh artinya menyampaikan. Segala firman Allah yang ditujukan oleh manusia, disampaikan oleh Nabi. Tidak ada yang disembunyikan meski itu menyinggung Nabi.

Itu keyoword-nya: sampaikan segala firman Allah! Lain tidak!

Jangan CUMAN sampaikan apa yg kita sukai dan kita anggap benar sendiri, lantas yg lain kita anggap salah, dosa, dan masuk neraka.

Kita ini tabligh atau mau jadi Allah itu sendiri, yg berani menyampaikan apa yg hanya Allah yg bisa menyampaikan?

Kalo mau jadi Allah (=aku adalah Allah), caranya kita bukan bertidak serupa Dia: main kuasa, main hakim, main adzab, dst.

Melainkan jadilah sebagaimana Dia: berlomba-lomba jadi manusia paling pengasih lagi paling penyayang, berlomba-lomba jadi manusia yg paling pemurah, dermawan, dan memberi, berlomba-lomba jadi manusia paling pemaaf dan pengampun, dan seterusnya.

Itu kalo kita mau tabligh.

Jangan Tabligh ini kita bidah dengan memaksa dan paling membenarkan sudut pandang kita sendiri dalam menyampaikan apa yg dari Allah 🙂

– BIDAH FATHANAH

Fathonah artinya cerdas.

Ini yg paling marak terjadi saat ini. Kita banyak bergunjing dan lupa menggali kecerdasan. Alhasil, barang-barang kebutuhan sehari-hari sampe impor terus-terusan.

Kalo muslim itu cerdas, kenapa kita kembali gagal swasembada pangan?

Kalo muslim itu cerdas, kenapa bukan kita semua kaum muslimin ini yg menciptakan handphone, satellite, mobil, blender, rice-cooker, mesin-cuci, lensa, cetakan gelas, printer, laptop, dsb?

Kalo muslim itu cerdas, kita tidak akan terjebak dan terjerumus ke permainan suku bunga dan selisih kurs yg tidak mengandung asas keadilan di dalamnya!

Kemana fathonahnya muslimin? Malah koq Fathanah ditangkap KPK?

Rasulullah juga cerdas menjaga badan/kesehatan, lingkungan, dan alam sekitar. Pernah dengar rasulullah sakit? Padahal rasulullah adalah jagoan berpuasa karena saking miskinnya dia.

Inilah fathanahnya rasulullah. Yg kecerdasan sekarang ini bisa kita kembangkan ke metode menjaga kesehatan badan/tidak melakukan aktivitas yg merusak/menyakiti badn sendiri dan orang lain, tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuang sampah ke sungai, memilah sampah organik dan anorganik, tidak menebang pohon semena-mena, dst.

Inilah fathanah!!!

“Hey, bukankah muslimin hafal Quran?”

Alhamdulillah, saya senantiasa bahagia setiap kali mendengar ada hafiz baru muncul di muka bumi ini.

Setidaknya, mushaf Quran akan terus terjaga sepanjang masa, sebagaimana janji Allah bahwa Dia sendiri yg akan menjaga Quran. Janjinya diwujudkan dalam banyak hal.

Sekarang tinggal janji kita untuk mengimplementasikan Quran: tidak membuat kerusakan, tidak mengurangi timbangan, dan lakum dinukum waliyadin.

JADI, benar bukan bahwa saat ini banyak terjadi bidah?

Freema HW,
– Pelaku bidah paling melenceng dari syariah.

Nyadran, Istighotsah, Tahlilan

Hari ini saya agak repot. Banyak rangkaian acara bersih desa yg perlu untuk saya ikuti.

I

Sore nyadran di punden desa. Biasa, beberapa tetangga ada yg rutin setiap taon/setiap sura/muharram ‘nyadran’ (selamatan) di punden desa.

Mereka menyembah kuburan?

Bukan. Mereka berdoa kepada Allah, agar arwah yg dikubur diampuni segala dosanya dan diterima segala amalnya.

Yg dikubur adalah Prabu Anom/Kyai Doko. Dipercaya sebagai cikal bakal desa kami. Karena jasa beliaulah Tuhan memberi kami untuk memiliki kehidupan di sini, di desa ini.

