(Bimmer The Series) Sebuah BMW Tua

BMW E34 M20

BMW E34 M50
[Aka. Memilih BMW Part V]

BMW Tua In My Humble Opinion
(IMHO – dalam pendapat sederhana saya)

Apakah buat ngebut? Bukan! Naik BMW itu enak santai saja, tapi santai-nya BMW lho 😀 Apakah buat mejeng? Ya monggo aja, tapi ‘siapa’ yg mo peduli-peduli amat sama mobil tua ginian?

Kerenan juga Honda Jazz pake spoiler sama velg ceper tipis… 😀 Apakah buat pamer? Ehm.. cuy, harga mobil ini cuma beberapa puluh jeti, bahkan cuma setara motor (Ninja 250 tapi :D)… dan masih lebih mahal mobil Jepang tahun setara! ‘Apa’ juga yg mo dipamerkan?

So, buat apa dong? Buat safety-first, Man! Buat bawa keluarga, agar nyaman dan aman/selamat dalam perjalanan!

Doa adalah penetu utama perjalanan kita.. Driving-skill: termasuk kemampuan pengendalian teknis dan kekuatan konsentrasi/fisik selama mengemudi adalah ejawentahnya…

Dan, kemampuan fisikal-teknikal kendaraan kita adalah pendukungnya!

Sebagaimana BMW, yg meskipun tua, adalah tetap dalam rancang bangun terbaiknya.. Ditambah perawatan nan optimal, Insya Allah keluarga (dan diri kita) telah terupayakan untuk faktor perlindungan/keselamatannya dalam bepergian…. Selebihnya, sekali lagi, kita berdoa pada Tuhan agar senantiasa melindungi kita dari godaan pengemudi buruk yg terkutuk dan aspal berlobang nan jahaman 😦

BMW, enaknya dikemudikan dalam hening. Kita lari kencang tanpa ada orang tahu. Kita bisa ngebut tanpa perlu kita umbar ke banyak mata. Inilah nikmatnya BMW.

Akan tetapi, kalo di lampu merah ada mobil lucu yang belagu pakai geber-geber gas memekakkan telinga, well… kita juga bisa ngeladeni dan ngasih pelajaran koq…

Ajak aja ngetrek Kediri-Jakarta nonstop! 😀 Coba aja dengar apa kata mereka. Kalo mereka cuma mau narik di dalam kota, cuma dari sini ke situ, hmm… jawab aja, lha apa enaknya cuma dari sini ke situ? Ya to? Tooo…!

Dan, sebuah BMW tua E34 520i bermesin M20!!! yang masih belum pake teknologi HVA alias hydraulic-valve-adjuster alias penyetelan katup osotsmastis alias masih harus diseteli katupnya secara manual; yang komputer alias ECU-nya blom serumit mobil-mobil sekarang; yang kompresinya aslinya memang rendah dan justru harus pakai premium bukan pertamax; yang dipiara rekan kita Mohammad Harvi Ihsan membuktikan…

…dengan beban 5 orang plus barang; dan mesin serta kondisi kendaraan standaran aja; hanya disentuh di knalpotnya saja; dalam tampang cool-nya ternyata juga bisa beringas sampai 220kmh!

(Foto atas. Di foto sempat turun jadi 210kmh, karena yg punya sedang ‘taruhan nyawa’ buat njepret itu momen. http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1773219384926&set=a.1767654525808.72277.1672535300 – Link friend-only.) Malah E34 520is matic punya seorang rekan dari Surabaya, speedonya malah muter sampe mentoktoktok! http://img529.imageshack.us/img529/6436/16636814235139582654010.jpg

BMW tua ini, bukan buat nyari hal-hal negatif yg sekiranya membahayakan keselamatan kita dan pengendara lain. Namun untuk BMW tua ini, juga pikirkan dulu buat yg mau coba-coba usil ‘nyari perkara’!

Whrooom!

CMIIW & IMHO
Freema H. Widiasena
Just another view of ‘majas’ 😀
Catatan ini pernah saya tulis pada tanggal 27 Juni 2011 pukul 3:01

————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://m.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/

Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/

Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/

Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/

Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/

Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/

Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/

Advertisements

(Bimmer The Series) M5: Murah Meriah Mewah Mangstabs Maknyusss!

