Pelajaran Hidup

Pelajaran yg saya petik hari ini:

  1. Precious tools used ini precious work will create precious thing.
  2. Jangan keterlaluan KW-nya kalo beli barang. Ternyata malah membuang uang. Beli barang KW enam harga empat ribu cuman jadi tiga kali pakai, itupun ndhak presisi, ternyata lebih mahal jatuhnya ketimbang beli barang bagus harga sepuluh rebu bisa puluhan kali pakai.

    Memang jatuh awalnya kerasa mahal banget. Tapi jika diitung jangka panjang ternyata menguntungkan.

    Kalo pas perlu banget dan anggaran belom cukup buat beli barang bagus?

    Tundalah pembeliannya, atau sewa/pinjamlah jika ada.

  3. Harga safety-shoes itu mahal. Tapi lebih mahal lagi jika ada kulit hingga daging sobek dan harus dijahit.
  4. Kejantanan itu bukanlah berani ‘bertarung tanpa senjata’ alias bekerja tanpa peralatan keselamatan yg memadai. Kejantanan itu adalah keberanian menjaga badan anugerah Tuhan YME dengan disiplin menggunakan perangkat keselamatan kerja.
  5. Segala sesuatu bisa dipelajari, khususnya yg bisa applied pada kapasitas kita masing-masing.

    Namun, carilah referensi sebanyak-banyaknya dulu sebelum melakukan sesuatu, khususnya yg belum kita kenal/kita tau sebelomnya.

    Sekarang jaman informasi dan teknologi, mengeluarkan biaya untuk pemanfaatannya ternyata jauh lebih murah ketimbang melakukan trial dan error pada sesuatu yg semestinya telah guided.

Sementara ini dulu. Terima kasih telah sudi membaca.

– Freema HW

https://freemindcoffee.wordpress.com/2017/01/25/pelajaran-hidup-2/

Wanita VS Perempuan

PEREMPUAN

Sangat kenal mal. Pagi bangun tidur, gosok gigi, dan sedikit melakukan aktivitas untuk merenggangkan otot badan, kemudian mandi.

Mandinya teliti. Setiap inci tak ada yg terlewati oleh sabun mandi.

Mungkin bukan cuman sabun mandi, tapi juga peeling. Dan biasanya ada sabun muka untuk finishing.

Jika tak keramas, ada penutup rambut yg melindungi setiap helai mahkotanya dari sentuhan air yg mengalir.

Usai mandi, mungkin masih di kamar mandi, cermin akan menjadi temannya meniti pagi. Membayangkan hari, apa agenda hari ini. Entah formulasi ulang tentang agenda meeting kantor di otak; entah kembali merevisi list belanjaan secara virtual alias dalam bayangan, entah lainnya.

Usai berbenah ini-itu sana-sini dari sekujur badannya, sebarisan alat make-up dan kroco-kroconya sudah siap digerus untuk beramai-ramai membangun kecantikan rupawi.

Dan mungkin terakhir, lemari berisi koleksi akan menjadi sesuatu yg kembali, sebagaimana hari-hari sebelumnya setiap hari, diutak-atik mulai dari sisi paling kanan ke sisi paling kiri.

Begitu bolak-balik berulang-ulang berkali-kali.

Itulah rutinitas ritual saban pagi. Bukan cuman menit, sekian jam waktu berjalan dibutuhkan untuk menyelesaikan proses itu semuanya.

Bila sudah punya anak, barisan pembantu siap mengambil alih tugasnya, menjadi pengganti yg lihai dan taktis menyiapkan si buah hati untuk tampil ganteng atau centil.

Bisa sedang menyusui, seribu satu alasan: pekerjaan, deadline, agenda ketat, jadwal padat, sesuatu yg sangat penting, urgent, krusial, dan mengancam karir atau ‘kehidupan rumah tangga’ bila ditinggalkan; atau sekedar ketidakmampuan tubuh untuk mengeluarkan ASI karena terbiasanya mengkonsumsi makanan kemasan dan buah-sayur impor akan menjadi nota MOU untuk membeli susu formula.