Karena menata kehidupan kemasyarakatan, beliau dianggap penyiar islam juga (islam = berserah diri kepada Allah dan menata kehidupan ini untuk lebih baik, rahmatan lil alamin).

Selanjutnya setelah doa (dibaca dalam bahasa Jawa dan bahasa Arab), yg punya hajat nyadaran membagi makanan. Ini adalah sedekah dan syukur atas kehidupan sejauh ini.

Makanannya penuh simbolik. Ada ayam kampung dst., penuh bahasa simbolik.

Semuanya (makanan dan penataannya itu) berbicara tentang fislosofi kehidupan. Sebagaimana pelukis berbicara dengan lukisan dan penari berbicara dengan tarian. Atau penyanyi berbicara dengan nada. Atau penyair yg berbicara panjang lebar dengan seuntai bait-bait syair.

Orang Jawa dan banyak masyarakat tradisional kita berbicara kepada kehidupan milik Tuhan ini dengan berbagai bahasa simbolik yg tertuang dalam berbagai pernak-pernik, termasuk upacara, adat masing-masing.

Tumpeng misalnya, menyimbolkan kesadaran kita untuk mengerucutkan dan memuncakkan kehidupan ini kepada Tuhan YME.

“Lalu bagaimana kalo ada yg menyembah kuburan?”

Itu klausulnya sama persis dengan sesiapa yg menyembah kekuasaan. menyembah harta-benda, sehingga begitu ketakutan jika tak punya harta dan mendudukkan harta sebagai penjamin kehidupannya.

Silakan Anda jawab sendiri.

“Om Freema musrik dong?”

Mungkin iya, karena saya begitu ketakutan kalo koneksi internet ini lambat banget; saya begitu ketakutan kalo ndhak punya duit; saya begitu ketakutan sama klien, bukan lagi sekedar keseganan profesional.

Bahkan mungkin saya sudah menuhankan agama & aliran saya, menganggapnya yg paling benar dan yg lain pasti salah instead-of menggunakannya untuk pengembangan & memperbaiki kualitas diri dan sebagai jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan dan turut bersama para manusia menata kehidupan dan menebar rahmat untuk semesta alam.

Dan berkali-kali saya juga menuhankan kebebasan saya, segala kebebasan saya tanpa mengenal batasan yg ada di sekitar: kebebasan inteletual saya tanpa pernah peduli batasan pemikiran orang lain, kebebasan pemikiran sosial saya tanpa pernha peduli keterbatasan pemikiran sosial orang lain, dan batasan logika saya tanpa pernah menggunakan hati, iman, dan takwa.

Kadang itu semua melebihi ketakutan saya kepada Tuhan YME. Rasanya mungkin saya sudah bertuhan ke tuhan selain Allah.

Itu mungkin saya.

Anda?

II

Malam bakda maghrib, istighotsah -meminta pertolongan Allah- di mushalla. Intinya sama, hanya kalo yg nyadran di kuburan memohon kepada Tuhan, Allah Sang Hyang Widhi Wasa dengan bahasa adat, yg ini dengan bahasa kultural islamis.

Saya ndhak membahasakan ini sebagai ajaran islam. Saya lebih menganggap ini sebagai budaya, tradisi saja. Yg dipengaruhi oleh nilai-nilai islam: tauhid, dan berserah diri serta hanya memohon segala sesuatu kepada Allah SWT.

Sebab di pandangan golongan lain, hal kayak ginian dianggap bidah/mengada-ada.

GPP, mereka juga punya alasan. Yg penting ndhak merugikan orang lain, dan yg penting semua tetep rukun, ndhak saling menyakiti, dan tidak mau diadu domba oleh siapapun.

Di sini saya mau dateng, soale semua dateng untuk mengagungkan nama Allah. Pun saya ketemu tetangga. Bisa sedikit ngobrol ke sana-kemari untuk menjalin keakraban. Selain juga untuk berembug tentang kondisi lingkungan tempat tinggal kami: fenomena pengendara yg semakin kencang di jalanan kampung, dst.