Saya banyak tertarik dengan beberapa comment mengenai BMW, kalo boleh saya dibagi ilmu untuk memilih BMW tahun2 90 an ke atas…kayaknya prefer seri 520 (soalnya kelihatan mapan dan nyaman)..itupun kalo tidak keberatan…:)

-Sebuah PM ke saya.

BMW E34

[Aka. Memilih BMW Part IV]

Saya sebenarnya nggak terlalu “berilmu” alias ngeh tentang BMW. Ada master dan jagoan yang jauh lebih paham seluk beluknya; yang ada di belantara dunia maya, termasuk di sini. Makanya kami jawab PM tersebut secara terbuka, dg harapan para master bakal turun gunung kasih pencerahan.Well, BMW E34 520i memang pilihan yang pas dari segala sisi: ekonomis, teknis; dan psikologis-emosional.

Sisi Ekonomis

Secara ekonomis, Seri 5 adalah BMW dengan harga paling jeblok (ini juga salah satu alasan kami milih seri 5). Dibanding dengan Seri 3 pada mesin dan tahun yang sama, Seri 5 relatif jauh selisihnya. Sebuah 520i tahun 90 pertengahan bisa dibawa pulang dengan kisaran 40an juta. Smentara 320i tahun yang sama mesti ditebus sekitar 20-30% lebih tinggi! Asumsi kondisi kelayakannya sama. Kenapa demikian?

Salah satu faktornya adalah murni hukum pasar: ekuilibrium antara permintaan dan penawaran. Namun dari sisi teknis memang ada sedikit perbedaan. E34 tahun 95 adalah generasi produksi terakhir generasi E34 sejak ia hadir di sini tahun 80-an akhir; sementara E36 tahun 95 baru masuk setelah dari lifetime-nya, yang mana di Indonesia baru nongol sekitar tahun 92-an. Dan mesin 6 silinder 2 liter E36 (M52) memang penyempurnaan dari mesin 6silinder 2 liter E34 (M50).

Namun memang selebihnya, faktor suplai-demand yang banyak mengarah ke E36 adalah faktor penguat yang cukup signifikan. Kenapa banyak permintaan ke E36?

Mungkin mobil ini sudah lumayan badak ketimbang rivalnya yang datang dari Jepang: Corolla, Civic, dll. Yang mana memang preferensi pasar di Indonesia banyak menyukai ke segmen compact-sedan demikian. Sehingga E34 kurang dilirik, sekaligus mencerminkan kondisi market yang kurang demen segmen mid-size sedan; setara dengan Accord; Corona/Camry; dll.

Untuk harga seken, E34 dengan gambaran spek dan kondisi yang seimbang, relatif juauuuh lebih murah 20%-30%an ketimbang Benz. Meski Volvo lebih murah lagi, dan sebuah 505 justru akan membuat Anda nggak percaya saat membayar, saking murahnya untuk sebuah mobil yang nyaman dan aman dikendarai! Sebuah Peugeot 505 kondisi luayak malah bisa dibawa pulang hanya dengan 20an juta! Ada siy yang sekitaran 10an juta, tapi ya harga bawa rupa lah…

Teknis: Maintenance

Terhadap rival “seimbangnya”: Benz, Volvo, Peugeot, E34 punya positioning ekonomis yang relatif juga. Benz dikenal lebih murah dalam perawatan, karena banyaknya pilihan komponen aftermarket (pilihan KW-nya lebih banyak – nyimpulkan dari forum & berbagai sumber siy). Namun rasanya, pilihan komponen aftermarket untuk E34 juga nggak kalah melimpah dan murahnya.

Dan memang, untuk mobil umur belasan-dua puluhan tahun, rasanya memilih komponen aftermarket sudah merupakan keniscayaan siy… Soale, kalo ke beres (bengkel resmi) kadang biaya perawatannya nggak nyucuk, nggak sumbut (nggak imbang, nggak sebanding) dengan harga beli mobil ini yang luar biasa murah. Sementara di sisi lain, suplai komponen aftermarket untuk mobil eropa tua gini sudah sedemikian melimpah semua dan kualitasnya juga sudah mumpuni.

