Ini Posting Panjang, Sebaiknya Anda Tidak Membaca, Karena Posting Ini Tidak Berguna

Paparkan Dengan Jelas, Tanyakan Yang Pasti

Saya pernah diprotes. “Om Freema, gila kalo ngetik posting panjang banget!”

Well, saat ditanya tentang sesuatu, dan sekiranya saya bisa untuk menjawabnya atau sempat googling untuk menjawab pertanyaan temen (yang mungkin kesulitan googling karena pake henpun atau semacamnya), saya coba untuk menjelaskan selengkap mungkin namun sebisanya tetap seringkas mungkin.

Adakalanya sebuah penjelasan memang memaktub beberapa poin, yang itu harus disampaikan agar tidak bias. Alhasil, posting tampak serasa panjang.

SAYANGNYA, beberapa temen kurang suka dengan kultur ala skripsi ini: mendapatkan informasi lengkap namun masih terbatas pada koridor pembatasan masalah.

Beberapa temen suka posting yang bersahut-sahutan. Contoh kecil, saat ada yang posting poto: tanpa ada penjelasan apapun. Kemudian ada yang komen:

“Ini ngapain bro?”

“Sedang nganu.”

“Di mana bro?”

“Di sini bro…”

“Sama siapa aja tuh?”

“Temen-temen ini dan itu…”

“Itu kapan?”

Bla… bla.. bla…

Sama menjelaskannya juga siy, tapi nunggu dikomen dulu. Males… kelamaan. Jadi repot mencet keypad padahal mestinya kita cukup membacanya saja.

Ndhak salah juga siy yang macam ginian, karena akan membuat postingnya interaktif. Cuma jujur, saya males aja sama yang gituan: mbuang waktu! Sebab kita mesti posting komen dulu untuk mendapatkan ‘penjelasan’, bukan untuk mencari ‘jawaban’! Dan ini makan waktu lebih ndhak efektif ketimbang langsung membaca paparan yang menjelaskan.

***

KULTUR saya yang terbiasa cukup ‘mendapatkan penjelasan di depan’, dan tinggal ‘mencari jawaban di belakang’ (kita tanyakan hal yang perlu ditanyakan) inilah yang banyak berbalikan dengan banyakan kultur temen lain yang biasa ‘mencari penjelasan di belakang’, bukan ‘mendapatkan jawaban di depan’ (menanyakan hal yang -harusnya- udah tertera).

Akhirnya yang terjadi dg kultur kedua adalah: orang males membaca penjelasan, suka mengulang pertanyaan terhadap apa yang udah dijelaskan. Itu bagi yang nanya.

Case samacam itu sering terjadi di banyak hal. Di kaskus misalnya, banyak trit yang menebalkan keterangan: ‘baca keterangan dengan baik, jangan nanyakan yang udah dijelaskan’.

Parah banget sebenarnya, karena fatwa trit tersebut mengambarkan kondisi mentalistas interaksi-komunikasi kita: suka menanyakan hal yang sudah dijelaskan.

Lebih parah lagi bagi yang harusnya menyampaikan informasi. Ndhak lengkap memberikan deskripsi sesuatu, dalam kasus yang serius bisa berakibat fatal lho! Gambaran kecil dari hal semacam ini misalnya itu tadi: bagi yang posting poto (informatif) tanpa ada penjelasan yang berarti. Trus ngapain dia posting poto?

Iya kalo orang masih berempati dengan postingnya, bisa jadi masih berkomen menanyakan. Kalo udah males? Yang ada dia malah kayak bicara sendirian. Posting poto, kemudian ndhak ada yang respek dan peduli. Dan postingnya tenggelam tanpa arti. Kecuali sekedar membuang pulsa data sia-sia tanpa ada guna hanya sekedar nunjukkan eksistensi belaka yang tanpa makna hakiki.

Sayang aja, sebab kadang dari potonya (yang mana dalam beberapa hal poto bersifat informatif memang jarus disertai penjelasan yang melatarinya) mestinya bisa menimbulkan inspirasi bagi orang lain. Hilangnya respek orang, artinya matinya satu potensi inspirasi yang membangun. Sayang bukan?