Jadi, bukan cuman komat-kamitnya yg dapet penghargaan dari gusti Allah (letsay pahala). Semangat yg menjiwai dalam doa itulah yg insya Allah akan dihargai-Nya: semangat menjaga kerukunan dan perdamaian, semangat bekerja keras mengisi kehidupan, semangat menjaga peradaban, dst.

Kalo komat-kamit doang lantas percaya itu jadi tiket sorga tanpa implementasi nyata di dunia, wallahu alam…

Cuman saya mengartikannya seperti orang yg belajar terus dan ndhak mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan nyata.

Ini cuman pandangan saya pribadi.

III

Bakda Isya’ kembali dilanjutkan tahlilan besar di punden Kyai Doko/Prabu Anom.

Dipimpin oleh Ustadz/Imam masjid terdekat. Diikuti oleh para warga sedesa yg bisa mengikuti.

Intinya sama, mengagungkan kekuasaan & kebesaran Allah bukan kekuasaan presiden RI apalagi presiden Amerika. Kemudian meminya segala ampunan atas dosa kita, dan meminta pengharapan hanya kepada Allah.

Kesimpulannya: kita sebagai manusia hanya bisa berusaha (ikhtiyar). Allah tetep yg menentukan.

Ini ying-yang sekali, balance.

Manusia khittahnya berusaha. Sebab hanya kita kaum manusia ini satu-satunya makhluk yg dianugerahi akal-pikiran. Dan itu untuk digunakan: diaplikasikan, diimplementasikan.

Kalo akal-pikiran ndhak digunakan dalam sisi kemanusiaan, itu kayak binatang ntar jadinya.

Dan usaha sekeras apapun kitam usaha tak boleh mengenal batas, hanya dan hanyalah diliputi oleh pengaharapan kepada ridha Allah semata, agar apa yg kita usahakan bermanfaat untuk semesta alam.

Sebab sebaik-baiknya manusia adalah manusia yg bermanfaat bagi sesama, bagi semua.

“Om Freema kaum sarungan ahlul-bidah wal jamaah niy?”

Silakan Anda nilai sendiri.

Sejauh itu ndhak merugikan saya, saya kan cueknya luar biasa.

Lebih enak saya mengikrarkan diri islam freelance aja, ndhak mau terikat aliran atau mahdzab. Sebagaimana rasulullah juga ndhak mengajarkan mahdzab atau aliran. Dan sebagaimana para imam pengajar mahdzab juga masih menggarisbawahi bahwa pandangan mereka bisa salah bisa benar juga.

Ndhak percaya sama imam brarti? Lebih dari itu, saya percaya dan justru ingin mencontoh mereka, sebagaimana mereka mencontoh rasulullah.

Para imam, ulama, dan semua wali itu bekerja keras dalam menyiarkan islam (ketauhidan, kepasrahan kepada tuhan yme). Mereka menggunakan banyak cara dan metode untuk implementasinya.

Dan ini yang harus kita contoh. Bukan justru mematikan otak hanya karena buta mengikuti mereka.

“Wah sesat niy orang!”

Alhamdulillah iya, dan hingga saat ini saya masih merasa senantiasa disayang Allah SWT.

Yg jelas saya juga membiarkan jenggot saya tumbuh, dan kadang celana saya saya naikkan, agar ndhak kesrimpet kalo pas perlu jalan cepet-cepet.

Freema HW,
– manusia ndhak jelas.

Ref: http://id.wikipedia.org/wiki/Bersih_Desa http://sebuah-dongeng.blogspot.com/2013/12/kirab-dan-bersih-desa-doko.html http://kabkediri.blogspot.com/2011/08/mokswanya-prabu-jayabaya-berserta.html http://id.wikipedia.org/wiki/Kyai_Tunggul_Wulung http://m.kaskus.co.id/post/000000000000000530705964#post000000000000000530705964

Benarkah Masih Banyak Kemiskinan di Indonesia?


Apa perasaan Anda melihat foto ini?
– Gambar nemu dari internet.

