Indonesia Wajib Hancur

Orang utan - Indonesian genuine.

Foto dari wikipedia.

Sebenarnya Indonesia teramat mengerikan jika dibiarkan mandiri. Sangat mengerikan jika rakyat indonesia bisa meresapi pemahaman dan kesadaran penuh bahwa betapa kaya rayanya negeri ini.

Kita punya panas bumi masuk kelas terbesar di dunia. Panas bumi itu renewable kan?

Kita punya sawit masuk terbesar di dunia. Artinya, kita gak bakalan kehabisan biodiesel. Re-new-able!

Belom lagi kalo tanah-tanah gersang kita di sana-sini ditanami jarak kayak Jepang memaksa kakek-nenek kita dulu menanamnya tanpa dikasih tau buat apa.

Sama jepang ternyata dijadikan bahan bakar!

Renewble! Ethanol akan mudah dikembangkan.

Belom kalo mau niat nyergap ombak, angin, petir, dll. Bisa-bisa listrik gratis, per rumah dapet 10 rb watt unlimited!!! Tinggal ngolor kabel ke Jepang, Korea, panen duit listrik deh kita.

Jadi deh sekolah gratis, seragam dibelikan negara, makan siang siswa disediakan dg penuh gizi dan nutrisi; laboratorium alam super lengkap, siswanya cerdas semua, pas gedenya pada mengabdikan diri semua untuk negara; …ngeri! Indonesia bisa-bisa mandiri & tidak lagi tergantung oleh bangsa asing.

Tamat deh orang-orang asing yang numpang hidup dan nyari makan dari perut bumi negeri ini. Di sana, mereka cuman bisa bikin keju dan selai. Sebab 3/4 waktu dari setahun, tanah pada kondisi tak bisa ditanami. Khususon seperempat dalam setahun, tanah mereka tertutup salju semua. Mereka gak bisa bertanam apa-apa. Tidak seperti indonesia yang bisa bercocok tanah sepanjang tahun sekalipun musim kemarau.

BANGSA Indonesia punya human-resources dan nature-resources luar biasa.

Indonesia berada dikawasan tropis. Saat hujan kita menampung semua air di bawah akar-akar pohon hutan. Dengan hutan-hutan di Indonesia yang terjaga, mata air akan bisa terus mengalirkan air melalui anak sungai ke persawahan petani. Indonesia bisa bercocok tanam sekalipun di musim kemarau.

Apa artinya?

Bangsa ini jaminan tak bakal pernah kelaparan. Indonesia tidak kan tergantung pada bangsa asing untuk impor bahan pangan.

Indonesia memiliki biodiversity yang susah ditandingi jumlahnya, tanahnya subur tiada terkira. Jenis tanaman kita jutaan. Ikannya melimpah tak terhitung spesiesnya.

Apa artinya?

Tuhan menjamin kecerdasan otak anak-anak bangsa ini. Nutrisinya sudah terpampang di depan mata.

Kita punya rempah yang luar biasa banyaknya. Jaminan kelezatan masakan yang teramat sangat kaya rasa tanpa perlu bumbu kimia tambahan; sekaligus anti-oksidan yang dengan maut menggerus racun dalam badan!

Menghangatkan tanpa merusak liver.

Menyegarkan dan memberi semangat untuk jiwa dan raga. Jiwa dan raga anak-anak bangsa Indonesia. The powerrrrrr of rempah-rempah!

***

INDONESIA harus dibuat miskin. Orang cerdas tidak boleh dipiara di negeri ini. Berbahaya. Orang cerdas, ilmuwan, cerdik cendikia harus dipiara di luar negeri.

Rakyat harus dibuat nrimo dengan keadaan, gak boleh menuntut masa depan.

Pendidikan haram maju pesat.

Biarkan rakyat indonesia bingung untuk nyicil motor dan mengejar galaksi eslima. Jadi mentalitas pengejaran terhadap kehidupan cukup mentok di situ.

Kalo rakyat indonesia sampai sadar bahwa membuang sampah sembarangan dan merokok sembarangan itu akan membuat mentalitas komunal terdegradasi, sehingga dampaknya mereka akan disiplin belajar dan bekerja serta berwawasan panjang dan terbuka, ini akan sangat berbahaya.

Sangat berbahaya jika rakyat Indonesia menyadari kekayaan alamnya, semua potensi sumber daya renewabel-nya juga. Sebab takutnya kalo rakyat indonesia sadar ini semua, rakyat Indonesia akan serius membangun kualitas SDM-nya.

KEMAJUAN INDONESIA harus dicegah dengan segala cara dan upaya agar tak pernah terjadi. Sebab berbahaya jika Indonesia ntar bisa maju.

Indonesia haram untuk maju. Sebab negeri ini bisa jadi akan sangat mengerikan jika mandiri.

Indonesia wajib hancur dengan berbagai cara:

Pertikaian politik. Pertikaian politik perlu terus dibudayakn dan dibudidayakan, sehingga kita lupa visi-misi bernegara. Rakyat indonesia wajib diadu domba dari dalam.

Sekian juta jam berjalan di negeri ini telah habis untuk ngurus hal yang gak penting. Sungguh mengasyikkan, kesemoatan bangsa indonesia untuk maju jadi tertunda karena banyaknya pertikaian.

Pertikaian agama dg bawa-bawa sorga neraka, biar kehidupan ini ndhak bisa maju. Ini memang cara paling mudah dan murah. Dengan pake isu sorga neraka, bahwa siapa yag gak sependapat dengan saya, akan masuk neraka, akan membuat umat beragama akan sibuk menghabiskan waktu untuk saling mencela ketimbang sibuk membangun diri dan sibuk berbuat baik: saling tolong, saling bantu, saling dukung dalam menjadikan kehidupan ini jadi lebih baik, aman, tentram, subr-makmur.

Jadinya: semua berkelahi, bertikai, dan berpecah.

Ini sungguh menyenangkan.

Degradasi pendidikan. Metode lain adalah dengan penyusutan kualitas otak atau degradasi pendidikan yang ekstrim. Sekolah harus megah secara fisik dan murid harus disesaki cuman dengan hal-hal teknis belaka, jangan sampe mereka jadi murid yang ngerti konsep dan budi pekerti.