Performa

Di kalangan rekan bimmerfan, E34 520i memang susah untuk diorientasikan ke speed-lover. Secara, dengan mesin yang sama, E36 320i cuma menarik bodi yang 300kg lebih ringan dengan jarak sumbu yang lebih pendek dan lebih sempit. Maka mobil ini bakal melejit jauh lebih enteng.

Banyak yang memilih 520i bertransmisi manual, agar tenaga yang lemah (bila dibanding bodi yang sedemikian tebal dan berat) masih bisa diimbangi dengan putaran tinggi untuk nge-gain powernya.

Kalo matic, saya pribadi belum pernah merasakan. Namun untuk ukuran BMW, beberapa rekan mengatakan agak mengecewakan.Tapi well, tampaknya “mengecewakan” untuk ukuran BMW ini bisa jadi tetap masih jauh lebih nyaman dan nikmat ketimbang rivalnya yang dari Jepang 😀 Asal mobil dalam kondisi terawat dan wajar/normal aja.

Namun dari orientasi keseluruhan, memang seri 5 dan seri 3 “berpisah” di sisi speed dan comfort. Orientasi di sini bisa dipahami sebagai mana yang lebih didahulukan. Seri 3 lebih berorientasi ke speed, meski tetap tanpa meninggalkan comfort-nya; sementara seri 5 lebih orientasi ke comfort, tanpa meninggalkan speed-nya. Seri 7 kalo 730i, menurut seorang pemilik yang punya 530i sama 730i, juga nggak terlalu “narik” kalo urusan lari. Sebab tentu orientasinya bakal lebih banyak lagi ke comfort 😀

Sisi Emosional

Ini sisi paling relatif. Amannya saya bilang, semua BMW sama dan sebanding sisi emosionalnya. Yang membedakan mungkin di harga perolehannya 😀 Tentu seri 7 akan lebih enak dinaiki, kalo memang anggaran kita kuat di maintenance-nya; bukan sekedar di harga perolehannya. :DSeri 3 juga bakal menyenangkan.. Karena selain fun to drive, juga ia relatif murah di konsumsi BBM atau di biaya perawatan rutinnya. Anggap aja seri 5 ada di tengah-tengahnya.

Patokan Milih

Print 3 (tiga) lembar dokumen ini:

Ini adalah dokumen schedule perawatan, namun setidaknya bisa dijadikan patokan buat nyari barang.

Kondisi Keseluruhan

Dengan bodi yang lumayan gambrot, plat bodi yang lumayan tebel, memang seri 5 ini dah kelihatan kalo anteng nyaman di jalan. Tapi ya itu, konsekuensinya, dengan mesin yang “cuma” 6 silinder 2 liter, sebenarnya relatif pas-pasan untuk ukuran BMW. (Soale kalo dah di belakang kemudi BMW, kaki rasanya gatel aja mo bejek gas kalo nemu jalan sepi :D)

Namun kondisi ini tentu diimbangi dengan kenyamanan yang luar biasa. Paling kerasa kalo dah dipake turing antar-kota antar-provinsi, kerasa banget BMW-nya! Kalo cuma dalam kota mah, ya malah so-so gitu 😀 Malah dapetnya BBM boros 😀

Secara umum perawatan juga relatif sesuailah. Harga kampas rem seset semua sekitar 700an ribu (depan + belakang). Malah nggak beda dengan Kijang super 😀 Kalo beberapa parts lebih mahal, misalnya suspensi total di Kijang cuma 800 ribu sementara BMW bisa 2 jutaan; ini juga kaarena spek beda drastis. Harga segitu di BMW masih diimbangi dengan kenyamanan dan daya tahan yang lumayan koq… Intinya sesuai(worthed)lah.

Lainnya itu, kalo beberapa komponen maintenance kerasa agak mahal, ini juga karena teknologi mobil tersebut sudah lumayan maju untuk umurnya. Sebandingnya malah mobil Jepang yang lahir 5 tahun/lebih kemudian 😀

Malah di beberapa mobil Jepang dengan umur lebih muda yang teknologinya kadang kalah imbang, biaya perawatan ada juga yang lebih mahal.