***

MEMANG pada konteks lain, kadang saya pribadi berusaha memaparkan ‘hal dibalik layar’. Tidak berkaitan dan tidak diperlukan dalam mendeskripsikan suatu hal, namun kadang hal demikian ini seninya: mengetahui hal dibalik layar. Dalam sudut pandang tertentu, kadang ada poin inspirasi yang bisa kita dapatkan. Ini juga berdasar pengalaman saya menjelajahi berbagai posting temen, misalnya di blog.

Dan di konteks lain, kadang lagi saya juga mengikuti arus: berchit-chat. Berkomen-komen sesuatu yang kalaupun itu hilang, tak akan mengurangi muatan informasi yang patutnya disampaikan. Dan kadang ini bisa puuuanjang lho saya menenggelamkan diri: berchit-chat ria bersama banyak teman. 😀

Tapi chit-chat pun ada ‘rule’nya. Baiknya, bolehlah kita berchit-chat jikalau hal terpentingnya udah kelar kita kupas. Bukan sebaliknya, mementingkan chit-chat sementara hal pentingnya tiada termaktub apalagi terkupas.

Yang demikian ini yang akhirnya menunjukkan kualitas diri kita dan pilihan jalan hidup kita. Kadang orang mengeluh: susahnya mengatasi masalah saya! Eh sementara cara dia menggali inspirasi mengatasi masalah hanya dengan chit-chat yang tanpa muatan. Kenapa kemudian mengeluh?

Padahal, ‘keluhan’ itu kadang juga bisa membangun inspirasi. Inspirasi berupa cerminan bagi temen-temen online kita. Dari masalah yang sedang kita hadapi, dan kita share secara bermartabat, itu akan turut menjadi masukan bagi banyak temen: mengantisipasi agar bagaimana tidak terjadi masalah yang sama atau persiapan jikalau kemudian -tanpa diharapkan- kita mengalami masalah yang sama!

Berguna bukan berbagi ‘masalah’ itu? Sekali lagi, asal bermartabat cara berbagi dan menyampaikannya. 🙂

BLOG

SEDIKIT yg agak saya sayangkan adalah, sekali lagi, cara orang menuliskan blog. Blog biasanya padat dengan banyak muatan: iklan, dll. karena memang nyaris semua numpang di penyedia papan blog gratisan. Dan kadang iklan ini memang sengaja dibombardirkan oleh pemilik blog, untuk mendapatkan uang.

Nah, udah demikian beratnya sebuah blog dibuka, eh isinya ndhak mutu-mutu amat. 😦 Sederhananya, tingkat genuitas informasinya rendah dan semacamnya.

Sedikit disayangkan, kadang banyak blog yang ditulis dengan bahasa yg rancu. Saya tidak mempermasalahkan gaya bahasa yg dipakai lho ya: mau gaul, mau formal, atau bahasa daerah (yg saya pahami). Poin yang saya maksud adalah: rancu dalam penyampaikan maksud yang hendak disampaikan.

Yang paling sederhana kadang hanyalah subyek – predikat – obyek secara keseluruhan bias. Dan bukan cuman blog, di banyak komen pada forum -yg mana banyakan kita tak saling mengenal offline lawan komen kita- juga teramat sering komen ‘independen’ yang kurang jelas subyek – predikat – obyeknya. Membingungkan orang lain sob!

Padahal untuk menghindari kerancuan isi (konten) dalam blog itu setidaknya bisa kita lakukan dengan cara sederhana:

  • Ada case/informasi apa.
  • Apa pengaruhnya/seluk-beluknya.
  • Apa yang mesti kita selesaikan, tujuannya apa; atau apa point-of-view dari kita (opinim pandangan, kritikan, dll.)
  • Bagaimana caranya, atau apa kesimpulan/poin yang bisa Anda tawarkan. Itu saja, kita coba buat simpel aja dulu.

Kesayangan lagi pada blog adalah, kadang pengantar dan sampirannya kepanjangan. Sampe tiga paragraf. Eh sementara poin yang hendak disampaikan cuman satu paragraf.