Para orang tua perlu dibuat ketakutan dengan angka nilai. Siswa perlu dipenjara dengan pelajaran, buan dibebaskan dengan pendidikan.

Lidah-lidah anak-anak bangsa ini wajib cuman kenal gula dan lemak saja; jangan sampai suka protein, vitamin, dan mineral. Sebab kalo anak-anak Indonesia cerdas semua, dan pas gedenya pada mengabdikan diri semua untuk negara; ini akan sangat mengerikan. Bisa bikin Indonesia jadi maju. Ini jangan sampai terjadi!

Hancurkan lligkungan. Asap tebal dan segala polusi perlu terus dipertahankan. Kualitas air tanah harus terus dicemari. Udara harus sesak oleh emisi.

Jangan sampai rakyat indonesia menyadari pentingnya regulasi euro yang membatasi emisi demi menyehatkan otak.

Sebab kalo nanti otaknya rakyat indonesia cerdas semua, dunia belahan utara bakal cemas secemas-cemasnya.

Hancurkan alam. Hutan kita wajib rusak, agar kelaparan merajalela. Sebab sangat mengerikan jika Indonesia bisa bebas kelaparan.

Karena jika hutan-hutan di indonesia terjaga, mata air akan bisa terus mengalirkan air melalui anak sungai ke persawahan petani. Indonesia bisa bercocok tanam sekalipun di musim kemarau.

Ini sangat membahayakan. Bisa-bisa indonesia tidak lagi tergantung pada bangsa asing untuk impor bahan pangan.

Karena itu hutan harus dirusak. Agar mata air berhenti mengalir. Agar kita kelaparan saat kemarau. Sehingga menggandaikan pulau untuk membeli makanan afkiran dari luar negeri.

Kesenjangan sosial harus dipelihara dan ditingkatkan. Individualitas harus dikedepankan. Menolong orang harus ada itungannya. Dan jangan sampai kita kehilangan harta-benda, uang, dll. yang kita gunakan uuntuk memenuhi kebutuhan hidup kita hanya karena digunakan untuk menolong orang lain.

Definisi kebutuhan hidup harus terus digeser. Kebutuhan hidup dari pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, kerukunan, kebersamaan, kelestarian lingkungan harus diganti dengan kuliner, penampilan, ganti mobil yang udah lama dan usang, rumah sakit standar internasional, hang-out sosialitas, dan holiday.

Lupakan sudut-sudut Indonesia. Lupakan Sabang, Mentawai, Nusa Barung, Palangkaraya, Danau Poso, dan laut Aru. Holiday wajib ke Singapura yang biayanya jauh lebih murah. Buat apa menjelajahi negeri sendiri kalo biayanya mahal banget? Ya kan?

***

JADI, itulah semua hal yang harus dirusak dari bangsa ini.

Sangat berbahaya jika indonesia menyadari semua potensinya sendiri.

Indonesia wajib hancur.

Dan bagusnya, kita semua saat ini telah bersama-sama mendukung gerakan penghancuran Indonesia ini.

Semakin cepat Indonesia hancur akan semakin baik. Artinya, mereka yang sedang menginginkan Indonesia nanti akan bisa mendapatkan negeri ini dg harga murah, bahkan gratis.

Kecuali kita bersedia menyingkirkan keinginan dan cukup memenuhi kebutuhan; berani swadeshi (mandiri, berdiri di atas kaki sendiri), dan melakukan ahimsa (melawan ketidakbenaran dengan kelembutan/anti-kekerasan); serta mengembalikan masakan dominan kita kepada bahan yang ada di sekitar, yang kaya rasa dengan banyak rempah,

negeri ini bisa menjadi nirwana.

Indonesia bisa berwibawa tanpa harus menggunakan senjata: menang tanpa ngasorake.

>> Freema Bapakne Rahman,
seorang bapak yang kenthir.

Advertisements

Pepohonan Pepaya: Hutan Mini Kami

Hutan Mini Pepohonan Pepaya

Pepohonan pepaya ini bukanlah biji pepaya yg sengaja kami tanam. Hutan mini pohon pepaya ini adalah hasil dari kelakuan-kebiasaan kami: buang sampah organik sesuka kami di lahan belakang.

Alhasil, jadilah hutan mini pepohonan pepaya ini.

Beberapa pohon oleh Bapakne Rahman dicoba dipindah ke tekape lain. Satu udah besar, lebih tinggi dari si kecil.

Satu masih sedang, tak lebih tinggi dari si kecil.

Satu masih kecil-kecil.

Sayangnya, kesemuanya langsung layu dan mati.

Selidik-punya selidik, dari hasil browsing ada info bahwa pepaya termasuk tanaman yang sensitif. Tidak bisa mengalami syok akar walaupun cuma sedikit.

Hiks… Ya udah deh…

Hutan Mini Pepaya
Pohon yg sendirian sebelah (paling) kanan itu, itu pohon yg dipindahkan sama Bapakne Rahman. Eh kemudian dia layu sebelum berkembang… Yg dipartisi pake plastik di kanan sono, itu kandang kelinci 😀

Mejeng :D
Mejeng 😀

Dan sekarang timbul masalah kedua. Kami mendapat banyak ancaman, jika akar pohon pepaya itu sadis.

Dia sanggup menjebol lantai dan merobohkan tembok :O

Kami percaya info ini. Karena udah ada dua fakta yg berbicara.

Uti pernah bercerita, tembok belakang rumah Doko pernah tumbang dicongkel akar pohon pepaya.

Dan temannya Bapaknya Aleef Rahman juga pernah ngalami, lantai terasnya terkoyak akar pohon pepaya yang padahal tumbuh beberapa meter agak sonoan :O

Ya sudahlah… Mungkin nanti terpaksa akan kami libas hutan mini yg cantik ini. Untuk sementara, kami akan nikmati dulu itu bunga-bunga pepaya. Dioseng-oseng pedas sangat nikmat 😀

Tapi kami tak terlalu kecewa koq…

Di pojokan sebelah kiri sana, segerombol tunas rambutan siap mengganti. Semoga mereka bisa tumbuh besar nanti…

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Alhamdulillah…

>> Deasy Ibune Rahman

Junk vs Etika Lisan Digital

Anda tentu paham junk-mail. Email gak penting, biasanya promosi, yg oleh provider email langsung difilterr dan masuk folder junk.