Trus enaknya lagi, untuk BMW, bengkel independen spesialis BMW juga sudah lumayan merata, khususnya untuk Jawa. Jadi nggak khawatir kalo masalah maintenance.

Ini saja yang bisa saya share. selebihnya mari kita diskusi di sini http://m.facebook.com/groups/323699264381705 Nanti biar kawan-kawan yang pakar per-BMW-an banyak nimbrung membagi pengalamannya 😀

IMHO & CMIIW
Freema H. Widiasena
Catatan ini pernah saya tulis pada tanggal 23 Juni 2011 pukul 0:48

————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://m.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/

Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/

Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/

Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/

Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/

Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/

Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/

(Bimmer The Series) Memilih BMW Pt. III

BMW E36 Sedan

Bro,

Salam kenal dulu yah…

Numpang nanya bro, gw ada niatan untuk ambil 323 e36 tahun 97 manual, klo yg gw denger2 dari orang sih mereka gak recommend yah utk ambil biem tahun tua ktnya bakalan ngerongrong lah inilah itulah…

Makanya disini ane mo minta saran dari ente kira-kira gimana yah plus minusnya klo ambil mobil ini? Dari sisi perawatan pastinya n range harganya utk 323 ini brapaan yah, soale ane juga liat ada yg jual biem 323 matic tahun 1999 harganya sampe 110jt… Mahal banget yah kayaknya…

Mohon pencerahannya yah bro soal biem nih.. pengen beralih ke European car nih soale, cape juga pake Jepun…

Many thanks before

Regards,

Kukung

Salam kenal balik.. 🙂

BMW 323i adalah seri terganas di jajaran E36. 320i sebenarnya juga dah top markotop. Bayangkan aja, saat lawannya, semacam Civic, Corolla, dll. yang masuk kelas compact-sedan hanya dipersenjatai mesin 1600-1800 4 silinder, gardan depan lagi, BMW sudah menyematkan mesin 6 silinder di sedan compact tersebut. Gardan belakang lagi! So, 320i adalah “puncak” di mana bagi yang ingin sedan ramping untuk touring dan cruising, namun handal dan luar biasa performanya jika kaki lagi gatal buat bejek gas 😀

BMW 320i menyasar ke segmen yang cukupan cruising dan touring-nya, namun masih punya cadangan melimpah bila satu saat diperlukan, misalnya saat mendadak harus melarikan istri yang hendak melahirkan ke rumah sakit, dll. gitu…

Apa nggak berlebih tuh?

Then masih ada lagi 323i. Untuk ukuran Indonesia, ini sebenarnya sudah kelas berlebih lagi. BMW 323i tentu bukan lagi buat segmen 320i. Sedan ini sudah ditujukan buat yang menikmati kendaraannya, atau yang suka risih kalo mendadak ada yang geber-geber gas di sebelah pas di lampu merah.. Padahal mobilnya cuma -nooffense- Timor misalnya 😀

Saya pernah gitu, ada Timor sama Civic knalpotnya memekakkan telinga banget. Saya kasih senyum aja… Pas lampu berubah ijo, saya dampingi mereka akselerasi, then saya bejek gas biar sadar diri kalo itu mobil knalpotnya suara rambo tenaga rinto 😀 Piss!

Back to 323i, mesin ini -dengan 2500cc- tentu bukan lagi buat yang suka turing/cruising santai namun punya cadangan tenaga melimpah. Sedan ini justru dirancang buat yang ingin menikmati kendaraannya. Merasakan nikmatnya berkendara! Melaju sendirian di tol yang sepi dan menikmati sensasi speedometer berlama-lama pada posisi tegak lurus ke atas namun dalam kenyamanan yang luar biasa; atau sekedar narik setelah lampu merah di jalanan yang sepi pas tengah malam, dll. Intinya, 323i adalah untuk kenikmatan, dan tak perlu banyak orang tahu akan apa yang telah kita nikmati bersama sedan ini.

Percayalah, kalo dah di balik setir BMW, kalo pas banyak orang gitu kita malah bakal sungkan mau “show-off” mobil kita.. BMW justru kehilangan ke-BMW-nya kalo kita -maaf- belagu: narik pas lampu hijau disaksikan banyak mata; nyelip-nyelip zigzag di tol yang ramai lancar, dll.

