Junk vs Etika Lisan Digital

Anda tentu paham junk-mail. Email gak penting, biasanya promosi, yg oleh provider email langsung difilterr dan masuk folder junk.

Dan Anda yg aktif mengikuti sebuah milis, group, forum, dll. mungkin pernah mengalami perasaan seperti ini: “Hadew, ini posting gak penting-penting, bikin penuh notifikasi aja… Bermutu dikit napa?”

Ya, itulah junk-post.

Junk-post

Ilustrasi nemu dari internet.

Hari gini, masih banyak yg lupa & gk sadar ketika berkomunikasi digital, khususnya tentang junk. Junk bisa diartikan one-line posting ato apapun yg tak berguna. Misalnya “Yoi…” “Oke” “Sip” dll. Yg memang tanpa makna.

Sebenarnya, etika komunikasi (tulis) digital ini sudah ada sejak jaman interaksi sosial digital hadir. Mulai adanya milis sejak tahunan silam, blog, hingga kemudian sekarang forum-forum (webforum) hingga fesbuk dan twitter. Biasanya etika lebih detail dimaktubkan oleh admin pada masing-masing forum/group.

Di forum besar seperti Kaskus dll. junk sangat dicela oleh warga negara forum-kaskus.

So, gunakan etika menulis.

Mungkin ada junker (yg hobinya cuman ngejunk) yg berkilah, “Ah aku kan cuman basa-basi!”

Well, bagaimana orang tahu Anda tak basa-basi bisa tak melihat Anda secara langsung? Justru kadang ‘basa-basi’ dalam dunia digital bisa menjadi sesuatu yg to-the-point. Dengan apa orang bisa tahu? Sekali lagi: dengan pemilihan/susunan kata (diksi) dan tata krama bahasa (tulis) kita tentunya!”

FENOMENA (junk) ini memang berbalik dengan ‘negatif news’. ‘Negatif news’ (dengan tanda petik) adalah hal yg bila kita beritakan pun sebenarnya tak mengubah keadaan. Misalnya ketika kita hendak mengabarkan bahwa kita selamat dari banjir di perumahan ke saudara di luar negeri. Dengan tidak mengabarkan berita ini ke mereka, keadaan memang tak berubah, yakni kita memang selamat. Fungsi mengabarkan di sini adalah hanya untuk kebutuha psikologis semata (meskipun ini memang perlu, hanya konteksnya bukan demikian).

Lain halnya dengan mengabarkan berita kalau rumah kita roboh tertimpa banjir ke saudara di luar negeri. Bisa jadi dengana danya berita ini kepada mereka kita mendapatkan reaksi riil/aktual, entah misalnya dikirimi dana untuk perbaikan rumah, dll. apapun bentuknya yg bisa dikatakan ‘terlihat fisikali’.

Junk atau oneliner posting bukanlah negatif news, yg mana kita akan merasa ‘aman’ kalau mendapat postingan tsb. Junk adalah postingan yg memang negatif sifatnya. Hanya saja memang penilaian positif-negatif ini memang tergantung kondisi, situasi, atau lokasi (interaksi digital) di mana kita berada.

Ada memang kadang -misalnya- forum reuni teman-teman sekolah yg sekarang sudah pada punya anak dan membicarakan masa-masa sekolah. Tentu isinya akan menjurus ke ‘junk’ semua.

‘Junk’ di sini justru kami beri tanda petik karena memang hal/postingan-postingan yg sekilas mirip junk namun itu sebenarnya memang sedang disuasanakan pada kondisi tsb. So jadinya postingan yg muncul pada forum-forum demikian akan berisi “Awas kamu/awas loe ya!” “Halah sirik aja kamu!” “Buset dah…” Dst. dll. yg ‘begitu-begitu’ saja. Karena memang kebutuhannya adalah interaksi yg memang tanpa isi, sekedar lips-service saja untuk menyambung silaturahmi yg lama terputus.

Hanya saja memang ini tentunya ‘harus’ okasional, bukan terus-terusan lips-servicing demikian.