Dan Anda yg aktif mengikuti sebuah milis, group, forum, dll. mungkin pernah mengalami perasaan seperti ini: “Hadew, ini posting gak penting-penting, bikin penuh notifikasi aja… Bermutu dikit napa?”

Ya, itulah junk-post.

Junk-post

Ilustrasi nemu dari internet.

Hari gini, masih banyak yg lupa & gk sadar ketika berkomunikasi digital, khususnya tentang junk. Junk bisa diartikan one-line posting ato apapun yg tak berguna. Misalnya “Yoi…” “Oke” “Sip” dll. Yg memang tanpa makna.

Sebenarnya, etika komunikasi (tulis) digital ini sudah ada sejak jaman interaksi sosial digital hadir. Mulai adanya milis sejak tahunan silam, blog, hingga kemudian sekarang forum-forum (webforum) hingga fesbuk dan twitter. Biasanya etika lebih detail dimaktubkan oleh admin pada masing-masing forum/group.

Di forum besar seperti Kaskus dll. junk sangat dicela oleh warga negara forum-kaskus.

So, gunakan etika menulis.

Mungkin ada junker (yg hobinya cuman ngejunk) yg berkilah, “Ah aku kan cuman basa-basi!”

Well, bagaimana orang tahu Anda tak basa-basi bisa tak melihat Anda secara langsung? Justru kadang ‘basa-basi’ dalam dunia digital bisa menjadi sesuatu yg to-the-point. Dengan apa orang bisa tahu? Sekali lagi: dengan pemilihan/susunan kata (diksi) dan tata krama bahasa (tulis) kita tentunya!”

FENOMENA (junk) ini memang berbalik dengan ‘negatif news’. ‘Negatif news’ (dengan tanda petik) adalah hal yg bila kita beritakan pun sebenarnya tak mengubah keadaan. Misalnya ketika kita hendak mengabarkan bahwa kita selamat dari banjir di perumahan ke saudara di luar negeri. Dengan tidak mengabarkan berita ini ke mereka, keadaan memang tak berubah, yakni kita memang selamat. Fungsi mengabarkan di sini adalah hanya untuk kebutuha psikologis semata (meskipun ini memang perlu, hanya konteksnya bukan demikian).

Lain halnya dengan mengabarkan berita kalau rumah kita roboh tertimpa banjir ke saudara di luar negeri. Bisa jadi dengana danya berita ini kepada mereka kita mendapatkan reaksi riil/aktual, entah misalnya dikirimi dana untuk perbaikan rumah, dll. apapun bentuknya yg bisa dikatakan ‘terlihat fisikali’.

Junk atau oneliner posting bukanlah negatif news, yg mana kita akan merasa ‘aman’ kalau mendapat postingan tsb. Junk adalah postingan yg memang negatif sifatnya. Hanya saja memang penilaian positif-negatif ini memang tergantung kondisi, situasi, atau lokasi (interaksi digital) di mana kita berada.

Ada memang kadang -misalnya- forum reuni teman-teman sekolah yg sekarang sudah pada punya anak dan membicarakan masa-masa sekolah. Tentu isinya akan menjurus ke ‘junk’ semua.

‘Junk’ di sini justru kami beri tanda petik karena memang hal/postingan-postingan yg sekilas mirip junk namun itu sebenarnya memang sedang disuasanakan pada kondisi tsb. So jadinya postingan yg muncul pada forum-forum demikian akan berisi “Awas kamu/awas loe ya!” “Halah sirik aja kamu!” “Buset dah…” Dst. dll. yg ‘begitu-begitu’ saja. Karena memang kebutuhannya adalah interaksi yg memang tanpa isi, sekedar lips-service saja untuk menyambung silaturahmi yg lama terputus.

Hanya saja memang ini tentunya ‘harus’ okasional, bukan terus-terusan lips-servicing demikian.

TENTU lain halnya kalo sedang membicarakan hal serius dengan suasana santai. Misalnya merancang reuni atau arisan bersama. Meski acara ini secara definitif de-facto adalah sangat informal, tetap kaidah etika interaksi/komunikasi dunila digital harus kita pegang teguh. Meski untuk membuat/merancang acara santai, tentu setiap posting kita harus bermuatan.

Misalnya merancang tempat yg mengakomodasi kebutuhan banyak orang dengan beragam latar belakang. Misalnya arisan kawan-kawan lama, di mana nanti yg datang ada yg sendirian, ada yg bersama keluarga, ada yg menyelakan waktu luang di sela-sela tugas kerja, dll. yg bisa jadi akan membuat ‘kerumitan’ untuk masalah ‘sepele’ seperti waktu, lokasi, format acara, dll.

Bila memang acara tersebut disepakati bermakna, misalnya arisan untuk sekaligus mendeklarasikan komunitas pendukung reboisasi misalnya, tentu sebagaimana-bagaimananya acara tersebut harus dirancang dengan seksama.

Yg paling umum adalah secara alimiah ataupun secara sistematis akan ada moderator yg mengatur jalannya diskusi. Ini tindakan alamiah, sebagaimana semua kelompok pasti akan memunculkan pemimpin. Entah sekedar ketua kelas, atau pemimpin klan gajah di padang safari. Bila tanpa moiderator/pemimpin, forum tentu akan berantakan.

Di sini akan muncul rule-rule de-facto biasanya. Misalnya moderator berhak untuk demikian-demikian atau sekedar begini-begini saja, dll. Misalnya moderator berhak untuk mem-banned anggota forum atau hanya sekedar mengatur jalannya interaksi forum yg kebetulan ada anggota yg mis-komunikasi, dll.

Baik moderator maupun anggota forum harus paham etika dunia digital. Bagi anggota forum haruslah menelaah masalah sebelumnya (yg telah diposting sebelum-sebelumnya) sebelum melontarkan pendapat. Ini hal klasik dan sederhana. Bentuk teknisnya, jika Anda bergabung belakangan dalam sebuah milis atau thread diskusi, tentu konsekuensi Anda untuk membaca dulu posting-postingan yg telah beredar sebelumnya. Biar nggak OOT (out of topik) or lainnya.