BMW justru nikmat luar biasa kalo kita nikmati dalam kesendirian. Dan kita kemudikan secara normal mengikuti alur dan alir lalu-lintas yang ada saat di keramaian.. Saat kita bisa membawa diri: mengikuti kondisi lalu-lintas dalam sebuah BMW, rasanya orang justru respek dan hormat pada kita. Dan sama enaknya kalo turing rame-rame siy 🙂

Kalo emang nggak terlalu mikir “apa kata orang”, yang bensin boroslah, yang spareparts mahal-lah, yang ini-itulah, kami malah prefer en suggest ke 323i. Kenapa?

Ada satu keuntungan tambahan dalam 323i.. yakni, mesinnya sama pleg dengan Seri-5 528i E39! Apa fungsinya, bagusnya, dan enaknya?

Mesin ini gampang banget diupgrade jadi 2800cc, atau kalo diluar negeri jadi 328i, seri tertinggi E36 normal (bukan M3 maksudnya). Menurut banyak referensi, menaikkan cc ini nggak pake terlalu banyak ubahan. Kalo biaya saya kurang paham (di forum gampang banget ditelusuri). Dan dengar-dengar, di Jakarta banyak sekali permintaan up-grade ini.

Bayangkan 323i aja tenaganya sedemikian melimpah, apalagi yang 328i! 323i saja saya bayangkan kaya mesinya Camry dimasukkan ke Corolla. Pasti luar biasa itu. Gak kebayang malahan gimana rasanya kalo 328i. :))

So, kembali ke masalah “kata orang”… Boroslah, sparepart mahalah, dll. Well, kami nggak menutup mata akan hal ini. Kalo dah kena ganti parts yang mahal, rasanya tulang belulang ini serasa rontok dari badan, lemas tiada tara… Tapi, itu semua bukan risiko, kami menyebutkan konsekuensi.

Harga beli awal sebuah parts BMW memang luar biasa, khususnya bila dibanding mobil sejuta umat pada zamannya. Namun, harga parts BMW ini sebenarnya sebanding dengan umur, daya tahan, dan kemampuannya. Sebuah suspensi BMW yang total untuk menebusnya perlu angka sekian juta, bila dihitung pada umur pemakaiannya, sebulan sebenarnya kita justru keluar duit 50-an rb doang!

Ini bisa dites head-to-head dengan mobil Jepang lainnya. Parts mungkin lebih murah, tapi umur juga lebih pendek. Toh biaya waktunya, mungkin per bulannya, jatuhnya bisa jadi sama or even lebih mahal!

Andaikan (masih saja tetap) sama, ada satu mungkin yang nggak sama: kenikmatannya! Malah ada yang compare, pada beberapa jenis mobil Jepang dengan teknologi dianggap setara pada BMW, biaya parts dan meintenisnya jauh lebih mahal!

Bro Kukung yang biasa pakai mobil Jepang bisa membandingkan sendiri nantinya bila sudah merasakan benar keduanya: antara BMW dengan mobil lamanya 😀

Then bahan bakar (fuel-consumption/FC).. BMW memang banyak dibilang lebih boros… Ya iya jika yang dibandingkan Corolla 1600 cc dengan BMW 2500cc… Biar fair, suruh mereka yang bilang gitu untuk compare BMW 323i dengan Camry 2.4l… Camry yang harusnya lawannya Seri-5, bisa-bisa malah head-to-head dengan Seri-3 yang notabane adalah kompetitor Corolla/Civic 😀

Dan yang terpenting dalam sebuah BMW, adalah safety-nya. Kalo ini saya nggak banyak teori. Kejadian kami  pecah ban http://www.facebook.com/photo.php?pid=6941912&l=c39cc816c6&id=641283286 (atau ini http://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150215764223287.329040.641283286&l=d502617a88) adalah bukti dan jawabannya… Masih safe dalam kondisi ban yang sobek-sobek seperti kata Tukul 😀

Ini mungkin masalah plus minusnya.

