Premanisme Asap


– Anak ini pasti menjadi korban lingkungan.

Kami tidak setiap hari pegang uang. Beruntung, suami saya tidak merokok. Bagaimana umpama dia kecanduan rokok, dalam kondisi tak punya (banyak) uang?

Pasti bakalan menggerus jatah makan kami sekeluarga, jatah buat beli sayur dan buah, jatah uang buku si kecil, untuk dibakar menjadi asap yang sama sekali & benar-benar nol manfaat itu!

Kalo (alhamdulillah) kami sampai bisa membeli bensin untuk mengantar si kecil jalan-jalan, itu bukan karena kami kaya-raya. Melainkan karena suami saya tidak merokok. Ada uang yang tak terbuang sia-sia tanpa manfaat tanpa mashalat!

Bagaimana dengan mereka perokok yang berpunya?

Punya uang + merokok, bukanlah sebuah kemampuan, melainkan keterpurukan!

Uang yang harusnya bisa disumbangkan (lebih banyak lagi) untuk amal atau sedekah, terpaksa harus lenyap menjadi asap penebar racun dan laknat bagi kehidupan di sekitarnya.

SEKUMPULAN perokok telah menjadi gerombolan preman: mereka merasa benar tatkala di ruang publik secara bersama-sama menyemburkan asap kepada orang lain sesama pemilik hak publik yang tak pernah menghendaki semburan racun laknat tersebut!

Gerombolan perokok di ruang publik, telah menjadi sekomplotan manusia tanpa etika, tanpa tepa-selira, tanpa ‘unggah-ungguh’, tanpa sifat manusiawinya lagi.

Saat gerombolan perokok saling membenarkan diri ketika menyemburkan racun kepada manusia lain yang tak menghendakinya, mereka sudah kehilangan sifat dan hakikat manusianya: makhluk yang mestinya saling menghargai sesama, makhluk yang mestinya tidak menyakiti sesama.

TERPURUKKAH negeri ini jika pabrik rokok tutup? Terlantarkah ribuan pekerja jika pabrik rokok tutup?

Tanpa bermaksud menggampangkan urusan besar ini, karena menyangkut perut jutaan mulut, jika perokok berhenti dan mengalihkan belanja rokoknya untuk minum teh, untuk ngemil buah, untuk menggerus kerupuk, dll. maka akan tumbuh permintaan belanja teh, buah, kerupuk, dll. lebih tinggi lagi.

Jutaan pekerja bekas pabrik rokok tinggal nampani (menerima) limpahan permintaan tinggi pada barang/produk lain. Pabrik rokok bisa beralih fungsi menjadi pabrik pestisida organik, pupuk organik, dll.

Memang tidak gampang, tapi semua akan ada jalan jika ada niat: termasuk bagi yang ingin berhenti merokok atau mengubah produksi pabrik rokok menjadi pabrik pendukung bahan pertanian organik!

Sektor pertanian yang continuable akan berputar lesat. Sektor konsumsi akan terus tumbuh. Sektor produksi akan terus berjalan. Perekonomian akan tetap berputar (tambah) dahsyat!

Who says impossible?

Dan sekali-sekali jangan melecehkan Tuhan! Selama ini perekonomian kita terpuruk bisa jadi karena kita melecehkan Tuhan: kita membuka pabrik yang mengingkari titah Tuhan dengan memproduksi barang penebar mudharat bukan menebar maslahat!

Kita hanya mengukur kesuksesan ekonomi dengan angka perolehan, bukan dengan manfaat (benefit/maslahat) sosial! Keuntungan angkawi yang besar dari industri rokok, dibayar dengan kemiskinan dan pemiskinan umat, dibayar dengan penyakit fisik dan sosial peradaban.

Keuntungan angkawi itu, yang ada malah minus dan menjadi beban yang lebih memberatkan bagi negara.

Jangan sekali-sekali melecehkan Tuhan: bisa jadi dengan membuka pabrik pupuk organik, rakyat negeri ini akan drastis meningkat kemakmurannya, karena itu semua menebar manfaat dan Tuhan meridhoi!

TANPA bermaksud mencampuri urusan internal keluarga Anda, semoga bagi para ibu yang suaminya masih merokok, yang selama ini hanya bisa melawan dan menentang dengan doa dan cinta, terus diberi kekuatan untuk mengubah kebiasaan orang terkasih & tercinta Anda: sang imam keluarga.

Semoga imam keluarga Anda segera tersadar, bahwa uang yang mereka bakar menjadi asap laknat yang sama sekali sia-sia dan benar-benar nol manfaat seharusnya bisa menjadi uang yang bisa dibelanjakan untuk sayur dan buku untuk keluarga.

Doa kami menyertai.

KITA bisa mengawali jalan-jalan bersama keluarga dengan Bismillah. Kita bisa membuka pemberian sedekah dengan Bismillah. Kita bisa membeli sayur dan buku bagi keluarga dengan Bismillah. Kita berangkat kerja dengan Bismillah. Kita makan di warteg dengan Bismillah. Kita makan di restoran mahal dengan Bismillah. Kita berangkat ke water-park dengan Bismillah.

Namun patutkah merokok diawali dengan Bismillah? Bisakah menyemburkan asap rokok ke sekitar Anda dengan Bismillah?

ALHAMDULILLAH, ternyata jalan Allah untuk menyelamatkan hidup kami sekeluarga adalah penuh seni tersendiri.

Mungkin dengan ‘membatasi’ uang kami, Allah menyelamatkan suami dari rokok, menyelamatkan keluarga kami. Allah memberikan jalan terbaik-Nya tersendiri. Tinggal kita bersedia menerima ‘proposal-Nya’ atau menolaknya dengan kesombongan kita: sombong bahwa kita merasa mampu menghidupi keluarga meskipun tetap (sambil membuang dan membakar uang untuk) merokok!

Mudah-mudahan hingga esok dan seterusnya: tidak ada asap rokok di keluarga kami.

Berat, dan kami hanya bisa bertumpu pada bantuan Allah SWT. Bismillah…

http://m.facebook.com/note.php?note_id=10152843461610400
http://m.facebook.com/note.php?note_id=10150173768505400
http://m.facebook.com/note.php?note_id=10150173767355400

– Ibune Rahman,
Renungan Jumat ini.

Advertisements