Saat ini banyak perdebatan tentang angka kemiskinan. Ada yang bilang angka kemiskinan turun, ada yang bilang kemiskinan tetap merajalela bahkan meningkat. Entahlah…

Saya tidak ingin mengutarakan angka-angka di sini. Saya hanya sekedar melihat keadaan sekitar.

Rasanya kemiskinan di negeri ini ‘tuh cuman angka statistik doang buat nakut-nakuti kita atau sekedar buat komoditas politik belaka.

Saat kami mulai puyeng kecekik mikirin naiknya tarif listrik; bejibun manusia di sana – di sekitar kita masih sanggup membeli rokok, barang yang jika mereka tak membeli justru malah menyehatkan badan dan keuangan keluarganya.

Jika mereka sanggup membuang uang untuk membeli rokok, artinya kebutuhan hidup mereka sudah sangat tercukupi. Apapun kondisi hidupnya!

Jika memang miskin, kenapa masih membeli rokok? Kenapa duitnya tidak dialokasikan untuk kebutuhan utama?

Ah, kan mereka (maaf) kurang berpendidikan. Jadi mana ngerti tentang hal kayak gini?

Entahlah… Pasti pemerintah sudah melakukan upaya keras untuk membentengi (maaf) kaum miskin ini agar tidak membelanjakan uangnya yang (maaf) tak seberapa itu untuk membeli rokok, kebutuhan yang tidak perlu, dan pasti diarahkan untuk membeli kebutuhan primernya.

Kami kurang paham jelasnya tentang hal ini. Hanya dalam hati, jika ada kaum miskin yang masih merokok gini ditanggung hidupnya oleh pemerintah, rasanya koq aneh aja… Mereka ditanggung BPJS misalnya, tapi masih merokok. Koq enak ya?

Saya kurang tau apakah BPJS menolak klaim (khususnya klaim berkaitan ganggan paru-paru) dari kaum miskin yang merokok atau tidak. Hanya saja, dengan kondisi demikian tadi: banyak kaum miskin namun (mereka) masih sanggup membeli rokok, masihkah kita percaya dengan ‘kemiskinan’ yang merajalela di negeri ini?

Entahlah…

– Ibune Rahman,
Lagi ngelantur.

Sumpeh Ini Humor

Ini humor, humor ini :P

Ini bukan meme saya. Saya nemu dari internet. Hak cipta meme ada pada kreatornya.

Suatu hari dalam saluran screet CIA.

Obama bin Ladin: “Titipan saya gimana?”

Zuckernain…eh Zuckifli: “Aman Bos… Celana batik cuman 25 rb. Tanah Abang gitu loch!”

Obama bin Ladin: “Nguasai (pemerintah) Indonesia blokkk!!! Bukan batik Tanah Abang!!! Elu koq bisa-bisanya siy jadi Bosnya fesbuk?”

Zuckernain…eh Zuckifli: “Nah situ juga bisa-bisanya jadi presiden Amerika!

Tapi tenang aja Bos, rakyatnya udah ane kuasai koq… Mereka ndhak perlu jauh-jauh pergi ke Yerusalem buat menangis, meratap, dan curhat di tembok ratapan, wall of jericho – si batu menhir, atau west(ern)-wall, tembok (budaya) barat. Cukup ane wakili di wall digital buatan ane ini aja. Pan ntar situ tinggal nyeleksi gimana karakter dan kelakuan orang Indonesia… Ya to?”

Obama bin Ladin: “Bas-Bos engkong lu… Lagakmu udah ketularan orang Indonesia aja Suck… ef Fuck… Eh Zuck… BTW, thanks coy… Ente memudahkan kerja ane sekarang…. BTW lagi, ente jadi mau naruh server di Indonesia?”

Zuckernain…eh Zuckifli: “Kagaklah… Paling pemerintah Indonesia cuman nggertak doang, biasa nyari muka ke media. Mereka bilang demi kedaulatan negara, mana sanggup mereka nembus atau ngutak-atik server kita sekalipun kita taroh sini? Ane bikin pake sekuritinya, ente lindungi pake nuklirnya ya Bos?