Tak ada sejuta alasan untuk berani menerjang tantangan dunia demi mendudukkan ASI sebagai aktivitas yg tak bisa dihalangi oleh apapun.

Hingga hari menjelang senja. Ritual itu masih terus terulang kembali. Hanya bedaknya berganti maskara dan baju kerjanya berganti pakaian malam.

***

WANITA

Sama menghabiskan sekian jam untuk melakukan ritual pagi saban hari.

Dini hari setelah membasuh muka dan menggosok gigi, dibuka semua jendela rumah.

Angin pagi buta nan segar sontak menerjang masuk, menyegarkan semua ruangan.

Segeralah dicuci beras. Dibersihkannya panci rice-cooker yg barusan dicucui semalem dengan lap kering bersih, lantas alat elektronika itu dia percaya untuk mematangkan nasi kehidupannya.

Kemudian memantik kompor. Stok sayuran segar yg tersimpan tadi malam yg dibeli di toko bahan makanan sebelah pas menjelang tutup dikeluarkan.

Panci diisi air dan didihkan.

Sambil sekaligus dipantik tungku sebelahnya. Wajan diletakkan, minyak goreng atau margarin dituangkan.

Beberapa olahan lauk sederhana namun sarat gizi disiapkan. Untuk keluarga: anak dan suami yg masih berhangat dalam dekapan selimut.

Perlahan tensi dan kecepatan aktivitas di dapur kecil itu meningkat dalam sunyi. Hanya bunyi air mendidih dan suara sesuatu tergoreng memecah pagi nan dingin, dan merebakkan bau harum ke secuil sudut dunia.

Telinga sang wanita terpasang. Bersigap jika penjual sayur keliling datang. Dan bergegap menghadangnya, menyergap satu-dua-tiga bahan masakan dan bumbu yg kurang.

Hingga tuntas dalam sekejap setara kilat, kemudian kembali bergegas kembali ke area kekuasaan mutlaknya: dapur.

Langkah kakinya gegas, namun sebenarnya jiwanya lebih lari dalam segera.

Apa yg telah dituang tak boleh gosong. Dan ini adalah satu fase proses tanpa toleransi, zero-tolerance.

Meleset sedikit, hangus lauk untuk sepanjang hari ini. Hancur sayur yg terkukus oleh panas keindahan jiwa. Jiwa yg diletakkan sepenuhnya dalam setiap proses dan detail aktivitasnya.

HINGGA semuanya matang. Dicek sejenak. Approved.

Hanya dalam hitungan menit, detik bahkan, kondisi dapur langsung diberesi. Potongan dan kulit-kulit sayur dan bumbu digaruk oleh genggaman, melesat ke tempat sampah.

Sisa-sisa peralatan masak tertata rapi di kitchen-sink. Dicucui dan diberesi nanti, benar-benar tak bisa langsung dikerjakan detik itu juga.

Sedetik tambahan, dia menjerang air.

Tugas berikutnya menanti dan harus langsung dijalani.

Suami dibangunkan.

Langsung berpindah, si kecil dibangunkan.

Perlu perjuangan super untuk membangunkannya. Jika tak ngamuk-ngamuk sambil merem, dia akan kembali merem setelah sempat membuka matanya.

Belaian rambut, elusan pipi, pijitan ringan di kaki, dan seribu-satu cara dilakukan demi terbuka matanya, menatap pagi, untuk menjalani hari.

Terbangun.

Terjadi dialog singkat sebentar.

Hingga dunia kembali menyala.

Dan air hangat telah siap.

Berikutnya akan ada aktivitas sama lamanya di kamar mandi.

Menyiramkan air, menyabuni, dan bercengkrama. Segarlah badan dan wajah si kecil.

Menghanduki hingga kering, kesibukan luar biasa berpindah ke kamar. Mematutkan baju, dan terakhir menyisirkan rambutnya.

Memakaikan pita-pita jika buah hatinya putri manis.

SEJENAK mininggalkan dunianya di depan televisi, kembali melesat ke dapur.

Makanan telah cukup berkurang panasnya untuk disiapkan sebagai sarapan keluarga.

Beberapa bagian juga telah dingin untuk dimasukkan lunch-box.

