Si Kecil Kami Ndhak Suka HD

Suka di jogja banyak moge. Tapi gak suka menjadi bagian dari mereka yang bunyiin sirine & ngeblong di perempatan traffict-light ….. #hayah

Di Eropa aja kemaren ketemu konvoi gak kayak gitu kok mas borrr 😀

Aziz Majid Jauhari


– Project LiveWire, purwarupa (prototipe) sepeda motor listrik Harley-Davidson.

Ceritanya pas kami di sebuah kota di Jatim. Di sebuah rumah makan, ada acara gathering rekan-rekan bimmerfan se-Jatim Mataraman.

Di tengah berlangsungnya acara, datang rombongan konvoi moge (motor gedhe). Merknya beragam.

Di tengah-tengah mereka ada motor HD. Sayang beribu sayang, entah dengan maksud dan tujuan apa, itu pengendaranya mbleyer-bleyer/geber-geber gasnya. Kebetulan kami di deket situ.

Si kecil langsung nutup telinga rapat-rapat.

Belakangan di sepanjang perjalanan pulang dia menyatakan ketidaksukaannya terhadap motor itu. “Kalo motor yang lain suaranya tidak kencang, yang itu kencang sekali. Bikin telingaku sakit…”

Kami tidak ke dokter THT setelahnya untuk memastikan apakah telinganya tidak mengalami gangguan. Hanya alhamdulillah, hingga sejauh ini pendengarannya normal saja.

Belakangan, setiap ada hal yang berkaitan dengan HD: gambar, berita, dll. si kecil langsung kembali menyatakan ketidaksukaannya. “Suaranya bikin telingaku sakit.”

Saya tak tahu, apakah dari seluruh pemilik HD itu tidak ada yang punya anak kecil. Atau mungkin anak kecilnya sudah kebal. Atau mungkin telinga anak kecil mereka sudah pada mengeluarkan cairan semua. Entahlah.

Bukan cuman HD yang mahal, motor ‘ecek-ecek’ ternyata juga ada yang kelakuannya sama persis: ngebrong knalpot.

Berbeda siy sebenarnya. Kalo HD emang dari sononya desibelnya kayak gitu, kalo itu motor ecek-ecek yg dibrong karena otak pengendaranya aja yang ndhak sadar situasi dan kondisi: jalanan umum dikira dan disamakan dengan sirkuit balap.

Satu persamaan lagi: moge-moge gitu kalo konvoi suka memaksakan alasan mereka ke publik: mereka beralasan itu mesin panas, sehingga harus dikasih prioritas jalan. Udah setara presiden niy… Masyarakat dipaksa harus memahami hal internal mereka.

Kalo penis situ meleleh karena mesin, emangnya ini urusan kita?

Klub motor ecek-ecek ternyata juga tak sedikit yang kelakuannya kayak gitu. Kaki dipalangkan yang mestinya sebagai pertanda be careful, sontak mendadak jadi pagar betis unuk menendang secara psikologis kendaraan dari arah berlawanan.

Cerita kemuakan masyarakat tentang fenomena kembar beda kendaraan ini udah bertahun-tahun tersuarakan. Nyatanya, fenomena gituan ternyata juga masih terus berlangsung. Menenggelamkan mereka yang tidak seperti itu.

Saya menebak, mungkin ketika berombongan, adrenalin mereka terpicu secara reflek. Jadilah muncul kelakuan aneh-aneh: geber gas, dll. Entahlah…

Soale saya ndhak pernah konvoi moge. Sekali-sekalinya naik moge BMW K1100 sendirian sepuluhan tahun silam, yang ada saya malah sungkan karena dilihati orang pas berhenti di lampu merah.

“Keren Mas motornya!” Kata pengendara di sebelah saya.

“Makasih Pak! Ini punya bos koq, bukan punya saya,” jawab saya penuh sungkan. 😀

***

Mungkinkah pemerintah masih ndhak tegas menerapkan regulasi batasan desibel karena mereka takut sama (yang punya) HD?