Lagian inget kan blekberi yg dulu gencar digencet pemerintah RI biar naroh server di negeri yg elok cantih rupawi ini? Nyatanya mereka malah naruh semua dan pusat operasionalnya di jiran 😀

Cemen kan pemerintah RI itu? Kedaulatan cuman omong kosong doang bagi mereka, mana berani mereka ngelawan kita? Hehehe…

So, santai aja Bos! Paling ntar kita taruh semuanya di Singapura lagi, kayak semua perusahaan Amrik perpanjangan kita-kita ini. Kasihan dong Singapura kalo ndhak kita kasih kantor operasional, mau makan apa mereka? Sawah aja ndhak punya…

Untunglah ente punya penjilat setia kayak Singapura itu Bos…”

Obama bin Ladin: “Hakhakhakhakhak….! Emang Singapura doang? Gak tau apa suksesi di Indonesia siapa yg bikin? Tim kita coy! Indonesia masih jadi penjilat papan atas kita coy! Ah elu, kebanyakan nyari iklan mulu dari fesbuk situ…

Tapi bener juga siy bro, ente fokuskan semua ngikuti ente… Jangan sampe rakyat Indonesia menyadari: Freeport Cevron Newton masih mengemban misi kenceng buat ngeruk jeroan perut mereka soale… Liver, usus, lambung, limpa, sama jantung Indonesia harus kita habisi. Bantuin terus bikin isu-isu heboh di sana ya bro?

Kalo ndhak ngeruk abis isi perut bumi punya mereka orang Indonesia, makan apa kita?

Untunglah orang Indonesia itu ece-ece. Dikasih Galaxy S5 aja udah heboh tiada tara. Padahal kalo mereka mau mengembargo diri, mau swadeshi dan ahimsa, bener-bener makan dari perut bumi mereka sendiri, lusa udah tamat kita-kita ini bro…

Angkatan darat mereka kaum Indon itu emang senjatanya ece-ece. Senapannya melenceng tuh kalo buat nembak kita.

Tapi semangat mereka, ane takut bro… Kalo sampe kita ganggu Indonesia dari luar, mereka bisa meresapi Allahu Akbar dan bersumpah membela negerinya sampe titik darah penghabisan!

Dulu kita udah habis-habisan membiayai perang, mulai jaman Belanda sampe jaman sekutu. Hasilnya? Nihil! Mereka malah merdeka! Kamprettt itu Indonesia….

Tapi kita ndhak goblog koq… Satu-satunya cara: Indonesia hanya bisa pecah dari dalam. Lumayan efek kita create kerusuhan sejauh ini, bisa ngalihkan fokus otak orang Indon.

Jenderal dan pejabatnya rutin koq kita kasih retainer dan entertainment. Aman bro…

Allahu Akbar kita susupkan ke orang-orang barbar yg gayanya membela agama itu. Udah jadi crash horizontal kan sekarang?

Bantuin campaign juga ya: jangan sampe fesbuker ente tau kalo Islam itu mesti dikembangkan dengan damai dan universal. Jangan sampai fesbuker ente di sono tau kalo Islam itu justru mengayomi umat lain.

Jangan sampe orang Indonesia tergerak untuk mengatasi masalah dengan berbuat nyata: memberi pekerjaan kepada pelacur, apalagi sampe para laki-lakinya menikahi dan mengentaskan mereka.

Jangan sampe fesbuker di Indonesia meresapi bahwa maksiat harus ditolak dengan peradaban, keilmuan, pengembangan diri, dan adu kreativitas.

Biarkan maksiat merajalela dan jadi sumber pemicu kontra-horisontal. Ini salah satu misi abadi kita bro…

Asyiknya, rokok dan susu bubuk juga masih kenceng terjual di sana. Kalo sampe aku jualan itu di sini, bisa digorok leherku sama rakyatku sendiri…

Ente tau kan, susu bubuk aja mesti pake resep dokter di sini, dan bener-bener cuman buat emak yg ndhak bisa ngasih ASI?

Di sana kita bisa jualan bebas coi… Biar pada jadi anak sapi semua itu anak-anak Indonesia. Dan mudah-mudahan mereka orang Indon itu juga nyumbang susu bubuk banyak-banyak ke Palestina, bukan sapi buat susu segar.