Ya ampyun, meskipun orang ndhak wajib membaca blog Anda, tapi model Anda menulis blog yg macam ini bisa menjadikan bahan penilaian orang lain ke Anda lho sob! Padahal blog itu bisa jadi cara efektif kita melatih pikiran dan membangun diri lebih luas lagi lho!

Lainnya lagi pada blog adalah, banyak yang sekedar mengupas apa yg udah disampaikan pihak lain dalam bahasa mereka sendiri. Misalnya, ada situs operator yg udah dengan gamblang menerangkan bagaimana cara registrasi paket internet. Tanpa ada penjelasan tambahan pun orang udah paham. Eh ada blog yg menjelaskan ulang dengan bahasa dia sendiri, dan kadang malah bikin bingung!

Ini beda tentunya dengan blog bermartabat yg mencoba mengupas cara unregistrasi sebuah layanan yg kadang terindikasi memang sengaja disembunyikan oleh sebuah operator/provider layanan misalnya, atau sederhananya kurang gamblang da kurang langsung untuk ditemukan lah, entah dengan maksud apa. Nah blog yg membuka informasi tersembunyi dengan gamblang inilah yg bermartabat: memberikan informasi yang jernih dan tidak bias ke pengunjungnya. Asyik kan sob?

***

Dan biasanya, blog-blog yang super-duper parah kontennya gitu, adalah blog-blog SEO (search engine optimization). Mereka cuman memafaatkan bahasa pemrograman agar laman blog mereka tampil di peringkat tertinggi pencarian google (google rank).

Isinya? Alakadarnya!

Wong yang ngisi laman blognya juga mesin, ngambil dari laman lain. Bukan tangan manusia yang jelas sebuah scenario-plan dan plot tulisan/isi/konten laman blognya!

Menjijikkannya, pelaku SEO ini sering berkoar-koar bak pahlawan yang memperjuangkan kehidupan. Padahal kelakuan mereka sangat memuakkan. Sebuah laman wajar morat-marit kontennya karena diisi oleh mesin, bukan dengan tangan. Dan kadang sering pula nyomot kontennya itu tanpa memaktubkan sumber asalnya alias maling konten, buat “ngasih makan” laman blog SEO mereka.

Kalo saya pribadi membahasakan: laman SEO yang macam ginian ini telah melacurkan etika penyampaian informasi. Inilah kaum negative-SEO.

***

JADI, biasakanlah menyertakan keterangan dan penjelasan di depan. Ini akan menunjukkan kualitas siapa Anda. Runtut dan runutkan isi & penjelasannya.

Dan jika bertanya, maka bertanyalah hal yang memang patut ditanyakan; bukan untuk hal yang sia-sia untuk ditanyakan. Sebab kecerdasan orang bukan dilihat dari jawaban yang dia berikan, melainkan dari (bobot) pertanyaan yang dia ajukan.

Eh sori postingnya panjang lagi.

IMHO, CMIIW.
-Freema HW, bapakne Aleef Rahman H.

Cara Mudah Menghancurkan Indonesia

Menghancurkan negeri Indonesia ini sangatlah teramat mudah.

Bukan dengan sekedar memaling & melarikan isi perut bumi Ibu Periwi ke luar negeri; bukan dengan sekedar terus mengadu domba antar umat beragama atau antar aliran internal agama; bukan dengan terus menggalakkan korupsi atau menguatkan sistem yang koruptif sehingga orang ndhak niat korupsi pun bisa terpaksa harus korupsi; dan tak cukup hanya dengan menebar mudah-mudah berbagai jenis narkoba ke para remaja dan seluruh elemen bangsa, serta gak cukup hanya dengan terus menguatkan sistem multi-parpol pemecah antar golongan belaka. Meski mengerikan, itu semua hanya efek dari satu hal saja…

Menghancurkan negeri dan bangsa Indonesia teramatlah mudah.

Hancurkan (dan lenyapkan) saja pendidikan BUDI PEKERTI di negeri ini. Dijamin, bangsa ini bakal segera tamat riwayatnya ndhak pake lama!

Ndhak percaya?

– FHW