TENTU lain halnya kalo sedang membicarakan hal serius dengan suasana santai. Misalnya merancang reuni atau arisan bersama. Meski acara ini secara definitif de-facto adalah sangat informal, tetap kaidah etika interaksi/komunikasi dunila digital harus kita pegang teguh. Meski untuk membuat/merancang acara santai, tentu setiap posting kita harus bermuatan.

Misalnya merancang tempat yg mengakomodasi kebutuhan banyak orang dengan beragam latar belakang. Misalnya arisan kawan-kawan lama, di mana nanti yg datang ada yg sendirian, ada yg bersama keluarga, ada yg menyelakan waktu luang di sela-sela tugas kerja, dll. yg bisa jadi akan membuat ‘kerumitan’ untuk masalah ‘sepele’ seperti waktu, lokasi, format acara, dll.

Bila memang acara tersebut disepakati bermakna, misalnya arisan untuk sekaligus mendeklarasikan komunitas pendukung reboisasi misalnya, tentu sebagaimana-bagaimananya acara tersebut harus dirancang dengan seksama.

Yg paling umum adalah secara alimiah ataupun secara sistematis akan ada moderator yg mengatur jalannya diskusi. Ini tindakan alamiah, sebagaimana semua kelompok pasti akan memunculkan pemimpin. Entah sekedar ketua kelas, atau pemimpin klan gajah di padang safari. Bila tanpa moiderator/pemimpin, forum tentu akan berantakan.

Di sini akan muncul rule-rule de-facto biasanya. Misalnya moderator berhak untuk demikian-demikian atau sekedar begini-begini saja, dll. Misalnya moderator berhak untuk mem-banned anggota forum atau hanya sekedar mengatur jalannya interaksi forum yg kebetulan ada anggota yg mis-komunikasi, dll.

Baik moderator maupun anggota forum harus paham etika dunia digital. Bagi anggota forum haruslah menelaah masalah sebelumnya (yg telah diposting sebelum-sebelumnya) sebelum melontarkan pendapat. Ini hal klasik dan sederhana. Bentuk teknisnya, jika Anda bergabung belakangan dalam sebuah milis atau thread diskusi, tentu konsekuensi Anda untuk membaca dulu posting-postingan yg telah beredar sebelumnya. Biar nggak OOT (out of topik) or lainnya.

Bila forum atau milis atau thread sudah berjalan sedemikian lama, misalnya tahunan atau bulanan dengan posting yg sudah sangat banyak dan beragam, maka hal yg paling sederhana adalah kita memposting dengan permohonan maaf kalau dobel posting. Kelihatan sederhana, hanya menambahkan “Maaf baru join, mungkin pertanyaan saya sudah terlontar sebelumnya…” begini saja kadang banyak yg alpa melakukan.

Bila kita bersedia mendudukkan diri sebagai ‘anak baru’ yg sedang berusaha mengejar alur dan historikal forum, anggota forum yg lain niscaya tak akan keberatan koq untuk membantu Anda mereview dan meng-summary tema-tema yg telah beredar sebelumnya.

Ada kejadian beneran yg saya alami, seorang teman anggota thread di fesbuk saya bertanya sederhana, “Ini maksudnya apa sih koq tiba-tiba minta begini?” Padahal dia hanya kelupaan membuka earlier message atau pesan sebelumnya yg tergulung secara otomatis oleh sistem fesbuk, sehingga ahistoris terhadap apa yg sedang dibahas.

JUNK bisa jadi mewakili diversifikasi bentuk interaksi kita dari dunia lisan ke dunia digital. Bila etika komunikasi lisan kita telah memahaminya, misalnya tak to the point kala menyindir, atau berbahasa halus kala mengkritik, dll. yg disesuaikan dengan kondisi, situasi, dan lokasi di mana kita berada, di dunia digital hal seperti ini masih tetap harus kita jaga namun dengan bentuk berbeda.

Dunia digital (yg sebenarnya tetaplah sama bentuk komunikasi tertulis) tidak mengenal raut muka, gerak/bahasa tubuh, intonasi, dll.

Manusia berusaha melambangkan apa yg tak terlihat tersebut dengan simbol-simbol, yg kerennya sekarang menjadi emoticon beserta pola susunan kalimat yg kita atur sedemikian rupa untuk mewakili perasaan.