Trus satu yg terpenting juga: minimalisasikan kampanye road-safety di Indonesia. Biarin mereka pada ngawur di jalanan. Ane paling bahagia kalo anak-anak muda generi penerus Indonesia itu pada mampus di jalanan. Serem kalo sampe mereka ntar diajari ngaji dan gedhenya berbuat kebaikan untuk bangsa dan negaranya.

Jangan lupa, blow-up kan ustadz mata duitan ya? Ustadz ikhlas lillahi-taala ntar bagian ane yg ngebasmi. Keparat mereka yg jihad-fisabilillah di kehidupan nyata sehari-hari gitu, bikin bener peradaban aja…

Jihad harus kita kamuskan dg pengertian sebagai pergi perang ke Afghanistan dan Iraq buat ngelawan cecurut-cecurut tumbal kita bro! Hahahaha!”

Zuckernain…eh Zuckifli: “Siap ndan! Kesetiaanku kepada keluarga tak akan pernah luntur!

BTW omongan ente pake logat Jawa juga, ndhak-ndhak aja dari tadi Bos?”

Obama bin Ladin: “Lha kan si Freema kunyuk ini yang nulis… Ya jadinya kayak gini kalimat ane… Brengsek emang itu Indon satu itu!”

Zuckernain…eh Zuckifli: “Iya keparat dia. Dia sama temen-temennya sering bikin server ane ngindex kata-kata subversif buat kita-kita Bos… Trus kita apain dia?”

Obama bin Ladin: “Santai aja bro, bagian ane buat ngelenyapkan dia ntar… Ndhak bakal ketauan koq ntar… Bagian ente tetep: terus-teruskan bikin umat Islam di Indonesia itu jadi umat yg sesat, umat yg sibuk beragama sehingga lupa bertuhan!”

Zuckernain…eh Zuckifli: “Siap gan! BTW, ndhak kasihan ama anak-istrinya dia Bos? Dia punya anak kecil lho… Tapi dia takutnya cuman Tuhan Yang Maha Esa…”

Obama bin Ladin: “Hadew… Mentang-mentang takutnya cuman kepada Tuhan YME, mulutnya asal ngablak kayak gini tuh anak…

Biar aja dia yakin kalo kehidupan ini sesungguhnya milik Tuhan mereka: kehidupannya si Freema, anaknya, juga istrinya dan semua yg percaya dan berserah diri kepada Tuhan mereka. Tapi kita belokkan kelakuannya.

Dengan cara gimana?

Jangan sampai dia berbuat kebaikan untuk alam semesta! Islam agamanya itu hanya akan mandul kalo umatnya sudah tidak lagi bisa membawa kebaikan untuk alam semesta!

Biarkan mereka berbondong-bondong ikut pengajian dan ceramah di masjid. Tapi belokkan isi ceramahnya dari menebar rahmah kepada alam semesta menjadi biang kesempitan. Belokkan ceramah para ustadz itu untuk membenci agama lain!

Belokkan ceramah para ustadz itu untuk menyesat-sesatkan aliran lain!

Intinya, jangan sampe orang Islam jaman sekarang berpikir sebagaimana para ilmuwan jaman kejayaan Islam yg menggunakan keimanannya untuk berpikir bebas untuk mencari, menggali, menguak, dan terus menyelami tanda-tanda (kebesaran) Allah dalam kebebasan berpikir yg sangat ilmiah: yakni berpikir yg kritis, analitis, logis, obyektif, konseptual, dan empiris.

Umat muslim sekarang harus tunduk dengan apa kata kyai! Kyai harus pasti benar!

Biarkan mereka semua ngantuk saat jumatan. Jangan sampai jumatan adalah pembakar semangat dan motivasi umat untuk menebar kebaikan kepada semesta alam: jangan sampai khotib berpesan pentingnya membuang sampah pada tempatnya, tertib dan santun bertatakrama lalu-lintas, menjadi bapak dan orang tua yang hangat untuk anak-anaknya, dan seterusnya.

Jadikan jumatan sebagai ajang mengigau para khotib dengan surga dan neraka, dengan mantra-mantra yg katanya bisa menghapus dosa berbulan-bulan lamanya.

