Guru dan Si Kecil, Dulu dan Kini

Education-teacher

Foto nemu dari internet.

Dulu, murid dimarahi orang tua di depan gurunya jika nilainya jelek, polahnya mengganggu orang lain dan lingkungannya, dsb.

Sekarang, guru dimarahi orang tua di depan muridnya, “Koq bisa sampai nilai anak saya jelek? Kamu digaji ngapain aja? Bisa ngajari murid-muridmu gak?”

ANGKA

Dulu, konsepnya jelas, 4 x 6 = 6 + 6 + 6 + 6. 2+3×8:4-1 hasilnya adalah 7, bukan 9. Murid dididik penyatuan konsep agar tidak menimbulkan beda persepsi. Kepentingan bersama (satu persepsi) dikedepankan.

KALIMAT

Ini belum masalah bahasa. Dulu, kita patuh dengan subyek – predikat – obyek – keterangan, dan beragam kombinasinya dalam menyusun kalimat. Alhasil, dalam setiap kalimat yang kita susun jadi jelas maksud, isi, makna, dan tujuannya.

Sekarang jaman SMS, whazzap, dan fesbuk.

Bahasa yang kita tuang kadang hanya apa yg sesuai dengan maksud, pengertian, dan persepsi kita sendiri. Bukan sesuatu yg kita susun agar orang lain memahami pesan apa yg kita sampaikan. Alhasil, jamak kemudian terjadi artis bertikai di pengadilan hanya karena sesuatu yg tak perlu: miskomunikassi dan mispersepsi. Mungkin itu salah satu dampak, hasil, dan akibat kita meremehkan tata bahasa.

Belum lagi ditambah acara bete-betean pada sesama anak muda hanya karena beda menterjemahkan kalimat. (Dulu kita tak mengenal slang bete ‘kan?)

SEKARANG, guru di-bully karena dianggap gk bisa memberikan kebebasan berpikir kepada murid-muridnya.

Jika para guru se-Indonesia kemudian mogok mendidik karena tekanan tak jelas kepada mereka, mungkin bangsa ini baru melongo ternganga dan bakal berbalik ribut membela para guru.

KAMI bukan penentu kurikulum. Kami, orang tua si kecil ini, justru (terpaksa) mengikuti kurikulum karena sejauh ini itulah yg kami bisa jadikan pegangan dan ikutan dalam rutinitas menemani si kecil mengerjakan PR saban malam.

Jadi, kami tak hendak dan tak sedang menyalah-nyalahkan kurikulum.

Kami hanya sekedar mengambil sejumput hak untuk mengkritisi perjalanan waktu kami, perjalanan waktu bangsa ini.

Kami mengikuti kurikulum saban malam, tapi kami telah memegang tetapan di tangan sendiri untuk meraba garis waktu dan masa depan si kecil dalam detak jam keluarga kecil kami, dunia kecil kami.

GURU juga manusia. Kadang mereka lalai dan alpa membangun keleluasaan berpikir kepada anak-anak didiknya untuk menuju satu persepsi. Saat mereka alpa, mari kita ingatkan dengan santun dan bernas.

Tapi marilah kita juga menjadi orang tua yang bijak dan cerdas untuk anak-anak kita.

Mari kita menjadi orang tua yang menyesakkan gizi dan nutrisi sehat ke buluh nadi putra-putri kita: baik nutrisi makanan maupun nutrisi jiwa.

Mari kita ajari putra-putri kita kebiasaan meminta tolong, meminta maaf, dan berterima kasih.

Mari kita ajari putra-putri kita antri dan membuang sampah dengan benar.

Bukan sekedar teriak kencang menuntut guru, sementara di rumah kita sendiri yang merusak nilai-nilai pendidikan si kecil.

Bukan sekedar mati-matian me-les-kan si kecil demi angka dan angkawi, sementara di rumah kita sendiri yang melunturkan pengembangan nurani si kecil. Dengan memaksa mereka menjadi robot nilai ujian dan budak angka rapor.

DULU DAN SEKARANG, banyak hal telah berganti dan berubah. Cara telah beragam. Tapi persepsi yg sama itulah yg membangun kesatuan dan menghindarkan perpecahan.

Untunglah, dari dulu hingga sekarang masih ada yang mengajarkan persepsi yang sama, hal yang tetap membuat kami bahagia. Dulu ada si Unyil yang mengajarkan persepsi kebersamaan, nilai-nilai pertemanan, nilai-nilai dan makna kasih sayang kepada sesama, menebar jiwa keikhlasan dan saling menolong, serta kemauan membangun diri dengan pengetahuan.

Kini apa yang dikampanyekan oleh Unyil masih ada, hanya saja berganti Upin dan Ipin yang menggantikannya. Bukan Laptop si Unyil.

Dulu dan sekarang, ada yang sama, ada yang beda.

Isi hidup ini telah berubah dan berbeda.

Namun prinsip hidup ini rasanya tetap konsisten. Kita harus tetap menebar dan mengedepankan kebersamaan, kerukunan, cinta kasih sayang kepada sesama dan semua: manusia dan alam raya; menebar jiwa keikhlasan dan saling menolong; serta kemauan membangun diri dengan keluasan-keterbukaan pemikiran dan penuhnya pengetahuan.

Semoga pemerintah bisa terus mengayomi rakyatnya.

Maaf kami sedang tidak berbicara matematika dan bahasa 😀

IMHO, CMIIW.
– Deasy Ibune Rahman,
Ibu rumah tangga dan guru les privatnya si kecil.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s