Bila forum atau milis atau thread sudah berjalan sedemikian lama, misalnya tahunan atau bulanan dengan posting yg sudah sangat banyak dan beragam, maka hal yg paling sederhana adalah kita memposting dengan permohonan maaf kalau dobel posting. Kelihatan sederhana, hanya menambahkan “Maaf baru join, mungkin pertanyaan saya sudah terlontar sebelumnya…” begini saja kadang banyak yg alpa melakukan.

Bila kita bersedia mendudukkan diri sebagai ‘anak baru’ yg sedang berusaha mengejar alur dan historikal forum, anggota forum yg lain niscaya tak akan keberatan koq untuk membantu Anda mereview dan meng-summary tema-tema yg telah beredar sebelumnya.

Ada kejadian beneran yg saya alami, seorang teman anggota thread di fesbuk saya bertanya sederhana, “Ini maksudnya apa sih koq tiba-tiba minta begini?” Padahal dia hanya kelupaan membuka earlier message atau pesan sebelumnya yg tergulung secara otomatis oleh sistem fesbuk, sehingga ahistoris terhadap apa yg sedang dibahas.

JUNK bisa jadi mewakili diversifikasi bentuk interaksi kita dari dunia lisan ke dunia digital. Bila etika komunikasi lisan kita telah memahaminya, misalnya tak to the point kala menyindir, atau berbahasa halus kala mengkritik, dll. yg disesuaikan dengan kondisi, situasi, dan lokasi di mana kita berada, di dunia digital hal seperti ini masih tetap harus kita jaga namun dengan bentuk berbeda.

Dunia digital (yg sebenarnya tetaplah sama bentuk komunikasi tertulis) tidak mengenal raut muka, gerak/bahasa tubuh, intonasi, dll.

Manusia berusaha melambangkan apa yg tak terlihat tersebut dengan simbol-simbol, yg kerennya sekarang menjadi emoticon beserta pola susunan kalimat yg kita atur sedemikian rupa untuk mewakili perasaan.

Kalimat “Mmm… gimana ya aku mesti bilang ke kalian… Sebenarnya nggak enak sih, cuma aku mesti bilang begini…” Sudah cukup untuk mewakili bentuk lisannya. Namun ini juga masih bisa dianggap kita berpura-pura nggak enak. Kenapa, ya karena kita nggak tahu mimik si penulis pesan tersebut! Meskipun bisa jadi penulis pesan memang sedang ‘nggak enak buat ngomong’.

Bisa jadi kita akan mengungkapkan hal tersebut dengan kalimat demikian, “Aku nggak enak mo bilang. Bener-bener nggak enak. Ini aku beneran nggak enak dan nggak aku buat-buat lho… Tapi aku mesti bilang begini…”

Meskipun kita memang benar-benar tulus merasa nggak enak, namun kalimat kita di atas bisa jadi ditanggapi lain oleh si penerima pesan. Misalnya kita lagi sewot dan ngomong ketus. Karena apa? Ya karena kita nggak tahu mimik si pengirim pesan… Meskipun bisa jadi si pengirim pesan memang benar-benar nggak enak hati buat ngomong.

So, gimana mestinya?

Hal yg paling sederhana adalah to the point. Ini adalah hal simpel untuk mengurangi segala bias yg diakibatkan eksperimen kita untuk mencoba membawa intonasi, bahasa tubuh, dan hal lisan lainnya ke bahasa tulisan.

Kemudian, atur diksi (susunan kata) yg sedekat mungkin tidak bias dan tidak kasar di kultur interaksi tertulis kita.

Saya juga agak bingung memberikan contoh, namun hal di mana orang Inggris menganggap bahasa (tulis) American-English adalah kasar bagi mereka setidaknya bisa dijadikan contoh bagaimana ‘berkultur’ di bahasa tulis ini.

Mungkin untuk mengungkapkan ketidakenakan hati untuk mengatakan sebenarnya bisa saja diwkili dengan kalimat, “Dear Mr. Man! Sebelumnya saya mengungkapkan maaf beribu maaf untuk mengungkapkan apa yg harus saya sampaikan kepada Anda. Namun hal ini harus tetap saya sampikan untuk sekiranya bisa ditindaklanjuti bersama secara bijaksana. Bahwa perihal pembatalan kontrak sepihak oleh prinsipal berkaitan dengan…”

Demikian (contoh) formalnya.

Mungkin (contoh) informalnya kita bisa menyampaikan, “Yth. Ibu Putri, sebelumnya saya ingin mohon maaf sebesar-besarnya untuk mengungkapkan apa yg saya sampaikan kepada Ibu. Hal ini tetap harus saya sampaikan agar bisa ditindaklanjuti secara sederhana saja. Bahwa beberapa paket yg ibu kirimkan kepada saya ternyata isinya kurang sesuai dengan apa yg saya bayangkan sebelumnya…”

Banyak yg ‘diperhalus’ di sini. Seperti mengatakan menjadi mengungkapkan; saya kehendaki menjadi saya bayangkan’ dan lain sebagainya pada contoh yg bisa kita temukan.

Penyederhanaan ini murni untuk tujuan interaksi dan mengurangi masuknya unsur lisan/non-tulisan ke komunikasi tulisan. Bukan penyederahaan politis ala orde baru mengganti kelapan dengan rawan pangan. Bisa dibedakan sekali koq…

Kita bisa saja berkilah, “Ah aku kan tak suka basa-basi!” Well, bagaimana orang tahu Anda tak basa-basi bisa tak melihat Anda secara langsung? Justru kadang ‘basa-basi’ dalam dunia digital bisa menjadi sesuatu yg to-the-point. Dengan apa orang bisa tahu? Sekali lagi: dengan pemilihan/susunan kata (diksi) dan tata krama bahasa (tulis) kita tentunya!