***

Perkara harga pasar, ini sangat susah untuk dideskripsikan secara tepat, detail, atau sesempurna mungkin. Biar bagaimana, prinsip pertama dan paling utama untuk harga pasar adalah: harga harus sesuai kondisi. Jangan sampe barang busuk dibeli dengan harga tinggi. Kalo barang bagus dapat harga murah, ya itu anggap aja berkah dari Yang Maha Pemurah, bukan sekedar berkah dari si penjual. Namun faktor ini abaikan saja, jangan terlalu diharapkan. Ntar malah gak beli-beli mobil kita, sementara kebutuhan terhadap mobil sudah mendesak. Kalo toh dapet pas barang bagus harga murah, ya sudah, Alhamdulillah…

Mending realistis. Barang kondisi begini, berapa pasarannya. Or dengan duit segini, dapatnya kaya gimana. Ini aja yang kita jadikan pegangan/patokan.

323i (E36) yang ditawarkan sampe seratus juta, kami pikir wajar aja. Sejauh -misalnya- itu mobil memang rawatannya Astra non-stop. Kalo dapet barang gini dan Anda memang punya duit segitu (well, duit segitu buat beli Innova seken tahun terlama juga bisa jadi nggak cukup, dan masih jauh lebih murah ketimbang sebuah Honda Stream), malah bagus. Anda selain dapat mobilnya sekaligus dapat kepastian trouble-free dan worry-free serta bebas repairing/perawatan awal di depan pasca pembelian.

Tapi gimana kalo pinginnya sesuai kantong aja, dan kita sadar kalo barangnya nanti pasti belum tentu bagus? Ya GPP.. Kesadaran kita di depan ini yang jadi bekal untuk merawat dan mencintai serta memelihara mobil kita untuk kedepannya. Perbaikan bisa sambil jalan, pelan-pelan tapi pasti gitu. Kata Bro Vino, salah satu master BMW kita, namanya mobil bekas ya mobil bekas. Tentu pasti ada gak sempurnanya. Kalo sempurna, malah mencurigakan jadinya 😀

Asal, yang penting itu mobil surat-menyuratnya legal aja (lengkap BPKB, STNK. sukur-sukur faktur pembelian & bukti legal lainnya) serta sasis jangan sampe cacat/bengkok. Mo pajaknya mati berapa tahun pun, mo bodinya penyok kayak gimana, mo mesinnya hilang semua jeroannya, semua masih bisa dibetulkan sempurna sebagaimana barunya meskipun memang perlu waktu untuk itu…

Namun well sekali-lagi, kondisi harus sesuai harga. Makanya justru ada BMW tua dijual cuma 7 atau 17 juta, kondisi bodi penyok dan pajak modhar sekian lama. Sementara BMW yang sama dijual 20-40 juta lebih mahal dengan kondisi layak siap jalan.

Kemudian kalo dapat mobil layak, masalah aksesoris/variasi. Beberapa & kebanyakan pembeli mobil yang kami amati justru suka yang kondisinya orisinal saja. Variasi, semahal apapun, ini sudah bicara selera. Dan selera justru non-debatable… Kalo selera Anda kebetulan cocok dan budgetnya sesuai, ya monggo. Kalo kebetulan nggak sama tapi Anda naksir mobilnya, mungkin perlu dibicarakan masalah keberadaan aksesoris yang menempel dengan pihak penjual. Kalo ini sudah murni ranah domestik-bilateral yang nggak ada benang merahnya 😀

Dan untuk menentukan kondisi BMW yang tepat sesuai harganya, memang kita mesti bawa guide. Minta bantuan kawan-kawan klub aja ato montir yang terpercaya… Ato kalo memang anggaran ada, yang setelah screening tahap pertama oleh kita sendiri (screening legalitas, screening kondisi fisik yang kelihatan mata, & screening tes jalan), target bisa dibawa ke bengkel untuk general-checkup. Dari dibacanya pake komputer, akan kelihatan kayak gimana itu kondisi aslinya si mobil. Dari sini keluar perkiraan biaya repairing-nya. Dari estianti…eh, estimasi biaya repairing, kita baru bisa naksir berapa harga yang pantas…

