Polah Anak Berasal Dari Orang Tua

Polah anak, yang suka menyanyikan lagu-lagu orang dewasa, kadang trigger-nya emang orang tuanya sendiri. Saya menyurvei (ala cak Lonthong), nyaris 100% semua anak yang polahnya -maaf- ‘aneh’ itu ternyata karena polah orang tuanya: orang tua suka buang sampah sembarangan, anaknya ikutan.

Orang tua suka mendahulukan beli home-appliances kosmetikal sementara anaknya jarang (enggak pernah) dibelikan buku, jadinya anak akan suka jajan. Jajan yang penuh bahan kimia tambahan lagi… *miris*

Orang tua suka meremehkan lampu merah, padahal juga ada tulisan belok kiri ikuti isyarat lampu; anak akan suka meremehkan lingkungan & pergaulan sosialnya: suka main paksa kehendak atau ndhak bisa menghargai kehendak temannya.

Orang tua suka mengeluh tentang hidup dan kehidupan, anaknya akan suka menuntut.


– Family 😀

MARILAH kita didik anak sebagaimana kita memiliki tugas, kewajiban, dan tanggung jawab sebagai orang tua.

Bila cukup dengan kipas angin misalnya, tidak perlu rasanya menghabiskan uang untuk AC jika itu tidak terlalu perlu banget atau tanpa itu pun kehidupan tetep akan berjalan normal. Utamakan membelikan buku, buku, dan buku untuk anak-anak kita. Agar luas pikirannya kelak ke depan.

Jangan ngajari mereka buang sampah sembarangan. Tidak membuang sampah sembarangan ini kadang merupakan hal ‘sepele’ yang masih sering dan buanyakkk yang mengabaikan. Sayangnya, takut/khawatirnya, bila anak biasa melihat orang tuanya tidak menghargai lingkungan ini, kelak mereka tak bisa menghargai dirinya sendiri. Hidupnya jadi susah dan kurang bersyukur karena kebiasaan kita melecehkan dan tidak mensyukuri alam lingkungan ini.

Diri kita sendiri adalah bagian dari alam dan lingkungan. Rusak alam-lingkungan, rusaklah kehidupan kita sendiri. Rusaknya perilaku kita terhadap alam-lingkungan, rusaklah kehidupan kita sendiri

Ajari anak-anak kita dengan lagu anak-anak. Ajak mereka mengenal sawah, ternak, binatang piaraan, tanaman peliharaan, dll. apapun yang sifatnya tumbuh dan bernyawa. Agar mereka kelak mengerti dan menghargai hidup dan kehidupan.

Senantiasa ajari anak-anak kita antri dan tertib. Bila lampu menyala merah, berhentilah kecuali diijinkan belok kiri langsung atau pada kondisi khusus/tertentu. Bersyukurlah mata kita tidak buta dan bisa melihat warna lampu lalu-lintas. Haruskah mata kita dibutakan dulu oleh kecelakaan sehingga kita baru menyesal karena meremehkan pandangan?

Dan senantiasa ajari anak tiga hal: minta tolong, minta maaf, dan berterima kasih kepada teman-temannya, kepada semuanya, kepada siapapun. Karena itulah bekal abadi dalam hidupnya sebagai manusia hingga akhir batas nyawanya.

Jangan terlalu menuntut anak menjadi ranking satu.

Bagi kami, Aleef Rahman akan menjadi ranking satu jika dia bisa buang sampah ke tempat semestinya, dan memahami arti minta tolong, minta maaf, dan berterima kasih kepada teman-temannya, kepada semuanya, kepada siapapun.

Tugas kami, kita semua, sebagai orang tua sebenarnya bukan memastikan kelak kayak gimana jadinya si anak.

Semua seperti menanam padi, kita hanya berkewajiban, bertugas, dan bertanggung jawab meemupuk, merawat, menyianginya dari gulma, dan seterusnya sebagaimana mestinya.

Kelak bagaimana buah si padi, kita hanya berharap ia bernas sebagaimana kita merawatnya, tapi tetap ini adalah sebuah keprasahan setelah usaha keras. Atau dalam bahasa lain kita mendengarnya dengan: tawakal setelah ikhtiar seoptimal-semaksimal mungkin.

-Ibune AleefRahman, masih belajar dan terus belajar menjadi orang tua.

Advertisements

Media Massa Sampah

Kitab sucinya jurnalistik itu adalah independensi dan netralitas.

Ternyata media massa yang ada pada berkubu-kubu, baik kubu ini atau kubu itu. Sampah!