***

Namun, junk atau oneliner-posting ini berbeda dengan postingan pendek ala twit atau upping a thread. Twit pada twitter memang diformat pendek karena rekuirasi teknisnya demikian. Dan justru dengan spasi yang pendek ini maka peng-twit akan berusaha memadatkan inti ke inti yg linear saja, hal yg langsung dicerna sesuai urutan kata. Demikian gambarannya.

Upping thread sering difungsikan di thread-thread diskusi untuk menjaga kelangsungan thread tersebut untuk tetap hidup. Upping thread sering terlontar di forum-forum seperti Kaskus atau forum-forum senada lainnya. Dengan adanya yg hadir hanya sekedar untuk menaikkan thread, itu menunjukkan thread tersebut perlu/berguna bagi semua, penting untuk diperhatikan, atau masih perlu mendapat dukungan banyak bahasan.

Meskipun hanya diposting bahkan hanya dengan dua huruf, yakni “Up” ini tentu sama sekali bukan junk. Karena “up” tadi memang mengandung fungsi untuk menaikkan atensi thread.

Untuk fesbuk mungkin postingan ‘ala oneliner’ ini bukan berkategori junk. Karena desainnya untuk posting di wall sendiri mirip dengan twitter. Dan fesbuk justu lebih kaya di sini. Sama-sama bergerak/scrolling realtime, fesbuk diperkaya (enrichment) dengan berbagai ‘tambahan’ seperti tautan, foto, dll. bila dibanding (dan dilihat dari sudut pandang) twitter.

Yg bikin males kalo ada yg nge-junk di fesbuk, lebih ke pengertian celometan dengan banyak OOT (out of topik), bukan OOT yg berguna (karena banyak yg demikian dan benar-benar berguna).

Meski celometan-celometan yg muncul bisa kita hapus, at least ini menyibukkan dan makan hati juga. Ato kalo celometannya di bawah foto di mana kita di-tag, ya kalo kurang berkenan kita tinggal untag aja. Yg benar-benar menjengkelkan kalo celometannya ada di thread message. Benar (menjengkelkan) bukan? Si empunya thread mesti kita paksa bikin thread baru di mana kita tak diikutsertakan. (Mudah-mudahan fesbuk segera bikin fasilitas untag (unaddressed) kita dari thread message demikian)

Berbeda dengan milis. Bayangkan, sudah bandwith Anda terbatas, menunggu lama loadingnya sebuah halaman, hanya untuk kemudian melihat nongolnya ungkapan “siiip!” yg tanpa makna. bagaimana perasaan Anda? Apapun perasaan Anda, minumnya… eh, Anda harus sabar senantiasa!

So, mari kita bersama merangkai bahasa tulisan kita sebagaimana etika yg berlaku. Etika ini sangat konvensif, namun bisa kita patokkan dan kita pegang keberadaaannya. Di beberapa forum memang sudah dipaparkan etika forum menurut kultur masing-masing. Mulai bahasanya (konteks-nya) hingga isi (konten)-nya. Namun secara generik, etika berbahasa kita tetap bisa kita junjung tinggi bersama.

Mungkin dengan tidak ng-junk, tidak oneliner posting, dll. yg itu representasi dari “nonsense” ato tanpa isi dan fungsi sama sekali. Dan satu yg terpenting, dalam interaksi tulisan, jangan egois dengan pemahaman kita. Egois di sini maksudnya adalah kita jangan ‘merasa’ pada sudut pandang kita, misalnya “perasaan aku sudah bilang (=menulis) halus-halus koq itu tadi… Masak gitu aja bikin masalah sih?”

Itulah kalo kita memandang dengan egoisme kita. Padahal orang yg membaca pesan kita benar-benar tak tahu bahasa tubuh, mimik muka, dan intonasi kita saat kita membayangkan diri kita sendiri dan kemudian menterjemahkannya ke postingan. Lawan “bicara’ kita hanya bisa menilai dari susunan kata berbentuk kalimat yg ada di screennya masing-masing.

So, gunakan etika menulis…

Dan percayalah, orang yg banyak menulis (dan membaca) adalah jauh-jauh berkualitas dibanding orang yg banyak bicara (=omong) (dan tak suka membaca).

“Jangan banyak omong, tulis saja!” -HB Jassin-

CMIIW – Colek Me Ip I Werong

Kediri, 11 November 2010 Pukul 0:23
– Deasy Widiasena, Ny.
Ibu rumah tangga biasa, sedang berdiskusi bersama suami tercinta.

Guru dan Si Kecil, Dulu dan Kini

Education-teacher

Foto nemu dari internet.

Dulu, murid dimarahi orang tua di depan gurunya jika nilainya jelek, polahnya mengganggu orang lain dan lingkungannya, dsb.

Sekarang, guru dimarahi orang tua di depan muridnya, “Koq bisa sampai nilai anak saya jelek? Kamu digaji ngapain aja? Bisa ngajari murid-muridmu gak?”

ANGKA

Dulu, konsepnya jelas, 4 x 6 = 6 + 6 + 6 + 6. 2+3×8:4-1 hasilnya adalah 7, bukan 9. Murid dididik penyatuan konsep agar tidak menimbulkan beda persepsi. Kepentingan bersama (satu persepsi) dikedepankan.

KALIMAT

Ini belum masalah bahasa. Dulu, kita patuh dengan subyek – predikat – obyek – keterangan, dan beragam kombinasinya dalam menyusun kalimat. Alhasil, dalam setiap kalimat yang kita susun jadi jelas maksud, isi, makna, dan tujuannya.

Sekarang jaman SMS, whazzap, dan fesbuk.

Bahasa yang kita tuang kadang hanya apa yg sesuai dengan maksud, pengertian, dan persepsi kita sendiri. Bukan sesuatu yg kita susun agar orang lain memahami pesan apa yg kita sampaikan. Alhasil, jamak kemudian terjadi artis bertikai di pengadilan hanya karena sesuatu yg tak perlu: miskomunikassi dan mispersepsi. Mungkin itu salah satu dampak, hasil, dan akibat kita meremehkan tata bahasa.

Belum lagi ditambah acara bete-betean pada sesama anak muda hanya karena beda menterjemahkan kalimat. (Dulu kita tak mengenal slang bete ‘kan?)

SEKARANG, guru di-bully karena dianggap gk bisa memberikan kebebasan berpikir kepada murid-muridnya.