Jangan sampe umat Islam cerdas dan menjadi pemimpin dunia dengan inovasi, teknologi, penemuan, pertanian yg semuanya untuk memakmurkan rakyat!

Lagian koq ada ya orang goblok kayak si Freema gitu? Percaya ama Tuhan yg kata mereka Maha Pemurah, tapi hidupnya susah gitu… Ngakak abis ane bro!

Lagian, sejak kapan siy ente punya hati Suck… eh Fuck… eh Zuck?

Kayak manusia aja ente punya empati dan perasaan bro!

Capek deh lama-lama ane sama ente -_- Duh…”

Zuckernain…eh Zuckifli: “Yakh namanya ane juga nanyak Bos… Pan situ yg urusan ama CIA dan Mossad gan…”

Obama bin Ladin: “Gayamu bro, pake gan-agan kayak kaskuser aja… 😛 Amerika dikit napa!

Lama-lama ente ketularan seneng pisang goreng sama keripik singkong, ane gampar ente!

Kita aja mati-matian bikin agar orang Indonesia demennya roti keju sama mayonaise… Kita ini mati-matian halus-halusan mengeser mulut-mulut orang Indonesia agar suka buah & sayuran impor dan menjauhi buah & sayuran lokal!

Kalo ente malah sampe suka nasi goreng sama lalapan, CIA bakal habisi ente!”

Zuckernain…eh Zuckifli: “Siap Bos! Pan kaskus juga ntar mau ane libas… Biar mereka ndhak dapet iklan lagi, biar iklannya ke ane terus…”

– Freemasorry, bukan freemansory

Kita Semua Adalah Ilmuwan

Yang kami dengar dari kisah sejarah era kejayaan Islam (Islamic golden age), diantaranya bahwa dulu isinya bejibun ilmuwan. Bejibun pustaka/pengetahuan. Bejibun logika (pemikiran).

Kalo kami bayangkan, mereka: Khwarizmi, Razi, Abu Bakar al Farisi, Ibu Sina, Ibnu Rushdi, Ibnu Khaldun dkk. yg teramat banyak untuk disebutkan benar-benar seperti orang yg menggunakan keimanannya untuk berpikir bebas untuk mencari, menggali, menguak, dan terus menyelami tanda-tanda (kebesaran) Allah dalam kebebasan berpikir yg sangat ilmiah: yakni berpikir yg kritis, analitis, logis, obyektif, konseptual, dan empiris.

Sekarang entah seperti apa (kami pribadi) harus meniru para ilmuwan Islam itu.

Mungkin yg bisa kami teladani adalah sikap kritis, analitis, logis, obyektif, konseptual, dan empiris dari mereka dan para penerus mereka yg terus ada hingga kini dari berbagai penjuru dunia; dari berbagai suku, ras, agama, dan berbagai jenis kegiatan mereka.

Entah ilmuwan, penjual makanan, sopir, petani, dll.

Sebab apapun aktivitas mereka, mereka harus terus senantiasa menggunakan logikanya untuk menyelesaikan tugas/tanggung jawabnya. Merumuskan tugas, metode pemecahan/penyelesaian, langkah yg diambil, dst.

Dengan kata lain: siapapun kita apapun kapasitas kita, kita semua adalah ilmuwan.

Hingga menemukan sebuah hasil: guna/manfaat untuk bersama. Untuk diri kita, orang lain, dan alam semesta.

Wallahu’alam bissawab…

Freema HW
– Renungan sambil memandangi pantulan wajah sendiri yg ndhak jelas di layar monitor.

Safety Features, (After)Life Features

ABS System

ABS System – Gambar nemu dari internet.

Begini, sepintas kalo kita bandingkan, orang-orang barat (Eropa, Amerika) terkenal dengan “nilai-nilai” keagamaannya yg “kurang”.

Tingkat “ibadah” mereka rendah, sedikit yg Islam, bahkan atheisnya besar jumlahnya.

Di sisi lain, kalo kita perhatikan, kualitas-kualitas barang atau pola kehidupan mereka justru manusiawi sekali.