Di mata saya sendiri, bagi saya pribadi, mereka tak lebih mulia dari sampah yang saya buang ke tong sampah.

Satu-satunya kebaikan mereka adalah, mereka jauh lebih baik ketimbang saya pribadi. Itu saja, tak ada yang lain.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. 49:6)

– FHW,
sampah.

Anak-Anak Kita adalah Indonesia yang Lebih Baik


– Foto nemu dari internet, hak cipta pada pemiliknya.

Apapun, saya angkat topi, big appreciate, untuk kedua pasangan capres yang memeras otak demi partai… sori, demi Indonesia ini.

Hanya saja yang saya perhatikan, saat moderator berulang kali mengingatkan audience, “Mohon untuk tidak bertepuk tangan atau bersorak saat pasangan capres sedang berbicara, karena hal ini akan mengganggu…”

Tuhan, di acara sekelas debat capres pun audience-nya ‘masih belom beradab’.

Inilah cerminan negeri ini.

Hal-hal kecil yang sebenarnya menjadi tonggak kekuatan bangsa kadang justru terabaikan: membuang sampah sembarangan, melanggar ketertiban lalu-lintas, merokok di sembarang tempat, menginvasi trotoar untuk tempat usaha, tertib – baik antri maupun termasuk tidak bersorai/tapuk-tangan sebelum sesinya tadi, dan sebagainya.

Hal-hal/persoalan sepele itu sebenarnya: tidak tertib, dll namun itu justru turut membuat negara ini malah tidak berdiri tegak.

Tao bilang, journey of thousand miles begin with one step. Sesuatu yang besar bahkan dibangun dari hal-hal kecil dan sederhana.

Jika kita disiplin dengan diri sendiri dan lingkungan sekitar, Insya Allah sikap dan sifat ini akan terus terbawa dalam disiplin di lingkungan kerja, serta disiplin menjaga bangsa dan negara ini: disiplin menjaga anggaran negara, disiplin menjaga kekayaan negara.

SIAPAPUN presidennya nanti, terserah silakan saja. Mereka semua adalah manusia juga, punya kelebihan dan kekurangan. Pun kami, juga Anda. Kita semua.

Namun kami percaya, mereka kedua pasangan ini adalah manusia terbaik untuk Indonesia saat ini.

Akan tetapi yang terpenting, mari kita semua turut berkiprah untuk berubah, berkiprah dalam perubahan untuk menjadikan Indonesia lebih baik. Dalam kapasitas kita masing-masing, dimulai dari diri kita sendiri, dimulai dari hal yang kecil-kecil saja dulu enggak usah yang muluk-muluk, dan dimulai dari sekarang juga.

Mari kita turut berkiprah demi bangsa Indonesia ini lebih baik lagi dari sekarang, dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak lagi melanggar ketertiban lalu-lintas, tidak lagi merokok di sembarang tempat, dan lain-lainnya yang semuanya ini yakinlah sebenarnya ‘sepele-sepele’ saja. Sesuatu yang sepele namun berdampak besar, sekali lagi, untuk negeri ini.

Untuk Ibu Pertiwi.

Untuk Indonesia yang lebih baik.

Untuk menjamin masa depan anak-anak kita nanti.

Masa depan anak-anak kita bukanlah sekedar jika kita mewariskan asuransi kesehatan dan pendidikan. Masa depan anak-anak kita bukanlah sekedar jika kita menyekolahkan mereka setinggi langit. Masa depan anak-anak kita bukanlah sekedar jika kita mewariskan deposito dan mewariskan usaha/perusahaan kita.

Masa depan anak-anak kita bukanlah sekedar jika anak-anak kita hidup selamat sementara teman-temannya (ada yang) menderita.

Masa depan anak-anak kita adalah jika mereka semua bisa hidup bersama, berdampingan, bahu-membahu membangun bangsa, kehidupan, dan peradaban. Sebab itu semua artinya adalah mereka membangun diri mereka sendiri juga. Menyelamatkan hidup bersama hakikatnya adalah menyelamatkan hidup masing-masing juga.

Sekali lagi, itu semua bisa bangun bersama, dalam kapasitas kita masing-masing, dimulai dari diri kita sendiri, dimulai dari hal yang kecil-kecil saja dulu, dan dimulai dari sekarang juga.

Semoga kita senantiasa berlindung kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk cita-cita mulia ini bersama-sama. Aamiin.

-Semoga kelak Aleef Rahman jika mulai besar bisa menyerapi dan menyesapi posting(doa) kami, orang tuanya ini.