Moge

Siang ini di suatu perempatan besar di Kota Kediri. Antrian kendaraan lumayan panjang. Lampu sudah hijau, tapi semua tak bisa bergerak karena ditahan oleh polisi.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara sirine meraung. Ternyata rombongan motor besar dikawal oleh polisi.

Mereka melaju dengan kecepatan tinggi semua. Namun saya tak ambil pusing. Dan sebagian anggota rombongan motor tersebut beberapa melaju di jalur kanan, jalur yang milik kendaraan berlawanan arah. Serius ini, saya lihat dengan mata kepala sendiri!!! (Dan tentunya semua yang terpaksa berhenti di lampu merah tersebut pasti pada lihat semualah…)

Yang sedikit jadi pertanyaan saya adalah, umpama ada ambulance harus berlawanan arah melaju di jalurnya sendiri yang dipakai rombongan konvoi tersebut sebagai jalan terdekat ke rumah sakit, apakah kemudian anggota konvoi tersebut dengan sigap memberi jalan?

Atau ambulansnya harus ikut berhenti bersama buuuanyakkk kendaraan lain?

Trus, ngapain siy sebenarnya mereka harus melaju super kencang gitu? Meskipun pakai patwal, ini kan bukan sirkuit yang steril dari kendaraan lain? Sedikit pelan gitu, merusak mesin kendaraannya kah? Kalo takut rusak, ya jalanlah di sirkuit sendiri, bikin jalan pribadi sendiri sana, dari Sabang sampe Merauke.

Atau, adakah pejabat dalam/bersama rombongan konvoi moge tsb. yang sedemikian urgen waktu & kepentingannya sehingga harus lari super kencang? Urgen mengurusi rakyat?

Bentar, bukankah kendaraan lain juga sama urgennya dengan mereka, yakni untuk bekerja dan membayar pajak buat menggaji mereka?

Lagian kalo pejabat dalam kepentingan urgent, ya pakai mobil plat merah dong… Ada SBY kah dalam rombongan itu? Kalo iya, wah…kalo sampe ada SBY di rombongan itu, celakah kita sebagai negara kalo presidennya sampe berbuat tolol kayak gini…

Ada gubernur kah dalam rombongan itu? Kalo iya, haduh… naas banget ini propinsi sampe punya gubernur ndhak beradab kaya gitu…

Ada Bupati/Wali Kota di rombongan itu? Pasti mereka adalah pemimpin yang cuma didatangi penjilatnya, bukan pemimpin yang sungguh dicintai rakyatnya. Pemimpin ndhak bergunalah bahasa kasarnya…

Atau, apakah karena motor mereka lebih mahal dan pajaknya juga lebih besar (semua bayar pajak ya?) trus dapat perlakuan super spesial kayak gitu, yang jauh beda sama konvoi klub motor kere?

Lha kalo masalah besaran pajak, itu sudah konsekuensi mereka mengikuti regulasi pemerintah. Trus di mana ‘lebih’-nya yang hanya karena sekedar pajaknya lebih besar sampe minta perlakuan berlebihan gitu? Ndhak mau bayar pajak mahal ya jangan beli motor itu…

Trus lagi yang jadi pertanyaan saya, kenapa jarang ya konvoi motor “kacangan’ dikawal sedemikian super kayak moge gitu? Kalo ini alasannya jelas, pasti karena konvoi/klub motor kere gitu ndhak kuat mbayar polisi. Kalo perlakuannya sama, kenyataannya di jalanan jarang banget klub motor ‘kere’ gitu dikawal sama polisi.

Pasti polisinya bilang, “Ndhak koq mas, semua perlakuannya sama… Mungkin itu klub yang ndhak mau menghubungi polisi…!”

Well, kalo beneran itu klub motor “kere” ndhak mau menghubungi polisi, segitunyakah sampai ndhak mau? Ndhak mungkin rasanya kalo tanpa alasan sama sekali…

Dan tetep yang jadi pertanyaan saya, itu tadi lho, yang sampe makan jalur lawan. Benerkah ginian dalam konvoi?

Dan pasti mereka ketawa baca posting saya ini, “Dasar situ ndhak punya moge, pasti ndhak ngerasakan lah gimana rasanya jiwa ini saat duduk di atas moge! Ya pasti omongannya (saya) jadi kayak (posting) gini…!”

Asli, saya pribadi beneran sangat amat pingin umpama punya rejeki lebih gitu bisa beli moge gituan barang sebiji. Tapi saya sungguh juga sangat ingin, kalo punya moge, ndhak mau ngikut kelakuan ndhak jelas kayak gitu…

Mudah-mudahan, andai kelak saya bisa punya moge, saya ndhak menuhankan moge saya. Saya bisa menggunakan jalan sa,a seperti mereka yang pakai (maaf) motor kere, seperti motor saya yang velgnya bengkak karena kena lobang di aspal dan belum mampu untuk memperbaikinya 😦

Dan jujur, nyaris saya mendoakan agar itu pengendara moge ada yang menghantam lobang, terjungkal, trus mati. Tapi, buat apa saya beragama dan percaya pada Tuhan kalo sampe berdoa kayak gini?

Batin saya bertentangan…

SAYA suka moge. Meski saya ndhak punya moge. Cuman nyobain beberapa moge punya rekan/kolega. Dan rasanya memang bikin merinding.

So, selain masalah perawatan (dan harga belinya tentunya), yang saya dapatkan dari mengendarai moge adalah: perlu mentalitas untuk menaklukkan diri sendiri. Moge yang kencang memang membuat jiwa kita mendadak gimanaaa gitu: bisa serasa mendadak berubah arogan, kemlinthi, dll. Sebab di Indonesia, se-low-low profile-nya kita nunggang moge, kita masih menjadi perhatian publik di jalanan. Ini bawaan alamiah (nunggang) moge di kultur Indonesia.

Jadi kalo sekarang Tuhan belom ngijinkan saya memiliki moge, brarti iman saya mungki memang maih lemah untuk jadi rider moge sejati yang low profile, menomorsatukan regulasi dan adab/tata krama & sopan-santun di jalan raya, tidak arogan dan menang sendiri, dsb.

#bisa-bisa saya diciduk polisi dan dilenyapkan sama preman.

#tolong everybody, kalo saya lenyap gara-gara ada pihak yang ndhak terima sama posting saya ini, kasih pekerjaan halal ke istri saya, yang penting anak saya bisa cukup makan. Terima kasih, dan semoga Allah SWT membalas kebaikan Anda.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s