Devide et Impera

Iraq dibumihanguskan oleh Amerika dengan mencatut demokrasi. Libya dibumihanguskan oleh Amerika, atas nama demokrasi. Mesir sempat diporakporandakan oleh tiupan “angin demokrasi”. Suriah terjadi perang saudara, dengan saling berhadap-hadapan. Mereka semua: bertikai dengan saudara sendiri.

Berlebihankah jika kami berpikir, di Indonesia sejak dulu hingga saat ini oleh entah siapa ditanami para penyusup yang memecah-belah kita dari dalam sehingga kita saling mencurigai bahkan bertikai dengan saudara sendiri, teman sendiri, kerabat sendiri, sejawat sendiri?

Mereka adalah satu pihak yang berdiri di dua kubu dengan satu tujuan: membuat kita terpecah sehingga dengan leluasa terus merampok kekayaan bangsa, terus menjerat kita dengan utang luar negeri, dan terus membuat Indonesia terkuasai oleh pihak asing dan tak berkutik untuk sepenuh-penuhnya berdiri tegak di atas kedaulatannya sendiri?

Haruskan kita kembali didatangi penjajah atau dibom oleh Israel agar kompak dan bersatu mempertahankan Indonesia?

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.

Kalo bangsa ini runtuh, bukan penyusup dan provokator invisible itu penyebabnya, melainkan kita sendirlah yang memfasilitasi mereka untuk dengan leluasa bergerak, yakni dengan cara kita mengedepankan prasangka dan pikiran saling mencurigai kepada sesama bangsa sendiri dan menjadikan diri kita sendiri ini sebagai budak hedonisme.