Dalam hitungan menit, sekeluarga bercengkrama dalam riang dengan menikmati sarapan.

Tak ada percakapan panjang-lebar, semua berkata-kata dalam senyuman. Sangat banyak kata dari masing-masing semua.

Hingga semua kemudian bergelut dalam aktivitas rutin masing-masing sehari-hari.

USAIKAH semuanya?

Belum. Masih banyak tugas menanti dalam pagi yg serasa cepat beranjak.

Rumah harus diberesi. Sapu dan pel adalah infateri berikutnya untuk menjalani pagi. Kamar si kecil perlu diberesi. Buku-buku yg diletakkan harus ditata kembali ke rak-nya.

Cucian yg mulai menumpuk harus segera diberesi.

Waktu berjalan. Jam berdetak hingga berdentang.

SEKIAN waktu berlalu, barulah si wanita menjadi dirinya sendiri dalam dunianya. Mandi membersihkan diri di kamar mandi.

Keramas dengan bersih.

Duduk diam menikmati TV. Sedikit bernafas mumpung ada waktu.

Hingga tiba saatnya dalam hitungan sedikit jam, si kecil kembali dari sekolahnya dan kembali memecah dunia dalam keributan dan kebahagiaan.

***

INI bukanlah panduan atau aturan. Ini hanyalah penggambaran saya pribadi sebagai…entah pria atau laki-laki. Ini bukan penjabaran atau pemaparan makna tentang kata ‘perempuan’ dan ‘wanita’.

Haruskah istri Anda menjadi wanita atau perempuan?

Jangan dipaksa. Dan sama sekali tak ada keharusan.

Semua punya ukuran dan kondisi masing-masing yang bisa jadi sangat jauh berbeda antara satu dengan lainnya.

Sebab, entah wanita atau perempuan, mereka pada dasarnya sama.

Mereka -baik wanita maupun perempuan- akan menahan tangis jika si kecil buah hatinya sakit.

Seorang perempuan yg sibuk bersolek pun, akan mengelus rambut si kecil kalam malam sebelom bobok.

Membacakan buku cerita kesukaannya, hingga hafal karena berulang-ulang membaca cerita yg sama yg diminta belahan jiwanya.

Menyelimutinya. Memastikan tidak ada nyamuk datang menyerang. Dan mematikan lampu kamar serta meninggalakannya dalam doa untuk beranjak tidur.

Seorang wanita yg sibuk menyiapkan segala sesuatunya demi keluarga, rela berbau minyak dan bumbu masakan pun tetap akan memimpikan seperangkat alat kosmetik dan pernak-pernik aksesoris pakaian yg akan membuatnya semakin merasa cantik.

Dia pun tetap akan bisa berlama-lama di depan konter kosmetik untuk menyeleksi berbagai tawaran yg ada dan memilih satu pilihan kosmetiknya.

Namun menjadi wanita atau perempuan, semestinya bisa dijadikan pilihan.

Sebab pada dasarnya, pada diri mereka, adalah perempuan dan wanita sekaligus. Tinggal bagaimana mereka, para istri kita masing-masing, memilih menampakkannya.

– Freema HW,
Sekedar berpikir iseng, asal, serta ngawur; dan sangat kesusahan untuk memahami wanita 😛

1st Post – Assalamu’alaikum wr. wb.

Post pertama di blognote saya. Salam sejahtera buat Anda semua para pengunjung dan pembaca blognote ini. Semoga kita senantiasa berlindung kepada Tuhan YME, semoga berkah dan rahmah Allah senantiasa terlimpahkan pada kita semua.

Ini adalah blognote serupa ngobrol ngawur ngalor ngidul saat kita nongkrong nyangkruk ngopi. Apa-apa kita obrolkan dan kita bicarakan. Namun khususon perilah kereta-pedati sehari-hari, lika-liku sikap hidup dan kehidupan, dan lain-lain.

Semua tersajikan dengan ngawur dan ngasal di sini 😛

Selamat menikmati tulisan-tulisan di sini.

PS: Maaf kalo ketikannya agak-agak sedheng, serupa Mbah Em…maaf, maksudku Dolob dan Jarkoni 😛