Kalimat “Mmm… gimana ya aku mesti bilang ke kalian… Sebenarnya nggak enak sih, cuma aku mesti bilang begini…” Sudah cukup untuk mewakili bentuk lisannya. Namun ini juga masih bisa dianggap kita berpura-pura nggak enak. Kenapa, ya karena kita nggak tahu mimik si penulis pesan tersebut! Meskipun bisa jadi penulis pesan memang sedang ‘nggak enak buat ngomong’.

Bisa jadi kita akan mengungkapkan hal tersebut dengan kalimat demikian, “Aku nggak enak mo bilang. Bener-bener nggak enak. Ini aku beneran nggak enak dan nggak aku buat-buat lho… Tapi aku mesti bilang begini…”

Meskipun kita memang benar-benar tulus merasa nggak enak, namun kalimat kita di atas bisa jadi ditanggapi lain oleh si penerima pesan. Misalnya kita lagi sewot dan ngomong ketus. Karena apa? Ya karena kita nggak tahu mimik si pengirim pesan… Meskipun bisa jadi si pengirim pesan memang benar-benar nggak enak hati buat ngomong.

So, gimana mestinya?

Hal yg paling sederhana adalah to the point. Ini adalah hal simpel untuk mengurangi segala bias yg diakibatkan eksperimen kita untuk mencoba membawa intonasi, bahasa tubuh, dan hal lisan lainnya ke bahasa tulisan.

Kemudian, atur diksi (susunan kata) yg sedekat mungkin tidak bias dan tidak kasar di kultur interaksi tertulis kita.

Saya juga agak bingung memberikan contoh, namun hal di mana orang Inggris menganggap bahasa (tulis) American-English adalah kasar bagi mereka setidaknya bisa dijadikan contoh bagaimana ‘berkultur’ di bahasa tulis ini.

Mungkin untuk mengungkapkan ketidakenakan hati untuk mengatakan sebenarnya bisa saja diwkili dengan kalimat, “Dear Mr. Man! Sebelumnya saya mengungkapkan maaf beribu maaf untuk mengungkapkan apa yg harus saya sampaikan kepada Anda. Namun hal ini harus tetap saya sampikan untuk sekiranya bisa ditindaklanjuti bersama secara bijaksana. Bahwa perihal pembatalan kontrak sepihak oleh prinsipal berkaitan dengan…”

Demikian (contoh) formalnya.

Mungkin (contoh) informalnya kita bisa menyampaikan, “Yth. Ibu Putri, sebelumnya saya ingin mohon maaf sebesar-besarnya untuk mengungkapkan apa yg saya sampaikan kepada Ibu. Hal ini tetap harus saya sampaikan agar bisa ditindaklanjuti secara sederhana saja. Bahwa beberapa paket yg ibu kirimkan kepada saya ternyata isinya kurang sesuai dengan apa yg saya bayangkan sebelumnya…”

Banyak yg ‘diperhalus’ di sini. Seperti mengatakan menjadi mengungkapkan; saya kehendaki menjadi saya bayangkan’ dan lain sebagainya pada contoh yg bisa kita temukan.

Penyederhanaan ini murni untuk tujuan interaksi dan mengurangi masuknya unsur lisan/non-tulisan ke komunikasi tulisan. Bukan penyederahaan politis ala orde baru mengganti kelapan dengan rawan pangan. Bisa dibedakan sekali koq…

Kita bisa saja berkilah, “Ah aku kan tak suka basa-basi!” Well, bagaimana orang tahu Anda tak basa-basi bisa tak melihat Anda secara langsung? Justru kadang ‘basa-basi’ dalam dunia digital bisa menjadi sesuatu yg to-the-point. Dengan apa orang bisa tahu? Sekali lagi: dengan pemilihan/susunan kata (diksi) dan tata krama bahasa (tulis) kita tentunya!

***

Namun, junk atau oneliner-posting ini berbeda dengan postingan pendek ala twit atau upping a thread. Twit pada twitter memang diformat pendek karena rekuirasi teknisnya demikian. Dan justru dengan spasi yang pendek ini maka peng-twit akan berusaha memadatkan inti ke inti yg linear saja, hal yg langsung dicerna sesuai urutan kata. Demikian gambarannya.