FYI aja Liks, buuuanyak sport-car yang sekarang meredam suara knalpotnya yang menyalak, dan menggantinya cukup dengan speaker internal yang membunyikan suara serupa knalpot menyalak cukup untuk didengar oleh penghuni kabin untuk tetap merasakan sensasi sportcar. Sementara suara di luar kabin relatif senyap dan tak mengganggu orang di sekitarnya.

Sebutlah Porsche, Peugeot pada RCZ, termasuk BMW-M yang mengsolusi case ginian dengan menggunakan muffler dua mode: bisa senyap bisa gahar.

Ya, produsen menyadari bahwa sekarang kondisi bumi makin ramai dan sesak, kita udah ndhak bisa menyalakkan suara knalpot sebagaimana jaman dulu jalanan masih sepi dan memang suara memekakkan telinga tersebut adalah memang bawaannya mesin gedhe dengan teknologi yg masih sederhana (jaman mesin masih pake karbu dll.)

Sekarang teknologi udah canggih. Power gahar gak harus didapat dengan mesin menggelegar.

Bagi mereka yang mesinnya menggelegar, mungkin dipikirnya sendiri serasa gagah dan jagoan. Apalagi ditambah sirene yang meraung-raung, mengalahkan suara sirine mobil pemadam kebakaran yang bergegas minta didahulukan, minta jalan dan minta orientasi menerabas lampu merah karena harus segera menyelamatkan banyak nyawa manusia.

Sementara bagi banyak orang, kelakuan mereka yang hanya mengumbar suara memekakkan telinga atau minta orientasi jalan sementara tujuannya cuma konvoi turing; rasanya tak lebih dari sekedar manusia berdompet tebal yang krisis eksistensi, kurang kasih sayang, mengalienasi diri sendiri dari sosialisasi publik, seolah serasa yakin bahwa mobil/motor mahalnya akan terus dibawa ke akhirat atau bisa mengantar mereka masuk surga;

atau yg pasti… menunjukkan bahwa isi dompet kadang memang gk berhubungan dengan isi otak dan isi hati.

***

Anakku, jika kelak mungkin engkau tidak sempat bertemu Bapak karena Tuhan punya kehendak, Bapak hanya ingin engkau membaca tulisan ini.

Jangan engkau pendam terus kebencianmu itu. Hari ini, HD pun sudah membuat purwarupa motor elektrik. Suaranya mendesing, bukan lagi menggelegar memekakkan telinga, gelegar yang hanya cocok untuk dipakai jalan di jalan interstate di Amerika yang membelah gurun itu.

Teknologi terus berganti, jaman senantiasa berubah.

Bapak tahu, kebencianmu saat ini adalah bentuk penolakan kepada ketidakbenaran. Bapak bangga kepadamu, Nak!

Namun berikutnya, pandanglah keadaan. Siapa tahu ternyata kelak engkau menjadi insinyurnya HD, merk yang kala kecil engkau benci, dan bisa berbuat kebaikan dari dalamnya, who knows kan?

Jadi, jika engkau sudah mengerti kelak, boleh engkau tidak menyukai sesuatu atau apapun, tapi jangan pernah membenci apa yang kamu tidak sukai itu.

Bapak tidak pernah ambil pusing engkau kelak jadi apa. Namun bapak senantiasa berharap, apapun yang engkau lakukan dan perbuat, senantiasa berbuatlah hal di jalan Tuhan: berlomba-lombalah dalam kebaikan.

Hidup hanya sekali, bergunalah.

Hanya satu yang Bapak ingin berpesan: harta kita yang menjaga, sementara ilmu menjaga kita.

Galilah terus ilmu hingga batas akhir hayatmu, hayat kita semua.

– Love you always,
Buapakmu yang mungkin sinis mungkin karena ndhak punya Harley.

Wallahualam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s