Jika para guru se-Indonesia kemudian mogok mendidik karena tekanan tak jelas kepada mereka, mungkin bangsa ini baru melongo ternganga dan bakal berbalik ribut membela para guru.

KAMI bukan penentu kurikulum. Kami, orang tua si kecil ini, justru (terpaksa) mengikuti kurikulum karena sejauh ini itulah yg kami bisa jadikan pegangan dan ikutan dalam rutinitas menemani si kecil mengerjakan PR saban malam.

Jadi, kami tak hendak dan tak sedang menyalah-nyalahkan kurikulum.

Kami hanya sekedar mengambil sejumput hak untuk mengkritisi perjalanan waktu kami, perjalanan waktu bangsa ini.

Kami mengikuti kurikulum saban malam, tapi kami telah memegang tetapan di tangan sendiri untuk meraba garis waktu dan masa depan si kecil dalam detak jam keluarga kecil kami, dunia kecil kami.

GURU juga manusia. Kadang mereka lalai dan alpa membangun keleluasaan berpikir kepada anak-anak didiknya untuk menuju satu persepsi. Saat mereka alpa, mari kita ingatkan dengan santun dan bernas.

Tapi marilah kita juga menjadi orang tua yang bijak dan cerdas untuk anak-anak kita.

Mari kita menjadi orang tua yang menyesakkan gizi dan nutrisi sehat ke buluh nadi putra-putri kita: baik nutrisi makanan maupun nutrisi jiwa.

Mari kita ajari putra-putri kita kebiasaan meminta tolong, meminta maaf, dan berterima kasih.

Mari kita ajari putra-putri kita antri dan membuang sampah dengan benar.

Bukan sekedar teriak kencang menuntut guru, sementara di rumah kita sendiri yang merusak nilai-nilai pendidikan si kecil.

Bukan sekedar mati-matian me-les-kan si kecil demi angka dan angkawi, sementara di rumah kita sendiri yang melunturkan pengembangan nurani si kecil. Dengan memaksa mereka menjadi robot nilai ujian dan budak angka rapor.

DULU DAN SEKARANG, banyak hal telah berganti dan berubah. Cara telah beragam. Tapi persepsi yg sama itulah yg membangun kesatuan dan menghindarkan perpecahan.

Untunglah, dari dulu hingga sekarang masih ada yang mengajarkan persepsi yang sama, hal yang tetap membuat kami bahagia. Dulu ada si Unyil yang mengajarkan persepsi kebersamaan, nilai-nilai pertemanan, nilai-nilai dan makna kasih sayang kepada sesama, menebar jiwa keikhlasan dan saling menolong, serta kemauan membangun diri dengan pengetahuan.

Kini apa yang dikampanyekan oleh Unyil masih ada, hanya saja berganti Upin dan Ipin yang menggantikannya. Bukan Laptop si Unyil.

Dulu dan sekarang, ada yang sama, ada yang beda.

Isi hidup ini telah berubah dan berbeda.

Namun prinsip hidup ini rasanya tetap konsisten. Kita harus tetap menebar dan mengedepankan kebersamaan, kerukunan, cinta kasih sayang kepada sesama dan semua: manusia dan alam raya; menebar jiwa keikhlasan dan saling menolong; serta kemauan membangun diri dengan keluasan-keterbukaan pemikiran dan penuhnya pengetahuan.

Semoga pemerintah bisa terus mengayomi rakyatnya.

Maaf kami sedang tidak berbicara matematika dan bahasa 😀

IMHO, CMIIW.
– Deasy Ibune Rahman,
Ibu rumah tangga dan guru les privatnya si kecil.

(Bimmer The Series) Harga Pasaran BMW Bekas Pt. I

Ane ditawarin bmw 318 i thn 86 minta 24 jt. Leter B pajak mati 5 tahun. Kira-kira gimana yah? Diulas dunk tenang +/- motubmwa tersebut. Maturnuwun.

BMW 3-Series E30 Photo from internet.

Demikian sebuah pertanyaan di forum otomotif umum. Pertanyaan semacam itu yang susah banget dijawab buat BMW: “BMW tipe ini taun ini pasarannya berapa?”

Pertanyaan ini, saya pribadi mendapati terulang-ulang berkali-kali. Pokoknya beda-beda orang bisa sama persis pertanyaanya. (Dan beberapa penanya juga dari kalangan bimmerfan sendiri. Hehehe…)

Well… Gini: paling pertama, yang perlu dipahami adalah, bahwa harga pasaran BMW sangat tak pernah bisa disamakan dg mobil Jepang.

Di mopang, biasa ada pertanyaan:

  • Kijang tipe ini taun ini pasarannya berapa ya? Kemudian akan muncul range harga sekian sampe sekian yang ndhak terlalu lebar.
  • Carry bodi adiputro tipe ini taun ini pasarannya berapa ya? Kemudian akan muncul range harga sekian sampe sekian yang ndhak terlalu lebar.
  • Jazz tipe ini taun ini pasarannya berapa ya? Kemudian akan muncul range harga sekian sampe sekian yang ndhak terlalu lebar.

Kalo pada mobil Jepangan, asal kita udah tau, gampang banget njawabnya. Karena harga pasarannya terbentuk karena kondisinya rata-rata sama dan seimbang. Yang ndhak sama harganya cuman karena kondisinya ‘perkecualian’.

Mereka bisa punya range sempit harga (harga patokan) karena rata-rata kondisinya seragam-seragam aja. Letsay mayoritas gitu. Nah, di BMW super susah dapet patokan range harga yang sempit kayak gitu.

Di BMW, pada tipe dan taun yang sama, harga pasarannya bisa sampe 2-4 kali lipat perbedaannya bahkan lebih. Misal ada sebuah tipe yang terjual seharga 8jt, barang sama taon sama ada yang terjual 80jt.

Karena beda kondisi dan keadaan-perawatannya. Dan kebetulan, rata-rata kondisi BMW di pasaran pada ndhak seragam, dominan beragam kondisi-perawatannya.