Namun taksiran biaya repairing juga biasanya parameter yang kita pakai adalah harga di bengkel independen spesialis BMW. Kalo biaya repairing-nya pake ukuran beres (bengkel resmi), bisa-bisa malah melebihi harga mobilnya sendiri :))

Seperti M60 kami dapat hampir 60an… Harga pasarnya saat beli adalah 35jt – 85jt. Range-nya jauh banget kan? Ya itu tadi, sesuai kondisinya. Kami dapat rawatan Astra total dan tangan pertama. Ini yang langka. Alih-alih awalnya cuma mo nyari 520i yang budgetnya jauh di bawahnya sekalipun dia masih jok beludru dan belum wood-panel, jadinya malah utang kiri-kanan buat nambah anggaran buat nebus barang langka ini :))

Dan berhubung belinya ini keroyokan sama keluarga, jadilah ini kami jadikan mobil keluarga.. Sempat mau jual karena ada lag dan cultural-shock saat pertama/awal-awal merawat si biru, namun akhirnya semua kendala sedikit-demi sedikit bisa diatasi. Khususnya masalah kendala anggaran.

Untuk keluarga maha pas-pasan macam kami, anggaran memang adalah hal terpenting dalam menjalankan dan memutar laju roda rumah tangga. Cinta dan usaha adalah sarananya, dan doa adalah kata kuncinya. Berkah-Nya adalah jalan dan hasil jadinya. So, kami pun -sedikit sharing trik ini- mesti kreatif menyiasati perawatan si biru.

Akhirnya, kami sekeluarga sepakat, si biru mesti kami sewa sendiri. Maksudnya? Anggap saja kaya kita pergi naik taksi dan pakai bayar. Saat bawa si biru keluar, kami juga mesti nyimpan “uang sewa”. Ya, misalnya 20-50 rb per hari. Dicelengi (ditabung). Ntar kalo pas waktunya maintenis sama bayar pajak, bisa sedikit lebih ringan 😀

So, the conclusion is apakah BMW memang lebih baik dari mobil Jepang? Kami nggak bilang demikian. Sebab, keduanya adalah pilihan yang membawa konsekuensi masing-masing. Toh kalo BMW dibilang lebih baik ketimbang mobil Jepang, nyatanya BMW justru nggak laku di pasaran ketimbang mobil Jepang 😀

Ini adalah pilihan. Pilih BMW, Anda dapatkan semuanya: kenikmatan, kenyamanan, keselamatan, dan itu mesti dibayar dengan BBM dan biaya maintenis (maintenance maksudnya) yang lebih. Pakai mobil Jepang, rasanya ya so-so gitu… Tapi ini justru menguntungkan bagi yang suatu saat kepepet dan butuh duit, mobilnya masih laku dijual lumayan 😀

Keduanya adalah pilihan, dan monggo untuk memilih 🙂

CMIIW & IMHO

Freema H. Widiasena,
Catatan ini pernah saya tulis pada tanggal 8 Juni 2011 pukul 15:03

Juga saya post di sini http://www.modifikasi.com/showthread.php?221184-The-GOD-grants…&p=8879589#post8879589 untuk yang punya ID Modcom.

————————
MEMILIH BMW – THE SERIES

Untuk ulasan, diskusi santai dan chit-chat silakan login ke sini http://m.facebook.com/groups/323699264381705

Memilih BMW Pt. I https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/04/11/memilih-bmw/

Memilih BMW Pt. II https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/05/01/bimmer-the-series-memilih-mobil-pertama-kita/

Memilih BMW Pt. III https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/08/bimmer-the-series-memilih-bmw-pt-iii/

Memilih BMW Pt. IV https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/23/bimmer-the-series-m5-murah-meriah-mewah-mangstabs-maknyusss/

Memilih BMW Pt. V https://freemindcoffee.wordpress.com/2011/06/27/bimmer-the-series-sebuah-bmw-tua/

Memilih BMW Pt. VI https://freemindcoffee.wordpress.com/2012/01/14/bimmer-the-series-bmw-e36-318i-vs-320i/

Memilih BMW Pt. VII https://freemindcoffee.wordpress.com/2013/04/24/bimmer-the-series-alhamdulillah-thanks-allah/