Upping thread sering difungsikan di thread-thread diskusi untuk menjaga kelangsungan thread tersebut untuk tetap hidup. Upping thread sering terlontar di forum-forum seperti Kaskus atau forum-forum senada lainnya. Dengan adanya yg hadir hanya sekedar untuk menaikkan thread, itu menunjukkan thread tersebut perlu/berguna bagi semua, penting untuk diperhatikan, atau masih perlu mendapat dukungan banyak bahasan.

Meskipun hanya diposting bahkan hanya dengan dua huruf, yakni “Up” ini tentu sama sekali bukan junk. Karena “up” tadi memang mengandung fungsi untuk menaikkan atensi thread.

Untuk fesbuk mungkin postingan ‘ala oneliner’ ini bukan berkategori junk. Karena desainnya untuk posting di wall sendiri mirip dengan twitter. Dan fesbuk justu lebih kaya di sini. Sama-sama bergerak/scrolling realtime, fesbuk diperkaya (enrichment) dengan berbagai ‘tambahan’ seperti tautan, foto, dll. bila dibanding (dan dilihat dari sudut pandang) twitter.

Yg bikin males kalo ada yg nge-junk di fesbuk, lebih ke pengertian celometan dengan banyak OOT (out of topik), bukan OOT yg berguna (karena banyak yg demikian dan benar-benar berguna).

Meski celometan-celometan yg muncul bisa kita hapus, at least ini menyibukkan dan makan hati juga. Ato kalo celometannya di bawah foto di mana kita di-tag, ya kalo kurang berkenan kita tinggal untag aja. Yg benar-benar menjengkelkan kalo celometannya ada di thread message. Benar (menjengkelkan) bukan? Si empunya thread mesti kita paksa bikin thread baru di mana kita tak diikutsertakan. (Mudah-mudahan fesbuk segera bikin fasilitas untag (unaddressed) kita dari thread message demikian)

Berbeda dengan milis. Bayangkan, sudah bandwith Anda terbatas, menunggu lama loadingnya sebuah halaman, hanya untuk kemudian melihat nongolnya ungkapan “siiip!” yg tanpa makna. bagaimana perasaan Anda? Apapun perasaan Anda, minumnya… eh, Anda harus sabar senantiasa!

So, mari kita bersama merangkai bahasa tulisan kita sebagaimana etika yg berlaku. Etika ini sangat konvensif, namun bisa kita patokkan dan kita pegang keberadaaannya. Di beberapa forum memang sudah dipaparkan etika forum menurut kultur masing-masing. Mulai bahasanya (konteks-nya) hingga isi (konten)-nya. Namun secara generik, etika berbahasa kita tetap bisa kita junjung tinggi bersama.

Mungkin dengan tidak ng-junk, tidak oneliner posting, dll. yg itu representasi dari “nonsense” ato tanpa isi dan fungsi sama sekali. Dan satu yg terpenting, dalam interaksi tulisan, jangan egois dengan pemahaman kita. Egois di sini maksudnya adalah kita jangan ‘merasa’ pada sudut pandang kita, misalnya “perasaan aku sudah bilang (=menulis) halus-halus koq itu tadi… Masak gitu aja bikin masalah sih?”

Itulah kalo kita memandang dengan egoisme kita. Padahal orang yg membaca pesan kita benar-benar tak tahu bahasa tubuh, mimik muka, dan intonasi kita saat kita membayangkan diri kita sendiri dan kemudian menterjemahkannya ke postingan. Lawan “bicara’ kita hanya bisa menilai dari susunan kata berbentuk kalimat yg ada di screennya masing-masing.

So, gunakan etika menulis…

Dan percayalah, orang yg banyak menulis (dan membaca) adalah jauh-jauh berkualitas dibanding orang yg banyak bicara (=omong) (dan tak suka membaca).

“Jangan banyak omong, tulis saja!” -HB Jassin-

CMIIW – Colek Me Ip I Werong

Kediri, 11 November 2010 Pukul 0:23
– Deasy Widiasena, Ny.
Ibu rumah tangga biasa, sedang berdiskusi bersama suami tercinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s