Untuk tipe yang disebutkan disebut di atas, yakni dengan kode bodi E30 1st gen, tipe 318i yang itu pakai mesin M1O; range harganya bisa 8jt, 18jt, 28jt, 38jt, 48jt, 58jt, sampe 68jt.

Bahkan yang 380jt dan 480jt juga bisa.

Koq bisa?

Karena tergantung

  • Kondisi: seberapa mint & original kondisi mobil, baik interior, eksterior, dan kondisi perawatan (mesin, kaki-kaki);
  • Psikologi: warna mobil, dll. Sebaab ada yang lebih prefer ke warna tertentu.
  • Situasi: mobil yg nyri duit atau duit yg nyari mobil,
  • Emosi: tipenya langka (kupe, built-up pake sunroof, cabriolet, apalagi sampe M3). Atau banyak ditempeli parts mahal (velg/ducktail/aksesoris alpina, hartge, ACS, dll.)

Bagi yg belum meresapi per-BMW-an, mendapati fakta bahwa rentang harga BMW ini begitu lebar dan kadang ndhak masuk akal(masing-masing), seolah ini merupakan kondisi yg ‘salah’ dan susah diterima. Khususnya bagi yg memaksa(pikiran diri sendiri) dengan menganggap atau menyamakan BMW dg mobil Jepangan.

Oleh karena itu, jangan kaget kalo ada penjual yg menawarkan BMW-nya dg harga setinggi langit pun sebaliknya ada pembeli yg menawar seenak udelnya Karena masing-masing punya persepsi dan perspektif sendiri-sendiri tentang kondisi BMW yg ada di depannya. Hehehe…

Nah, jadi kalo pertanyaannya cuman “ditawarin bmw 318 i thn 86 minta 24 jt. Leter B pajak mati 5 tahun. Kira-kira gimana yah?”

Repot kita menjawabnya gan… Kalo kondisinya ori & suehattt, biar pajak mati 12 tahun seperti kata seorang temen, Ki Lurah BMCC Madiunan Anang Moedjijono, harga segitu murah bingit.

Apalagi itu tipenya M1O. Tipe yang paling diburu para bimmerfan melebihi koruptor diburu KPK. Tapi meskipun itu tipe paling diburu, kalo kondisinya menyedihkan: catnya di-lap kinclong tapi di balik fender (spakbor) karatnya seluas samudera, firewall-nya rontok dimakan karat, dek-nya amblas dihabisi karat, joknya pada sobek, dashboard retak-retak, orang juga akan mikir seribu kali buat menyunting dg harga segitu.

Kenapa?

DI BMW ada pakem, mesin boleh ancur terbelah jadi dua, masih gampang dicari. Kaki-kaki boleh mati semua tanpa terkecuali, masih bisa langsung direstorasi dan direkondisi. Parts relatif mudah dicari, apalagi untuk E30 ini.

Tapi kalo interior udah pada ancur, ini yang bikin langkah nyaris terhenti. Karena yang diandalkan ntar cuman junkyard. Nyari barunya susah (untuk mengatakan bahwa sebagian sudah gk ada).

Jadi, detailkan dulu kondisinya. Baru bisa dianalisis (appraisal) estimasi harganya.

Atau tanpa detail kondisi pun, jika suka, ambil saja. Semua bisa dirawat sambil jalan. Banyak koq temen yang kayak gini.

Itu kalo emang niat.

Sebab syarat punya BMW itu:

  1. Niat
  2. Niat
  3. Niat.

IMHO, CMIIW.
Kediri, 6 April 2014 19:50 WIB

————————
Ref: Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://m.facebook.com/groups/323699264381705

BIMMER THE SERIES
(Bimmer The Series) Harga Pasaran BMW Bekas Pt. I
(Bimmer The Series) Harga Pasaran BMW Bekas Pt. II
Mobil Eropa Dijual Alakadarnya?

MEMILIH BMW – THE SERIES

Memilih BMW Pt. I
Memilih BMW Pt. II
Memilih BMW Pt. III
Memilih BMW Pt. IV
Memilih BMW Pt. V
Memilih BMW Pt. VI
Memilih BMW Pt. VII

Posting-posting BMW https://freemindcoffee.wordpress.com/category/kumis-hitler/

Mobil Eropa Dijual Alakadarnya?

Sebuah komeng pada fesbuk berkata:

“Saya test case pura-pura mau beli BMW. Kebanyakan dijual kondisi rusak. Entah dikit entah banyak. Yang punya ogah benerin. Kalau mobil Jepang (umumnya) dibenerin dulu, sehat, baru dijual. Beda…”

Bener. Well, soale gini, kenapa yang njual BMW ogah mbenerin:

Letsay:

  • Base price kendaraan = 60jt
  • Benah-benah = 30jt

Di pasaran, bakal susah mau dijual 90jt.

Dijual 70jt?

Bonyok dong sellernya 😀

Itulah kenapa akhirnya kondisinya dibiarkan aja, dijual apa adanya.

SUDAH jadi rahasia umum, kenapa mobil eropa dijual dalam kondisi apa adanya: ongkos/biaya mbenerinnya emang gak murah.

Apalagi mbenerinnya kalo disesuaikan dengan pola pandang yg high-expectation. Maksudnya, kalo cara mbenerinnya mesti perfek. Ndhak ala kadarnya.

Kalo dibenerin ala kadarnya, takutnya malah debatabel, kontroversial.

Pembeli akan menjatuhkan barang incerannya: mbenerinya gak benerlah. Mbenerinya gak tuntaslah. Mbenerinya ala kadarnya asal-asalanlah. Entahlah.

Sementara seller udah merasa bahwa mobil udah dibeneri sekuat tenaga dan biaya, bukan semaksimal kebutuhan atas dasar tuntutan keadaan (si mobil).

Nah ketimbang kontroversi, better dijual apa adanya. Mau beli ya monggo, kagak mau beli ya ndhak ada yg ngelarang, ndhak melanggar hukum, dan ndhak haram koq…

Beda sama mobil Jepang.

Ongkos mbeneri-nya murah.

Makanya banyak mopang yg dibeneri dulu, baru dijual.

KENAPA ongkos mbeneri mobil eropa mahal dan mopang murah?