Saat membuat mobil, mereka memaksakan diri membuat mobil ndhak murah, tapi harga mahal yg ada sarat diimbangi dengan berjibun fitur keselamatan. Banyak sensor yg memantau terus kondisi mobil sehingga jika ada fault/fail bisa ketahuan sehingga bencana lebih lanjut bisa dicegah;

fitur safety seperti ABS, EDC, dll. yg intinya untuk mengendalikan mobil tergelincir pada kondisi jalan licin atau pada kondisi pengereman yg kacau bisa diatasi dan ditangani secara sistemik sehingga potensi celaka lebih besar bisa dikendalikan atau diminimalisir.

Kenapa mereka yg “kurang beragama” malah bisa semanusiawi itu?

Ini belom kalo kita bicara tatanan sosial atau hal lain.

Orang barat yg terkenal “kurang beragama” itu justru terkenal mengerti antri dan ndhak suka main serobot.

Mereka terkenal ndhak mbuang sampah sembarangan. Di mana-mana bersih dilihatnya.

Belom lagi Linux itu, perangkat lunak komputer yg bebas (dan gratis) dicopy oleh siapa saja, dan sangat usefull untuk aktivitas komputasi sehari-hari.

Kenapa mereka sampai sebegitunya? Padahal mereka “kurang beragama”?

Atau sebenarnya mereka justru lebih beragama ketimbang kami, kita?

Apakah dengan menyematkan safety-features yg berjibun itu mereka takut akan kematian? Atau justru sebenarnya mereka hanya sekedar menyadari lemahnya menjadi manusia dan sekedar berusaha (=ikhtiar) untuk mempertahankan kehidupan?

Kami justru menemukan logika bahwa mereka sedang berikhtiar mempertahankan kehidupan, bukan menolak kematian. Sebab dengan budaya antri, budaya bersih, dst.; itu semua sangat menunjukkan bahwa kehidupan ini akan berlangsung terus (=diteruskan oleh generasi berikutnya).

Kalo menolak kematian, mungkin mereka akan sibuk membuat bunker dsb.

Sebuah canal.

Sebuah canal. – Gambar nemu dari internet.

ISLAM mengajarkan umatnya untuk sangat menghargai kehidupan.

Di Islam terkenal dengan jargon kebersihan merupakan sebagian dari iman. Tapi yg ada, di negeri ini jamak kita lihat sungai yg penuh sampah.

Islam menjamin derajat orang berilmu lebih tinggi ketimbang lainnya. Tapi implementasi dan aplikasi keilmuan di sini koq kami lihat (mudah-mudahan kami salah lihat) rendah sekali.

Mobil-mobil yg banyak terjual di sini adalah mobil yg miskin fitur safety-nya.

Barang-barang produksi yg kita kenal sehari-hari yg dibuat dengan implementasi keilmuan pun juga banyak yg bikinan luar negeri.

Lantas, kemana larinya ajaran Islam sejauh ini?

Kami yakin, Quran si guideline itu sebenarnya dipatuhi oleh umat Islam. Namun dalam bentuk apa?

Apa implementasinya? Ke mana aplikasinya?

Apakah membangun kehidupan yg manusiawi, dengan implementasi teknologi itu bukan hal yg Qurani dan Islami?

Kami yakin banyak sebenarnya yg menterjemahkan Quran ke dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi kenapa yg kami dengar cuman seputaran Bung Ricky Elson yg mati-matian membuat kincir angin energi terbarukan untuk rakyat negeri ini? Dan Ricky Elson-Ricky Elson lain yg menemukan ini itu namun kemudian (di)hilang-lenyap(kan) beritanya tanpa kita melihat wujud nyata penemuannya?

Ayo, tunjukkan kepada kami, kepada Indonesia, kepada dunia, bahwa kita (umat Islam) ini sungguh mengimplementasikan ilmu yg sarat dan penuh dalam Quran untuk kehidupan ini. Yg kami pahami, bahwa cara kita menjalankan kehidupan ini adalah bentuk persiapan untuk akhirat.

Mohon pencerahannya.

Freema HW
– Kurang beragama.