>> Mobil eropa jarang ada parts KW level yg jelek, meski bukan berarti bebas sama sekali. Khususnya yang populasinya ndhak banyak. Sementara mopang part KW-nya mulai KW satu sampe KW enembelas.

Bisa murah to mbeneri mopang? Wong dipasangi parts KW enembelas. Ndhak usah KW, orinya aja juga gak mahal.

Koq bisa? Ini…

>> Mobil Eropa dari bayinya udah pake part spek tinggi. Bayangkan, shock E30 aja udah pake gas. Harga sejutaan – sejuta setengah per set.

Beda sama kijang, panther, seniyapansa. Shocknya ‘asal-asalan’. Serasa mobil buat bawa sapi bukan buat bawa manusia. 😛 Pisss! 😀

Makanya harga shocknya cuma seperlima bahkan lebih, dari shock mobil eropa per set. Shock kijang/panther cuman 250 rb udah dapet bagus. Tapi bagusnya versi standar mereka lho ya…

>> Ongkos kerja. Mobil Eropa mesinnya njlimet. Maklum, standar teknologi dan safety-nya tinggi. Buat mbongkar aja perlu jam kerja beberapa kali lipat dibanding mopang.

Beda sama mopang. Mesinnya kayak tamiya. 😛 Modal obeng sama engkol juga udah kelar dikerjakannya. Makanya jam kerjanya pendek, ongkos kerjanya murah.

Itulah kenapa mopang gampang diretofit sebelum dijual. Dan mobil Eropa lebih dijual apa adanya. Ketimbang dibenahi dulu habisnya gila-gilaan, sementara ntar harga jualnya ketinggian dan gak laku-laku. Bonyok.

Jadi, kalo Anda berburu mobil Eropa dan selalu dapet mobil yg menyimpan PR, saya tak mengatakan itu benar atau wajar. Saya hanya mengatakan: itu manusiawi sekali, dan sangat bisa untuk dimaklumi.

Dan kalo Anda berburu mobil Eropa, hanya cocok buat yg mikirkan nyaman dan aman. Sebab itulah sebenarnya yg Anda dapatkan dari sekian nominal yg Anda keluarkan berlipat ketimbang mobil Jepang, pada level harga yg relatif sama.

Sementara kalau Anda mencari mobil yg gampang banget dibenerin, murah ongkos ini-itunya, dan tak peduli sisi keamanan dan (terutama) kenyamanan: jangan pernah beli mobil (seken) Eropa.

Ketimbang menyesal. 😀 Hehehehe…

IMHO, CMIIW.

————————
Ref: Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://m.facebook.com/groups/323699264381705

BIMMER THE SERIES
(Bimmer The Series) Harga Pasaran BMW Bekas Pt. I
(Bimmer The Series) Harga Pasaran BMW Bekas Pt. II
Mobil Eropa Dijual Alakadarnya?

MEMILIH BMW – THE SERIES

Memilih BMW Pt. I
Memilih BMW Pt. II
Memilih BMW Pt. III
Memilih BMW Pt. IV
Memilih BMW Pt. V
Memilih BMW Pt. VI
Memilih BMW Pt. VII

Posting-posting BMW https://freemindcoffee.wordpress.com/category/kumis-hitler/

Mobil Pas Buat Turing

*Foto nemu dari internet*

Sekedar share tentang feeling saya pribadi yg gk pake dasar dan asal ngawur:

Untuk kebutuhan transporting/touring (berkendara membawa manusia) yg paling pas untuk kondisi jalanan dan lalu-lintas rata-rata saat ini, khususnya di pulau Jawa.

TIPE

Jenis kendaraan yg paling sesuai kalo menurut saya teteplah sedan, tapi dg ground-clearance yg standar bukan direndahkan.

SUV mungkin menarik, tapi berkendara di jalan raya rasanya tetep gk ada yg mengalahkan driving-feel sedan dibanding model lain.

Mestinya siy tipe yg paling pas adalah station-wagon, ‘sedan’ yg bagasi belakangnya diteruskan jadi ruang kargo.

Biasa disebut station-wagon, touring, estate, avant, atau shooting-break.

Cuman masalahnya, di sini model macam gitu gak dipopulerkan oleh produsen (alasannya pasti kurang disukai konsumen atau kurang laku dijual. Duh… masak siy?) Jadi kita abaikan pilihan ini.

SIZE

Ukuran paling pas atau sesuai menurut saya pribadi adalah ukuran compact atau midsize, bukan sub-compact atau full-size.

Mobil sub-compact rasanya masih kurang nyaman untuk pemakaian jarak tertentu, khususnya luar kota atau AKAP.

Sementara mobil full-size akan kehilangan kelincahannya saat menembus keramaian traffic lalu-lintas.

Dan kebetulan, touring-car di luar negeri, kebanyakan pasti ngambil basis dari ukuran compact atau mid-size.

TENAGA

Paling pas adalah dengan power mesin 150an hp, bukan 100an hp atau 200an hp.

Yg 100an hp rasanya masih kurang bertenaga ketika sedang mendapatkan track lancar (misal di tol atau jalanan pas lengang),

kalo 200an hp menurut saya masih over-powered untuk transporting normal, sehingga akan cenderung buang bensin atau sumber daya secara keseluruhan.

TRANSMISI

Automatic atau manumatic generasi modern (yg sudah dikendalikan komputer memadai) adalah pilihan perfect untuk berkendara pada kondisi rata-rata jalanan saat ini.

Paling optimal yg sudah 5 speed-forward.

Kelengkapan kendaraan yg paling full-option akan mendukung kenyamanan berkendara.

Misal wiper dg beberapa tingkat intermitten, jok kulit, ada arm-rest di consol tengah depan pun belakang, sukur-sukur AC individual-zone termasuk blower untuk bangku belakang.

Satu-satunya “kelemahan” untuk sedan adalah isinya cuman 4-5 penumpang.

Jika Anda memerlukan kendaraan dengan isi lebih dari 5 orang, belilah model yg memang dirancang untuk memberikan kenyamanan (leg-room) untuk kapasitasnya

Jangan memaksakan mobil 5 penumpang yg diisi 3 baris seats.

Safety number one.

—————————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://www.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/
Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/
Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/
Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/
Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/
Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/
Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/